
ASQYLA! KAMU DI MANA?! Aku dari tadi mencarimu dan kamu malah menghilang begitu saja? Di mana posisi kamu! Aku khawatir kamu tersesat!
Alice! Tenang dulu, aku tidak apa-apa. Aku ada di depan toko jas pria di lantai dua. Ada tempat istirahat di sebelah tokonya, kemari. Hm ... Kevin sedang membelikanku Ice Cream, ayo cepat. Biar aku kenalkan kalian berdua.
Seketika hening sekali, aku melihat ponselku siapa tahu pangilan kami tidak sengaja terputus. Namun ternyata tidak sama sekali, aku tersenyum lebar. Alice pasti kehabisan kata-kata.
Alice? Ayo cepat naik ke lantai dua, sebentar lagi Kevin akan sampai di sini.
Aku memperhatikan Kevin di depan sana sedang memesankan Ice Cream untukku. Terkadang dia berbalik untuk memeriksa keberadaanku. Aku melambaikan tangan padanya saat dia menatapku begitu lama. Setelah itu dia kembali dengan kesibukannya.
Alice?
Hah? A-apa tadi kamu bilang? Ada siapa di sana?!
Aku terkekeh geli, ternyata Alice terguncang sekali.
Kevin, bukannya kamu ingin bertemu dengannya? Dia pasti sudah lupa padamu, maka dari itu, ayo kemari.
Ha-hah! Tidak, tidak. Aku tidak bisa. Kamu pasti berbohong bukan? Pasti alasan saja! Sudahlah turun kemari, aku menunggu di tempat tadi!
“Kevin!” teriakku. Aku mendengar apa yang Alice ucapkan, tapi senang juga mengganggunya seperti ini, hahaha.
Sudah dulu, ya. Nanti aku turun, sekarang aku ingin bicara dengan Kevin dulu.
Asqyla! Hey, jangan di tutup dulu! ASQ—
Aku tidak sengaja menutup panggilan karena Kevin mengambil ponselku. Dia tersenyum dan memberikanku cup sedang dengan Ice Cream rasa Vanilla. Aku menerimanya dan dia menyimpan ponselku di kantong celananya. Aku menatapnya datar seraya memakan Es Krimku.
“Sudah mendingan?” tanya Kevin seraya mengusap kepalaku.
Aku mengangguk, sepertinya aku merasa Kevin sedang mempermainkanku ketika dia mengusap kepalaku. Rasanya dia sedang mencoba menjinakkan kucing liar yang baru saja dia beri makan. Aku mempoutkan bibirku, kesal dengan kelakuan Kevin. Namun tiba-tiba, dia menghentikan usapannya dan menatapku bingung.
“Ekspresi macam apa itu? Aku baru lihat,” ucapnya menggodaku.
Aku memukul tangan dia dan berdiri, hendak pergi menuju lantai pertama. Tetapi, Kevin menahan tanganku lalu mengapitnya seraya terkekeh geli. Aku ikut tertawa juga karena sikapnya yang seperti ini. Ada-ada saja Kevin ini.
“Ah! Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu!” ucapku antusias.
“Mungkin kamu lupa, tapi dia pernah bertemu denganmu,” lanjutku.
Kevin mengelus kepalaku, senyumnya itu membuat matanya ikut tersenyum. Aku tersenyum dengan lebar juga, pasti karena efek Es Krim ini.
“Wah, siapa orang yang ingin bertemu dengan orang tampan sepertiku ini,” ucapnya dengan percaya diri.
Aku mencubit pinggangnya, percaya diri sekali pria satu ini. “Penggemarmu.”
Dia tersenyum lebar, “Penggemarku? Memangnya ada, ya?”
“Terus sekarang kita ke mana?” tanya Kevin setelah kami menuruni eskalator (Eh, begini kan, ya, nulisnya?).
Aku hanya menunjuk ke depan dengan daguku, terlihat jelas Alice sedang mondar-mandir di tempat aku menunggunya tadi dengan dua buah cup besar di tangannya. Pasti minuman yang tadi dia bilang ingin beli, Alice terlihat seperti anak hilang. Ya, ampun Alice, kelakuanmu itu ya?
“Lihat Asqyla, orang itu sedang apa sih? Sepertinya dia mencari sesuatu, apa aku bantu saja?” tanya Kevin.
Aku menghentikan langkahku seketika, sejak kapan Kevin ingin membantu orang lain seperti ini? Biasanya dia cuek sekali, walau perlakuannya manis tapi dia tidak semurah hati itu. Aku memicingkan mataku, menatapnya dengan penuh makna.
“Ho~~ ternyata ada seorang wanita lain yang bisa menarik perhatianmu, ya, Vin,” ucapku menggodanya. Kevin melepas rangkurannya di lenganku. Dia menatapku dengan tidak percaya.
“Mana mungkin. Yang ada di hatiku kan hanya kamu, Asqyla.”
Aku tertawa, “Bisa-bisanya kamu bercanda seperti itu.”
“Aku serius, Asqyla!” serunya kesal. Aku menganggukkan kepalaku berkali-kali mengiakannya. Toh, dia juga paham aku tidak bisa menerima perasaannya.
Tinggal beberapa langkah lagi aku ada di hadapan Alice, namun pria di sampingku ini berjalan lebih dahulu dan menyapa Alice dengan kakunya.
“Hm, ada yang bisa saya bantu, Nona? Kelihatannya anda sedang mencari sesuatu,” ucap Kevin kelewat formal.
Aku dari posisi yang tinggal beberapa langkah lagi menuju Alice hanya bisa menahan tawa. Bisa-bisanya Kevin bertindak seperti itu dan Alice sepertinya kelabakan karena gebetannya tiba-tiba ada di hadapan dia dan yang paling parah adalah menanyainya untuk menolongnya.
Suasana serius itu begitu intens, aku tidak bisa melangkah lebih maju lagi karena tidak kuat sekali dengan ekspresi datar Kevin dan air muka khawatir Alice. Mereka berdua benar-benar membuatku ingin tertawa lebih kencang.
“Hahaha! Kalian ini lagi apa, sih?” tanyaku seraya tertawa kencang.
Beberapa pasang mata tertuju padaku lalu menghilang begitu saja, orang-orang di sini tidak begitu memperdulikan apa yang orang lain lakukan selama tidak merugikan mereka. Alice berlari kecil ke arahku dan mencubitku pelan dengan satu tangan yang memaksakan memegang dua cup besar minuman.
“Haha, maaf-maaf. Habisnya kamu kayak setrikaan tahu! Mondar-mandir kesana-kemari. Untung Tuan Halton yang baik ini mau membantu,” ucapku pada Alice.
Dia tercengang lalu memberikan satu minuman yang dia pegang padaku. Aku menerimanya dan dia berjalan menuju Kevin. Pria itu masih memasang ekspresi datar dengan sedikit kebingungan. Sepertinya aku tahu apa yang akan dia lakukan.
“Hm ... Kevin kan, ya? A-Aku Alice, salam kenal kembali? Hahaha,” ujarnya dengan canggung sekali.
Tangan yang Alice suguhkan pada Kevin, masih menggantung di udara. Alice yang merasa malu sekali tiba-tiba menutup wajahnya dengan minuman yang dia bawa. Aku menahan tawa saat mendekati mereka berdua. Lalu, tiba-tiba Kevin tertawa dengan kecil. Alice menurunkan minumannya dari wajah dan melihat Kevin dengan intens.
“Maafkan aku, Alice. Lama tidak berjumpa, aku terkejut bisa bertemu kamu dan Asqyla di sini,” ucap Kevin lalu memeluk Alice sekilas.
Seketika Alice terpaku karena Kevin tiba-tiba saja memeluknya. Namun, dengan kasus Alice yang memang hidup di negara ini, pelukan adalah sebuah salam. Tetapi, yang ini lebih berbeda lagi karena Alice menyimpan perasaan pada Kevin. Siapa yang tidak jatuh cinta, sih, dengan pria satu itu? Sudah tampan, calon dokter, mapan lagi. Jelas saja perempuan-perempuan mengejarnya termasuk Alice.
Aku tidak termasuk, walau aku masih sendiripun, lebih baik aku memilih orang yang tidak terlalu jauh seperti Kevin. Kevin itu tinggi, aku tahu keluarganya kaya. Maka dari itu, aku tidak bisa tiba-tiba masuk ke dalam keluarganya begitu saja. Walau sebenarnya aku tiba-tiba masuk juga dalam keluarga Orlov. Untungnya saja mereka menerimaku dengan baik sekali.
“Ja-jadi tadi itu hanya candaanmu?!” teriak Alice.
Ya, ampun. Alice ... Alice.