
“Terima kasih, Louis pasti senang dengan hadiah pemberianmu, sayang sekali kamu tidak bisa datang di pestanya,” ucap Kevin menyesal.
Sebenarnya aku juga sedih karena tidak bisa menghadiri pesta ulang tahunnya Louis, namun sayang sekali karena waktu ku sudah habis. Werrent tidak akan mengizinkanku keluar rumah lebih dari jam enam sore dan bahkan sekarang aku terlambat setengah jam karena terlalu sibuk mencari barang apa yang harus aku hadiahkan pada Louis.
“Sampaikan maafku kepada Louis, lain kali aku akan mampir ke rumah kalian dan bermain lagi. Titip ucapan selamat untuk Louis juga, ya, Vin.”
Kevin mengangguk lalu masuk ke dalam mobil, aku melambaikan tangan kepadanya. Kevin sudah pergi dari depan rumah, aku masuk ke dalam dengan gontai. Pikiranku terus dipenuhi dengan Werrent dan Neva yang sepertinya sedang berkencan di akhir pekan ini.
Entah kenapa perasaanku sakit kembali melihat mereka berdua, aku tidak ingin melihat mereka bersama lagi atau tidak ingin melihat Werrent sama sekali. Tapi, aku tidak bisa memutuskan ikatan pernikahanku dengan Werrent. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk hidup dengan pria yang menikahiku sampai hari tuaku.
Kalau aku tahu hal seperti ini akan terjadi, seharusnya dulu aku menolak dengan keras saat Werrent memberiku pilihan untuk melanjutkan pernikahan ini atau tidak. Andai saja aku kembali ke masa itu, akan aku pastikan pernikahan ini tidak pernah terjadi.
“Nyonya, Tuan ada di kamar. Ingin saya buatkan teh hangat dahulu sebelum Nyonya istirahat?” tanya Marie.
Aku tersentak kaget karena Marie tiba-tiba berbicara padaku. Ternyata aku tidak sadar kalau aku hampir sampai di kamar kami. Aku menganggukan kepalaku dan Marie membawaku menuju ruang makan, di dalam kamar ada Werrent. Aku tidak siap untuk bertemu dengannya, membayangkan wajahnya saja sudah cukup menggores hatiku, apalagi melihatnya langsung di hadapanku. Aku membutuhkan waktu untuk sendiri.
“Sayang?”
Tapi, ternyata Tuhan tidak membiarkanku untuk menenangkan hatiku. Aku menengok ke belakang, Werrent sedang menghampiriku dengan rambut basahnya dan piama. Handuk putih tersampir di leher Werrent. Dia habis membersihkan dirinya.
“Kenapa pulang telat?”
Pertanyaan itu yang pertama dia ucapkan setelah kepergiannya untuk menemui Neva atau sekadar bermalam di kantor. Dia duduk di sebelahku dengan santai seakan masalah kemarin itu bukanlah masalah besar yang harus di selesaikan.
Aku mengepal erat tanganku, keberadaan Werrent terus mengingatkanku dengan kejadian menjijikan yang terjadi beberapa hari lalu. Saat Werrent melakukan hal tidak terpuji di kantor. Ingin sekali aku teriak di depan wajahnya saat ini juga, tapi sayang sekali, aku tidak punya keberanian sebesar itu.
“Kenapa enggak di jawab? Kamu keluar sama siapa? Seingatku Marlo tidak memberi laporan telah mengantarkanmu pergi keluar.”
Aku menundukkan kepalaku, kapan Marie datang? Aku tidak suka dengan pertanyaan intimidsi Werrent. Dia membuatku seolah-olah sedang berselingkuh padahal nyatanya dia yang benar-benar menduakanku.
“Kamu pergi ke mana?” tanya Werrent lagi.
Aku memutuskan untuk tetap terdiam, percuma juga aku berbicara, Werrent pasti akan mencari alasan lain untuk menyalahkanku.
“Kenapa? Kamu pergi dengan lelaki lain? Apa temanmu yang baru itu menjadi kekasih barumu sekarang?” tuduh Werrent dengan dinginnya.
Aku menggelengkan kepalaku, lagi-lagi dia berasumsi tanpa menanyakan kebenarannya terlebih dahulu padaku. “Lalu apa?”
Aku menghela napasku, sebaiknya aku pergi saja dari hadapan Werrent. Aku lelah karena seharian ini terus berjalan mengelilingi Mall untuk mencari hadiah Louis, setidaknya di rumah aku harus istirahat, bukan berdebat tidak penting seperti sekarang ini.
“Asqyla!” serunya.
Seluruh tubuhku menegang, ketika Werrent memanggilku dengan nama, maka aku sedang berada dalam masalah besar. Tanpa berbalik, aku berkata. “Qyla hanya keluar bersama Kevin mencari hadiah untuk adiknya, tidak ada hal lain lagi selain makan bersama. Itupun Qyla melihat pemandangan unik yang belum pernah Qyla lihat sebelumnya. Sesudah itu kami pulang, tidak ada apapun yang terjadi,” jelasku rinci.
Menatap matanya, apa-apaan dengan tanggapan seakan mencurigaiku seperti itu?
“Qyla sudah izin, Mas. Dan Mas sendiri yang izinkan Qyla untuk pergi, kenapa Mas selalu nuduh Qyla, sih?” jawabku memelas.
Aku ingin sekali marah, saking kesalnya aku sampai berkaca-kaca seperti ini. Begitu pedih aku menjelaskan semua hal yang tidak ada hubungannya denganku sama sekali. Sudah jelas-jelas aku mengirimi Werrent pesan dan dia sendiri yang mengiakannya.
Namun, wajah Werrent terlihat bingung. Dia menarik lenganku dan membawaku menuju kamar. Aku terdiam, tidak bereaksi apapun hingga akhirnya Werrent menggendongku dengan paksa agar aku bisa mengikutinya ke kamar.
“Turunin Qyla, Mas!” seruku di depan pintu kamar.
Werrent membuka kamar kami dan menurunkanku lalu menutup pintu dengan rapat. Dia menghampiri nakas dan membuka ponselnya, mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak. Namun, tidak ada percakapan apapun di dalam ponsel Werrent dan dia menatapku dengan kesal.
“Sekarang kamu berani berbohong padaku, Asqyla? Jadi Kevin adalah kekasih barumu, hah?”
“Bukan, Mas! Sudah Qyla bilang, Qyla hanya mengantar Kevin untuk mencarikan hadiah untuk adiknya bersama dengan Qyla. Kenapa Mas gak percaya sama Qyla?!”
Air mataku turun, apapun yang menyangkut pria di sekitarku pasti Werrent hubungkan dengan kekasihku atau apalah itu. Kenapa dia tidak mempercayaiku sedikitpun? Sedikit saja, hanya sedikit. Kenapa Werrent begitu dingin padaku yang resmi menjadi istrinya di bandingkan Neva yang hanya sekedar patner kerja dia.
“Karna aku tahu, perasaanmu pada orang itu masih tersisa, Asqyla.”
“Radith? Mas bicara tentang Radith lagi? Kami bahkan sudah tidak berkomunikasi lagi, Mas! Mas tahu apa tentang perasaan Qyla?! Apa Mas gak berpikir sedikitpun tentang perlakuan Mas ke Qyla? Apa Mas gak sadar perkataan Mas selalu sakitin Qyla? Bahkan Qyla lihat Mas yang selingkuh di depan mata Qyla sendiri!” teriakku pecah.
Werrent menatapku dengan pandangan tidak menyangka. “Apa yang kamu lihat?” tanya Werrent.
“Qyla lihat Mas keluar dari bioskop bersama dengan Neva. Mas sedang tertawa lebar, itu pertama kali Qyla lihat Mas tersenyum seperti itu. Dan senyuman itu bukan ditujukan untuk Qyla. Mas sadar kan, sesakit apa perasaan Qyla?” tanyaku dengan kecewa.
Aku merogoh tas kecilku dan mengeluarkan ponsel, kubuka aplikasi pesan dan menunjukkannya pada Werrent. Dia mengambil ponselku, membacanya dengan teliti.
“Aku tidak pernah membalas pesanmu, bahkan aku tidak tahu kamu sering mengirimiku pesan.”
“Mas enggak percaya sama Qyla? Telfon aja nomornya, Mas. Kita lihat, apa riwayat ponsel juga bisa buat Mas gak percaya sama Qyla?”
Werrent terdiam, dia memberikanku ponsel yang dia pegang. Aku tidak mengerti kenapa tidak ada riwayat pesanku dengan Werrent. Padahal jelas sekali aku menerima balasan dari Werrent. Aku selalu melaporkan apapun yang terjadi pada Werrent selama dia tidak di rumah dan kadang Werrent membalas beberapa pesanku, tapi kenapa dia tidak pernah ingat aku pernah mengiriminya pesan?
A/N:
Hayo, gimana nih sama part ini?
PoV Werrent menyusul, ya. Aku agak susah juga munculin PoV Werrentnya di mana.
Ditunggu aja, ya, Sayang-sayangku.