WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Kamu itu pelindungku, Asqyla.



“Aku tidak yakin kalau kamu bukan pacarnya, Asqyla.”


Aku meliriknya dari kaca samping ranjang tempat kita bermalam, dia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk lalu duduk di sisi ranjang menghadap punggungku.


“Ya Tuhan, perlu Qyla bersumpah, Kak?”


Dia tersenyum seraya menata rambutnya, “Cepat mandi, jangan terlalu sayang dengan gaunmu.”


“Nanti saja, kapan lagi Qyla akan tampil seanggun ini.”


Dia tertawa kencang, matanya terus menatap pantulan wajahku di cermin. Wajahku memerah saat dia berdiri di sebelahku seraya membelai kedua pundakku.


“Buang saja, aku bisa belikan yang lebih cantik daripada gaun itu. Lagipula kamu tidak akan memakainya lagi.”


Aku membalikkan badanku dan berdiri menghadapnya, tidak perduli dengan wajahku yang sangat dengan dekat wajahnya. Entah kenapa aku marah mendengar perkataannya, seenaknya saja membuang barang yang baru saja dia beli.


“Buang? Kakak gila? Qyla suka gaun ini, lebih cantik dari gaun manapun.”


“Aku bisa belikan yang lebih bagus lagi, Asqyla.”


Belikan yang lebih bagus lagi katanya?! Gaun semahal atau secantik apapun itu tidak akan pernah aku tukarkan dengan gaun pernikahanku. Lalu dia dengan seenaknya berbicara kalau gaun ini tidak berguna lagi?!


“Kenapa kamu melihatku sinis seperti itu, Asqyla?”


“Qyla tidak percaya Kakak berpikiran seperti itu.”


“Aku hanya bercanda,” kekehnya geli.


Aku menatapnya tidak percaya, dengan cepat aku mendorongnya hingga dia terjatuh di ranjang lalu berlari menuju toilet.


“Mau apa, Asqyla?!” teriak Werrent saat aku sudah masuk ke dalam kamar mandi.


“Mengganti pakaian!” sahutku tak kalah kencang.


Aku terdiam menatap pantulan diriku di depan cermin, gaun yang kupakai sangat elok sekali. Sayangnya aku hanya bisa memakainya sekali dan tidak ingin memakainya untuk kedua kali, cukup hari ini untuk selamanya.


“Fyuh, akhirnya aku benar-benar bisa beristirahat.”


Menutup mata dan menikmati suara air yang sengaja aku nyalakan untuk mencuci mukaku, saat air yang sedang aku tampani dengan kedua telapak tanganku hampir mengenai wajahku, kepalaku langsung menggeleng beberapa kali karena pemikiran yang terbesit dibenakku.


“Pernikahan telah selesai, lalu sekarang adalah malam pertama bukan? Tidak, tidak! Dia sangat ingat kalau aku masih anak sekolah, tidak mungkin dia melakukan hal itu bukan? Berduaan di kamar yang sama, ranjang yang sama, lalu— TIDAK! Apa yang sedang kamu pikirkan, Asqyla?!”


“Ada apa, Asqyla? Kamu tidak apa-apa kan di dalam sana?”


Werrent mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali juga menanyakanku dengan nada yang sangat khawatir, aku menjawabnya dengan mukaku yang sangat memerah kalau aku tidak apa-apa lalu menyuruhnya untuk segera pergi karena aku butuh privasi untuk membersihkan badanku dan dia masih sempat-sempatnya menggodaku.


“Aku tidak masalah kalau harus mandi sekali lagi asalkan bersamamu.”


“Kenapa? Kita kan sudah menikah.”


Wajahku sangat memerah hingga keleher, dia masih menatapku dengan senyuman manis. Alih-alih memarahinya aku malah menutup pintu kamar mandi dengan kencang hingga membuatnya tertawa puas lalu aku mendengar langkahnya menjauh.


“Hah, bisa-bisa jantungku copot karena senyumannya.”


Setelah selesai mandi dan mengganti gaun pengantinku dengan piyama, aku keluar dari kamar mandi dan melihat Werrent tengah memainkan ponselnya. Aku menghampirinya dengan gaun yang kupegang sebaik mungkin, dia mematikan ponselnya lalu menatapku.


“Ada apa, Asqyla? Wajahmu terlihat kesal.”


“Bagaimana Qyla tidak kesal?! Kenapa Kakak mengatakan untuk membuang gaun ini?!”


Dia menatapku kaget lalu menepuk sebelahnya mengisyaratkanku untuk duduk di sebelahnya. Aku menyimpan gaunku kedalam lemari lalu duduk disebelahnya.


“Kamu marah karena aku menyuruhmu membuang gaun itu? Benar-benar menarik, kupikir kamu akan memintaku untuk membelikan gaun yang lebih baik dari gaun itu.”


Aku melotot padanya, dia pikir aku perempuan macam apa?! Seenaknya saja berbicara hal seperti itu tanpa disaring terlebih dahulu. Ke mana Werrent manis yang aku kenal kemarin? Hari ini dia sangat-sangat menjengkelkan!


“Kakak tidak menganggapku seperti gaun itu, kan?”


“Hanya dipakai sekali lalu tak tersentuh lagi hingga waktunya tiba untuk digunakan kembali atau untuk dibuang, begitu?”


Membeku, lidah juga badanku menegang. Terbayang jika pertanyaanku mendapatkan jawaban ‘Iya’ darinya, hanya dijadikan sebuah pajangan yang berakhir digunakan kembali atau terbuang begitu saja. Aku bergelut dengan pikiranku sampai dia sadar bahwa kesadaranku bukan bersamanya disini.


Dia memegang tanganku, hangat. Aku menatapnya, masih dengan ketegangan dan ketakutan jika dia mengatakan iya padaku. Tangannya terulur menyelipkan rambutku kebelakang tengaku agar dia bisa menatapku dengan jelas.


“Dengar, Asqyla. Hari ini aku memang sangat kesal kepadamu, mungkin untuk sementara aku akan tetap tidak percaya dengan penjelasan apapun yang berkaitan dengan lelaki itu. Entah itu benar atau bukan, kebenarannya aku masih tidak bisa percaya denganmu karena kejadian pagi tadi.”


Tangannya mengelus lembut pipiku, aku menatapnya dengan rasa bersalah. Aku dengan Radith memang dekat dari kecil, tapi karena kebiasaan-kebiasaan yang terlalu dekat dengan Radith membuat Werrent memikirkan hal yang bukan-bukan. Bukan karena aku membela Radith, karena pada awalnya aku tidak punya perasaan apapun kepada Radith selain rasa sayang dan cinta terhadap Radith sebagai keluargaku sendiri. Maka, ingin sekeras apapun aku menjelaskan, Werrent pasti tidak mempercayaiku setelah kejadian yang menurutnya salah tapi sudah menjadi kebiasaanku dengan Radith. Pelukan yang dia lihat dan dia camkan sebagai pelukan penuh arti negatif hanya sebuah pelukan biasa yang selalu aku lakukan ketika aku membutuhkan penyangga. Hanya sebatas itu dan akan selalu seperti itu.


“Pelindung.”


Dia mengusap kepalaku, matanya yang tajam kini menatapku dalam. Senyumnya tidak terlalu mengembang tapi sangat tulus, dengan bingung aku bertanya dengan tatapanku maksud dari perkataannya.


“Kamu bertanya apa aku menganggapmu seperti gaun itu atau tidak, maka jawabanku adalah pelindung. Seperti sebutannya, kamu akan selalu melindungiku dari hal yang menurutku salah dan harus diperbaiki.”


“Qyla hanya seorang perempuan berumur tujuh belas tahun yang tidak tahu apa-apa tentang melindungi seseorang, Kak.”


“Maka aku hanyalah seorang pria berumur dua puluh satu tahun yang memilihmu untuk melindungiku dari semua hal yang salah menurutku.”


Usapannya di kepalaku terhenti, tatapannya yang dalam kembali tajam menusuk kedua bola mataku. Dia menghela napas dalam lalu tersenyum simpul kepadaku seraya turun dari ranjang.


“Tidurlah, aku akan bermalam diruang depan. Jika butuh sesuatu bangunkan saja aku.”


Punggungnya kini sudah tidak terlihat, badannya yang tidak berbalik walau saat dia menutup pintu membuatku merasa semakin bersalah. Radith benar, aku sangat menyebalkan hingga orang disekitarku selalu marah, tapi tak pernah aku anggap serius karena mereka akan selalu membaik, tidak pernah mendendam. Tapi kali ini berbeda, sosok pria yang baru aku kenali beberapa hari ini sedang jengkel kepadaku, entah apa yang akan terjadi kedepannya jika dia bukan orang semacam Radith, Mama, Papa, Bunda, atau Ayah yang selalu memaklumi prilaku menyebalkanku.