WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Kevin Thomas Halton



“Hm, Asqyla. I should find Kevin, thanks for this!” ucap Louis seraya menunjuk Es Krim coklatnya. Aku tersentak karena Louis memanggil namaku tanpa ada sebutan Kakak. Tapi, yang lebih membuat aku kaget adalah seorang lelaki tinggi berlari ke arah Louis dengan wajah kesal.


“Where have you been?! I’m running all around this park to find you! What are you doing here, Moron?!” teriak Pria tersebut pada Louise.


Melihat Louis dimarahi oleh lelaki itu, membuatku menarik tangan Louis dan menyuruhnya untuk bersembunyi di belakangku. “Pardon me, what are you doing to him, Sir?” tanyaku dengan nada kesal.


Lelaki itu tertawa, “Who are you, Kid? He’s my lil’ brother. So, you find another GF, Louis?” tanyanya yang kelewat tidak sopan.


Aku bingung. Pertanyaan macam apa yang dia lontarkan pada Louis. Jelas saja tidak mungkin.


“She’s seventeen, Kevin. How can I dating her?” tanya Louis tidak percaya dengan Kakaknya itu. Kevin mengerutkan keningnya, “For real?”


Aku menyimak perbincangan mereka dan menyadari kalau orang di hadapannya itu adalah Kevin. Orang yang harus Louis cari. Dengan senyum hangatku, aku mengusap rambut Louis.


“Thank you for taking care o**f him ... um?”


Dia teriam agak lama, butuh waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari maksud dari pria itu.


“Asqyla,” jawabku. Kevin mengangguk dan menyuruh Louis untuk mengucapkan terima kasih juga kepadaku.


“It’s, okay. Listen to your Brother, okay?” ucapku pada Louis dan mengusap rambutnya sekali lagi.


Louis tersenyum dan memeluk pinggangku, sedangkan Kevin, dia menggaruk tengkuk lehernya dan berbicara dengan kaku kepadaku.


“Can I ... have your number? Um, maybe I can pay you back or ....”


“Ya, sure.”


Kapan lagi aku dapat teman di negara ini, kan? Werrent saja tidak membiarkan aku keluar rumah. Selama aku datang di tanah ini, baru kali ini aku keluar. Diawasi oleh orang kepercayaannya pula. Sebenarnya apa, sih, yang Werrent takutkan?


“Um, +62?” tanyanya bingung.


Aku melirik Kevin lalu Marlo dengan tatapan bingung. Lalu, Marlo berbisik padaku. “Kode negaranya, Nona. Nomor Nona masih nomor Indonesia,” jelas Marlo.


Aku meliriknya tajam, “Asqyla, Marlo.”


Kali ini aku tekankan namaku padanya. Panggilan Nona sangat tidak enak didengar di telingaku. Terasa asing dan aneh.


“I-I’m not familiar with that name, Mrs. Orlov.”


Aku menghela napas dan mengangguk. Akan aku jadikan pengecualin tentang hal ini. Tidak baik juga memaksakan kehendak orang lain untuk mengikuti kemauanku.


Aku menyodorkan gawaiku dan menyuruhnya untuk menuliskan nomor Kevin pada gawaiku supaya aku saja yang menghubunginya setelah aku membeli nomor baru.


“Ah, about paying me back, there’s no need. It’s just an Ice Cream,” ucapku menolak niat baik Kevin. Hanya Es Krim saja. Lagipula aku juga bersenang-senang dengan Louis.


“But, I must. Maybe—”


“Otherwise, the person who buying him an Ice Cream is Marlo not me,” jelasku lagi.


“I’m so sorry, Sir. How much I should pay?” tanya Kevin setelah memberikan gawaiku.


Kulihat kontak bernama Kevin Thomas Halton, niat sekali dia menuliskan nama lengkapnya. Aku tersenyum kecil dan memandangi mereka berdua—Marlo dan Kevin—yang sedang beradu argumen.


Kevin sudah membuka dompetnya dan Marlo dengan tegas menjawab tidak usah. “You can paying me back later, Kiddo.”


Keputusan akhirnya adalah Marlo yang mengalah. Karena Kevin terlihat tidak ingin menerima penolakan. Begitu keras kepalanya orang satu itu.


Setelah itu Kevin dan Louis pamit undur diri, Marlo berniat untuk mengantar mereka berdua namun Kevin bilang kalau dia membawa mobil dan tidak ingin merepotkan kami lagi. Louis memelukku sekali lagi dan mengatakan kalau aku harus bermain bersamanya lagi.


Dengan senang hati aku terima ajakannya. Sekali-kali aku ingin menjernihkan diri dengan bermain bersama orang lain selain kenalan Werrent.


“Marlo?” tanyaku di tengah-tengah kecanggungan dalam mobil.


“Iya, ada apa, Nona?” jawab Marlo tanpa menengok ke arahku.


“Kamu yakin mau terima balasan Es Krim itu dari Kevin?” tanyaku penasaran.


Entah kenapa yang terlintas di kepalaku adalah kejadian tadi. Padahal yang sebenarnya ingin aku tanyakan adalah hal yang Werrent tidak suka atau alergi.


“Jelas tidak. Anak kecil sepertinya pasti keras kepala. Kalau saya tidak mengiakan permintaannya, mungkin sampai sekarang kami masih berdebat di taman tadi,” jelasnya.


Aku mengangguk dan menyadari bahwa Marlo menggunakan kata anak kecil dalam mendeskripsikan Kevin. “Anak kecil?” tanyaku spontan.


Marlo mengangguk dengan pandangan setia ke arah jalan. “Mungkin seumuran dengan Nona atau lebih tua sedikit. Yang jelas dia terlihat seperti baru saja lulus Sekolah Menengah Atas. Mungkin baru saja masuk kuliah. Dari perawakannya terlihat jelas kalau dirinya masih sangat muda.”


Penjelasan dari Marlo membuatku tercengang. Jelas-jelas aku memandang Kevin seperti Werrent. Dengan umur yang sama, malah aku lebih mengira Kevin lebih tua dari Werrent. Dan Marlo baru saja menjelaskan kalau Kevin belum mencapai umur dua puluh tahun.


Kalau begitu Werrent terlalu babyface untuk orang seumurannya mengingat Marlo lebih muda dari Werrent sendiri.


“Kalau begitu kenapa Werrent terlihat lebih muda? Padahal kalau dilihat dari umur, masih muda kamu di banding dia, Marlo.”


Marlo tertawa, “Hanya berbeda setahun Nona. Lagipula kenapa kita malah membahas umur begini? Saya malah lebih shock saat tahu Tuan Orlov menikah dengan Nona. Saya kira Tuan menikahi anak di bawah umur.”


“Di bawah umur? Berapa umur yang kamu maksud?” tanyaku penasaran. Memangnya wajahku semuda itu?


“Mungkin empat belas?” kira-kira Marlo.


Aku tercengang mendengar tebakan dari Marlo. Pantas saja tadi Kevin menerka-nerka aku adalah pacarnya Louis. Orang-orang di sini cepat sekali dewasanya. Aku sampai tidak ingin berkomentar apapun lagi mengenai umur. Benar-benar membuat kepalaku pusing tujuh kekeling. Aku masih belum bisa terbiasa di tempat ini. Ya, Tuhan.


Setelah keheningan yang begitu lama, aku memutuskan untuk menatap jalanan di depanku. Benar-benar berbeda dengan jalanan Indonesia. Sama-sama padat namun ada rasa asing tersendiri yang tertinggal di hatiku. Seakan menamparku dari khayalan kalau aku sudah melangkah sejauh ini. Kalau aku sudah tidak bisa lagi melirik ke belakang.


Marlo melihat arlojinya dan akhirnya melirik kepadaku. “Nona mau makan? Atau ingin pergi ke tempat lain lagi?” tanya Marlo memberiku pilihan.


Aku memang lapar, tapi masa saja aku makan terlebih dahulu tanpa Werrent. “Aku ingin membeli makan untuk dibawa pulang. Lalu, mampir ke Apotik membeli obat untuk Werrent,” jawabku.


Marlo mengangguk dan memutar balik, mengambil jalur sebaliknya.