
Dia menatapku lama, aku memperhatikan wajahnya. Memang sangat tampan, bahkan hanya dengan balutan kaus hitam saja ketampanannya tak berkurang sedikitpun. Apa memang benar, dia yang memilihku? Dari sekian banyak juta wanita? Dan kenapa aku? Para wanita yang lebih cantik dariku pasti banyak di luar sana dan lagi mereka bisa mencintainya dengan setulus hati. Tidak sepertiku yang saat ini saja masih memikirkan pekerjaan rumah yang harus segera aku selesaikan.
Begitu melelahkan memikirkan semua hal yang mengkhawatirkan, Werrent masih menatapku dengan senyumannya. Aku memejamkan wajahku, menikmati udara malam. Sungguh sangat sejuk, bisa-bisa aku terlelap disini, tapi tak apa. Karena ada Werrent disini, coba saja kalau Radith ikut, pasti lebih menyenangkan. Sayangnya aku tidak bisa berlaku seenaknya lagi kepada pria itu dan aku harus mulai menjaga jarak darinya. Karena aku akan dimiliki oleh seorang pria yang berada di sampingku. Pasal coklat, ternyata dia memang membicarakanku, bahwa coklat yang dia sukai akan dimiliki orang lain. Tapi, aku bahagia. Karena Radith selalu berada di sisiku selama ini, rasanya—
Eh? Apa ini? Apa Werrent meletakkan jarinya dibibirku? Rasanya hangat. Tunggu. Aku merasakan hembusan napas di pipiku, tidak mungkin bukan? Aku membuka mataku, pandangan kami saling bersatu. Dia menatapku dengan tajam, tapi setiap lumatannya lembut. Lebih lembut dari Radith, dia memejamkan matanya, membenarkan posisinya seperti sedang menindihku. Tangannya dia gunakan untuk menahan beban tubuhnya agar tidak menindihku, lalu tangan kanannya mengelus pipiku lembut hingga turun ke leherku, dia menarik badanku. Sudah tidak ada jarak diantara kita, dia menggigit bibirku lalu memasukan lidahnya kedalam mulutku. Mengabsen setiap gigi yang ada di dalam mulutku lalu melilitkan lidahnya, menjijikan sekali, tapi tubuhku tidak mau menolaknya, bahkan aku sangat menikmati setiap sentuhan yang Werrent berikan di setiap tubuhku.
Ini sangat tidak pantas, walau diriku akan menjadi istrinya, tapi kita berdua belum resmi sebagai pasangan. Tidak boleh, sangat-sangat tidak boleh. Aku mohon, tubuhku bekerja samalah dengan pikiranku. Werrent menghentikan semua perlakuannya padaku, aku membuka mataku dan melihatnya tengah menatap diriku penuh penyesalan. Dia mengusap sekitar bibirku yang basah juga mengusap bibirnya, malu sekali. Rasanya ingin sekali menggali lubang dan bersembunyi hingga dia pergi dari hadapanku.
Dia turun dan membantuku, juga membukakan pintu mobil, dengan tangan yang dia letakan di atas kepalaku agar aku tidak mengenai langit-langit mobil. Dia menutup pintu mobil dan segera memasuki mobil di sisi yang lain, tanpa berkata apapun dia menyalakan mesin dan pergi dari tempat tadi. Aku memandanginya dengan heran, juga rasa malu. Bukannya ada beberapa kata yang harus keluar dari mulutnya? Seperti ‘Apa aku membuatmu kaget?’ atau ‘Apa aku terlalu lancang?’ kenapa dia diam saja? Membuatku tambah malu, setidaknya katakan sesuatu, Werrent!
“Maaf.”
Maaf? Apa yang harus aku jawab? ‘Iya, tidak apa-apa?’ jawaban yang seakan-akan aku akan selalu tidak apa-apa jika diperlakukan seperti itu, tidak bisa! Seperti wanita murahan. Tapi maksudku bukan itu, maksudku tidak apa-apa karena sudah terjadi, kalau aku marahpun untuk apa? Sudah terjadi, tidak akan bisa kembali kewaktu tadi dan melarangnya untuk melakukan ciuman. Astaga, kepalaku sudah tidak bisa berpikir dengan benar. Apa yang harus aku lakukan?
“Maaf, aku tidak bisa menahannya. Maaf karena terlalu lancang, walau kamu akan menjadi istriku tetap saja itu tidak sopan. Maafkan aku, Asqyla,” sesalnya.
Baiklah, aku akan menjawab dengan apapun yang terlintas di kepalaku.
“Hm, tidak apa, Kak. Lagi pula sudah terjadi, Qyla tidak bisa marah karena bagaimana pun Kakak akan menjadi suami Qyla cepat atau lambat. Qyla akan marah kalau Kakak hanya melakukan itu karena ingin menggoda Qyla.”
“Kamu lucu, Asqyla. Memang berbeda dari perempuan yang aku temui, tidak salah aku memilihmu.”
Sial. Sial. Sial! Wajahku pasti sudah memerah, apanya yang tidak salah pilih? Malah aku yang sedang salah paham di sini! Cukup semua perlakuan manismu, aku tidak ingin menerimanya lagi. Bisa-bisa aku diabetes. Tuhan, kenapa kau berikan aku banyak cobaan mengerikan seperti ini?!
“Ingin membeli sesuatu, Asqyla?” tanyanya mencari topik lain.
“Tidak, Kak. Pulang saja, Qyla masih ada tugas sekolah.”
“Wah, rajin sekali istriku.”
“Calon, Kak.”
“Memangnya tidak mau?” tanya dia menggodaku.
Aku tersenyum puas, “Siapa tahu Kakak berubah pikiran.”
“Tidak akan, Asqyla. Karena aku sudah memilihmu.”
“Nah, Kakak sendiri tahu jawabannya. Tapi, untuk sekarang, masih jadi calon.”
“Tapi kalau ada pria lain yang melakukan hal seperti tadi, jangan kamu tidak apa-apa kan, karena aku yang akan kenapa-kenapa.”
Entah mengapa sudut bibirku naik. Padahal Werrent hanya berucap seperti itu. Harusnya aku kesal karena dia membicarakan hal yang tidak akan pernah terjadi walau dia sudah memperingatiku.
“Kenapa-napa bagaimana?”
“Terusik karena milikku di sentuh orang lain.”
“Kan nanti.”
“Kalau kejadiannya besok?” tanyaku seakan mengancamnya.
Dia terkekeh, “Maka aku akan marah padamu karena tidak bisa menjaga diri sendiri.”
Aku terkekeh, obrolan seperti ini sangat menyenangkan, hal mesum tadi yang membuat kepalaku pusing sekarang hilang karena godaan-godaan dari Werrent. Dia memang baik hati, sepertinya terjatuh lebih dalam lagi tidak akan apa-apa untukku.
Seketika aku terpikirkan sesuatu untuk membalas godaan-godaan yang selalu Werrent tujukan pada di setiap kesempatan. Aku juga bisa membuat dia gemas sekaligus kesal dengan tingkahku yang tidakada duanya ini.
“Harusnya sekarang Kakak marah dong.”
“Kenapa harus marah?” tanya Werrent bingung.
Aku tersenyum lebar, “Baru saja tadi Qyla dicium seorang pria.”
“Itu kan aku, Asqyla.”
“Tapi Kakak pria kan?”
“Tapi aku bukan pria lain.”
“Tetap saja Kakak pria.”
Dia mencubit pipiku gemas dengan sedikit kekehan, aku memegang tangannya agar terlepas dari pipiku. Senyuman tidak pudar di wajahku sedaritadi, Werrent selalu membuatku takjub dengan perlakuannya.
“Jadi, mau aku marahin?”
“Jangan, Kak.”
“Katanya tadi aku harus marah.”
“Tapi Kakak yang cium Qyla, lho.”
“Tapi aku pria, lho, Asqyla.”
“Tetap saja itu Kakak.”
“Astaga, perempuan memang selalu benar, ya?”
“Memang bukan?”
Aku dan dia tertawa, walau tatapannya selalu menatap jalan, suara yang dia keluarkan seakan menemaniku. Dia benar-benar sangat manis, kita tak henti-hentinya tertawa, sampai-sampai perutku sakit, tenggorokanku juga mulai mengering hingga aku terbatuk beberapa kali. Werrent menghentikan mobilnya lalu berlari keluar dari mobil, beberapa saat kemudian dia kembali membawa dua botol minuman isotonik dingin, sangat menggiurkan sekali. Dia memberikan kedua botol itu padaku, katanya takut aku tidak cukup dengan satu botol. Karena perjalanan kita masih jauh, benar-benar manis bukan? aku bersyukur akan menjadi pasangannya, sangat beruntung sekali.