
“Kakak sangat berbeda dari hari pertama kita berjumpa. Tidak ada lagi tatapan lembut, tidak ada lagi tindakan kecil yang membuat jantung Qyla berdebar, tidak ada lagi senyuman yang selalu membuat Qyla terpukau. Semuanya sirna seakan memang tidak pernah ada.”
Langkahnya terhenti, dia berbalik dan menyeringai kepadaku. Lengkungan di bibirnya semakin mengembang seraya mendekat kepadaku, dia menyentuh daguku dan tersenyum dengan puas.
“Wanita memang seperti itu, ya, Asqyla? Selalu mengeluh saat sesuatu di depannya berubah. Kupikir kamu memang berbeda dari yang lainnya, ternyata kamu adalah salah satunya.”
Aku mendorongnya saat dia mencoba untuk menciumku, “Dan pria selalu bersikap seperti itu, ya, Kak? Selalu bertindak dengan apa yang dia lihat tanpa mau mendengarkan apa yang sebenarnya, bahkan menyangkal keras suatu kebenaran. Lelaki itu bukan berpikir melalui logika, tetapi ego. Ego kalianlah yang lebih besar dari pembenaran dan terlalu kecil dari permintaan.”
Tangan Werrent terkepal, urat-urat di lehernya menonjol. Aku tahu dia berusaha menahan emosi yang akan segera meluap jika saja aku masih berdiri di hadapannya. Semua pujian yang pernah aku berikan saat pertama kali bertemu membuatku terlihat sangat bodoh, atau memang diriku lebih bodoh dari yang orang lain bayangkan.
“Dan sekarang, hal satu-satunya yang harus Qyla lakukan adalah mengikuti semua kemauan Kakak kan? Baik, Qyla akan lakukan itu semua.”
...***...
Salah. Semuanya menjadi kacau. Pilihanku untuk menerima perjodohan ini adalah kesalahan besar. Tak pernah terbayangkan kalau posisi seperti ini akan menimpaku, sudah beberapa hari berlalu setelah pindahnya kami di tanah Britania Raya. Dan lelaki itu masih menyimpan kesal kepadaku, semua hal yang aku lakukan tidak pernah dia respon sama sekali.
Kini semua hal yang aku impikan selama ini sirna sudah. Menjalani pernikahan dengan harmonis juga romantis, semuanya memang salahku. Salahku yang tidak bisa menolak permintaan dari kedua orang tuaku, kupikir akan lebih mudah jika aku mengikuti semuanya tanpa mengeluh. Tetapi sekarang saja ingin mengeluhpun sudah tidak diizinkan lagi.
“Asqyla! Open this fucking door! Argh, damn it.”
Tendangan keras terdengar di depan pintu, aku bergegas membukakan pintu untuk Werrent. Badan Werrent berkeringat, bau alkohol menyengat hidungku. Biasanya dia tidak pernah semabuk ini, aku membopongnya menuju kamar dan segera membukakan sepatu juga jasnya.
“Hey, hey. Come here, Sweetheart.”
Aku tidak mendengar racauannya yang selalu ke sana-ke mari, kuambilkan baju yang akan dipakai Werrent untuk tidur dan mencoba untuk membuatkan minuman hangat agar dia tidak terlalu mabuk.
Werrent terus meracau memintaku untuk tidur dengannya, tapi keadaan Werrent membuatku risih karena penciumanku yang terus mencium bau menyengat dari tubuh Werrent.
“Kak, Qyla sudah buatkan pereda mabuk dan baju untuk Kakak berganti pakaian. Sudah sangat larut dan Kakak berkeringat banyak, gantilah pakaian dan segera minum pereda mabuk yang telah Qyla—”
“Shut up and come here, babe. “
Werrent menarik tanganku hingga aku terjatuh ke dalam pelukannya, tanpa peringatan sedikitpun dia langsung menindihku dengan seringaian di bibirnya. Perlahan dia menyentuhkan ibu jarinya di pipiku, mengusap lembut. Aku memejamkan mataku karena tidak tahan dengan alkohol yang menyengat di tubuh Werrent dan lagi aku mencium bau minyak wangi yang sangat kental.
Aku sedikit berteriak memintanya untuk sadar atas apa yang sedang dia lakukan, tangannya tidak bisa diam. Kita memang sudah resmi, tapi aku masih belum siap dengan situasi ini apalagi keadaan Werrent yang sedang tidak sadar seperti ini. Aku mencoba memberontak agar dia menghentikan aksinya, tapi apapun yang aku lakukan tidak membuat Werrent menjauh sedikitpun. Diriku pasrah saat Werrent menatapku dengan tatapan yang begitu dingin, tajam dan menusuk. Aku menatapnya dengan takut juga tangisan, tidak berani berbicara karna jika aku berbicara maka Werrent akan melakukannya lebih dari ini.
Tiba-tiba aksinya terhenti, dia memukul kepalanya berkali-kali dan menatapku kosong lalu pergi begitu saja. Aku menarik selimut untuk menutupi badanku lalu menangis dalam diam, terdengar teriakan juga pecahan kaca dari dalam toilet. Aku bergegas memakai pakaianku kembali dan mencoba untuk menenangkan diriku, suara air terdengar jelas dari toilet di mana Werrent berada, aku mencoba untuk tenang dan tak memikirkan semua kejadian tadi dan mencoba fokus untuk mendengarkan suara air mengalir hingga aku terlarut kedalam mimpiku.
...***...
“Asqyla?”
“Iya, Kak?”
Aku berbalik dan melihat Werrent baru saja bangun dari tidurnya, tangannya memijat pangkal hidung dengan perlahan. Terlihat wajah Werrent yang nampak sendu, hidungnya memerah, suaranya serak, lalu badannya hangat.
“Aku tidak melakukan hal aneh kemarin, bukan?” tanya Werrent parau.
Lidah ku kaku, tubuhku tegang. Aku tidak ingin mengingat kejadian tadi malam sedikitpun, mataku melirik kesana-kemari tidak ingin membalas tatapan Werrent. Tangan Werrent terulur menyentuh pipiku lembut, spontan aku menghindar dan mundur dari posisiku. Werrent menatap ku dengan heran, dia beranjak dari kasur dan menghampirku. Tapi, aku terus mencoba untuk tidak telalu dekat dengan Werrent membuat pria itu bingung juga kesal.
“Kemarilah, kenapa kamu menghindariku—”
“Berhenti, Kak. Kakak demam, beristirahatlah. Qyla akan membuatkan sesuatu untuk Kakak.”
Aku bergegas pergi dari kamar menuju dapur, aku mengela napas kasar juga menenangkan diri. Jantungku tak henti berdetak dengan cepat, napasku tersenggal-senggal. Aku merasa takut dengan kehadiran Werrent di dekatku, aku tidak siap untuk membayangkan hal yang akan terjadi seperti tadi malam, walau sepertinya Werrent tidak mengingat apa yang terjadi saat malam tadi.
Dia suamimu, Qyla. Dia berhak melakukan semua itu, lagipula kalian memang belum pernah bermalam bersama, bukan? Tidak ada yang perlu ditakutkan.
Bukan seperti itu, Dit. Rasanya terlalu cepat dan aku belum siap. Aku takut, Dit.
Dengarkan aku baik-baik, Qyla. Kalian sudah resmi menikah, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dengan hal itu. Malah akan lebih aneh jika kalian tidak pernah melakukan hubungan suami istri, sedangkan kalian sendiri sudah menikah.
Aku terdiam, mengaduk-aduk sup yang sedang aku masak. Perkataan Radith sangat benar, tapi aku mengganggap kalau hal itu terlalu cepat untuk dilakukan. Aku masih berumur tujuh belas tahun, aku merasa kalau diriku masih terlalu muda untuk melakukan hal intim seperti itu.
Sudahlah, Qyla. Jangan terlalu dipikirkan, jam istirahatku sudah habis. Jaga dirimu dengan baik, take care, La.
Panggilan terputus, aku memandangi sup yang mulai mendidih, kumatikan kompor dan terdiam sejenak. Aku menimang-nimang dengan baik perkataan Radith, seluruh perkataannya memang benar, tidak bisa di debatkan karna aku sendiri sadar bahwa ini adalah masalah pribadi yang tidak seharusnya Radith tahu.
Tetapi, bukan Asqyla namanya kalau aku tidak cerita semua hal kepada Radith. Lalu, bukan Radith pula namanya kalau ia tidak bisa mengetahui semua hal yang terjadi padaku.
Setengah lingkaran yang saling bertemu dan membentuk sebuah loop tiada akhir, sifat yang tidak terlalu sama namun tidak bersinggungan dan rasa yang sama namun saling bersembunyi.
Mereka satu pasang yang terpisah karna takdir dan satu rumah yang terbelah oleh hati, mereka pilihan yang tak terpilih dan asap tanpa api.
Hubungan rumit yang mereka sendiri tidak pahami.