
Jam menunjukkan pukul 01.15 malam, kurang lebih sudah dua jam Werrent duduk dengan kepala Asqyla yang berada di pundaknya. Dia terus memainkan ponselnya setelah membenarkan posisi Asqyla, tatapan matanya selalu melirik Asqyla disela-sela kesibukannya dengan ponselnya, kadang dia tersenyum saat mendengar Asqyla meracau.
Sudah hampir jam dua malam, pintu rumah calon istrinya terbuka menampikan sosok kedua calon mertuanya, Ayah Asqyla menghampiri Werrent dan berterima kasih telah menemani anaknya sampai tertidur pulas lalu meminta maaf karena telah merepotkannya. Werrent hanya menyangkalnya lalu membawa Asqyla kedalam kamarnya, dia membaringkan Asqyla, menyelimutinya lalu mengecup bibirnya sekilas, dia keluar dari kamar Asqyla dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Calon mertuanya kembali menghampiri Werrent dan menyuruhnya untuk menginap di rumah mereka, tapi Werrent menolak karena dia harus mempersiapkan dirinya di rumah bukan di tempat mertuanya. Dengan sopan dia pamit dan meninggalkan rumah Asqyla, pandangannya masih tertuju pada rumah Asqyla lalu benar-benar pergi ditelan kegelapan malam.
“Besok, ya?” tanyanya bermonolog.
Werrent sudah terbaring di tempat tidurnya, lengan kanannya menutupi dahi, sembari berpikir dia melihat layar ponselnya yang berisi obrolannya dengan seseorang yang selama ini mengisi hatinya.
“Mission clear.”
...***...
“Astaga, cantik sekali anak Mama.”
Aku berdiri di depan cermin memperhatikan diriku yang mengenakan gaun putih panjang menjuntai disertai mahkota yang tak kalah ramai dengan gaunku, kilapan-kilapan yang muncul di seluruh pakaian yang aku kenakan membuatku terlihat seperti Princess Diamond yang dikelilingi oleh permata-permata indah. Tapi, yang tertanam di gaunku hanya manik-manik saja, pria mana yang menghabiskan banyak sekali uang hanya untuk gaun pernikahan istrinya yang baru saja ia kenal? Bodoh sekali kalau ada.
“Qyla? Ini kamu, La?! Lihatlah seberapa cantiknya dirimu, aku sampai jatuh cinta pada pandangan pertama lagi. Tidak kusangka Qyla yang jelek itu berubah menjadi malaikat tanpa sayap.”
Aku mencubit pinggang Radith sampai dia mengaduh kesakitan. Jelek? Jelek katanya?! Aku tahu aku tidak cantik, tapi dengan wajahku yang selalu di bilang lucu oleh Mama tidak mungkin sejelek itu. Mulut Radith jahat sekali.
“Berterima kasih lah, Radith. Kamu pria pertama yang aku biarkan masuk keruangan ini.”
Radith tertawa dia meremehkanku seakan aku membicarakan omong kosong kepadanya, Bunda yang baru saja masuk ke dalam melihat Radith dengan tajam dan menjewer telinganya. Aku tertawa puas setelah melihat Radith mengusap telinganya yang sudah memerah, dia kembali mendekatiku tapi perbincangan Bunda dan Mama membuatnya bingung lalu menatapku tidak percaya.
“Din, Ron kenapa? Dia tahan Ryan biar nggak masuk ke sini, ujung-ujungnya malah berantem di luar. Anaknya mau nikah malah bercanda, pusing aku nanggepin mereka berdua.”
Mama menghela napas dalam, dia menarik Bunda agar ikut duduk bersamanya di sofa yang disediakan di pojok ruangan.
“Tuh, anaknya buat masalah lagi. Dari tadi Ron minta masuk ke sini, tapi Asqyla larang terus. Katanya dia mau lihat Radith dulu, Ron berantem sama Ryan paling-paling kesal karena cemburu sama anak kamu.”
Bunda tertawa tidak percaya dengan penuturan yang dipaparkan Mama, Mama terus meyakinkan Bunda kalau yang dikatakannya memang benar adanya lalu Radith masih menatapku tidak percaya.
“Astaga, Asqyla. Sikapmu masih saja membuat orang kesal, bagaimana kalau Ayah dan Papa benar-benar adu jotos? Aku tidak tanggung jawab atas hal itu.”
“Lho, kok, gitu? Kan kamu sendiri yang bilang kemarin, kalau kamu harus jadi lelaki pertama yang melihatku mengenakan gaun pengantin.”
“Selain Papa, Asqyla. Aku sudah berbicara sejelas mungkin, jangan bilang kau tidak mendengar apa yang aku ucapkan semalam?”
Aku tersenyum kaku, Radith menatapku jengah. Aku sedang mempermainkannya, perkataannya semalam benar-benar jelas, hanya saja rasanya sayang sekali kalau bukan dia yang melihatku pertama kali. Biarlah hal ini menjadi kenangan yang akan dia ingat, karena mulai hari ini jarak diantara Radith dan aku akan semakin melebar, entah itu karena pernikahan ini atau karena dirinya sendiri.
“Jadi gimana? Serius mirip malaikat?”
“Mati dong, Dit.”
“Nggak lah, Qyla. Kan jatuhnya bukan ketanah.”
“Lho, terus ke mana? Ke laut?”
Radith menunjuk dadanya sembari tersenyum lebar, aku tidak mengerti tapi Bunda dan Mama tersenyum jahil melihat kita dan tertawa keras sambil saling menyenggol.
“Hatiku.”
“Itu jantung, Radith bukan hati.”
Radith memutar bola matanya dan menatapku kesal, “Perumpamaan, Qyla. Astaga, kalau bukan karena ini hari pernikahanmu akan aku cubit hidungmu lebih keras dari yang biasanya.”
Aku langsung menutup mukaku, dia memang bilang tidak akan mencubit hidungku tapi tidak dengan pipiku. Radith pasti mencari seribu satu cara agar bisa membalas perbuatanku yang membuatnya kesal, tanganku masih menutupi wajahku, Radith tidak bereaksi apapun. Aku perlahan membuka tanganku dan melihat dia tersenyum manis kepadaku juga menatapku dengan terang-terangan, lalu matanya melirik Mama dan mengucapkan sesuatu yang membuat pipiku merona.
“Ma, kasih tips cara buat anak secantik Qyla, biar Bunda juga punya satu. Soalnya kalau cuman Qyla yang cantik nanti bisa-bisa Radith culik ke rumah.”
“Radith!” teriakku malu.
Sepertinya wajahku sudah memerah sampai ke leher, dia tertawa melihat reaksiku yang kesal disertai dengan gugup, Bunda menegur Radith karena menyinggung untuk mempunyai adik lagi lalu Mama tersenyum kepada Bunda dan menggodanya. Dia masih menatapku dengan senyumnya, apa-apaan sih dia? Bercandanya tidak lucu.
“Jangan cemberut gitu dong, nanti cantiknya hilang. Lihat nih, kan cantiknya jadi hilang.”
Radith memegang kedua lengan atasku lalu memutarkan badanku, karena gaun yang terlewat panjang lalu heels yang tidak biasa aku pakai membuat keseimbanganku goyah. Untung saja Radith menahanku sebelum aku terjatuh, posisiku yang memeluknya membuat lipstikku menempel di kemeja putihnya. Terlihat sangat jelas berwarna merah muda, Bunda tertawa saat melihat Radith kewalahan mencoba untuk menghapus bekas cap bibirku.
“Wah, karyaku terpahat sangat indah di kemejamu, Dit.”
Radith sudah menghabiskan banyak sekali tissue basah, tapi bekasnya bukan memudar malah semakin melekat. Karena kata-kataku tadi, dia menatapku dengan kesal, lalu menghampiriku.
“Karya? Karya macam apa ini? semua orang bisa melakukan ini.”
“Sudahlah, Dit. Nanti juga tertutup jas, tidak akan terlihat.”
Aku sedikit tertawa, letak kemeja yang tak sengaja aku cium adalah bagian samping dadanya, pasti tertutup jas hanya saja saat dia bergerak pasti akan terlihat noda bibir yang sudah berwarna lebih terang akibat ulahnya sendiri.
“Jangan bercanda, Qyla. Memalukan sekali jika orang yang aku kenal melihat noda ini.”
“Itupun kalau ada yang kamu kenal. Yang hadir hanya tamu dari orangtua kita, mereka tidak akan kepo seperti para fans-mu.”
Radith memutar bola matanya dan menatapku dengan kesal, “Tetap saja banyak anak muda yang datang.”