WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Tersandung kerikil



Dia melanjutkan langkahnya dan membawaku keruangannya, orang-orang yang sedang merapikan ruangan Werrent terkejut melihatnya menggendongku lalu pamit dengan sopan. Dia mendudukkanku di atas meja rias dan menghadapnya, tangannya ia letakkan tepat di samping wajahku, wajahnya semakin mendekati wajahku. Aku memundurkan badanku sampai menyentuh kaca lalu tangannya yang satunya memukul kaca di samping badanku sampai pecah, aku menutup mataku, dengan gugup aku melihat matanya, tatapannya sangat intens. Apa yang dia lakukan?


“Apa semua ini lelucon bagimu, Asqyla? Kamu menghabiskan tenagaku hanya karena seorang bocah yang menginginkanmu?! Perlu aku habisi dia?”


Ha-habisi?! Siapa yang dia maksud? Radith? Werrent sudah gila? Apa yang dia maksud, badanku semakin gemetar saat dia kembali memukul kaca dengan tangan yang sama, kali ini aku menjerit dan dia tertawa dengan lantangnya.


“Sudah terlalu sering aku bilang padamu kalau kamu itu milikku, kamu tidak sadar akan hal itu, Asqyla? Perlu aku ucapkan sekali lagi bahwa kamu adalah milikku?!” tanya Werrent dengan nada tinggi.


Aku menggelengkan kepala, jantungku terus berdetak dengan keras sampai rasanya sulit sekali untuk mengambil napas. Wajahnya yang sudah sangat dekat ia jauhkan lalu keningnya ia sandarkan tepat di bahuku, tangannya yang sudah berlumur darah memegang pipiku lembut, aku mengulurkan tanganku untuk mengusap punggungnya, kuurungkan saat dia tertawa kaku.


“Ha ha, maafkan aku, Asqyla.”


Jantungku masih berdetak dengan cepat, kucoba untuk menegarkan hatiku dan mengusap tangannya yang terluka, “Akan Qyla obati tangan Kakak.”


Dia menepis tanganku dengan keras, kaca yang menempel di jarinya menggores lenganku, hanya luka sayat tapi pedih, aku meringis.


“Tidak perlu bersikap sok perduli padaku, Asqyla. Aku tidak suka!” serunya marah.


Werrent mundur beberapa langkah saat mendengarku meringis akibat tangannya yang mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat, raut wajahnya yang seram berubah menjadi lembut saat melihat sayatan di tanganku mengeluarkan darah.


Dia mengelilingi ruangan mencari kotak P3K lalu mengobatiku dengan wajah penuh penyesalan, aku melarangnya karena bagaimanapun yang paling terluka adalah Werrent, tangannya terus mengeluarkan darah, kaca-kaca yang tertancap di punggung jarinya benar-benar dalam. Setelah plester terpasang di lenganku, aku turun dari meja rias lalu mengambil alih kotak P3K dan menyuruhnya untuk duduk. Aku mengeluarkan serpihan-serpihan kaca dengan perlahan, kadang dia meringis karena lukanya yang terkena alhokol.


Setelah memasang perban pada tangannya, aku kembali meminta maaf atas kejadian tadi, dia hanya melihatku dengan diam.


“Qyla tidak mengerti hubungan apa yang Kakak maksud, tapi kalau Kakak marah karena Qyla peluk Radith, Qyla minta maaf. Seharusnya Qyla nggak lakuin hal bodoh di hari yang penting ini, lalu Qyla sudah jelaskan kalau Qyla dan dia hanya sebatas teman tidak lebih.”


“Tidak lebih?” tanya Werrent ragu.


Werrent kembali menatapku dengan tajam, “Apa yang kamu maksud dengan teman? Memberinya harapan kalau kamu akan terus bersamanya?”


“Apa yang Kakak maksud?”


Aku mendekat kepada Werrent, saat langkahku hampir dekat, terdengar suara seseorang mencariku, Werrent berdiri dan menatapku dengan lebih tajam lagi.


“Kita lanjutkan saat acara ini selesai.”


Suaranya begitu dingin, aku membantu sejenak lalu menghela napas panjang. Dia melangkah keluar dari ruangan dan menyampaikan kalau aku ada di ruangannya dan meminta maaf karena membawaku tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu, lalu Mama masuk kedalam ruangan dengan senyuman lebar dan membawaku keluar dari ruangan Werrent.


“Sabar dong, Sayang. Sebentar lagi kalian jadi sepasang pengantin, jangan terlalu terburu-buru.”


Aku menatap Mama kaget, perkataannya bermakna tidak baik. Dan lagi kita tidak melakukan apapun di dalam sana selain bertengkar, pikiran Mama memang tidak pernah bisa aku tebak.


Mama hanya tertawa mendengar jawaban yang kupaparkan, seperti tidak percaya sepenuhnya dengan penuturanku. Mama menyebalkan, bisa-bisanya pertengkaran seperti itu Mama sebut suatu hal yang—Ah, tidak ingin aku bayangkan.


“Qyla serius, Ma. Kita hanya berbincang.”


...***...


Semua orang terus berdatangan mengucapkan selamat kepadaku dan Werrent, bahkan mereka tidak membiarkan kami duduk sedaritadi. Candaan tentang anak terus terdengar di telingaku, entah teman atau kenalan Werrent terus berdatangan menepuk pundaknya dan berkata ‘Tidak sabar menunggu, little Orlov hadir’. Aku hanya tersenyum saat mereka semua melirikku dan mengucapkan selamat juga mengatakan bahwa aku beruntung memiliki Werrent, satu jam terasa seperti satu tahun, kapan ini semua berakhir? Kakiku sudah sangat pegal sekali.


Saat aku akan menundukkan badanku, Radith segera menghampiriku dan memberi selamat juga menggodaku. Werrent terlihat tenang, tidak menatap Radith dengan tatapan mengerikan, aku tersenyum. Tandanya mereka tidak akan saling membuat masalah, bukan?


“Wah, noda lipstik di kemejamu pasti mengganggu ya? Dan yang paling mengganggu lagi adalah warnanya sama dengan lipstik yang digunakan istriku.”


Werrent menekan kata akhir kalimatnya lalu tersenyum kearahku, bagaimana dia bisa melihat noda yang tidak begitu jelas terihat dari sini? Apa karna Radith sengaja menyembunyikannya sehingga Werrent bisa menyadarinya? Sebenarnya Werrent itu siapa? Sampai hal-hal kecil begitu saja bisa membuatnya terusik. Padaha aku dan Radith tidak memiliki hubungan yang Werrent bayangkan.


“Saya ingin menyangkalnya, tapi sayang sekali perkataan Anda sangat tepat.”


Mereka saling memandang satu sama lain dengan senyum penuh arti, tangan Werrent terkepal seakan ingin memukul Radith. Aku merangkul tangannya dan mengusap kepalan tangan Werrent, dia tersenyum bangga melirikku dan kembali menatap Radith.


“Jangan pernah berharap lebih, Bocah. Dia milikku sekarang.”


“Milikmu? Ha ha, Anda pikir dia barang yang hanya bisa Anda beli dengan kekuasaan Anda itu? Saya merasa kasihan padamu, Tuan Orlov. Bagaimana orang besar seperti Anda bisa tersandung dengan kerikil kecil? Saya harap Anda tidak terjatuh.”


Senyum lebar dari Werrent membuat matanya ikut tersenyum juga, namun kepalan tangannya semakin mengerat. Aku hanya bisa menenangkannya lewat belaian tanganku. Aku tidak bisa membiarkan acara pernikahan yang hampir selesai ini menjadi tontonan orang-orang dengan pandangan buruk.


“Sayang sekali harapanmu pasti terkabul. Jangan terlalu kecewa, saya tidak bodoh sepertimu.”


Aku melirik mereka satu persatu, tidak mengerti sama sekali dengan topik perbincangan mereka.


“Kalian sedang membahas apa, sih?” tanyaku pada akhirnya.


“Kamu, Asqyla.”


“Kamu, Qyla.”


Mereka menjawab dengan bersamaan, aku tersenyum. Akhirnya mereka bisa rukun.


“Jangan terlalu bahagia, Qyla. Jangan sampai lupa daratan, tempat di mana kamu terlahir. Jangan juga lupakan perkataanku saat bulan mulai memantulkan sinarnya.”


Radith pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu padaku, aku tahu betul apa yang Radith maksud juga hal yang dia tuju. Hanya dengan beberapa kalimat itu membuatku sedikit tenang, setidaknya dia tidak akan meninggalkanku walau jarak membentang.