WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Sebuah jawaban



“Sudah cukup, Alice. Alano sedang menyetir, biarkan dia fokus pada jalan di depan. Aku tidak ingin kita kecelakaan karena hal konyol seperti ini,” ucapku menengahi.


Alano menatapku tajam seolah dirinya tak perlu aku bela dan Alice tersenyum lebar seraya memelukku dengan erat. Aku menepuk lengannya berkali-kali karena pelukan dia menyekik leherku.


“Uhuk, tanganmu Alice. Tanganmu,” ucapku tersenggal-senggal.


“Astaga, Asqyla! Maafkan aku!”


Aku mengambil napas dengan dalamnya dan memegang leherku. Dasar alice!


“Tapi, Asqyla? Kalau misalnya kita tetap jalankan rencana yang kemarin kita bicarakan, apa ada untungnya buatmu?” tanya Alice tetiba.


Aku melirik pada Alano, dia tidak peduli sama sekali dengan topik pembicaraan ini. Aku menghela napasku. Jelas aku rugi lah, Alice. Dengan kondisiku yang seperti ini, mungkin aku bukan hanya kehilangan Werrent saja tapi bayi yang ada dalam kandunganku. Walau aku tahu bayi ini hasil dari ketidaksengajaannya Werrent.


Namun, apa salahnya bayi ini? Dia hanya ingin lahir dan aku sebagai Ibunya tidak mungkin bisa melepas dia begitu saja. Apalagi karena egoku yang menginginkan untuk tidak bertemu Werrent lagi.


“Jelas tidak ada untungnya untukku. Jika nanti aku dan bayi ini yang selamat dan saat dia tumbuh dan teman-temannya bertanya di mana Ayahnya, aku harus berkata apa? Aku tidak ingin dia lahir tanpa kasih sayang yang lengkap.”


Alano tiba-tiba menengok ke arahku dengan ekspresi marah. Dia mencengkram erat setir mobil. “Memangnya Werrent akan memberikan perhatian pada sesuatu itu? Kamu pikir benda itu bisa hidup dengan Ayahnya yang bejat?!”


“Hey! Dia itu manusia! Jangan sebut dia seolah-olah yang Asqyla kandung itu adalah benda!” seru Alice seraya memukul kepala Alano. Aku sempat terkekeh namun Alano kembali menatapku dengan tajam.


“Sudah Asqyla, kan masih ada Alano yang bisa bertindak sebagai Ayah dari anakmu. Kalau saatnya sudah tepat, baru kamu jelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada anakmu.”


Alano menatapku datar lalu kembali memandang jalan di depannya. Aku menengok ke arah Alice, “Aku menghargai semua hal yang sudah kamu buat untukku, Alice. Tapi, aku tidak bisa mengiakan hal tersebut apa lagi menyangkut nyawa seseorang. Aku tidak apa-apa, Alice.”


“Apa sih yang bisa dibanggakan dari orang yang tidak pernah berlagak seperti suami itu, Asqyla? Apa bedanya dengan kamu melilih orang secara acak lalu kamu jadikan dia sebagai pajangan saja,” ucap Alano.


Lagi-lagi, perkataannya itu menusuk hatiku. Aku hanya diam tak membalas ucapannya, pandanganku tertuju pada jalanan yang tidak begitu padat. Lalu-lalang kendaraan menenggelamkan kesadaranku. Pikiranku kosong hingga aku terlamun.


Sayup-sayup aku mendengar pertengkaran antara Alice dan Alano hingga tiba-tiba Alano menghentikan mobilnya dan menatap tajam ke arahku.


“Asqyla! Sudah aku bilang bukan, Werrent itu memang lelaki badjingan! Kamu tahu apa yang dia lakukan tadi?! Hah! Aku sampai kehabisan kata-kata hanya dengan membicarakannya!” teriak Alice dari belakang.


Alano menecengkram pergelangan tanganku tiba-tiba. Dia membicarakan hal tidak bisa aku pahami. “Buang Asqyla. Buang semua yang kamu punya. Jangan pernah kembali dan cari jalanmu sendiri.”


Aku meringis seraya mengerutkan keningku, ada apa dengan mereka berdua? Aku tidak mengerti sama sekali. “Kalian itu kenapa? Aku bingung kalian tiba-tiba bertengkar dan membawa Mas Werrent, ada apa sebenarnya?” tanyaku keheranan,


Alice menatap Alano dan Alano mulai melonggarkan cengkraman tangannya. Aku menatap mereka bergantian. “Kita gak jadi jalan-jalan?” tanyaku dengan polosnya.


Alice dan Alano menghela napas bersamaan lalu Alano kembali menjalankan mobil. Ternyata kami memang sudah sampai, kami memasuki basement dan menaiki lift menuju lantai dasar. Dari sini, Alano pamit karena ingin membeli beberapa barang dan dia bilang akan menunggu di mobil sedangkan Alice dia ingin pergi membeli minum terlebih dahulu dan memintaku untuk menunggu di depan toko jam. Ada sebuah tempat istirahat, aku memutuskan untuk duduk di sana dan seseorang yang aku kenal memanggilku.


“Asqyla!” teriaknya. Aku menegok ke arah samping, anak lelaki dengan Es Krim di tangannya menghampiriku. Aku melebarkan tanganku berharap dia memelukku.


“Louis!” teriakku juga saat dia memeluk badanku.


“Lama sekali kita tidak berjumpa, kenapa kamu gak datang ke pesta ulang tahunku, Asqyla? Aku tidak mengharapkan kado darimu, aku hanya ingin kamu datang di sana dan aku pamerkan kepada teman-temanku kalau aku punya Kakak yang begitu cantik,” ucap Louis dengan histerisnya.


“Kamu sedang apa di sini sendirian, Asqyla?”


“Aku? Hm, aku sedang jalan-jalan bersama Alice dan Alano.”


“Siapa mereka?”


“Mereka keluargaku, kamu sedang apa di sini sendirian? Ah, pasti membeli Ice Cream lalu makanan manis lainnya,” ucapku menebak.


Louis tersenyum manis seakan tebakanku benar. “Aku gak sendirian—Ah!” Louis tersentak.


Aku melirik ke arah belakangku karena Louis tiba-tiba menatap belakangku seakan dia memang sedang menunggu seseorang. “Kevin!” teriak Louis menyapa Kakaknya agar dia datang menghampiri Louis.


Aku tersentak kaget, badanku menegang. Aku tidak ingin bertemu dengan Kevin saat ini, karena masih ada satu hal yang belum selesai diantara kita.


“Kevin! Lihat siapa yang aku temukan!” seru Louis.


Langkah kaki Kevin terus mendekat, aku tidak bisa terus diam di sini. Seketika aku berdiri dan berbisik pada Louis. “Aku ingin ke kamar mandi, sampaikan salamku pada Kevin. Maaf, ya.”


Dengan begitu, aku setengah berlari mencari lift menuju basement. Setidaknya aku aman kalau aku bersama Alano. Dengan cepat aku menekan tombol lift. Saat aku masuk dan ingin menutup pintu lift, sebuah tangan menahan pintu dan saat pintu terbuka, tampang lelah dari Kevin yang sedang mengejarku tercetak jelas di wajahnya.


“Kenapa kamu lari, Asqyla?”


...***...


Aku sedang duduk di hadapan Kevin dengan segelas Milkshake Chocolate dan Kevin dengan kopinya. Aku melirik kesana-kemari karena tidak nyaman berbincang berdua seperti ini.


“Asqyla? ada sesuatu yang kamu pikirkan?” tanya Kevin lalu mengesap kopinya.


Aku diam, hanya menatap lurus padanya. “Ada sesuatu di wajahku?” tanya Kevin lagi.


Aku mengibaskan tanganku di udara dan memalingkan pandanganku. Suasananya canggung sekali, aku ingin pulang.


“Anu, Kevin?”


“Ya?”


“Sepertinya jawabanku waktu itu ...,” Aku menggantungkan ucapanku.


Dia mengangguk dan menungguku melanjukan ucapanku. “Hm, maaf ... aku—”


“Sudah aku duga,” ucapnya seraya mengesap kembali kopi miliknya.


Dia memotong ucapanku dan aku yakin Kevin mengerti. Dari tadi aku hanya mengaduk minumanku tanpa aku cicipi sedikitpun. Kevin menyadari hal itu dan mengganti topik yang lain. Aku hanya tersenyum canggung padanya. Apa tidak apa-apa bagiku yang sudah menolaknya ini malah masih berbincang seakan tidak pernah terjadi apapun?


“Asqyla ... padahal aku serius dengan ucapanku waktu itu.”