
“Kak! Kita mau ke mana? Kenapa ke laut? Kakak gila?!” teriakku.
Aku terus menggeliat dan meminta Werrent untuk setidaknya mendarat di pantai bukan di lautnya. Dia benar-benar ingin kita mati apa? Werrent tidak waras!
“Mencintai kamu saja sudah cukup membuatku gila, Asqyla. Hal ini tidak sebanding dengan apapun.”
“Tapi, Qyla gak bisa berenang. Kalau tenggelam gimana?!”
“Lho, aku pikir kamu bisa renang. Soalnya aku gak bisa.”
ARGH! WERRENT BENAR-BENAR GILA! TIDAK WARAS! AHHHH AKU INGIN MENCEKIKNYA DETIK INI JUGA!
“CEPET PUTAR BALIK KAK! SEENGGAKNYA AIR DI DEKAT PANTAI GAK DALAM!”
“Aku tidak tahu caranya, Qyla,” ucap Werrent dengan santai.
Ah ... sudahlah, sudah. Aku tidak ingin mendengar perkataan Werrent lagi. Kami hanya harus mendarat lalu setidaknya mengambang dan menunggu seseorang menyelamatkan kita. Kalau tidak bisa berenang kenapa harus mendarat di sini sih? Werrent bodoh!
“Bersiap-siap, Asqyla. kita mendarat.”
Apanya yang bersiap-siap! Dan seketika kami berdua masuk ke dalam air. Werrent melepaskan pelukanku dan berenang ke dasar air. Aku mengambil napas dalam-dalam dan menangis.
“Tidak apa Asqyla, mereka sebentar lagi menjemput kita.”
“Apanya yang gapapa, Kak? Hiks ... gimana—gimana kalau tadi bener-bener tenggelam? Kenapa, sih. Kenapa Kakak harus bohong kalau Kakak bisa renang, hua!”
Tangisku benar-benar pecah. Werrent melepas alat yang mengikatkanku dengannya dan memelukku, dia mengelus punggungku dengan lembut. Tangisku benar-benar tidak bisa tertahankan. Pikiranku benar-benar kalut.
“Sudah, Asqyla. Aku memelukmu erat, tidak akan tenggelam. Aku hanya bercanda.”
Bercanda katanya? Werrent keterlaluan sekali!
“Hiks ... bercanda juga hiks, ada batasnya. Hiks, Kakak jahat!”
Werrent lagi-lagi mengelus punggungku, “Maaf, Asqyla. Sudah jangan menangis. Tidak akan terjadi apapun padamu.”
Aku mendorong Werrent, tanganku mengusap kasar kedua mataku. “Gimana kalau tadi benar-benar tenggelam? Gimana kalau tadi Qyla pingsan dan Kakak tenggelam? Kakak itu gak sayang nyawa apa?! Qyla takut kalau yang celaka malah Kakak.”
Werrent memejamkan matanya serta tersenyum hangat. Tangannya mengelus lembut kepalaku. “Jadi kamu menghawatirkan kondisiku dari pada kondisimu sendiri?” tanya Werrent dengan lembutnya.
Aku menggangguk, jelas sekali. Bagaimana bisa aku membiarkan Werret terluka. Harusnya aku tidak menyetujui ajakannya untuk berkenca. Tidak. Aku tidak akan berkencan lagi dengan Werrent.
“Qyla tidak mau berkencan lagi sama Kakak.”
Werrent tersenyum, “Tapi, kamu lihat pemandangan yang indahkan di atas tadi?”
Memang benar tadi itu luar biasa sekali, tapi tidak dengan endingnya. Werrent gila.
“Yakin tidak ingin berkencan lagi bersamaku?” tanya Werrent seraya menggodaku.
Aku tidak menjawab apapun karena orang-orang dari tempat tadi menjemput kamu dengan perahu mesinnya. Werrent menaikkanku ke atas perahu terlebih dahulu dan salah seorang staf memberikanku handuk untuk menghangatkan badanku.
Werrent naik ke atas lalu menerima handuk dari orang yang sama yang memberikanku handuk dan menghampiriku lalu melilitkan handuk miliknya di badanku. Dia mengecup keningku sekilas dan masuk ke dalam perahu. Aku terduduk di ujung perahu seraya memainkan air laut, kami akan segera sampai di tepi pantai.
Werrent keluar dengan pakaian baru yang kering, dia menghampiriku dan menyuruhku untuk berganti pakaian.
“Tapi, Qyla gak bawa baju ganti, Kak.”
“Masuk dulu, aku sudah siapkan semuanya. Kalau ada yang kurang tinggal bilang saja, keringkan rambutmu sekalian. Jangan sampai terkena flu.”
Aku masuk ke dalam perahu, memangnya siapa suruh turun di tengah laut? Tapi pemandangan itu benar-benar menakjubkan sekali. Benar-benar indah. Mungkin kapan-kapan, aku akan meminta Werrent untuk mengajakku ke tempat ini lagi. Tapi tidak dengan laut. Jangan sampai kami mendarat di air lagi.
...***...
“Sudah selesai?” tanya Werrent padaku.
Aku mengangguk dan mencoba untuk menahan rokku karena angin yang begitu kencang. Tidak kusangka Werrent benar-benar menyiapkan semuanya hingga sampai dalamanku juga. Memalukan sekali, tapi braku sangat sempit. Rasanya sakit dan sesak napas. Walau begitu, aku harus bersyukur karena Werrent menyiapkan pakaian kering untukku.
“Pakaiannya bagus, Qyla suka.”
Gaun berwarna kuning selutut benar-benar lucu sekali. Werrent mempunyai selera bagus dalam memilih pakaian wanita.
“Ya sudah, setelah ini kita makan. Kamu pasti lapar, kan?”
Aku mengangguk dan menghampirinya, dengan berjinjit akhirnya aku bisa mendekatkan bibirku di telinganya untuk membisikan sesuatu.
“Sebelum itu Qyla ingin membeli sesuatu, bagian dada Qyla sempit. Jadi ....”
Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Werrent menarik pinggangku untuk mendekat padanya. Dia juga tersenyum padaku. “Tidak kusangka badan sekecil kamu memiliki buah dada yang—”
“Kakak!” teriakku.
Aku menutup mulut Werrent dengan kedua tanganku, dia benar-benar tidak tahu malu sekali. Kenapa sih orang semacam dia tidak memiliki urat malu sedikitpun!
“Tenang, Asqyla. Orang-orang memperhatikanmu, lagi pula mereka tidak mengerti apa yang aku bicarakan.”
Aku menunduk malu, “Tetap saja memalukan.”
“Tapi aku tidak, masa aku harus malu karena mengatakan bentuk tubuh Istriku pada orang lain?”
Aku menatapnya tidak percaya, “Karena Qyla Istri Kakak, seharusnya Kakak tidak bicara sembarangan seperti itu!”
“Lagi pula mereka hanya mendengarkan dan tidak melihatkan? Jadi untuk apa aku malu?”
Werrent menatapku, tapi bukan tepat di mataku, jauh lebih bawah lagi. Mukaku merah, karena gaun ini memiliki model V neck, maka mau tidak mau belahan dadaku terekspos. Apalagi posisi Werrent yang lebih tinggi dariku, dia pasti melihat dengan jelas.
“Kakak!”
Aku menutup matanya dengan tanganku, Werrent mesum sekali!
“Tenang Asqyla, nanti orang-orang berpikir kalau aku sedang ada apa-apa sama kamu.”
“Kan memang benar! Mata Kakak jelalatan!”
Werrent memegang tanganku dan menyingkirkannya dari matanya. Dia tersenyum puas lalu mengecup bibirku sekilas. “Gak apa-apa, kamu kan bukan orang lain melainkan Istriku. Jadi, tidak ada salahnya aku menikmati pemandangan ini, bukan?”
Lagi-lagi Werrent melirik ke bawah, aku mendorongnya dan menutup dadaku dengan tangan. Werrent tertawa, dia membuka kemejanya dan menyampirkan kemeja miliknya itu padaku. Seketika perutku berbunga, senyum terus terpahat di wajahku. Hari ini benar-benar menyenangkan, walau banyak hal menegangkan yang terjadi.
“Jadi, kita pergi kencan ke mana lagi?” tanya Werrent dengan senyum manisnya.
“Pulang.”
“Lho, kok pulang?”
“Nanti kita malah datang ke tempat yang berbahaya lagi.”
Werrent mengelus pipiku, “Kita kan mau makan, bukannya kamu juga mau beli dalaman?”
Pipiku memerah, kenapa sih Werrent bisa setenang itu mengucapkan hal yang memalukan?!
“Tidak. Kita pulang, Qyla gak akan biarin Kakak buat rencana lain lagi! Biar Qyla yang urus kalau kita mau kencan lagi.”
“Lagi? Berarti ada kencan lainnya?” goda Werrent. Dia mencolek daguku.
“Gak tahu, Qyla mau pulang!” rajukku.
“Lho, kok gak di jawab sih?”
“Apa, sih, Kak? Gak tahu ah!”
“Iya, iya. Kita pulang, ya.”