
Mataku masih sembab, akibat menangis terlalu lama. Aku meracaukan banyak hal hingga Danish sendiri tidak paham dan memilih untuk diam, mendengarkan. Sekarang ia sedang tertidur di kursinya, dengan wajah lelah yang belum sempat tidur.
Aku masih heran mengapa Danish ada di sini, namun itu tak penting lagi bagiku. Karna aku baru saja mengingat kalau aku mempunyai Kakak yang begitu pengertian seperti Danish. Dia orang yang begitu peduli namun dingin pada satu waktu.
“Umh ... sekarang jam berapa, La?” tanya Danish padaku.
Aku meraih ponselnya yang berada di meja samping ranjangku. “Jam setengah delapan malam, Bang. Abang gak ada acara apapun?” tanyaku ragu-ragu.
“Shit!” serunya.
Aku menatapnya dengan kebingungan, “Kenapa, Bang?”
“Gue ada janji sama cewek gue jam tujuh, udah kelewat setengah jam.”
“Bukan tanggal sekarang kali, Bang. Dari tadi ponsel Bang Danish gak bunyi sama sekali. Kalau cewek Abang telpon, Qyla pasti udah bangunin Bang Danish dari tadi.”
“Hape satunya gak gue bawa, La. Ini khusus buat kerjaan, pasti udah ngamuk-ngamuk tuh cewek satu. Hah ... capek banget, deh.”
Aku mengusap kepalanya gemas. Danish ketika kesal begitu menggemaskan. “Yaudah, susul sana. Qyla gak papa sendirian di sini. Sebentar lagi juga Mas pulang.”
Danish mencengkram pergelangan tanganku dan menyingkirkannya dari kepalanya. Dia juga menatap dalam padaku. Seakan ingin menerkamku.
“Ngapain? Di sini ada Adek kesanyangan gue yang paling berharga. Kenapa harus gue tinggalin coba?”
Aku tersenyum lebar, sudah kubilang bukan? Danish emang terbaik.
...***...
“Qyla? Lo gak khawatir sama anak lo? Gue dua hari ini belum lihat anak lo. Jangan bilang ini cuman akal-akalan lo aja biar gue samperin lo kesini. Ngaku lo!” serunya kesal.
Aku yang sedang perawatan jalan melihatnya dengan kekehan, begitu gemas sekali pria satu ini.
Perlahan aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tiang infus di sebelah kiriku. Danish juga membantuku berjalan. Rasa sakit di bagian bawahku benar-benar nyeri. Namun, dokter menyarankanku untuk berjalan-jalan. Agar lekas pulang. Sejujurnya aku juga memang sudah muak berada di sini. Terkekang oleh hal ini dah hal itu.
“Ada, kok, Bang. Dia lagi tidur, kemarin waktu Abang tidur, suster bawa anak Qyla ke kamar.”
“Kok gak bangunin gue sih?”
“Abang tidurnya pulas, Qyla gak berani bangunin.”
“Halah bilang aja lupa bangunin.”
Aku tertawa ringan, Danish memang semenggemaskan ini.
“La?” tanyanya. Padahal aku berada tepat di sampingnya, namun dia memilih untuk bertanya.
“Kenapa?”
“Are you okay?” tanyanya lagi.
Langkah kakiku seketika membeku. Dia juga ikut terdiam seakan tahu apa yang terjadi padaku. Sekarang aku tidak terbawa perasaan lagi seperti kemarin. Aku juga bisa mencerna dengan baik mana yang harus aku sampaikan atau aku sembunyikan dari Danish. Namun, untuk menjawab pertanyaan sepeperti itu dari Danish saja sudah membuat kerongkonganku pedih.
“Qyla ... Qyla baik-baik aja.”
Hening. Kami berdua berdiri di tengah-tengah lorong menuju lantai dua di mana kamarku berada. Tidak ada yang menegur sama sekali seakan kami tak menghalangi jalan. Kami berdua sama sama terdiam, larut dengan segala pikiran yang mungkin akan melukaiku jika Danish terus mendesakku.
“Kita ke kantin, yuk?”
Seakan paham apa yang aku rasakan, Danish memilih untuk mengalah. Aku tahu ini memang bukan sebuah rahasia yang harus aku sembunyikan. Tapi, Danish dan Werrent sepertinya memiliki ikatan pertemanan. Aku tidak tahu pastinya namun dari cara mereka berbincang, sudah jelas sekali kalau mereka sudah mengenal jauh lebih lama sebelum aku menikahinya.
Terkadang, aku merasa semua orang menyembunyikan sesuatu padaku. Suatu hal yang akan membuatku kecewa karena mereka sengaja menutupinya. Tapi, ini hanya dugaanku saja. Dan aku tidak ingin dugaan kasar yang aku pikirkan menjadi kenyataan.
Aku mengangguk, “Coklat.”
Danish mengusap kepalaku gemas, “Haha, iya gue tahu kesukaan lo apa. Tunggu di sini, ya? Gue gak bakal lama.”
Aku mengangguk, menunggunya sambil berdiri di samping meja kantin. Banyak orang berlalu-lalang di mari, aku menatap mereka satu persatu. Begitu banyak cerita diantara mereka. Ada yang terharu, terlihat bahagia sekali, bahkan ada yang begitu depresinya hingga hatiku terasa sakit menatapnya.
Tak lama Danish datang dengan susu coklat dan coklat bar. Aku tidak tahu kenapa dia membiarkan aku memakan coklat di saat kondisiku belum cukup pulih. Tapi, aku tahu jelas kalau dia bermaksud untuk menghiburku. Semoga pertanyaan tentang kondisiku tidak ia tanyakan lagi.
“Mau balik ke kamar atau ke taman?” tanyanya memberiku pilihan.
Jelas aku memilih taman. Muak sekali aku tertidur di ranjang dalam ruangan serba putih itu.
“Sebentar, gue ambil kursi roda dulu.”
Aku menatap kepergiannya dengan senyuman di bibirku. Aku dan Danish memang tidak sedekat itu, namun tak ada pertengkaran hebat diantara kita. Bisa dibilang aku dan dia seperti sepasang teman. Terkadang aku berpikir, apa dia senang memiliki adik yang egois sepertiku?
...*** ...
“Sesudah matahari tenggelam, kita harus balik ke kamar. Gue gak mau lo tambah sakit. Jaketnya masih kurang tebel gak?”
Aku memeluk jaket milik Danish erat-erat. Menatap lembayung yang sebentar lagi akan sirna. Aku menggeleng, menjawab pertanyaannya.
Kami berdua menikmati tiupan angin detik demi detik. Werrent belum kembali sejak kemarin, kita memang berhubungan lewat ponsel. Namun, tetap saja rasanya berbeda.
“Qyla.”
Ditengah keheningan yang sunyi, Danish memanggilku dengan nada rendahnya. Tanpa pikiran apapun aku menjawab ucapannya. Namun, sedetik kemudian aku menyesali telah menjawab panggilannya.
“Padahal kamu tahu kalau Abang pasti bisa jadi pendengar yang baik. Kenapa selama ini kamu diam?”
Perkataannya dan nada bicara yang dia pakai, membuat hatiku memanas. Seharusnya semilir angin ini menyejukkanku, namun aku begitu gerah hingga rasanya ingin tenggelam dalam samudera.
“Aku tahu kamu gak baik-baik aja, Qyla. Aku tahu kamu menahan semuanya sendiri. Maaf aku gak ada di samping kamu selama ini. Maaf karna aku masih melarikan diri, La.”
Aku hanya mendengarkannya, terlepas dari apapun yang dia ucapkan, apapun yang dia katakan, mengerti tidaknya aku dengan apa yang dia maksud, tetap saja hatiku sakit. Aku tidak bisa menanyakan apapun selain terdiam menahan tangisku.
“It’s okay not to be okay, La. Kamu berhak untuk lelah, kamu berhak untuk mengeluh. Aku itu Abang yang buruk ternyata, La. Kalau aja kita gak sedekat itu, mungkin kamu gak bakal ada di situasi seperti ini.”
Mulutku bungkam. Tak mengatakan apapun, bahkan mengambil napas saja sulit. Dadaku terasa sesak sekali, mataku sudah berair. Namun, aku terlalu takut menyekanya. Terlalu takut jika aku akan histeris seperti kemarin.
Aku itu seorang istri, juga seorang ibu. Aku harus bisa menahan perasaanku. Namun,
“Maaf, ya, La.”
Perkataan Danish cukup untuk menyakitiku. Aku menangis dalam diam, menahan agar suaraku tidak keluar. Sedangkan Danish sendiri memilih diam, tak menyentuhku sama sekali.
Dan, ya. Dia benar.
I’m not okay.
A/N:
Woah, saya udh lama banget gk update. Maafkan banget nihhhh ㅠ
Sekarang saya usahakan untuk update, walau tidak serutin dulu tpi seminggu pasti ada update-an terbaru. Jangan bosen buat pantengin karya saya ya. Love you, All.
As always,
Be wise, Darling.