
Sejak hari itu, aku mengurung diri dalam kamar. Kamar yang selalu menghujamku dengan beribu-ribu jarum setiap aku bernapas. Kamar yang awalnya tempat di mana aku bisa beristirahat dengan tenang. Juga kamar yang menyaksikan semua penderitaan dan tangisku.
Sejak hari itu pula, dia tak pernah tampak. Tak pernah kembali hanya untuk berganti pakaian atau berusaha menemuiku seperti sebelumnya. Terkadang aku berpikiran jika dia tidaklah nyata dan aku juga hanya berhalusinasi tentang masa depanku yang berantakan seperti ini.
Namun, setiap mereka bertanya mengenai kabarku, dengan bahagianya aku berkata kalau aku baik-baik saja. Tak pernah serangkai kata buruk aku lontarkan, atau setitik air yang turun dari mataku. Bahkan sudut bibirku tak pernah turun barang sedikit jika berbicara dengan mereka.
“Rasanya begitu menyakitkan,” gumamku.
Marie berbalik, menghampiri dan memegang lembut tanganku. “Nyonya butuh sesuatu?” tanya Marie padaku.
Aku tersenyum padanya seraya menggelengkan kepalaku. Untung saja Marie tidak mengerti apa yang aku bicarakan. Dia tidak bisa menerima beban yang lebih berat lagi. keberadaanku saja pasti membuatnya repot, apalagi jika aku mengeluh padanya.
“Kalau Nyonya butuh sesuatu, tolong beritahu saya,” ucapnya sopan.
Aku mengangguk, “Kamu bisa pergi sekarang.”
Marie tersenyum, melepas genggamannya di tanganku lalu beranjak pergi. Aku menyandarkan punggungku pada kepala kasur, kepalaku pening sekali. Dua minggu sudah berlalu sejak hari di mana Werrent menghabiskan malam pertama yang harusnya di lakukan saat kami baru saja menjadi sepasang pengantin.
Jujur saja aku tidak masalah karena aku adalah istrinya. Namun, yang membuatku sesak adalah ia yang meminta maaf padaku lalu pergi begitu saja. Permintaan maafnya seperti sebuah kesalahan yang seharusnya tidak dia buat. Hatiku hancur berkeping-keping.
Coba saja kalau ada Radith di sini, mungkin aku bisa sedikit lega. Tak pernah kudengar sedikitpun kabar tentangnya setelah ia berkata akan fokus meraih mimpinya. Setahuku Radith hanya ingin jadi pengembang game. Kecintaannya pada game membuat dia ingin membuat mahakaryanya sendiri. Aku tidak akan melarang apapun yang membuatnya bahagia, tapi setidaknya berkabarlah sedikit. Kini aku begitu merindukan sosoknya.
Tok, tok!
Suara ketukan pintu yang mengganggu lamunanku. “Ya, masuk!” seruku.
Seorang wanita yang sedikit lebih tua dariku masuk ke dalam kamar. Aku tersenyum lebar, hendak turun dari kasur untuk menghampirinya. Namun, dia tidak membiarkanku turun untuk menghampirinya dan menerjangku. Aku tertawa di sela-sela pelukan kami. Dia adalah teman terbaikku selama Werrent tidak di rumah.
“Alice! Aku rindu!” teriakku padanya. Alice memelukku lebih erat dan menggoyangkan tubuhku ke kanan dan ke kiri. Argh! Aku begitu merindukannya!
“Ah, lama kita gak ketemu! Aku juga rindu, Kak!” serunya tak kalah senang.
Aku mendorong tubuhnya agar bisa melihat wajah Alice. Kupicingkan mataku dan mencubit lengannya, “Aku itu lebih muda dari kamu tahu!”
“Aw! Tapi kan kamu Kakak Iparku, iya, kan Alano!” teriaknya di akhir ucapannya.
Aku memiringkan tubuhku untuk melihat ke arah pintu dan seorang pria yang tidak terlalu beda jauh dengan Alice sedang menyandarkan tubuhnya di samping pintu lalu menutupnya. Aku terbelalak kaget karena biasanya Alice tidak akan membawa Alano jika ingin bertemu denganku. Karena Alano pasti tidak nyaman dengan perbincangan antara perempuan lalu memutuskan untuk pergi. Namun, selagi dia di sini, aku akan memuaskan rasa rinduku pada mereka berdua.
“Alano!” seruku seraya melebarkan kedua tanganku. Dia menghela napasnya lalu menghampiriku dan memelukku erat. Aku mengusap punggungnya berkali-kali dan mengatakan kalau aku begitu rindu juga padanya. Namun, yang aku dapatkan bukanlah ucapan rindu balik.
“Sudah tahu sakit, masih saja mencintainya. Sayangku Asqyla, harusnya kamu tahu batasan dan sadar di mana kamu harus bertahan atau pergi,” bisiknya, tajam.
Tubuhku seketika menegang, tidak ada lagi tawa yang aku keluarkan karena memelukknya dengan erat serta mengusap punggungnya. Tanganku turun, tak lagi memelukknya sedangkan Alano masih setia memeluk tubuhku. Alice menyadari apa yang terjadi, langsung menarik Alano dan menyuruhnya menjauh.
“Katanya kamu rindu Asqyla! Terus kenapa kamu buat dia begitu?!” teriak Alice lagi pada Alano. Sedangkan Alano tidak sedikitpun berniat untuk mendengarkan ucapan Alice.
“Alano! Jangan abaikan ucapanku! Kamu tahu? Asqyla itu berjuang dengan susah payahnya di sini dan kamu buat dia sakit hati? Kenapa mulutmu tak pernah berucap manis sedikitpun pada Asqyla?!”
Amarah Alice memuncak, aku ingin menghentikan pertengkaran mereka berdua namun tubuhku sama sekali tidak bergerak. Ucapan Alano ada benarnya. Aku seharusnya tahu saat di mana aku harus berhenti.
“Berkata manis? Untuk apa? Agar aku bisa menyakiti dia seperti Kakakmu itu, Alice? Berucap manis di awal namun pahit di akhir? Aku tidak seburuk itu, lebih baik dari awal dia tahu batasan dirinya sendiri,” jawab Alano.
Alice berdiri, tangannya melayang di udara dan berhasil menampar pipi Alano. “Jaga ucapanmu, Alano. Werrent itu Kakakmu juga. Jangan karena kamu lahir beberapa menit awal dariku, kamu jadi merasa paling benar.”
Alice mengepalkan tangannya lalu melanjutkan ucapannya yang belum selesai. “Yang paling tersakiti di sini itu bukan kamu maupun aku. Tapi, Asqyla. Aku tahu kamu menghawatirkannya, tapi coba kamu intropeksi diri. Apa ucapanmu itu pantas untuk orang yang selama ini bersabar dengan kelakuan bejat Werrent?”
Alano melirik tajam pada Alice lalu aku. Dia berdecak sebal lalu pergi keluar kamar. Mungkin pergi ke tempat lain atau sekedar menenangkan dirinya karena Alice benar-benar marah pada Alano. Mereka berdua itu kembar. Namun, aku tak pernah melihat satu hal yang sama dari mereka. Hanya sifat amarahnya saja yang sama. Mereka sama-sama tidak mau kalah.
“Asqyla, maafkan perkataan dia. Aku tahu dia pasti mengatakan hal yang tidak baik lagi, aku percaya kamu pasti bisa memutuskan yang terbaik buat diri kamu sendiri,” ucap Alice menghibur.
Aku mengangguk, mungkin Alano benar. Aku seharusnya tahu batasan diriku dan sadar posisiku di mana. Namun, aku adalah Asqyla. Aku tidak akan menyerah pada keputusanku sendiri. Kalau aku menyerah, maka dengan berat hati aku menyatakan pada diriku sendiri kalau aku telah kalah. Dan lagi pula sekarang aku sudah memiliki Alano dan Alice. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi.
“Ngomong-ngomong, Asqyla. Kapan kamu bertemu dengan Kevin lagi? Aku rindu wajahnya,” ucap Alice dengan malu-malu.
Aku tersenyum lebar, Alice memang selalu membuatku bingung dengan perubahan emosinya.
“Sejak kapan seleramu itu brondong, Alice? Dia itu tidak beda jauh denganku dan kamu mau mengencaninya?” tanyaku menggoda Alice. Dia gelagapan dan aku tertawa renyah.
“Hey! Aku itu dua puluh tahun dan Kevin itu Sembilan belas! Kita hanya beda setahun. Apanya yang brondong!”
Tawaku semakin pecah, padahal aku hanya bercanda.
A/N:
Aku balik nih, wkwkwk
Ada yang rindu sama Asqyla gak nih? Atau Werrent gitu?
Dari sini gak aku kasih garis miring lagi karna Asqyla mulai pakai bahasa inggris di kehidupan sehari-harinya.
Ah, aku minta maaf karna kelamaan hiatusnya. Pasti pada rindu kan? ^^
As always,
Be wise, Darling.