WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Mengecewakan.



“Satu hariii, hanya satu hari ... ya?” bujuk perempuan itu dengan nada manjanya.


Aku menggigit bibir bawahku dengan kencang, rasa sakit di kakiku tiba-tiba menghilang. Hanya amarah yang terus memenuhi pikiranku. Siapa perempuan itu?


“Tidak bisa, Sweety. Aku tidak ingin Istriku berpikiran aneh-aneh, kita sambung pembicaraan ini. Hari ini aku lelah, ingin pulang lebih awal.”


Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arahku, jantungku berdetak semaki kencang. Bukan karena takut ketahuan, tapi aku takut seorang pria itu adalah Werrent. Aku masih ingin menampik pendengaranku yang terus mendengar suara Werrent. Tapi, mau aku elak sebagaimanapun tetap saja suara itu dan cara bicaranya itu adalah milik Werrent. Aku harus bagaimana keluar dari situasi ini?


“Istrimu? Sejak kapan kamu memanggil anak kecil itu sebagai istrimu, ayolah Honey, sudahi peranmu sebagai suami yang baik. Bukannya ada hal lain yang ingin kamu dapatkan?”


Semakin aku mendengar pembicaraan itu, semakin sakit perasaanku. Aku tidak tahu lagi apa yang mereka perbuat, namun ruangan ini hening. Tidak ada pembicaraan lagi setelah perempuan itu berkata tajam seperti itu. Aku memutuskan untuk berdiri, rasa sakit menjalar di pergelangan kakiku. Rasanya begitu nyeri, aku ingin meringis.


Tapi, yang kulihat di depan mataku malah membuatku semakin tersakiti. Sakit di pergelangan kakiku bukan apa-apa lagi di bandingkan dengan peristiwa yang sedang aku lihat. Werrent memunggungiku dan seorang perempuan membelai lengan atas Werrent serta tengkuk lehernya.


Tangan Werrent terlihat jelas memeluk pinggang perempuan itu. Siapapun pasti tahu apa yang sedang mereka lakukan sekarang di hadapanku. Paru-paruku sulit menerima oksigen saat aku mengetahui siapa perempuan di balik tubuh Werrent. Dia menatapku dengan tajam dan menyeringai lalu melanjutkan lagi kegiatannya.


Neva. Perempuan itu dengan dinginnya terus menatapku dan bercumbu dengan Werrent. Sedangkan pria itu malah tidak menyadariku yang dari tadi menahan amarah. Tidak pernah aku sangka perempuan yang sempat aku kagumi karena ke anggunannya malah berbuat hal menjijikan seperti ini. Aku seharusnya marah, aku seharusnya kesal, aku seharusnya menampar Werrent dan Neva saat ini juga.


Andai semudah itu, semuanya pasti akan berjalan dengan benar. Pasti tidak akan sesakit ini, setidaknya amarahku tersalurkan. Bukannya terpendam seperti ini.


Aku mengepalkan tanganku dengan erat hingga kuku tanganku melukai telapak tangan. Sakit hati yang aku terima tidak sesakit luka fisikku.


Aku kecewa.


Aku menghembuskan napas dengan kuat lalu berjalan ke arah mereka, tidak perduli seberapa sakit kakiku setiap aku melangkah. Saat posisiku berada di samping Werrent, aku berhenti sejenak.


“Maaf saya mengganggu acara kalian berdua, selamat bersenang-senang. Anda tidak perlu pulang jika tidak mau, Mas.”


Begitulah ucapku dan berlalu secepat mungkin, hanya satu kalimat itu yang bisa aku katakan dengan tenggorokan yang tercekat seperti ini. Pedih, pedih sekali rasanya. Aku tidak boleh menangis, tidak boleh! Orang-orang sedang melihat Nyonya Orlov yang bisa meluluhkan hati dindin bagai gurun es semacam Werrent. Namun, nyatanya bukan aku saja yang bisa menaklukan pria itu.


Hanya saja mereka tidak mengetahui kebenaran itu, mereka hanya tidak tahu apa yang baru saja orang itu lakukan di ruang kerjanya.


“Asqyla! Kamu kemana aja? Aku pikir kamu ... Asqyla!” seru Kevin.


Setelah aku meninggalkan Werrent di ruangannya, aku segera berlari menuju lift dan sesegera mungkin menutup pintu lift, berharap Werrent tidak menghentikanku. Rasanya aku ingin tertawa dengan kencang, dia bahkan tidak mengejarku sama sekali atau bahkan meneriaki namaku.


“Asqyla! Tunggu dulu. Kakimu bengkak, kemari.”


Kevin memegang pergelangan tanganku, kami belum keluar dari kantor Werrent. Aku menepis tangan Kevin dan segera berlari keluar, tidak perduli dengan kenyataan kalau kakiku bengkak atau patah. Aku hanya tidak ingin ada omongan yang tidak-tidak di kantor Werrent yang akan membuat imagenya buruk.


Setelah aku berlari jauh dari kantor Werrent, aku berhenti. Terduduk di pinggir jalan dan tertawa dengan keras. Sangat keras hingga orang-orang menatapku dengan aneh dan kasihan. Iya, aku memang gila! Aku benar-benar gila! Di saat aku sakit hati seperti ini saja masih ada perasaan tidak ingin menyulitkan Werrent. Padahal pria itu yang membuatku sesakit hati ini.


Aku menggenggam cincinku dengan kuat, ingin sekali aku lempar.


Tidak. Tidak boleh, aku harus mendinginkan kepalaku. Ini mungkin kesalahpahaman. Iya, bisa jadi aku hanya datang di waktu yang salah. Mungkin saja Neva tidak sengaja tersandung dan Werrent menangkapnya. Iya, pasti begitu.


Kevin berlari dan memelukku dari samping, tangannya terulur memeriksa pergelangan kakiku. Aku ingin pulang saat ini juga, aku tidak ingin berbicara satu patah katapun pada siapapun termasuk Kevin. Aku hanya ingin pulang, sebelum tangisku pecah. Air mataku tidak boleh keluar sama sekali, apalagi di depan Kevin. Tidak bisa. Aku ingin pulang.


Lalu, satu pertanyaan yang Kevin lontarkan membuatku ambyar.


“Kamu gak apa-apa, Asqyla?”


Aku menatapnya dengan tatapan sendu, penglihatanku memudar. Semuanya tampak buram termasuk wajah Kevin yang berada sangat dekat dengan wajahku. Aku membuka mulutku untuk menjawab pertanyaan Kevin. Aku tidak apa-apa. Tidak ada kejadian apapun yang terjadi. Aku hanya terjatuh di toilet dan malu sekali hingga aku ingin pulang. Iya, aku akan gunakan alasan itu untuk membungkam pertanyaan Kevin.


“Aku— argh!”


Kevin tiba-tiba menggendongku, dengan refleks aku memeluk leher Kevin. Aku tidak tahu dia ingin membawaku kemana, yang jelas, aku berhasil menghindari pertanyaan Kevin.


“Pasti sakit sekali, ya?” tanya Kevin. Pertanyaannya bahkan seperti bisikan.


Aku mengangguk perlahan di pundaknya, entah itu hatiku atau kakiku, keduanya sama-sama sakit. Yang pasti jelas, hatiku sedang hancur. Aku berharap Werrent akan menjelaskan semuanya saat dia pulang. Walau aku bilang dia tidak perlu pulang kalau dia tidak ingin, tetap saja aku yakin pria itu akan pulang dan menjelaskan dengan menyesal kalau perbuatannya itu adalah ketidaksengajaannya.


Kalau memang bukan salah paham, aku harus dengan lapang menerima pernyataan maaf dari Werrent. Setidaknya perasaanku akan membaik sedikit dari pada tidak jelas seperti ini. hm, Werrent pasti akan menyesalinya. Aku yakin itu.


“Asqyla? Kita mampir ke dokter dulu, ya? Kakimu bengkak sekali,” ucap Kevin dengan khawatir.


Sudah sangat lama aku tidak mendengar nada peduli seperti ini dari mulutnya, tapi aku tidak butuh. Aku hanya ingin pulang dan berbaring. Kugelengkan kepalaku dan meremas erat pakaian Kevin. Pria itu menghela napasnya lalu menghentikan taksi dan kami duduk di dalam mobil itu dalam diam menuju kediamanku.


Tidak ada pertanyaan yang Kevin lontarkan lagi, ekspresi wajahnya datar kembali. Mulutnya bungkam, tidak mengatakan apapun. Aku menghela napas lega, setidaknya aku tidak perlu berkata apapun.


A/N:


Baru kali ini ternyata saya sapa-sapa kalian.


Setiap dialog yang saya garis miringkan itu tandanya mereka berbicara pakai bahasa asingnya, sayang-sayangku. Karena ada yang minta untuk di traslate, jadi mulai beberapa Bab kemarin udh diganti pakai garis miring.


At last but not least, jangan lupa like, komen, kasih gift, sama share, ya, My Love.


As always,


Be wise, Darling.