
“Maaf, Asqyla.”
Ucapannya yang datar dan dingin menusuk hatiku. Jantung dan paru-paruku bekerja dengan sangat keras hingga aku kesulitan bernapas. Segala macam pikiran tidak baik langsung tertanam di kepalaku. Apa yang akan Werrent jelaskan? Kenapa dia meminta maaf ketika aku menanyakan perihal anakku? Kenapa wajahnya begitu kecewa ketika bayi yang aku lahirkan tidak ada di hadapanku saat ini?
Apa karena dia tidak bisa melihat dunia yang baru saja ia tapaki?
“Asqyla ... lebih baik kamu istirahat,” ucapnya lagi.
Dia mengambil paksa bayi yang sedang aku gendong. Rasa tidak nyaman dan sakit terus menggerogoti hatiku. Ada yang tidak beres dengan kelakuan Werrent.
Aku sudah menduganya, namun dugaan itu sama sekali tidak ingin aku iya kan. Karena hal tersebut tidak akan pernah terjadi.
Dan aku percaya akan hal itu.
“Kenapa? Kenapa Qyla harus istirahat? Qyla baru bangun, Mas. Yang ada Mas malah buat Qyla curiga. Kenapa? Kenapa Mas gak jawab pertanyaan Qyla!” teriakku.
Werrent terdiam. Begitu diam hingga suara alat detak jantung yang berada di sampingku begitu memekakkan telingaku. Semuanya buyar sudah. Kini aku paham ketika Werrent memberikan anak kita pada pangkuanku dan memelukku erat.
Iya, aku paham jelas arti dari tindakannya. Karena itu, saat ini dan detik itu juga aku menangis tanpa henti.
“Gak mungkin! Gak mungkin, Mas! Anak kita pasti selamat. Keduanya pasti hidup! Mas bercanda kan? Kenapa? Kenapa bisa, Mas?!”
“Ini salahku. Aku ... aku bersalah, Asqyla,” jawabnya sendu.
Aku tidak peduli dia mau meminta maaf setulus apapun. Kenyataan bahwa anakku takkan bisa kembali sama sekali tak bisa membuatku waras.
Anak yang selama ini aku kandung, aku lindungi, aku sayangi. Kini hilang begitu saja. Kalau Werrent mengaku salahnya, maka aku yang lebih bersalah karena tidak bisa membuat salah satu dari mereka lahir dengan selamat.
Namun, pikiranku kacau balau. Aku ....
“Kalau memang salah, Mas. Perbaiki! Emangnya Mas bisa bawa dia kembali? Emangnya Mas bisa hidupin dia?! Enggak kan?! Terus buat apa Mas akuin kesalahan Mas sendiri kalau Mas gak bisa perbaiki itu semua!” teriakku histeris.
Suara tangisku dan tangis bayi dalam pangkuanku membuat seluruh penjuru ruangan ramai. Suara tangisan saling bersahutan hingga aku merasakan sakit kepala yang begitu hebat. Rasanya seperti ada bom yang akan meledak saat itu juga. Dan selepasnya, aku tidak ingat apapun selain ruangan putih.
Lagi-lagi aku terbangun dalam ruangan minimalis berwarna putih serta wewangian kimia dan herbal.
“Mas?” tanyaku dengan perlahan.
Berharap orang yang sedang tertidur dengan memegangi tanganku ini terbangun. Namun, dia sama sekali tidak terbangun, nyaman dengan posisi tidurnya yang tidak begitu indah.
Perlahan tanganku mengusap lembut ujung kepalanya. Rambut yang begitu halus dan lembut terasa dalam telapak tanganku. Menggelitik ujung-ujung jariku hingga aku sedikit terkekeh dengan erangan kecilnya karena mimpi yang dia alami.
"Ternyata, diam seperti ini saja sudah cukup membuatku terpanah. Aku sendiri heran kenapa orang pandai dan tinggi sepertimu memilihku yang tidak sempurna sebagai pendamping hidupmu," ucapku bermonolog.
Seketika suara dehaman Werrent membuatku tersentak dan menarik tanganku dengan cepat. Wajahku sudah memerah dan keringat dingin sudah muncul.
Aku takut Werrent mendengar ucapanku dan begitu terganggu karena aku membawa perihal pendamping hidupnya. Bukan berarti aku menyesal telah menikahinya, tapi karena merasa tidak sebanding dengan dirinya yang begitu jauh dari jangkauanku.
Aku ingin kalian mengingat kembali tentang tahun lalu di mana aku masih sekolah, masih begitu polos dan tak mengerti apapun. Dan sekarang ... lihatlah aku.
Terbaring di ranjang rumah sakit, bersama seorang suami dan anakku yang sedang tertidur lelap dalam pelukanku.
Bukankah perbedaan yang begitu jauh sekali? Masa-masa SMA yang seharusnya aku lewati dengan penuh suka cita, malah aku lewati begitu saja.
Seharusnya aku bertengkar bersama teman sebayaku atau bahkan terluka karena cinta monyet.
Tapi kenyataannya, sekarang bukanlah cinta yang bisa aku akali dengan kata maaf. Sekali berakhir, maka hancur sudah. Dan aku tidak ingin semua ini berakhir begitu saja.
Dan tidak ada dalam pilihanku bahwa pada akhirnya akan berakhir. Tidak akan pernah dan takkan pernah ada dalam kamusku.
"Mas? Sudah bangun?" tanyaku.
Dia menggelengkan kepalanya dalam elusan tanganku. Sejenak aku tersenyum, kelakuannya yang seperti anak kecil membuat jantungku geli.
Dia menggenggam tanganku lembut dan mengusap punggung tanganku. Aku mengusap pipinya yang kasar. Bulu-bulu halus mulai tumbuh pada pipinya yang putih bersih.
Aku mengernyitkan alisku karena suamiku ini yang begitu rapi dan perfectionist ini begitu tak terurus setelah aku tinggal beberapa bulan.
"Istriku?" tanyanya lembut.
Aku berdeham, "Hm?"
Dia menatapku dalam, begitu dalam hingga aku malu menatap balik padanya.
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanyanya lagi.
Aku mengerutkan keningku, bingung dengan pertanyaan yang terlontar padaku. Aku memangnya bilang apa? Aku hanya memujinya dan tidak berkata buruk tentang dirinya. Lalu, kenapa dia berkata demikian?
"Apanya?" jawabku dengan pertanyaan kembali.
Dia terkekeh, aku kembali mengerutkan keningku. Ternyata Werrent bisa tidak jelas seperti ini juga, ya?
"Apa lagi memangnya? Ucapanmu yang tadi, Sayang."
"Yang mana?" tanyaku lagi.
Dia mendudukkan badannya, menatapku malas. Benar bukan? Aku hanya bertanya dibagian mananya dia berusaha untuk membicarakan sesuatu padaku.
"Ha ... ah," keluhnya.
Aku menatap lurus padanya. "Kenapa, Mas?" tanyaku untuk kesekian kalinya.
"Memilih orang yang tidak sempurna," ucapnya.
Aku tersenyum malu. Ternyata dia mendengar ucapanku. Bagaimana ini? Rasanya aku ingin segera mengubur diriku dalam tanah. Negitu dalam hingga tak akan ada seorangpun yang bisa menemukanku.
"Ah, hahaha, yang itu, ya? Hm ... kenapa, ya? Memangnya aku bilang begitu, ya?" tanyaku dengan ragu padanya.
Werrent menatapku tak percaya.
"Lalu, siapa lagi yang bicara seperti itu selain kamu, Istriku."
Aku terkekeh, malu juga tidak enak karena memang benar dirinya mendengarkan ucapan tidak jelasku dalam sayup-sayup mimpinya.
"Tapi, memang benar kan, Mas? Qyla bukan orang yang sempurna sampai Mas bisa memilihku untuk menjadi pendampingmu. Bukan hanya pendamping, melainkan pendamping hidupmu. Seharusnya Mas pikirkan baik-baik lagi, karena Qyla tidak berharap untuk melepas Mas begitu saja."
Werrent tertawa kencang, "Meninggalkanku? Kalau kamu punya niat untuk meninggalkanku pun, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Bukannya aku sudah bilang, Istriku? Aku yang memmilihmu dan akulah yang membuatmu berada di sini. Jadi, kenapa aku harus meninggalkanmu? Tidak ada yang harus aku tinggalkan."
"Siapa tahu di masa depan nanti, ya, kan?"
"Kamu meragukan masa depan yang akan kita jalani? Memangnya aku pernah memberikan harapan palsu padamu? Coba katakan jika ada," ucapnya percaya diri.
Aku hanya tersenyum, ternyata Werrent tak menyadarinya sama sekali. Aku ingin tertawa begitu kencang di wajahnya. Namun, aku tidak ingin merusak situasi yang begitu nyaman ini.
A/N:
Hayo, begimana nih? Aku perlu crazy up lagi gk nih?
Suasananya buat aku males nulis hahaha, terimakasih untuk kalian yg sudah mendukungku sejauh ini ^^
As always,
Be wise, Darling.