WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Anak kecil?



“Bagaimana, Nona? Sudah menghubungi anak itu?” ingat Marlo. Aku mengangguk, Marlo memperlakukanku seperti anak kecil. Perhatian-perhatiannya seperti Radith. Ah, aku merindukan dia.


“See ya!”


Aku mendengar suara perempuan dari balik pintu Apartemen kami. Lalu, tak lama seorang perempuan cantik dengan rambut coklat terangnya keluar dari pintu hadapanku. Dia sangat cantik, cantik sekali sampai perempuan sepertiku saja bisa jatuh cinta padanya, bahkan aku yakin tanpa polesan make-up pun dia pasti terlihat cantik juga.


Marlo menatap tajam perempuan itu dan sang perempuan tersenyum manis kepada Marlo lalu melambaikan tangannya kepadaku. Apa dia sekertarisnya Werrent? Dilihat dari cara berpakaiannya sepertinya memang benar. Mungkin karena hari ini Werrent tidak pergi ke kantor dan akhirnya dia menghampiri Werrent ke rumah. Pantas saja Werrent menyuruhku untuk pergi keluar. Mungkin agar mereka fokus kepada perkerjaan mereka bukan kepadaku. Mengingat perempuan itu sempat bertanya-tanya kepadaku sebelum akhirnya Marlo menyuruhnya untuk segera pergi.


“Qyla bawakan makanan untuk Kakak. Qyla siapkan, ya?” tanyaku seraya menyiapkan alat makan di atas meja makan.


Werrent sedikit berteriak, “Tidak usah, aku sudah makan tadi. Aku kira kamu akan makan bersama Marlo.”


Marlo kelabakan dan menjawab Werrent dengan terbata-bata. Aku tersenyum mendengar perbincangan mereka. Kebanyakan Marlo meminta maaf kepada Werrent karena kelalaiannya dalam menjagaku. Padahal Werrent sendiri bilang tidak apa-apa. Namun, tetap saja Marlo meminta maaf. Entah seseram apa jika Werrent marah. Yang aku tahu, saat dia kehilangan kesadaran seperti saat Werrent sedang mabuk semalam dan menerjangku.


Kejadian itu masih terngiang di kepalaku. Berputar-putar tanpa henti. Tapi, Radith sendiri bilang kalau hal itu memang wajar. Tapi, tetap saja aku masih belum siap menerima itu semua. Pada akhirnya aku termenung di depan meja makan berserta tiga piring yang tadinya akan aku isi dengan makanan yang aku beli pulang tadi. Entah kenapa aku merasa hampa. Bukan karena pertemuanku dengan Louis dan Kevin. Aku senang bertemu dan berteman dengan mereka. Namun, ada satu hal yang mengganjal perasaanku. Entah apa itu, tapi aku akui kalau aku takut. Takut akan sesuatu yang entah kenapa akan membuatku jatuh ke dalam lubang tak berujung.


Begitu menyesakkan dada mengingat malam yang tidak ingin aku ingat lagi. Kepribadian Werrent yang begitu berbanding terbalik membuatku kalap akan keadaan. Hingga aku memilih untuk menjaga jarak dari pada berbincang meluruskan semuanya.


...***...


Kepribadian yang begitu berbanding terbalik darinya membuatku kalap akan keadaan. Membuatku lupa akan daratan seperti yang Radith bilang. Namun, semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin akan hal itu.


Tetapi, semua yang aku yakini akan membaik, malah membuatku semakin tenggelam dalam gelapnya hati. Hingga aku memilih untuk menjaga jarak dari pada berbincang meluruskan semuanya.


Aku menutup buku harianku, kupandang Werrent yang tengah bersiap pergi ke kantor. Demamnya sudah sepenuhnya sembuh dan dia berkata tidak bisa meninggalkan kantor. Selama dua hari itu pun sekertarisnya Werrent selalu datang ke rumah. Aku tidak tahu betul apa yang mereka bincangkan karena berada di ruangan khusus kantor Werrent di rumah. Bahkan Werrent menyuruhku untuk menjauhi ruangan itu karena tidak ingin di ganggu oleh siapa pun saat bekerja termasuk aku.


Selama Werrent tidak sakit seperti kemarin, aku tidak keberatan dengan permintaan itu. Namun, kalau Werrent hari ini pergi bekerja, apa yang harus aku lakukan setelah kelasku selesai?


Marlo memotong jam pelajaranku karena ada tugas lain yang harus dia kerjakaan dan pekerjaannya sepenting itu sampai-sampai belum setengah jam pelajaran dia sudah pamit kepadaku.


Karena kami baru saja pindah beberapa waktu lalu, aku pikir semua barang sudah rapi dan rumah pun sudah bersih. Bahkan debu-debu pun tidak menghinggap di mana pun. Ya, ampun. Aku dilanda kegabutan.


Tak lama setelah aku berjalan dan duduk di ruang tengah, bermaksud untuk menonton televisi, ponselku berdering. Aku melihat nama Kevin yang tertera pada layar ponselku. Tidak ada salahnya aku berbincang sebentar dengan Kevin.


...***...


“Talk to you later, Kevin!” seruku lalu mematikan ponselku.


Tidak terasa ternyata kami menghabiskan waktu berjam-jam hanya karna berbincang saja. Ternyata Kevin tidak sekaku itu. Aku pikir Kevin sama kakunya seperti Marlo. Yang tidak bisa berbasa-basi. Langsung ke intinya. Aku sampai tertawa terbahak-bahak karena leluconnya yang sangat aneh juga kelakuan Louis yang berebutan ponsel agar bisa berbincang denganku. Mereka benar-benar tampak akur, aku jadi merindukan seseorang.


Aku mengambil napas, menatap langit-langit rumah. Memikirkan Werrent dan Marlo. Mereka berdua sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing, sedangkan aku malah bermalas-malasan seperti ini di rumah. Segera mungkin aku bangkit dan bersiap untuk membersihkan kamar. Namun, ketukan di pintu membuatku menghampiri pintu dan melihat siapa orang yang berkunjung lewat lubang pintu.


“Seorang anak kecil?” tanyaku pada diri sendiri.


Aku membuka pintuku perlahan, kuberikan senyum seramah mungkin pada gadis kecil itu. “Um, I—um, you’re not my mom,” gumam gadis itu dengan tangis yang hampir keluar. Aku berlari ke dapur dan mengambil beberapa permen untuk diberikan kepada gadis kecil itu. Namun yang terjadi adalah kekacauan yang aku sendiri tidak bisa kendalikan.


Anak perempuan itu menangis dengan kencang dan aku tidak tahu harus apa. Seingatku, lantai ini hanya ada satu ruangan. Yaitu rumah Werrent sendiri dan tidak ada penghuni lain. Seluruh lantai ini juga hanya memiliki satu pintu yang menuju ke dalam apartemen Werrent. Apa mungkin anak ini salah menekan tombol lantai di lift?


Itu semua tidak penting! Sekarang aku harus menenangkan dia, sudah berkali-kali aku menawarkan makanan manis pada anak itu dan dia malah semakin menangis. Aku juga menanyakan di mana Ibunya tinggal namun dia sama sekali tidak meredakan tangisnya. Tuhan, aku bingung. Bagaimana caranya menenangkan anak itu?!


Ting! Suara dentingan itu membuatku melirik ke arah lift, Werrent dan Marlo keluar dari lift tersebut. Lalu, Marlo, dia berlari ke arah anak kecil itu dan menggendongnya. Aku bertanya siapa anak itu kepada Marlo. Alih-alih menjawab, Marlo malah bergegas pergi masuk ke dalam lift lagi dan berlalu.


Aku menatap Werrent bingung, pria itu merasakan tatapan penasaranku akhirnya menghela napas.


“Dia anak kecil yang tinggal di gedung ini. Dia mungkin salah mengira angka delapan menjadi angka tiga lagi,” katanya menjelaskan.


Lagi? Itu tanggapan yang aku ucapkan kepada Werrent dan dia hanya mengangguk. Bukan kali pertama ternyata anak itu tersesat kemari. Kasihan sekali anak sekecil itu harus berhadapan dengan wajah dingin Werrent.