
“Ya?” tanyaku pada Kevin.
Dia menggumamkan sesuatu dan aku tidak terlalu mendengar apa yang dia ucapkan. Dengan senyum tipisnya dia menatapku. “Bukan apa-apa.”
Aku mengangguk lalu mulai meminum minumanku, rasanya tidak terlalu manis lagi karena aku mainkan dari tadi. Kevin masih menatapku dengan datarnya, aku hanya bisa memalingkan pandanganku karena tidak nyaman sekali di pandang begitu olehnya.
“Hm ... ada hal yang mau kamu bicarain?” tanyaku memecah suasana canggung ini.
Kevin memutar-putarkan cangkir kopinya, aku mengetukkan kakiku di bawah meja. Gugup sekali, seperti sedang berhadapan dengan guru killer saat tertangkap basah melanggar peraturan.
“Ekhem.”
Dehaman Kevin membuat badanku meremang seketika. Astaga, kita itu teman. Ada apa dengan suasana tidak mengenakkan ini. Begitu memilukan sekali, rasanya ada suatu hal besar yang akan terucap dari mulut Kevin.
“Tidak, lupakan saja.”
Aku memiringkan kepalaku. Lupakan katanya? Astaga, orang yang menyebalkan di sekitarku ternyata bertambah lagi ya? Sabar Asqyla, kamu harus sabar. Mereka hanya manusia yang punya kepribadian yang unik, kamu hanya harus tenang dan tidak terbawa emosi.
“Baiklah kalau begitu,” balasku.
Dia mengangguk paham tanpa mengatakan apapun. Aku termenung di tengah-tengah kecanggungan itu. Tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, jari tanganku sudah mengetuk meja beberapa kali bahkan sudah berpola. Apa dia tidak akan mengakhiri pembicaraan lalu pamit? Atau siapapun tolong sapa kami. Ah, aku berharap ada Alice di sini.
“Asqyla?” tanya Kevin.
Ketukan jariku di meja terhenti, aku menatap Kevin dengan tatapan penuh tanya. Dia hendak mengatakan sesuatu namun mulutnya kembali terkantup. “Kenapa, Vin?” tanyaku agar dia kembali membuka mulut.
Apa sesuatu yang ingin Kevin sampaikan itu benar-benar berita besar hingga dia tidak yakin untuk menceritakannya padaku? Aku termenung untuk sesaat, Kevin juga terdiam. Kali ini aku sama sekali tidak terganggu dengan situasi canggungnya. Aku terlalu sibuk bergelut dengan pikiranku hingga dering ponsel mengagetkanku. Dengan segera aku mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat siapa Sang Penelpon itu.
Asqyla?
Deg.
Jantungku berdetak dengan cepat. Dadaku sesak sekali. Aku kenal suara ini, jelas sekali aku kenal siapa yang ada di balik panggilan ini.
Iya, Mas. Kenapa?
Asqyla ... Sayang, kamu lagi di mana?
Panggilan itu, panggilan yang sudah lama tidak aku dengar. Panggilan dengan nada rendah penuh kasih sayang. Panggilan yang tulus sekali memanggilku dari hati. Kevin tiba-tiba berdiri, dia menghampiriku, tangannya terulur mencoba untuk mengusap darah yang ada di bibirku. Aku menghentikan tangannya, cengkraman tanganku begitu gemetar. Lalu, satu kata panggilan terlontarkan dari mulut Werrent. Aku tidak bisa lagi menahannya.
Nanti Qyla telpon Mas balik.
Setelah itu aku mematikan sambungan ponsel dan menatap Kevin dengan penuh rasa sakit. Dia mengelus cengkraman tanganku lalu membersihkan darah di bibirku. Seketika aku menangis dalam diam. Air mataku terus keluar sedangkan aku sama sekali tak terisak. Ternyata menangis tanpa suara rasanya begitu sakit dan lebih menyakitkan lagi ketika Kevin memelukku dengan erat seraya mengusap punggungku perlahan.
Aku menangis dalam pelukan Kevin, aku tahu seharusnya aku tidak bergantung pada pria lain. Tapi, hatiku terasa tercabik-cabik. Aku mencintai Werrent, hanya mendengar suaranya yang begitu lembut saja mampu meluluhkan perasaanku kembali. Namun tidak dengan lukaku, semakin aku berusaha untuk sembuh, semakin dalam luka yang aku terima.
Mencintai Werrent itu seperti mengkonsumsi setetes racun setiap saatnya. Semakin dalam aku mencintainya, semakin banyak pula tetesan yang larut dalam tubuhku. Perlahan-lahan aku akan jatuh dan tenggelam dalam gelapnya kegelapan.
Aku ... telah salah melangkah.
...***...
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Kevin padaku.
Aku melirik sekitarku, tidak ada yang menatapku dengan tatapan aneh. Semuanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku mengusap kedua mataku, basah sekali wajahku. Aku yakin mataku pasti bengkak sekali.
Kevin menyodorkanku air putih. Kami sekarang sedang berada di samping toko baju pria. Ada tempat duduk yang nyaman di sana dan sepi. Kevin sengaja memilihkanku tempat untuk menenangkan diri dari keramaian.
“Kamu mau sesuatu? Aku belikan Ice Cream, ya?” tawar Kevin.
Aku menatap Kevin lekat-lekat dan mengangguk. Kevin tersenyum lebar, dia mengusap lembut kepalaku. Dia kembali menjadi Kevin yang aku kenal, tidak canggung dan dingin lagi.
“Tunggu di sini, aku akan segera kembali,” ucapnya lalu pergi.
Aku mengusap kembali wajahku, benar-benar lembab sekali seperti habis mencuci wajah. Ah~ memalukan sekali menangis seperti itu di depan Kevin. Aku membuka ponselku, menatap riwayat panggilan. Nama Werrent berada paling atas. Perlahan aku mengarahkan telunjukku pada kontak Werrent. Namun aku di kagetkan dengan panggilan masuk dari Alice.
Astaga, aku lupa kalau Alice menyuruhku untuk menunggunya!