WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Benih cinta



Benih-benih cinta tertanam padaku. Senang? Tentu. Namun, apa dia juga senang jika mendengar kabar ini? Apa dia juga sebahagiaku ketika tahu tentang kabar ini?


Aku kurang yakin. Karena aku sekarang tahu, yang terjatuh itu hanya aku. Bukan dia. yang tenggelam itu hanya aku, bukan dia. Dan yang tersesat itu hanya aku, bukan dia.


Jadi, untuk apa aku berharap? Karena pada dasarnya hanya aku lah yang mencoba untuk berjalan sesuai dengan jalan yang ia tapaki. Semuanya hanya kiasan belaka. Aku hadir hanya sebagai dekorasi utama.


“La ... Qyla ... Asqyla ....”


Sayup-sayup suara seseorang memanggilku dari kejauhan, semuanya masih terasa gelap dan kepalaku masih sedikit berputar. Aku mencoba untuk membuka mataku perlahan, terlihat sosok pria asing yang sedang berbicara dengan Alano di depan pintu kamar. Aku memandang ke arah samping dan Alice sedang memegang tanganku erat dengan wajah khawatirnya. Lalu, dia berlari menuju Alano lalu berbicara sesuatu pada pria asing itu dan mereka langsung masuk ke dalam kamar menghampiriku.


Aku menatap mereka semua, perbincangan mereka benar-benar tidak terdengar. Sepertinya pria itu adalah dokter. Dia memeriksa denyut nadiku dan beberapa pengecekan lainnya lalu pamit. Alano mengantar Dokter tersebut dan Alice memelukku erat. Aku melirik sekitar ruangan lalu memejamkan mataku erat.


Saat aku membuka mataku kembali, ruangan agak sedikit redup. Di luar jendela sudah gelap dan sepertinya aku terlelap kembali setelah Alice memelukku.


“Aku ingin ruangan ini segera di bersihkan sampai tak ada sedikit debu pun. Lalu, semua barang yang bisa melukai Asqyla, tolong jauhkan jangan sampai ada satu jarum pun yang tersisa.”


Aku melihat para pelayan mengangguk setelah Alice berikan beberapa perintah. Lalu, Marie ada di sampingku. Sedang mengganti infus yang terhubung di lengan kiriku. Aku sesakit itu?


“Marie?” ucapku pelan.


Alice mendengarku berbicara langung menghampiriku dan menyuruh Marie untuk mengambilkan teh hangat. Dia mengangguk lalu keluar dari kamar dan Alice memegang lenganku erat. Dia tampak khawatir sekali.


“Asqyla ... apa ada yang terasa sakit? Kepala? Perut? Atau apapun itu? bicara padaku apa yang kamu rasakan, jangan sampai kelelahan seperti ini. Aku tidak ingin kamu dan keponakanku kenapa-napa,” ujar Alice khawatir.


Aku mengerutkan keningku heran, “Keponakan?”


Namun seketika, aku merasa ada ribuan jarum yang menghujam jantungku. Rasanya sesak sekali untuk bernapas. Aku bahagia ... bahagia sekali dengan kehadiran buah hatiku. Tapi ... kenapa dia datang di saat yang tidak tepat?


Kondisiku dengan Werrent belum membaik dan aku tidak yakin akan kembali menjadi semula. Aku tidak ingin anakku kekurangan kasih sayang apalagi tumbuh dalam lingkungan yang tidak sehat seperti ini. Begitu sesak sekali hatiku sampai aku menangis tersedu-sedu.


“Asqyla! Ada yang sakit? Kenapa? Aku memelukmu terlalu erat? Beritahu aku Asqyla, jangan menangis seperti ini,” ucap Alice begitu khawatirnya.


Aku mengusap kedua mataku dan menatap Alice lekat. Bagaimanapun aku bahagia dan aku tidak bisa membuat dia khawatir seperti ini. Satu-stunya yang bisa aku pinta adalah;


“Kamu bisa menginap hari ini, Alice?”


...***...


“Hm, karena Ibu Hamil kita kali ini baru saja keluar rumah lagi. Bagaimana kalau kita belanja pakaian untuk persediaan nanti? Atau barang-barang untuk Asqyla Junior? Ah! Aku tegang sekali, gimana menurutmu, Alano?” tanya Alice dengan histerisnya.


Kami bertiga sedang berada dalam mobil Alano. Aku yang duduk di kursi penumpang dan Alice yang berada di belakang sibuk sekali membuat list apa saja yang akan kami beli saat mengunjungi mall nanti.


“Untuk apa membeli secepat itu? Memangnya anak itu akan benar-benar lahir? Pilih, pilihan lain saja. Jangan buat kepalaku pusing,” jawab Alano dengan ucapannya yang selalu tajam.


Untuk sesaat, aku termenung dengan ucapan Alano. Pikiranku kalut, jatuh hingga opini paling mengerikan sekali. Namun, untuk sesaat aku lupa. Yang Alano ajak ribut itu adalah Alice. Tentu saja dengan segala sumpah serapah yang Alice lontarkan mampu membuatku kehilangan pikiran negatif dan tertawa karena pertengkaran antar-saudara ini.


A/N:


Kalian merasa sesuatu gk sih?