WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Louis!



“Louis!” seruku kaget.


Anak itu memang Louis dan dia begitu dekat dengan wajahku. Matanya begitu berbinar sekali sedangkan dari seberang sana, Alano meatapku dengan tajam. Memperhatikan anak kecil ini dan aku yang gelagapan karena kemunculan Louis yang tiba-tiba.


“Kamu kok di sini, Louis? Kamu tahu darimana aku masuk rumah sakit?” tanyaku.


Dia memelukku erat lalu menatapku penuh harap. “Aku gak boleh ke sini, ya?” tanya balik Louis.


Aku gelagapan, bukannya tidak boleh. Tapi, tidak ada yang tahu aku di rumah sakit kecuali Alano, Alice, Werrent dan ....


“Orang kantor,” gumamku.


“Ya? Kenapa, Asqyla?” tanya Louis memperhatikanku.


Benar! Orang-orang di kantornya Werrent tahu aku masuk rumah sakit. Apa Kevin saat itu ada di kantor juga? Tapi kalau memang benar, kenapa dia tidak datang menjengukku dari hari pertama?


“Asqyla~~ gimana, gimana? Aku kirimi kamu pesan, aku keren kan? Sekarang aku sudah punya nomormu, jadi aku gak perlu pinjam ponselnya Kevin untuk menghubungi kamu!” teriak Louis dengan antusias.


Aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Louis. Bingung juga tak bisa berkata-kata karena kehadiran Louis yang begitu mengejutkanku.


“Siapa bocah tidak jelas yang tiba-tiba masuk ke mari, Asqyla?” tanya Alano.


Aku menatapnya lalu memicingkan mataku mencari Alice, meminta penjelasan juga pembelaan. Namun Alice tak ada di ruangan.


“Alice mana?” tanyaku terbata-bata. Alano menatapku begitu tajam, “Jangan mengalihkan perhatian. Aku tiba di sini dan anak itu sudah setia duduk di sana seperti anjing yang menunggu majikannya pulang,” jawab Alano, kasar.


“Aku bukan anjing! Emangnya kenapa kalau aku ketemu sama Asqyla? Gak boleh?!” marah Louis.


“Siapa yang suruh kamu masuk ke sini? Memangnya anak sekecil kamu tahu apa? Udah sana pulang, cari ibumu.”


Aku kehabisan kata-kata karena ucapan tajam Alano, tidak bisa dipercaya Alano bersikap kasar pada anak kecil juga. Dasar lelaki tidak punya perasaan!


“Aku yang mengizinkannya masuk, kenapa?”


Alice tiba-tiba saja datang dan menjawab ucapan alano. Mereka berdua saling menatap tajam. Aku hanya bisa merangkul Louis agar berada di dekatiku dan menghela napas beberapa kali. Adik-Kakak satu itu memang tidak pernah bisa akur untuk sebentar saja.


“Jadi, kamu belum jawab pertanyaanku, Louis,” bisikku pada anak kecil ini.


Dia memelukku erat seraya menyunggingkan senyumnya. “Kevin dong!” seru Louis ceria.


Sudah kuduga, sudah pastinya Kevin yang memberitahu Louis mengenai kondisiku. Berarti saat itu Kevin sedang berada di kantor. Namun, kenapa hatiku terasa sakit saat tahu kalau dia mengetahui kondisiku namun tak berkunjung untuk sesaat saja?


“Aku juga kemari beberapa hari yang lalu. Tapi enggak ada om yang menyebalkan ini!” tunjuknya pada Alano.


“Cuman ada Alice sama pria yang terus tunggu di luar. Padahal aku suruh dia masuk, katanya dia gak mau lihat orang yang sakit. Padahal wajahnya pucat banget! Kayak mau mati tahu!” seru Louis dengan gamblangnya. Alice terlihat terkekeh dengan penjelasan Louis.


“Hey, gak boleh bicara seperti itu, Louis. Enggak sopan,” ucapku.


Louis menurunkan sudut bibirnya, “Padahal aku bilang yang sebenarnya tahu! Orang itu malah kelihatan lebih sakit dari kamu, Asqyla. Aku heran, kalau dia khawatir sama kamu, kenapa gak tunggu di dalam aja kayak Alice?” tanyanya padaku.


Aku menggelengkan kepalaku sedangkan Alice malah tertawa dan Alano menyunggingkan senyumnya.


Aku menatap penuh tanya, maksudnya Werrent? Kenapa dia tidak berani masuk ke mari? Memangnya kenapa kalau ada Alice? Dia kan adiknya sendiri, apa yang perlu ditakutkan coba?


“Ah, Kevin sebentar lagi ke sini. Dia harus bersih dulu sebelum datang ke sini. Kan bisa gawat kalau Asqyla jadi tambah sakit,” ujar Louis tiba-tiba.


“Bukannya kalian datang bersama?” tanyaku.


“Enggak. Aku ke sini naik taksi, Kevin sedang jaga kemarin malam. Jadi sekarang sudah bisa jenguk kamu.”


“Jaga?”


“Iya, jaga malam.”


Aku mengerutkan keningku, jaga malam? Semacam ronda yang selalu dilakukan para bapak-bapak? Ternyata di sini ada yang seperti itu juga.


“Jadi Kevin sebentar lagi datang menjengukku?” tanyaku pada Louis. Kali ini Alice dan Alano sudah tidak berdebat lagi. Mendengar kata Kevin yang terucap dari mulutku, seketika Alice mendengarkan dengan seksama dan menunggu jawaban dari Louis.


“Iya, betul sekali.”


“Ah, aku lupa sesuatu. A-aku harus ke mobil,” ucap Alice tiba-tiba. Dia pasti ingin menghindar dari Kevin. Lalu, Alano bersiap untuk mengantar Alice.


“Jangan! Kamu tunggu di sini, jaga Asqyla. aku pergi sebentar!” teriaknya lalu berlari keluar dari ruanganku.


Alano berdecak sebal lalu menatapku dan beranjak dari tempatnya berdiri, menyusul kepergian Alice. Dan sekarang, hanya ada aku dan Louis yang ada di dalam ruangan. Perutku melintir, sepertinya aku butuh makan karena kemarin aku belum sempat memakan apapun karena memikirkan banyak hal.


Aku melirik sekitarku, berharap Alice menyimpan sesuatu untuk di makan. Lalu, saat tanganku ingin meraih gelas yang berada di samping ranjangku. Pintu ruangan terbuka dan aku tidak sengaja menyenggol gelas tersebut. Louis langsung mundur dan seseorang yang membuka pintu tiba-tiba berlari ke arahku dan memegang erat kedua bahuku.


“Asqyla! Kamu tidak apa-apa?” tanya orang itu.


Aku membuka mataku dan melihat seorang pria dengan pakaian serba hijaunya lalu masker yang terpakai di wajahnya. Aku memicingkan mataku lalu pria tersebut meminta maaf dan kembali pergi dari ruanganku.


Tidak lama setelah itu seorang perawat menghampiriku dan membereskan kekacauan yang tidak sengaja aku lakukan lalu memeriksa kondisiku seperti pagi kemarin. Dia berucap kalau aku diperbolehkan untuk pulang, tapi kalau terasa sakit di bagian tubuhku terutama perut, diharap untuk melakukan pengecekan ulang.


Sejujurnya aku sudah muak diam di sini, tapi aku membutuhkan perawatanku karena katanya janinku masih belum stabil.


“Asqyla! Kamu ... kamu enggak apa-apa, kan? Kata Suster tadi apa?” tanya Louis khawatir. Aku mengusap kepalanya dengan lembut, mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Lalu, orang yang ditunggupun datang. Kevin datang dengan wajah lelahnya.


“Akhirnya kamu sadar juga, Asqyla,” ucapnya dari depan pintu, dia tidak mau mendekat padaku.


“Juga?” tanyaku.


Dia mengangguk, “Aku mendengar kalau ada keributan dari ruangan ini dan aku melihat Alice tengah marah-marah di ruang tunggu. Tadinya aku ingin melerai tapi Alice langsung berjalan melewatiku dengan wajah kesalnya. Aku mengikutinya dan bertanya apa yang sedang terjadi. Dia menjelaskan semuanya dan aku kadang datang beberapa kali untuk memeriksa kondisimu.”


Penjelasan Kevin terkesan kalau dia selalu datang kemari. Apa keluarganya ada yang sakit?


“Memangnya siapa yang di rawat di sini?” tanyaku padanya.


Kevin kebingungan, “Kamu, kan? Memangnya siapa lagi?”