
Angin menerpa kulitku, aku menyesal tidak membawa jaketku juga menyesal karena merepotkan Werrent, dia pasti kedinginan, tapi jaketnya malah aku pakai untuk alas dudukku.
Setelah keheningan lama yang aku rasakan setelah terduduknya kita di tepi jurang seperti ini, akhirnya Werrent membuka suara.
“Bagaimana? Indah kan?” tanyanya ambigu.
“Kakak?” Aku balik bertanya. Memastikan agar aku bisa menjawab dengan benar.
“Bukan, tempatnya.”
Aku mengangguk lalu menatapnya, dia mendekatkan dirinya lalu merangkulku. Dia bilang agar aku tak kedinginan, padahal tangannya sudah sedingin es. Aku berdiri, mengambil jaketnya lalu meminta Werrent untuk kembali pulang ke rumah. Waktu yang dia berikan masih tersisa banyak, tapi aku tak bisa membiarkan dia kedinginan di sini.
“Biar aku saja yang bawa jaketnya.”
“Gapapa, Kak. Qyla aja.”
“Tapi jaketnya kotor, nanti baju kamu ikut kotor juga.”
“Nanti baju Kakak juga kotor kalau Kakak yang bawa jaketnya, Qyla kan bisa ganti baju dirumah.”
Dia mengalah, mungkin tidak ingin berdebat denganku. Tangannya sangat dingin sekali, aku harap bisa cepat keluar dari hutan ini. Dia mengambil jalan yang berbeda, di sisi jurang ini ada tangga lurus yang menurun. Dia mempercepat langkahnya, aku mencoba untuk menyeimbanginya dan tidak butuh waktu lama kita sampai di depan tempat terparkirnya mobil Werrent.
Aku menatapnya kesal. Apa-apaan dia? Kenapa tadi dia harus melewati jalur hutan sedangkan tempat ini sendiri memiliki tangga yang bisa mempercepat kita menuju tempat tadi? Werrent memperhatikanku sedaritadi, dia melirikku dan terkekeh. Menyebalkan sekali orang itu!
“Maaf.”
“Untuk apa, Kak?”
“Kamu pasti kesal karena aku mengambil jalan yang lebih sulit.”
“Untung saja Qyla orangnya baik.”
“Kalau tidak?”
“Kalau tidak, pasti Kakak sudah kena omelan Qyla, terus dapat bonus pukulan juga.”
“Astaga, ternyata calon istriku galak ya?”
“Kan kalau Qyla jahat, Kak.”
Dia kembali tertawa lalu membukakan pintu mobil, menyuruhku untuk masuk terlebih dulu dan memintaku untuk menunggu. Aku memperhatikannya dari dalam mobil, dia berjalan kearah bagasi dan mengambil sesuatu lalu masuk ke dalam mobil. Tangannya terulur memberikan sebuket mawar putih, aku menerimanya dengan tatapan bingung. Untuk apa dia memberikanku bunga? Seakan membaca pikiranku, dia menjawab pertanyaan yang aku pikirkan.
“Hadiah dariku, karena mungkin besok, lusa, atau kedepannya aku tidak bisa memberikan sesuatu yang indah seperti bunga ini.”
“Gapapa, Kak. Qyla nggak butuh hadiah dari Kakak, cukup Kakak yang ada di samping Qyla.”
“Iya, semoga.”
Werrent tersenyum sembari membelai rambutku, aku juga ikut tersenyum. Manis sekali, hatiku hangat. Apa ini yang sering dibicarakan orang-orang? Rasanya jatuh cinta.
Dia menyalakan mesin mobilnya lalu beranjak dari tempat itu, pemandangan indah dari jembatan tol membuatku takjub. Setelah satu jam penuh dikelilingi pohon yang sangat gelap, akhirnya aku bisa menyegarkan mataku, pantulan cahaya yang tertangkap danau membuatku tak bisa berpaling. Aku menurunkan kaca pintu mobil dan memandangi danau dengan seksama, tak membiarkan siapapun menggangguku hingga tepukan lembut dibahuku membuatku berpaling.
“Maaf, Kak. Danaunya terlalu indah.”
“Seharusnya aku yang minta maaf karena mengganggu fokusmu.”
“Nggak apa, Kak. Ada apa?”
“Aku mau tahu jawaban dari pertanyaan yang tadi belum sempat kamu jawab.”
“Iya, bagaimana aku menurutmu.”
“Hm, Kakak penuh perhatian, baik, dan juga menyebalkan.”
“Lalu pernikahan ini?” tanyanya ragu.
Aku terdiam sejenak. Apa aku harus jawab dengan jujur?
“Kalau Qyla boleh memilih, Qyla ingin menolaknya. Mau itu lamaran Kakak, atau siapapun itu. Tapi, karena Qyla tidak diberi pilihan, apapun yang terjadi Qyla akan melakukan pernikahan ini, kalau itu memang yang mereka inginkan. Walau yang dijodohkan bukan Kakak sekalipun.”
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu yakin sepenuhnya menikah denganku?”
“Orang mungkin akan berpikir hal yang tidak-tidak karena Qyla menikah diumur yang sangat muda, tapi itu tidak masalah untuk Qyla. Qyla mempunyai orang yang selalu mendukung Qyla, ditambah Radith yang selalu mengerti diri Qyla.”
“Radith?” tanyanya. Laju mobil agak melambat saat aku mengucapkan nama Radith.
“Ah, maaf, Kak. Seharusnya aku tidak boleh membicarakan lelaki lain dihadapan calon suamiku.”
“Tidak apa-apa, dia kekasihmu?”
“Bukan, dia seseorang yang selalu Qyla kagumi, teman yang selalu mengerti Qyla, Kakak yang selalu menjaga Qyla dan keluarga yang selalu melindungi Qyla. Hanya saja, dia sangat menyebalkan. Melebihi Kakak.”
“Dia sangat berhaga, ya?” tanyanya agak iri.
“Iya, sangat-sangat berharga.”
“Apa aku bisa sepertinya?”
“Karena Kakak akan menjadi suamiku, maka Kakak lebih berharga darinya.”
“Terima kasih.”
Aku membalas senyumannya lalu kembali menatap jalan, danau tadi sudah terlewati. Kini hanya bebatuan yang bisa kulihat, hatiku tiba-tiba ragu. Radith yang sudah aku kenal belasan tahun akan tergantikan oleh pria yang baru kali ini aku temui, apa semua ini benar? Apa dia yang akan jadi orang paling berharga di kehidupanku selain kedua orangtuaku?
Hati ini seketika ragu, ragu untuk melangkah, ragu untuk maju, dan ragu untuk menerima semuanya. Apa terlalu lancang jika aku membuat pilihanku sendiri? Apa keputusan yang aku tetapkan itu bisa membuat mereka bahagia? Ada apa ini? Kenapa hatiku tiba-tiba menolak semua yang tadi aku rasakan, apa karena aku takut kehilangan Radith? Seharusnya aku tidak membicarakannya tadi.
“Kamu terlalu tenang, ya, untuk seseorang yang sedang dijodohkan. Aku pikir kamu akan menolakku, bahkan kamu tidak pernah memintaku untuk bertemu dahulu setelah lamaran yang aku buat.”
Suasana yang begitu hening akhirnya pecah juga karena pertanyaan yang Werrent lontarkan. Aku mulai tidak paham ke mana arah pembicaraan ini. Apa mengajakku pergi keluar seperti ini adalah alasan agar dia mengetahui maksud dari pernikahan mendadak yang aku terima ini?
“Karena mereka yang meminta, Qyla percaya dengan kedua orangtua Qyla. Mereka tidak akan melakukan hal buruk pada Qyla.”
“Kamu terlalu baik, Asqyla.”
“Qyla hanya memikirkan diri Qyla sendiri, kok, Kak.”
“Lalu, kenapa tidak menolak? Itu keinginanmu kan?”
“Tidak bisa, mereka bahagia. Mana mungkin Qyla menolaknya.”
“Maka dari itu, kamu memang terlalu baik.”
Aku tersenyum lalu kembali menatap jalanan, kita berdua sudah keluar dari jalan tol. Ternyata perjalan pulang terasa lebih cepat dibandingkan pergi tadi, suasana di dalam mobil kembali hening. Tak ada yang memulai pembicaraan, tak apa bagiku karena diam adalah emas, itu yang aku yakini.
Sekitar setengah jam kemudian, Werrent meminggirkan mobilnya dan mematikan mesin. Dia keluar dari mobil dan aku mengikutinya, dia duduk diatas kap mobil dan menyuruhku untuk ikut duduk di sana. Dia membantuku duduk lalu berbaring, aku mengikutinya. Tiba-tiba dia terbangun dan membuka kemejanya, dia meletakan kemejanya di pahaku, menutupi bagian bawah tubuhku yang terekspos. Aku lagi-lagi tersenyum, romantis sekali.