WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Werrent dan Neva



Aku mengepalkan tanganku erat hingga luka di telapak tanganku mengeluarkan darah lagi. “Harus berapa kali lagi Qyla jelaskan kalau Qyla dan Radith hanya sekadar sahabat, tidak lebih. Harus berapa kali lagi, Mas! Qyla harus berbuat apa sampai Mas paham kalau perasaan Qyla pada Radith tidak pernah lebih dari pada keluarga?! Apa yang harus Qyla lakukan?!”


“Mengikuti perkataanku, Asqyla. Turuti perintahku,” ucapnya dengan santai.


Aku masih mengepal erat tanganku. “Untuk menjauhi Radith?”


Werrent menatapku dalam, “Kalau memang itu yang Mas inginkan, pasti Qyla lakukan. Tapi, kapan Mas berkata supaya aku menjauhi Radith? Apa Mas pernah menyebut namanya dengan jelas? Apa Mas pernah berkata padaku untuk menjauhi dan tidak pernah menghubungi Radith sama sekali? Apa pernah, Mas?!”


Pria itu terpaku, dia mengalihkan pandangannya. Aku masih terdiam di depannya, menunggu ucapan apa yang akan keluar dari mulutnya.


“Lupakan. Aku tetap akan pergi, tidak perlu menungguku.”


“Mas!” teriakku lagi.


Aku meraih lengan kemeja Werrent agar dirinya tidak pergi. Namun, Werrent menepis tanganku dan mencengkram pergelangan tanganku dengan erat.


“Berhenti memanggilku.”


Setelah itu dia menepis lagi tanganku dan membuka pintu. Dia sempat melirik lengan kemejanya yang terkena darahku dan menutup pintu dengan kencang. Aku terduduk lemas, tangisku pecah kembali. Kini Werrent terasa jauh kembali.


...***...


“Kenapa bisa seperti ini, Nyonya?” tanya Marie khawatir.


Dia mengobati lukaku dengan perlahan, setiap kapas yang sudah terlumuri alkohol menyentuh telapak tanganku, aku pasti meringis. Ternyata pedih juga dan aku masih belum bisa meredakan isak tangisku.


“Bukan apa-apa, Marie. Aku tidak apa-apa,” jawabku dengan isak tangis yang sedang aku coba untuk redakan.


“Bukan apa-apa, apanya? Jelas sekali Nyonya terluka. Akan saya potongkan kuku Nyonya agar telapak tangan Nyonya tidak terluka kembali.”


Aku hanya diam tak merespon ucapan Maria. Setelah dia membalut lukaku dengan plester, dia mengambil gunting kuku dan segera memotong jari kuku ku yang sudah terkena darah yang mengering. Setiap menit dia selalu mengeluh dan memarahiku karena tidak menjaga diriku sendiri bahkan menangis hingga mataku bengkak. Setiap ucapannya menusuk perasaanku, namun aku tidak marah sama sekali. Aku hanya kesal karena pada akhirnya aku lah yang bodoh. Tidak bisa menahan kepergian suamiku sendiri.


“Seharusnya Nyonya beritahu saya jika Nyonya punya suatu hal, jangan memendamnya sendirian. Saya pintar menjaga rahasia dan saya berjanji tidak akan membuat Nyonya kecewa.”


Aku tersenyum, “Terima kasih, Marie. Aku bersyukur kamu mau menghiburku.”


“Jadi, Nyonya akan menceritakan masalah Nyonya pada saya?” tanya Marie.


Jujur saja, bukannya aku tidak mempercayai perkataan Marie sebelumnya, namun kami baru saja berkenalan hari ini. Entah sejak kapan Marie mengenalku namun pada nyatanya kami baru saja berbincang hari ini. Aku belum bisa menceritakan masalahku padanya.


“Tidak apa jika Nyonya masih belum bisa menceritakannya kepada saya. Namun, jika Nyonya membutuhkan orang untuk berbicara, saya selalu berada di sisi Nyonya.”


“Nyonya ingin makan sesuatu?” tanya Marie.


Aku hanya menggeleng, “Aku ingin beristirahat.”


Begitulah ucapku, Marie mengangguk lalu meninggalkanku sendiri. Isakan tangisku mulai reda, namun hidung dan mataku masih memerah. Di tinggal Werrent seperti itu saja sudah membuatku menangis seperti ini apa lagi jika Werret tidak kembali? Tidak, tidak. Aku tidak boleh membayangkan hal mengerikan macam itu. Lebih baik aku mengistirahatkan tubuhku karena besok Kevin akan mengunjungiku.


...***...


“Asqyla?” tanya Kevin.


Aku melamun, ternyata kami berdua sudah sampai di toko baju yang ingin Kevin kunjungi. Aku baru saja tahu hari ini adalah ulang tahun Louis dan Kevin kemarin mengajakku keluar untuk membelikan hadiah untuk Adiknya, namun kejadian tak mengenakkan terjadi membuat Kevin lupa tujuan kita pergi ke luar.


“Ah, iya? Kamu bilang sesuatu?” jawabku dengan terbata-bata. Kevin menghela napasnya, “Ada apa, Asqyla? Kamu tidak fokus seharian ini. Apa ada hal lain yang mengganggu pikiranmu? Mau aku antar pulang?”


Aku menggelengkan kepalaku, “Bukan apa-apa, aku hanya tidak enak badan.”


Kevin memeriksa suhu tubuhku dengan menempelan punggung tangannya di leherku, “Sedikit hangat, mau mampir ke restoran terlebih dahulu? Aku pesankan sup hangat untukmu.”


Aku mengangguk, kami berdua turun dari mobil yang terparkir di basement Mall tempat di mana Kevin akan membelikan pakaian untuk Louis. Kami memasuki lift dan naik ke lantai khusus food court, Kevin memasuki salah satu tempat dan menyuruhku untuk duduk sementara dia akan memesan makanan. Aku mengangguk dan duduk dengan tenang, melihat-lihat menu yang berada di meja.


Namun, pandanganku terganggu dengan wajah familiar yang sudah setengah tahun aku lihat. Pria yang berada di eskalator lantai atas menuju kemari terlihat seperti Werrent. Mataku menyipit, memperhatikan setiap detil wajah yang terlihat dari kejauhan tersebut. Lalu, yang tidak aku kira adalah kehadiran Neva yang sedang merangkul tangan Werrent dengan mesra bahkan mengecup bibir Werrent.


Buku menu yang sedang aku pegang menjadi rusak karena kepalan tanganku, luka yang kemarin Marie obati masih terasa nyeri karena ujung buku menu yang sedang aku remas. Kenapa mereka masih bersama? Apa Werrent sebegitu benci padaku hingga dia masih berkencang dengan Neva?!


Rasanya air mataku akan tumpah kembali, rasanya sakit sekali. Bahkan Werrent tersenyum begitu senang kepada Neva. Aku mulai mempertanyakan posisiku sebagai Istri Werrent. Apa aku masih pantas bersanding dengannya? Kalau memang Werrent begitu menyukai Neva, mengapa dia memutuskan untuk menikahiku? Apa dugaanku dulu tentang pernikahan politik itu benar? Papa menjadikanku sebuah tali untuk memanjat lebih tinggi?


“Asqyla? Apa yang sedang kamu lihat?” tanya Kevin penasaran. Dia menyimpan nampan makanan di meja dan melambaikan tangannya di depan wajahku.


“Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Kevin lagi.


Aku memejamkan mataku cukup lama lalu menarik napas dengan kuat dan mengembuskannya perlahan. Sudut bibirku terangkat dengan terpaksa, aku tidak akan membuat Kevin kesusahan lagi. “Iya, aku tidak apa-apa, hanya sedikit mual. Sudah semuanya?” tanyaku.


Kevin masih menatapku khawatir, “Apa perlu kita pulang? Aku bisa membeli hadiah untuk Louis besok, kamu mau pulang?”


Aku mengibaskan kedua tanganku dan tertawa kaku, “Ha, ha. Tidak perlu, Kevin. Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kalau begitu, aku makan, ya?”


Dia mengangguk, aku mengambil mangkuk berisi sup ayam dan memakannya perlahan. Kuedarkan lagi pandanganku ke depan, mencari dua sosok manusia yang hampir saja membuatku dalam masalah lago. Namun, keberadaan mereka sudah tiada. Kevin sempat bertanya kembali aku sedang melihat apa dan aku hanya menjawab bukan apa-apa lalu memakan kembali supku.