WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Tenggelam



“Mau ke mana, Asqyla?”


Suara serak khas bangun tidur terdengar di telingaku. Aku bertanya, “Kakak masih terjaga?”


Werrent bangun dari posisi tidurnya, menatapku dengan mata sayunya. Dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu menatapku kembali, matanya menyipit melihat jam dinding lalu menatap curiga kepadaku.


“Sudah pukul 3 pagi, mau ke mana kamu sepagi ini?”


“Pindah saja kekamar, Kak. Di sini dingin, Qyla hanya mencari angin.”


Aku melanjutkan langkahku yang sempat terhenti karena Werrent terbangun, dia masih duduk di tempatnya lalu perlahan beranjak menuju kamar kami. Gemas sekali melihat dia setengah sadar, bahkan tatapan curiganya saja sangat lucu. Ingin sekali kusimpan dan tidak kubiarkan siapapun untuk mencurinya.


...***...


Senyuman terus mengembang di bibirku, angin malam menerpa wajahku, membiarkanku dengan keheningan. Rasa menyesal karena telah membuat Werrent marah dan kesal membuatku terus terjaga sepanjang malam hingga aku berakhir menatap sungai yang begitu menarik perhatian Radith saat itu.


Abang ojek yang berada dipos komplek rumah sementara Werrent masih beroperasi dan untung saja dia mau mengantarku keliling-keliling menikmati angin malam sampai aku memintanya untuk berhenti di jembatan layang untuk melihat cahaya bulan yang terpantul di sungai.


“Hanya sampai kelulusan, ya? Apakah bisa aku meninggalkan mereka dan mengikuti Werrent?” tanyaku bermonolog.


Aku terus menatap sungai yang sedang memantulkan cahaya rembulan dengan sangat indah, pantas saja sungai ini begitu menarik perhatian dia.


“Inggris, ya? Jauh dari sini, apa aku benar-benar bisa melepas mereka? Apa aku bisa beradaptasi dengan suasana juga culture yang sangat berbeda jauh dari sini?”


Memejamkan mataku sejenak, sinar rembulan yang semakin samar karena awan gelap berusaha untuk menyembunyikannya membuat suasana semakin hening di tambah kehadiranku yang hanya seorang diri di sini. Semakin lama aku berpikir negatif, bagaimana jika ada begal yang tidak sengaja menemukanku di sini atau makhluk-makhluk yang tidak ingin aku bayangkan.


Terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran yang tidak jelas akan terjadi atau tidak membuat fokusku berkurang sehingga tersentak kaget saat mendengar ponselku berdering, untuk saja tidak jatuh dan yang membuatku kesal adalah orang yang memanggilku diwaktu sepagi ini.


Kenapa memanggilku dipagi buta begini?


Kamu sedang apa malam-malam begini, Qyla?


Pagi Dit, bukan malam.


Tapi masih gelap dan kamu belum menjawab pertanyaanku.


Mencari angin, kenapa—


Aku tidak sengaja melihat akunmu online beberapa menit yang lalu, kupikir kamu tidak bisa tertidur, dan perkiraanku benar. Tunggu di sana, aku akan menyusul.


Tunggu, aku sedang tidak— halo? Dit? Radith?!


Aku menggenggam ponselku dengan kesal, dia mengakhiri panggilan begitu saja, bahkan aku belum sempat bilang kalau aku sedang tidak di rumah. Radith sangat menyebalkan sekali.


Dengan malas aku kembali menatap sungai dengan perasaan kesal, tidak juga berniat mengirimi Radith pesan kalau dirinya sedang tidak di rumah. Biarkan dia menungguiku lalu bertemu dengan Werrent, aku tidak perduli.


...***...


Dengan masih menatap sungai yang terus memanacarkan sinar rembulan, aku menyandarkan badanku di pagar pembatas jembatan, memejamkan mata sejenak, mengosongkan pikiranku. Menghilangkan semua rasa kesalku terhadap Radith juga menghilangkan semua pertanyaan yang memenuhi benakku. Perlahan seluruh fokusku berada di hembusan angin yang terus menerpa wajahku hingga tepukan di pundakku membuat jantungku berdetak kencang karena kaget.


“Radith?!”


Aku hampir terjatuh karena kehadiran Radith yang tiba-tiba, untung saja refleksku sangat baik hingga aku tidak terjatuh kedalam sungai yang sangat jauh dari atas sini. Walau akhirnya Radith menatapku penuh jahil saat aku tidak sengaja memeluknya.


“Ngapain kamu di sini?!”


“Lho, kok, nanya balik sih, Qyla?”


“Kamu ngapain di sini, Dit? Kamu nggak mata-matain aku, kan? Jangan bilang kamu pasang aplikasi pelacak di ponselku?”


Aku semakin curiga saat dia tertawa puas di hadapanku, tawanya berlalu sangat lama hingga aku mulai bosan mendengarnya mengucapkan sakit perut karena tertawa terlalu banyak.


“Mana mungkin aku pasang yang begituan, lagi pula jarang banget aku pinjam ponsel kamu, Qyla. Tadi sengaja aja puter jalan lewat sini, mau nostalgia dulu sebelum ketemu kamu. Eh orangnya malah ada di sini, hahaha.”


“Udah puas ketawanya?” tanyaku tajam. Radith memang menyebalkan!


Memutar bola mataku malas, Radith terus menjahiliku karena tebakanku yang kelewat aneh. Tapi memang bisa saja terjadi, kan? Setiap aku dalam masalah, dia pasti bisa menemukanku. Sepertinya aku memang harus mengganti ponselku, jaga-jaga kalau Radith berbohong padaku.


“Tidak mungkin, Qyla. Untuk apa aku memata-mataimu? Lebih baik aku bermain game daripada memantaumu seharian penuh.”


Seakan mengerti apa yang aku pikirkan, dia melontarkan semua perkataan untuk meyakinkanku bahwa dia bukan orang yang merusak privasi seseorang. Tapi tetap saja aku kesal padanya karena tingkat kepercayaandirinya jadi bertambah tinggi karena aku bilang kalau dirinya selalu bisa menemukanku di mana pun.


“Hanya kebetulan, Dit. Bukan embel-embel peramal.”


“Tapi keren kan kalau aku memang peramal?”


“Yang ada emang kamu aja yang stalking-in aku.”


“Pengen aja aku kepoin.”


“Ih, apaan sih?”


Aku menepis tangan Radith yang mencolek daguku, kesal juga malu. Kenapa sih apapun yang aku katakan selalu dia balikkan lalu di akhiri dengan menggoda atau menjahiliku? Kenapa tidak pernah sekali pun aku merasa menang dari Radith?!


“Jadi, kenapa kamu gak bisa tidur? Kamu tahu kan, aku selalu bisa mendengarkan keluhanmu.”


Dia menatap sungai yang selalu menarik perhatiannya, tanpa melirikku dia terus menanyakan pertanyaan yang sama perihal kenapa aku masih terjaga. Aku berdiri di sampingnya, ikut menatap sungai yang mulai memantulkan langit berwarna abu pucat.


“Entahlah, Dit. Aku sendiri masih bingung. Bingung karena rasa bersalahku atau keputusanku yang sudah tidak mungkin aku tarik lagi. Sebuah status yang sudah aku terima tidak bisa aku ganti lagi dan tidak akan aku lakukan. Tapi, rasanya berat setelah menjalani semua ini, aku ingin menolaknya tapi mereka sangat bahagia saat mengetahui aku menerima tawaran darinya. Aku tidak tahu harus berbuat apa kedepannya dan aku juga takut kita menjadi tidak saling kenal lagi, Dit.”


Radith tidak membalas perkataanku, dia sengaja menungguku untuk menyelesaikan seluruh cerita yang ingin aku sampaikan padanya.


“Aku terlalu takut untuk maju, Dit. Rasanya aku akan meninggalkan semuanya termasuk kamu. Jadi aku hanya ingin hari ini berlangsung dengan sangat lama, aku belum siap untuk hari esok. Aku tidak bisa dan tidak mau membayangkan hari esok yang aku jalani kalau sekarang saja masih banyak sekali keraguan yang tidak bisa aku yakini.”


Radith terdiam beberapa saat, angin dingin membuat sekujur tubuhku menggigil. Radith melepas jaketnya lalu memasangkannya di badanku. Dia masih diam sampai aku bingung dengan pertanyaan yang dia ajukan.