
“Yakin, dia bukan pacarmu, Asqyla?”
Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana bisa dia menyimpulkan hal yang tidak masuk akal itu dari perkataan Radith? Aku menjawabnya dengan jujur, tapi dia tertawa dan melirikku dengan Radith secara bergantian. Dia menepuk bahu Radith pelan sambil terkekeh.
“Mulai besok, dia akan menjadi milikku. Entah hubungan apa yang kalian jalani, saya harap semua itu sirna saat dia menjadi istriku.”
Radith melangkah mendekatinya, aku menahan tangannya. Dia melirikku lalu menatap Werrent dengan tajam. Melihat dari tatapan Radith, aku tidak bisa membiarkannya melangkah lebih dari ini.
“Saya tahu betul, tanpa anda perjelaspun saya mengerti. Walau mungkin sebenarnya anda yang merebutnya, tapi tak masalah. Hanya saja, sayang sekali. Hal yang anda maksud itu tidak akan terjadi, antaranya dengan saya hanya sebatas teman sejak kecil. Akan seperti itu dan selalu seperti itu.”
Radith kembali mendekati Werrent, dia melepaskan ganggaman tanganku. Werrent hanya tersenyum menatap Radith yang semakin mengikis jarak diantara mereka, dia berbisik, aku tidak bisa mendengarnya. Hanya satu hal yang jelas, Radith menyeringai sedangkan Werrent menatapnya dengan garang.
“Aku pulang, Qyla. Istirahat yang cukup, aku akan datang pagi-pagi sekali. Pastikan pria pertama yang melihatmu memakai gaun pengantin selain Papa adalah aku.”
Setelah berbicara seperti itu, dia melirik Werrent dengan seringaian di bibirnya, juga mencium keningku setelah mengucapkan perpisahan. Dia juga berpesan agar tidak mengembalikan jaket yang sedang aku pakai. Kenang-kenangan darinya, ucapnya. Bukan kah dia terlalu berlebihan? Kita masih akan bertemu bukan? Aku masih ada di sini sampai sekolahku selesai, lalu kenapa Radith berkata seperti itu seperti kita akan berpisah?
***
“Jadi, masih enggak mau ngaku kalau itu pacarmu?” tanya Werrent tajam.
Werrent menikmati kopi yang aku buat lalu tersenyum ke arahku, aku menghampirinya setelah menyimpan nampan di dapur. Dia memberi kode untuk duduk di sampingnya, tapi aku lebih memilih duduk di seberangnya. Televisi di ruang keluaga sengaja aku nyalakan agar suasana tidak hening, Werrent bertanya kenapa kita tidak duduk di ruang keluarga kalau televisinya sengaja di nyalakan, aku menjawab seadanya dan dia tertawa.
“Masih takut walau ada aku? Atau harus aku panggilkan pacarmu kemari?” tanya Werrent menggodaku.
Aku memutar bola mataku malas, “Kak. Qyla sudah bilang berapa kali kalau dia bukan pacar Qyla.”
“Dia siapa? Radith? Aku kan nggak bilang kalau dia pacarmu.”
“Lalu siapa yang Kakak maksud selain dia?”
Dia hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaanku. Tangannya meraih cangkir kopi lalu mengesapnya pelahan, dia masih menatapku hangat. Aku memalingkan wajahku karena dia terus menatapku seperti itu, jantungku berdetak dua kali lipat saat dia menggenggam tanganku.
“Kenapa, Asqyla?” tanyanya. Kali ini lebih lembut dari pertanyaan-pertanyaan tadi.
“Gapapa.”
Aku menarik tanganku dari meja, sensasi geli yang aku rasakan saat tangannya menyentuh kulitku masih terasa. Jantungku tidak mau mereda sedikitpun membuatku berdeham beberapa kali agar dia tidak menyadari kegugupanku.
“Yakin enggak apa-apa, Asqyla? Apa aku harus pulang?”
Aku menghela napasku perlahan, “Pulang saja, Kak. Qyla nggak apa-apa, kok.”
“Tapi tadi Om suruh aku temani kamu, katanya takut kamu kenapa-kenapa.”
“Papa? Bukannya ada di rumah?” tanyaku heran.
“Dia masih di gedung resepsi kita, Tante masih pengin ubah beberapa dekorasi.”
Astaga. Kenapa Mama harus serepot itu sih? Bukannya sudah ada WO yang siapkan itu semua? Mama terlalu lebay, harusnya dia istirahat karena besok adalah hari di mana dirinya akan melepaskanku.
“Qyla....”
“Asqyla!”
Aku memandang Werrent dengan kaget, teriakannya menyadarkanku. Dia menatapku dengan khawatir.
Dia tidak membalas pertanyaanku, dia mengulurkan tangannya lalu mengusap pipiku. Aku refleks mundur dan menatapnya terkejut. Aku mengusap pipiku yang ternyata basah, aku tidak sadar sama sekali kenapa aku bisa menangis.
“Kamu gak apa, kan? Apa aku pulang saja?”
Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku, Werrent terus bertanya aku kenapa, tapi aku selalu mengganti topik pembicaraan karena kalau kujawab pun aku tidak tahu harus berbicara apa.
“Jadi bagaimana, Asqyla?”
“Qyla akan tetap menikah dengan Kakak.”
“Lalu Radith?”
Lag-lagi pertanyaan itu. Malam ini yang Werrent tanyakan selalu perihal pernikahan lalu Radith. Aku sendiri sampai bosan menjelaskan hubunganku dengan Radith.
“Kami akan berteman, seperti biasanya. Tidak apa, kan, Kak?”
“Tidak apa, hanya saja jangan terlalu dekat.”
Aku tersenyum saat melihat ekspresi wajahnya yang begitu kesal, sepertinya dia cemburu kepada Radith. Gemas sekali, Tuhan. Ingin aku simpan wajah kesalnya karena cemburu dengan Radith.
“Kakak cemburu?” tanyaku dengan senyum merekah.
Dia menatapku dengan aneh, lalu memalingkan wajahnya. Dengan dehaman singkat dia kembali mengesap kopinya lalu menatapku dengan tatapan biasa seperti awal dia duduk di ruang tengah.
“Perasaanmu saja, Asqyla.”
“Kalau begitu akan Qyla panggil dia kemari, agar tidak terlalu sepi.”
Dia menahan tanganku yang hendak menelepon Radith, dengan suara pelan dia memintaku untuk tidak memanggil Radith kemari. Aku menyimpan kembali ponselku di atas meja dan menatapnya dengan serius, kalau memang bukan cemburu, seharusnya tidak masalah kalau aku panggil Radith kemari. Lagi pula suasana di sini sangat hening walau diiringi dengan suara televisi, lalu pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan yang selalu Werrent tanyakan walau dia tahu aku akan menjawab apa. Tidak ada topik lain selain hubungan kita kedepannya dan sekolahku, membosankan sekali. Biasanya Radith akan menjahiliku kalau topik pembicaraan kita habis.
“Asqyla? Sedang memikirkan apa?”
“Ah, tidak, Kak. Tadi Kakak bicara apa? Maaf Qyla melamun.”
“Tidak, aku tidak berbicara apapun. Wajahmu terlihat serius, tidak ada yang terjadi, kan?”
Aku menggelengkan kepalaku, kopi yang Werrent minum sudah hampir habis. Apa aku buatkan lagi? Tapi, sudah hampir tengah malam, akupun mulai mengantuk. Apa dia tidak akan pulang sampai besok? Bukankah dia harus bersiap?
“Kakak tidak akan pulang? Sudah hampir tengah malam, bukankah Kakak harus bersiap untuk besok?”
“Om menyuruhku untuk terus menemanimu sampai kamu tertidur, tapi kamu terus terjaga. Tidak mengantuk memangnya?”
Ternyata seperti itu. Tapi, bagaimana bisa aku tertidur di tengah perbincangan yang terus menerus mengarah kepada pernikahan besok?! Mau bagaimana pun aku menjadi gugup dan ragu untuk menyambut hari esok.
“Sedikit, tapi Qyla gapapa, kok. Kakak pulang saja, sebentar lagi Qyla akan tertidur.”
“Jadi, mengusirku ceritanya?”
“Tidak, Kak. Bukan begitu, maksudnya Kakak—”
“Aku bercanda, Asqyla.”
Aku menatapnya kesal, dia hanya tersenyum membalas tatapanku lalu terkekeh. Kepalaku berat, aku menyandarkan badanku, rasa pegal di pundakku perlahan memudar. Aku memejamkan mataku perlahan, terdengar Werrent berdiri dari tempatnya lalu duduk di sebelahku. Tangannya memegang kepalaku, lalu semuanya menjadi gelap dan aku mulai terlelap.