WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Qyla sudah siap



Qyla ... pemandangan di sini indah sekali. Aku sampai terbuai beberapa kali karena terlalu murni untuk paru-paruku.


Kamu bolos? Bukannya kamu lagi ujian, Dit?


Akhirnya aku berbicara setelah mendengar semua omong kosong yang Radith ucapkan. Aku tidak ingin membahas itu semua karena memang tidak perlu. Aku akan anggap semua perbincangan tentang cinta itu tidak pernah terjadi.


Itu kan gara-gara kamu yang nangis terus sampai aku gak fokus. Dari pada nilaiku merah, lebih baik aku urusin kamu dulu terus susulan.


Jadi aku ganggu kamu nih dari tadi? Terus kenapa malah telfon balik? Padahal aku baru aja mau tidur.


Jadi salah aku nih? Bukannya kamu yang telfon aku dari pagi-pagi buta dan nangis sampai aku siap-siap berangkat ke sekolah aja ribetnya minta ampun!


Jadi kamu mau salahin aku, Dit?!


Haha, enggak kok Nona Qyla. Mana bisa Adit marah sama Qyla.


Apaan, sih. Gak jelas banget, deh!


Mau sampai kapan kamu lari, La?


Pertanyaan dengan nada dingin itu menusuk perasaanku. Kenapa harus membahas itu lagi, sih?!


Aku lagi rebahan, tengah malem gini mau lari ke mana coba, Dit?


Hahaha! Iya, iya. Mau lari ke mana coba, aku sampai lupa kalau di sana masih malam.


Jadi, kamu lagi di mana?


Di tempat kita berjanji kalau kita tidak akan berpisah.


Ah, jembatan dengan sungai itu kan yang Radith maksud?


Memangnya udara di jembatan itu bisa sesegar itu ya sampai kamu terbuai, Dit?


Siapa yang bilang aku di jembatan? Itu kan tempat aku berjanji kalau jarak tidak akan memisahkan kita.


Terus di mana? Hoaaa~mm


Tidur Qyla. Besok pagi kamu ada kelas, jangan buat pengawal itu kerepotan kayak aku.


Dia Marlo, Dit. Bukan pengawalku.


Tetap saja gunanya untuk mengawasi kamu.


Iya, iya. Aku udah gak ada tenaga buat debat sama kamu, Dit. Pokoknya jangan lupa ikut ujian susulan, aku tutup, ya.


Dengan hitungan detik aku terlelap dengan sangat nyenyak. Berbincang dengan Radith selalu membuat perasaanku sedikit membalik sedangkan Radith merasakan perasaan yang sedang aku rasakan saat itu.


***


Matanya yang terus memandang pemandangan kota dari atas tebing itu membuatnya sedikit menaikin sudut bibirnya. Jalan yang mulai padat membuat suasana kota semakin indah.


“Sayangnya aku menikmati pemandangan ini tanpa kamu, Qyla.”


Radith memasukkan ponselnya di kantong celana dan menumpukan tangannya pada pagar pembatas di depan jurang itu. Tempat yang tidak asing yang sering dia kunjungi bersama Asqyla.


“Apa bisa kita lihat pemandangan ini lagi?”


***


Karena rasa tanpa tuan yang singgah, maka aku sendiri tidak tahu siapa pemiliknya. Apakah orang itu atau dia. Atau malah orang yang tidak aku kira? Semuanya membingunkanku, memasukkanku kedalam keputusasaan hingga aku memutuskan untuk membiarkannya tumbuh dan berkembang dengan sendirinya walah aku belum menemukan tuan pemiliknya.


“Asqyla?” tanya Werrent dari ranjang. Dia baru saja membaringkan badannya setelah dua hari tidak pulang ke rumah.


“Iya, ada apa, Kak?” balasku dari depan pintu.


Baru saja aku masuk kamar untuk memberikan Werrent kopi karena Werrent bilang dia lelah dan tidak ingin tertidur di pagi-pagi seperti ini. Sebenarnya aku baru saja terbangun beberapa jam setelah berbincang dengan Radith karena dinginnya pendingin ruangan. Ketika aku akan mematikan pendingin ruangan, terdengar seseorang masukk ke dalam rumah. Aku memeriksanya untuk memastikan yang masuk ke dalam rumah ini bukanlah orang yang tidak di kenal. Lalu, berakhirlah Werrent yang terbaring dengan wajah lelahnya itu.


“Lho, aku gak minta coffee, Asqyla.”


Werrent berucap dan menyimpan nampan berisi kopi di nakas yang berada di samping ranjang. Setelah itu Werrent tersenyum dengan manis dan menepuk sebelahnya, memberi kode kepadaku untuk duduk di tempat itu. Tentu saja aku menurutinya, entah kenapa perasaanku begitu hangat melihat senyumnya yang bercahaya itu. ah, rasanya ingin aku simpan di dalam hatiku.


“Kenapa malah senyum-senyum sendiri? Ada sesuatu di wajahku, Asqyla?” tanyanya kebingungan.


Aku terkekeh, jelas bukan. Tapi, memang ada yang salah dengan wajahnya. Mungkin karena tidak bertemu selama dua hari membuatnya terlihat lebih tampan.


Astaga! Apa sih yang kamu pikirkan Asqyla? Werrent memang setampan itu bukan? Aku jadi terpikirkan perkataan Radith beberapa jam lalu, membuatku memalingkan wajahku karena Werrent menatapku dari dekat.


“Kamu kenapa? Sakit, hm?”


Tangannya meraba kening juga leherku, degupan jantung ini semakin terasa jelas hingga telingaku hanya bisa mendengar suara jantungku dari pada perkataan yang Werrent ucapkan. Lalu, tidak lama kemudian Werrent menciumku tanpa pemberitahuan. Membuatku sadar sepenuhnya.


“Ka-kakak?!” seruku kaget.


Werrent tertawa keras melihat reaksiku yang menurutnya lucu itu. “Kenapa harus kaget? Setiap bangun tidur juga aku selalu melakukan ini,” jawabnya dengan santai dan berbaring. Aku menatapnya jatam dari samping, dia hanya tersenyum lebar menanggapi tatapanku.


“Selalu melakukan ini? Jadi Kakak diam-diam mencuri ciuman Qyla sebelum Qyla bangun, ya?” jawabku dengan kesal.


“Kalau tidak begitu, mana mungkin kamu mau. Iya, bukan?”


Pertanyaan itu entah kenapa menusuk hatiku. Bukannya tidak mau, rasanya memang canggung saja. Apalagi pergerakan wajah Werrent yang sangat lambat ketika mendekati wajahku membuat aku kehabisan napas terlebih dahulu dan mendorongnya untuk memberikan asupan oksigen pada paru-paruku.


“Tidak perlu di bawa sampai hati, aku hanya bercanda, Asqyla. Aku masih bisa menahannya, ambil waktu sebanyak yang kamu mau. Aku tidak bisa membuatmu terbebani dengan masalah ini.”


Lagi-lagi hatiku tertusuk sesuatu, Werrent memang bicara tidak apa-apa. Namun, kenapa perasaanku berat sekali untuk bilang ‘Iya, Kak.’?


Apa seperti yang Radith bilang? Kalau aku mulai mencintai sosok pria di sampingku ini?


“Kenapa, Asqyla?” tanya Werrent yang menyadari kalau sedaritadi aku memperhatikannya.


Aku menggeleng dan menidurkan tubuhku di sebelah Werrent. Badan Werrent menyamping dan menyampirkan helaian-helaian rambut yang menutupi pipiku. Aku tersipu dan tidak berani menatapnya. Rasanya kepalaku ingin meledak saat Werrent mengecup pipiku dengan kilat.


“Kak, Qyla ... sudah siap,” ucapku dengan ragu.


Tidak seperti kataku yang menyatakan bahwa aku siap, lain lagi di hatiku yang terus meyakinkanku kalau aku tidak akan kenapa-napa. Perkataan ini memang sudah terucap beberapa kali, namun Werrent tidak mengindahkannya dan menyangkal perkataanku.


“Siap apa?” tanya Werrent. Dia menatapku lekat-lekat.


“Apa lagi memangnya?” jawabku setengah malu.


“Bermalam bersama?” goda Werrent dengan senyumannya.


Aku kesal sekali dengan ekspresi wajahnya yang benar-benar menggodaku. Senyumannya itu ingin sekali aku hancurkan karena mengejekku. Alhasil, aku membalikkan tubuhku. Membelakanginya, karena kesal, aku tidak akan menjawab perkataannya sama sekali!