WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Bertemu Louis



Aku beranjak dari tempatku duduk, melewati Werrent begitu saja tanpa kata, pria itu tidak terlalu peduli karna fokusnya sudah berada di dalam folder-folder yang sedang dia amati. Berkali-kali aku mengatakan agar Werrent beristirahat tetapi dia tidak mendengarkan perkataanku sedikit pun. Dengan tatapan kosong aku berjalan menuju dapur untuk menyegarkan tenggorokkanku, belum sampai dapur aku mendengar bel rumah berbunyi dan segera membukakan pintu.


Aku melihat seorang pria dengan balutan kemeja rapi menyapaku dengan senyuman. Marlo Smith, guru privatku karna Werrent tidak ingin aku memasuki sekolah umum yang di penuhi dengan anak-anak lain. Juga agar aku tidak jatuh kepada pergaulan yang tidak baik, katanya.


“Morning, Mrs. Orlov.”


Aku menyapa kembali Marlo dengan sangat ramah, tanpa basa-basi aku membawa pria di hadapanku masuk ke dalam ruang tengah dan bertanya dengan candaan tentang pakaiannya yang sangat rapi.


“That’s ridiculous. I don’t have any girlfriend.”


“Or boyfriend maybe?” tanyaku menggodanya.


“No, I don’t. Why are you asking me like that?”


Aku tidak menjawab pertanyaan Marlo, aku malah tertawa melihat ekspresi Marlo yang sangat kaget ketika ditanyai perihal kekasih sesama jenis. Marlo memang tidak terlalu tertarik dengan wanita tetapi dia masih normal seperti pria pada umumnya, menyukai wanita dan ingin berkencan. Tetapi, aku mengetahui masa lalu Marlo yang sempat memiliki kekasih pria saat Werrent sengaja membuat Marlo mabuk ketika perayaan ulang tahun Marlo.


Werrent menatapku dan Marlo secara bersamaan, sudah waktunya Marlo untuk membawaku pergi. Werrent beranjak dan menghampiri kita yang sedang memperdebatkan suatu hal.


“Asqyla, pergilah bersama Marlo. Nikmati waktumu, kamu pasti ingin melihat kota-kota di sini bukan?”


Aku menatap datar pria di depanku, “Jadi Marlo datang ke sini hanya untuk menjadi guide Qyla?”


“Pergilah, Asqyla.”


“Kakak sedang sakit. Mana mungkin Qyla meninggalkan Kakak sendirian.”


Werrent tak menanggapi aku sama sekali, dia berbincang dengan Marlo dan mengabaikan aku yang terus merengek untuk menemani dirinya.


“Take care of her, Marlo.”


Marlo mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada ku, aku melirik Werrent dengan ragu. Werrent menatap ku dengan lembut, seakan memberitahu bahwa dirinya akan baik-baik saja. Dengan perlahan tanganku menggapai uluran Marlo, Werrent tersenyum serta melambaikan tangannya saat mobil Marlo melaju. Rasa khawatir yang aku rasakan tidak berhenti mereda karena Werrent memegang kepalanya sesaat sebelum memasuki bangunan, Marlo berusaha meyakinkan ku bahwa suamiku baik-baik saja.


“So, why we... umm,” Aku menggaruk kepala. Bingung dengan kata selanjutnya yang akan aku katakan.


“Tidak perlu memaksakan diri, Nona. Saya bisa berbicara menggunakan Bahasa Nona.”


Aku tersipu malu, aku tertawa kaku menatap Marlo. Nilai akademik dalam Bahasa Asingku memang tidak kalah sempurna dengan Radith, tapi tes dengan praktinya bernar-benar berbeda sekali, sangat-sangat menegangkan dan kaku.


“Mau saya pesankan Ice Cream, Nona?” Marlo tersenyum ramah kepada ku.


Aku mengangguk malu, mengikuti Marlo dari belakang lalu duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari tempat Marlo membeli Es Krim. Pandangan ku teralihkan kepada seorang anak lelaki yang menangis di pinggir jalan. Aku beranjak dari tempatku duduk untuk menghampiri anak kecil itu.


Berjongkok di hadapan anak lelaki, aku merogoh kantung jaket dan menyodorkan permen coklat pada anak kecil di hadapanku. Dengan ragu si anak meraih permen yang aku beri dan mengusap matanya.


“Thank you, Miss.” ucap anak itu.


“What’s your name, Sweetheart?” tanya ku dengan senyum hangat.


Anak itu melirik kesana-kemari seakan mencari sesuatu, hingga akhirnya tatapan matanya jatuh padaku.


“Don’t worry. I wouldn’t hurt you. Nice to meet you, Louis. I’m Asqyla,” jawab ku dengan ramah. Senang sekali aku bisa berbincang dengan anak kecil. Aku sangat menyukai anak kecil, bahkan jika aku menemukan anak kecil yang sedang bermain di taman, tanpa melihat dengan siapa aku berjalan, aku akan menghampiri anak kecil itu untuk aku ajak main. Itulah alasan mengapa aku selalu membawa permen di saku ku.


“Ya, nice to meet you too, Miss.”


Aku terkekeh, tersenyum kepada Louis seraya mengusap ujung kepala anak itu. “Well, you can call me Asqyla, Louis.”


Louis ikut tersenyum menatap aku. “Okay, Asqyla. Can I?” Dia menunjuk permen coklat yang aku berikan padanya. Aku mengangguk, “Sure!”


“Mrs. Orlov!” seru Marlo dari tempat aku duduk tadi.


Aku membalikkan badanku, tersenyum lebar serta melambaikan tanganku kepada Marlo yang sedang memegang dua cone Es Krim.


“Come here,” ajak ku. Aku menarik Louis menuju kursi taman yang aku duduki tadi serta mengambil salah satu Es Krim yang Marlo bawa.


“Here, take this. One Choco Ice Cream with Cherry on top!” seruku dengan nada khas orang sedang mengiklankan sesuatu.


Louis tertawa dan menerima Es Krim yang aku beri lalu meraih ceri yang berada di atas Es Krim dan memakannya lalu tersenyum dengan lebar kepadaku. Aku membalas senyuman Louis dan mengacak rambut pirang Louis gemas. Marlo menatap heran kepadaku.


“Siapa anak itu, Nona?” tanya Marlo kelewat formal.


Aku terkekeh, “Kamu bisa panggil aku dengan nama, Marlo.” Marlo tersentak dan tertawa kaku, “Mana berani saya memanggil nama, Nona. Bisa-bisa Tuan Orlov mematahkan leherku.”


Aku tertawa hingga Louis bingung menatap kedua orang yang berbicara dengan bahasa yang tidak dapat Louis pahami. “Biar aku yang marahi Werrent, kamu bisa panggil aku Asqyla saja, Marlo.”


Marlo akhirnya mengalah dan memberikan Es Krim yang masih berada di tangannya. “Untuk aku? Lalu, kamu bagaimana?” tanyaku bingung.


“Saya tidak terlalu suka makanan manis, kebetulan saya melihat Nona menghampiri anak kecil dan saya berpikir Nona pasti akan memberikan Ice Cream Nona pada anak kecil itu. Jadi saya memutuskan untuk membeli dua Ice Cream,” jelas Marlo.


Namun, aku sama sekali tidak menyimak apa yang Marlo jelaskan, aku malah berfokus pada panggilannya yang belum Marlo ubah. “Asqyla, Marlo,” ingatku.


Marlo hanya terkekeh melihat ekspresi Asqyla yang begitu menggemaskan. “Baik, Asqyla.”


Mendengar pembicaraan antara Marlo dan aku, Louis memutuskan untuk bertanya. “Both of you engaged?” tanya Louis polos. Aku tertawa gemas karena mulut Louis yang belepotan sedangkan Marlo panik mendengar pertanyaan dari anak kecil di hadapannya.


“No, we’re not! Where’s your parents, Kiddo?” tanya Marlo dengan nada tidak enak. Louis memegang tanganku karena Marlo menakuti Louis dengan pertanyaannya. Aku menatap Marlo dan mengusap bibir Louis dengan tisu yang Marlo bawa.


“Don’t worry, he’s my friend,” ucapku menenangkan Louis. Anak itu mengangguk dan menilik-nilik aku. “How old are you, Asqyla?” tanyanya penasaran. Aku tersenyum, bisa-bisanya anak sekecil itu menanyakan umur pada sembarangan orang.


“I’m seventeen, you are ...,” Aku menebak-nebak usia Louis. Dilihat dari perawakannya Louis terlihat seperti anak kelas enam Sekolah Dasar. “... twelfth?” tanyaku ragu.


Louis tertawa, “Too old, I’m eight!”


Aku tercengang dan melirik Marlo lalu berbisik, “Serius, Marlo? Dia berumur delapan tahun?”


Marlo menjawab, “Saya malah mengira dia masih enam tahun.” Aku menatap Marlo bingung. Budaya dan gen mereka benar-benar membuat kepalaku pusing.