WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Kamu tidak bisa mencintai dua orang dalam satu waktu, Asqyla.



...Aku akhirnya mencapai sebuah teka-teki yang selama ini menyelubungiku. Ribuan pertanyaan di mana aku tidak tahu pasti apa pertanyaanku. Dan jawaban di mana aku tidak pernah puas dan paham....


... ...


...Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku?...


... ...


...Siapa sebenarnya orang yang ingin mereka sembunyikan dariku?...


... ...


...***...


Walau Alano sama sekali tidak merespon gumamanku, aku akan berpikir kalau dia hanya tidak ingin berbicara padaku dan memilih untuk menulikan diri.


Sepanjang jalan aku hanya terdiam. Kadang melirik-lirik ke kursi belakang, memperhatikan apakah Althaf terbangun atau tidak.


“Dia tertidur pulas. Tidak usah cemas,” ucap Alano seakan menjawab kekhawatiranku.


Aku menjawabnya dengan senyuman lalu kembali menatap ke depan. Memperhatikan kendaraan yang melaju melewati kami. Aku pikir Alano tidak ingin berbicara denganku karena sebuah alasan yang mungkin sepele. Tapi sepertinya, dia benar-benar ingin bicara denganku sebelum kami berdua sampai ke rumah.


“Mau sampai kapan, Asqyla?’ tanyanya begitu ambigu.


Aku menatapnya, “Sampai kapan apanya?”


“Kamu pasti tahu aku sedang membicarakan apa,” balasnya begitu dingin.


Aku menghela napas cukup dalam. Aku tahu persis apa yang Alano maksud. Tapi aku muak dengan setiap pertanyaannya. Aku tidak akan menyerah.


“Sampai kapan? Entah sampai kapan pastinya, tapi aku tidak akan pernah menyerah. Kehadiran Althaf sudah cukup untuk mengisi lubang kosong di hatiku.”


“Lalu?” tanyanya tak peduli.


Aku sedikit mengernyitkan keningku. Seingatku, aku tidak pernah bercerita pada Alano kalau aku sudah menamai anakku. Bukannya Alano akan berpikir kalau nama Althaf yang aku katakan, akan terdengar seperti pria lain?


“Althaf itu anakku,” jelasku. Alano langsung menjawab, “Iya aku tahu. Lalu?”


Pertanyaannya kembali terulang. Apa yang harus aku jawab?


“Lalu? Entah. Sudah selesai. Aku tidak akan pergi, Alano.”


“Kenapa? Aku tidak akan menerima jawabanmu jika kamu menjawab bahwa kamu mencintainya.”


“Apa maksudmu?”


“Kamu tidak mencintainya, Asqyla. Bukankah aku pernah bilang kalau kamu tidak bisa mencintai orang dalam satu waktu?”


Aku kesal sekali dengan ucapan Alano. Siapa dia sampai bisa menilaiku?


“Tahu apa kamu tentangku? Aku yang memutuskan untuk mencintai seseorang dalam hidupku. Mau itu satu atau ratusan. Aku yang menentukannya. Dua orang? Kamu bilang padaku kalau aku tidak bisa mencintai dua orang sekaligus. Kenapa aku harus memilih dua kalau aku bisa mencintai lebih dari itu? Memangnya salah jika aku mencintai banyak orang? Aku juga mencintaimu, Alano. Bahkan semua orang yang termasuk dalam hidupku. Kenapa kamu bicara seakan kamu paling tahu tentangku?” tanyaku dengan amarah pada akhirnya.


Seharusnya aku tidak marah-marah seperti ini. Tapi perkataan Alano begitu melukai hatiku. Dua orang? Hanya dua orang? Bercanda sekali.


“Karena itu kamu membiarkan dia bermain dengan banyak wanita? Karna mungkin sekali untuk mencintai orang secara bersamaan?”


Deg.


“Tepat. Bukan cinta macam itu yang aku bicarakan, Asqyla,” ucapnya seakan menjawab isi kepalaku.


“Apa maksud yang sebenarnya, Alano?” tanyaku penuh kesal juga bingung.


“Kamu bilang kalau kamu itu mencintai Werrent bukan? Tidak Asqyla. Tidak akan pernah bisa. Kau sudah mencintai orang lain. Dan seperti yang sering aku bilang sebelumnya. Kamu... tidak akan bisa mencintai lebih dari satu orang. Seperti saat kamu bersama dengan Kak Zayn.”


Jantungku seakan terhujam banyak jarum. Nama itu kembali terdengar oleh telingaku. Sebelumnya Alice, sekarang Alano. Jadi, memang benar nama yang pernah aku sebutkan itu memang nyata. Aku memang mengenalnya.


Tapi... siapa?


“Asqyla!” seru Alano marah. Aku menengoknya langsung. “Anakmu menangis,” lanjutnya. Dengan terburu aku keluar mobil karena Alano menepikan kendarannya. Langsung saja aku timang Althaf. Sepertinya dia terganggu karena perbincanganku dengan Alano.


Aku memberinya ASI dan masuk kembali ke dalam mobil. Meminta Alano untuk melanjutkan perjalanan. Dia hanya menatapku datar. Dia juga melirik Althaf yang sedang menyusu lalu kembali fokus pada jalan.


“Padahal banyak yang mencintaimu. Tapi kenapa dia yang harus kamu pilih,” gumam Alano.


Aku diam. Pura-pura tidak mendengar. Pasti Werrent lagi yang sedang dia bicarakan. Aku terlalu lelah untuk menanggapi ucapannya. Ada Althaf juga. Tidak baik jika terus bertengkar.


...***...


“Asqyla! Akhirnya kamu pulang! Tahu begitu biar aku saja yang menjemputmu tadi!” seru Alice heboh menyambutku turun dari mobil.


Maria langsung menghampiriku, membawa Althaf masuk ke dalam rumah. Tadinya aku tolak, tapi Alice langsung menarik tanganku dan membiarkan Marie pergi.


“Gimana, gimana? Mau belanja sekarang? Ayo kita belanja! Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini. ayo, Asqyla. Ayo pergi!” serunya dengan heboh sekali. Aku tidak bisa menangani Alice. Dia memang selalu menang dariku.


Alano tiba-tiba keluar dari mobil. Aku pikir dia akan langsung pergi setelah mengantarku. Tapi dia masuk ke dalam rumah, dengan membawa bunga dari Alice. Tidak sepenuhnya masuk ke rumah, sih. Dia hanya memberikan bunga itu ke salah satu pelayan yang tidak terlalu dekat denganku lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Dan berlalu.


“Hey, Asqyla,” bisik Alice seraya menyenggol tanganku. “Kenapa?” jawabku.


Dia memastikan Alano pergi dari pekarangan dan menatapku dengan penuh rasa penasaran. “Alano memberikanmu bunga? Serius, Asqyla?” tanyanya begitu kaget.


Aku memiringkan kepalaku. “Bukan. Itu kan bunga yang kamu berikan padaku. Sebentar,” ucapku padanya lalu menghampiri pelayan yang tadi menerima bunga dari Alano.


Aku mengambil sepucuk surat yang berada di dalam buket tersebut dan kutunjukkan pada Alice.


“Ya ampun! Alano benar-benar memberikannya padamu. Aku tidak mengira hal itu! Pantas saja temanku tidak berkata apapun soal bunga.”


Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. “Gini, lho, Asqyla. Aku mengirim surat ini dengan tulisan cetak dan tidak sebanyak itu. Hanya sebuket kecil. Bagaimana bunga itu bisa bertambah banyak tanpa aku tahu? Pasti kelakuan Alano. Ada tambahan namanya juga.”


Aku tertawa mendengar penjelasan Alice. Sama kagetnya dengan perempuan itu. Tidak menyangka juga kalau Alano akan bersikap seperti itu.


“Sudahlah! Cukup bincang-bincang tentang Alano. Kita harus pergi ke Mall! Hari ini juga!” serunya kegirangan.


Kakiku sedikit lelah. Tapi Alice begitu menantikannya. Apa yang bisa aku lakukan selain bilang iya padanya?


“Baiklah. Apa yang harus aku beli Nona Alice?”


Dia terlihat percaya diri sekali. “Hahaha! Serahkan semuanya padaku!”


Aku tertawa dengan ucapannya. Kami akhirnya pergi di temani supir pribadiku. Walau baru kali ini aku pergi bersamanya. Tapi bapak tua itu terlihat begitu ramah dan nyaman saat aku berbincang padanya.


Tiba-tiba nama Zayn terlintas di kepalaku. Karena Alice yang pertama bercerita padaku, sepertinya dia akan menjawab pertanyaanku.


“Alice? Zayn itu siapa?”