
“Kenapa Werrent masih belum temuin Qyla? Kata Papa dia CEO yang cukup terkenal, Qyla cari dia di internet, tapi Qyla nggak nemuin hal apapun selain kepribadiannya yang Qyla sendiri yakin sifat yang tertulis di internet hanya sekadar tulisan. Bahkan Qyla nggak bisa temuin satupun gambar rupa dia.”
Setelah berbincang-bincang mengenai beratnya Mama untuk melepasku, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya siapa pria bernama Werrent ini. Mau setidakpeduli apapun aku, yang jelas aku juga penasaran dengan orang yang katanya bertalenta itu. Kekuasaannya setinggi apa sampai media manapun bungkam mengenai perusahaan yang ternyata memang terkenal itu. Atau relasi setinggi apa yang berada di bawah kendalinya sampai tidak ada satu artikel pun yang menjelekan mereka.
“Hari ini kita makan malam sama keluarga mereka,” kata Mama.
Aku terperanjat, “Hari ini?!”
“Iya, katanya mau ketemu Werrent. Dia lagi perjalanan ke sini, keluarganya menyusul saat makan malam.”
“Lho? Iya Qyla memang tanya hal itu, tapi kenapa harus sekarang banget? Nggak bisa besok? Qyla masih ada tugas, Ma.”
“Kan bisa dikerjakan malam, Sayang. Besok semua orang sibuk dengan pernikahan kamu.”
“Serba mendadak banget, Ma. Untung Qyla nggak punya penyakit jantung. Kalau punya, wah bahaya banget.”
“Hus! Nggak boleh ngomong gitu. Ganti baju sana, dandan kalau bisa.”
“Kan ketemu doang, Ma.”
“Udah sana ganti baju, yang cantik pokoknya.”
Aku memutar bola mataku malas dan berjalan dengan terpaksa menuju kamarku, baju yang sedang aku pakai tidak terlalu buruk. Kenapa Mama harus menyuruhku mengganti pakaianku, hanya sekedar bertemu saja kan.
Aku sudah mengganti bajuku, celana jeans dan kemeja yang aku pakai, rambutku aku ikat seperti ekor kuda. Saat aku keluar dari kamar, Mama segera membawaku kembali ke dalam kamar dan menyuruhku untuk berganti pakaian lagi. Aku mengikuti apa yang Mama suruh, dia juga memoles wajahku sedikit, katanya agar tidak terlalu pucat.
Mama selesai mendandaniku, aku melihat pantulan diriku di cermin. Tidak terlalu buruk, tapi tidak kah terlalu berlebihan? Mama mengenakanku gaun biru muda selutut, rambut yang digerai dan sedikit makeup. Kita hanya bertemu, saling bertukar sapa lalu makan malam. Apa harus se-formal ini? Membuatku sangat tidak nyaman. Apa mungkin memang dugaanku benar kalau orang yang menikahiku adalah pria yang sudah berkepala tiga hingga aku harus tampil seformal ini agar tidak memalukan nama keluarga?
“Ma, apa Qyla harus pakai gaun ini? Nggak nyaman, Qyla sama dia hanya mengobrol bukan? Qyla tidak perlu tampil seperti ini, seperti bukan Qyla.”
“Sudah tidak usah terlalu dipikirkan, Werrent sudah menunggumu.”
“Mama yakin Qyla seperti ini?”
“Iya, Qyla sudah cantik, kok.”
“Bukan begitu, Ma. Rasanya ini bukan Qyla.”
Aku terdiam menatap punggung Mama dan mengikutinya menuju ruang tengah, di sana terlihat seorang pria mengenakan kemeja dan cenala jeans, jaketnya dia sampirkan di salah satu pundaknya, wajahnya tertunduk memainkan ponselnya. Bahkan orang yang ingin bertemu denganku saja mengenakan pakaian santai, kenapa aku harus se-rapi ini? Kalau dia menggunakan jas, aku bisa paham kenapa Mama menyuruhku mengenakan gaun, tapi ini?
Sudahlah, tidak ada waktu lagi untuk mengganti pakaianku dan sepertinya juga dia sudah sangat bosan menungguku. Mama menghampirinya, dia mengangkat wajahnya dan tersenyum kearah Mama. Senyumannya manis, aku ikut tersenyum karena senyuman yang dia berikan padaku. Mama melambaikan tangannya, menyuruhku untuk duduk di depannya. Aku berjalan perlahan mendekati mereka, tatapan pria itu sangat menusuk, tapi senyum yang ia tampilkan membuat perasaan tidak mengenakkan itu menghilang.
Apa dia Werrent? Itu pertanyaan pertama yang aku lontarkan kepada Mama, wanita itu menyenggol lenganku dengan sikunya lalu berbisik bahwa pria dihadapanku itu adalah lelaki yang akan menikahiku. Aku kembali tersenyum, dia membalas senyumanku juga bertanya hal-hal receh seperti aku kelas berapa, bagaimana sekolahku dan hal-hal yang aku yakin dia sendiri tahu tanpa perlu bertanya padaku. Awalnya aku mengira dia adalah anak dari pria yang disebut sebagai calon suamiku. Ternyata orang semuda itu yang memimpin perusahaan LOROV yang sudah sangat tidak asing bagi masyarakat yang gemar mengkoleksi alat elektronik dengan brand yang mendunia itu.
Sebenarnya masih ada hal yang mengganjal. Mengapa orang besar seperti dia menikahi anak dari perusahaan kecil yang tidak sebanding dengannya? Apa selama ini Papa berhutang banyak dan menjualku pada mereka? Jelas tidak, kan? Kalau memang benar, keluarga Radith pasti bertindak. Tidak mungkin mereka mendukung penikahan yang jelas-jelas bisa saja mengancam perusahaan mereka yang sudah bekerja sama jauh sebelum aku lahir. Ah ... aku tidak paham dengan pikiran orang-orang besar seperti mereka. Cepat atau lambat, Papa pasti mengatakan alasan kenapa aku menikah dengan pria di depanku ini.
Rentetan pertanyaan terus ia lontarkan tanpa jeda, seakan memastikan sesuatu. Aku menjawabnya dengan jujur dan singkat, lalu dia memalingkan wajahnya dariku dan bertanya kepada Mama apa boleh aku ikut keluar dengannya, Mama mengizinkan dan memberi sedikit nasehat. Dasar Mama, aku dan dia sudah besar. Tanpa diberitahu pun, kita sudah mengerti, atau mungkin dia lebih mengerti, mengingat dirinya yang lebih dewasa daripadaku. Dia mengangguk dan tersenyum lalu berdiri, tangannya terulur menungguku untuk menggapai tangannya.
Dengan sekali tarikan aku berdiri dan mengikutinya dari belakang, tangannya masih menggenggam tanganku, aku tersenyum melihat hal-hal kecil yang dia lakukan seperti membukakanku pintu mobil lalu menjaga kepalaku agar tidak terbentur langit-langit mobil saat aku akan memasuki mobil, juga memberikanku jaket untuk menutupi bagian bawah gaun yang sedikit naik karena aku sedang duduk.
Tidak terlalu banyak berbicara, tapi banyak bertindak. Aku mulai menyukainya, walau tindakannya tidak seberapa, tapi detakan jantungku sudah menunjukkan bahwa aku tertarik padanya. Kulitnya yang putih juga wajahnya yang tampan menjadi nilai tambah untuknya, hingga beberapa perempuan yang sedang melewat di samping mobilnya pun ikut terpana karena wajahnya yang bisa dibilang rupawan.
Satu jam sudah aku terduduk menatap jalanan, sesekali aku menurunkan kaca jendela, meresapi setiap hembusan angin yang menerpa kulit wajahku. Aku tidak tahu ke mana dia akan membawaku, rasanya kita semakin jauh dari rumah, keheningan yang terjadi membuatku sedikit cemas karena aku belum tahu orang seperti apa pria di sampingku ini. Setelah puas memandangi jalanan, aku mencuri-curi pandang darinya, dia tersenyum juga tertawa perlahan. Aku memalingkan wajahku, malu karena tertangkap basah sedang memandanginya.
“Kenapa, Asqyla?” tanyanya tetiba.
Aku tersentak dan bertanya, “Lho, Om tahu nama Qyla?”
“Memangnya kamu tidak tahu nama saya?” Werrent balik bertanya.
Aku tersenyum, duh namanya hanya aku dengar sekali saat bertanya kepada Papa tempo hari. Dan itu pun langsung terlupakan karena aku mengira ini adalah pernikahan politik. “Tahu, kok, Om. Werrent Grissa.. Grissam... Griss—”
“Grissham Orlov, Asqyla Dinara.”
“Wah, Om hebat bisa hafal nama Qyla.”
“Masa iya enggak ingat nama calon istri sendiri.”
“Om lagi nyindir Qyla, ya?”
Dia tertawa, entah menertawakan pertanyaan bodohku atau panggilan ‘Om’ yang aku berikan padanya, jujur sangat tidak cocok. Aku saja tidak tahu umurnya dan bodohnya aku, aku lupa tidak membaca bagian umurnya di biodata dirinya saat aku sedang mencari informasi tentang Werrent. Lalu, aku harus panggil dia apa? Kamu? Kakak? Bukankah biasanya CEO perusahaan itu umurnya sudah berkepala tiga atau lebih? Jadi cocok-cocok saja, walau wajahnya tidak bisa di samakan dengan para om-om.