
“Dit?” tanyaku.
“Apa?”
Radith asyik memainkan ponselnya, dia bermain game online setelah keluar dari tempat gelap tadi. Tangannya beberapa kali menggapai tanganku yang sengaja aku lepas agar tidak mengganggunya bermain, setelah kemenangannya yang kesekian kali dia mematikan ponselnya dan kembali merangkulku.
“Kenapa, Qyla.”
“Nggak.”
“Kenapa?” tanyanya lagi.
“Nggak kenapa-napa.”
“Kenapa?”
Aku menghela napas, “Nggak apa-apa.”
“Kenapa?”
“Aku nggak kenapa-kenapa, Adit.”
“Huft, kenapa, Asqyla?”
Kan. Radith memang keras kepala, dia selalu ingin tahu semuanya, padahal sudah jelas dia tahu apa yang ingin aku tanyakan.
“Nggak bakal—”
“Nggak.”
“Belum beres, Dit.”
“Aku nggak bakal marah sama kamu, nggak bakal bisa. Lagipula kamu udah ketemu, nggak kenapa-kenapa juga. Lain kali kalau mau lari, larinya ke rumah aku.”
Aku mencebik kesal, tipikal Radith memang.
“Kenapa cemberut, hm? Serasa aku yang salah, padahal kamu yang kabur.”
“Nggak kabur!” seru ku kesal.
“Terus apa?” tanya Radith dengan cengirannya.
“Lari.”
“Sama aja.”
“Beda, Adit.”
“Sama artinya, Qyla.”
“Beda cara nulisnya.”
Radith tersenyum mendengar jawabanku, dia mengusap kepalaku.
“Iya iya, Nona Qyla selalu benar.”
“Radith selalu salah.”
“Untung sayang, La.”
“Kalau nggak?”
“Nggak usah di bayangin.”
“Kok gitu?”
“Nggak kebayang soalnya.”
“Pulang ke mana?” tanya Radith karena aku terdiam setelah Radith berucap seperti itu.
“Ke rumah Bunda.”
“Papa sama Mama gimana?”
“No comment.”
Radith mencubit hidungku gemas, biarlah dia melakukan hal yang dia suka. Seluruh badanku sudah tidak bisa diajak berkompromi, terlalu lelah seakan energiku habis sepenuhnya. Radith menyuruhku duduk di sampingnya sedangkan dia sedang menunggu ojek online yang sudah dia pesan tadi.
Abang ojek hijau sudah berada di hadapanku, Radith menyuruhku pulang terlebih dahulu ke rumahnya sedangkan dirinya akan pulang ke rumahku untuk memberitahu bahwa aku akan menginap di rumahnya sekaligus mengambil motornya yang sengaja ia tinggalkan di rumahku.
Merepotkan memang, tapi bukan Asqyla namanya kalau belum membuat Radith kerepotan seharian penuh. Dia mewanti-wanti Abang Ojek agar hati-hati, juga menyuruhnya menjagaku agar selamat sampai tujuan. Padahal aku sendiri bisa jaga diri, Radith selalu memperlakukanku seperti anak kecil walau kadang kelakuanku mengalahkan para bocah SD.
Udara malam membuatku semakin tumbang, sudah berkali-kali pria paruh baya di hadapanku ini menyuruhku untuk hati-hati serta berkata sebentar lagi akan sampai. Aku memandang langit yang di selimuti bintang-bintang, kututup mataku dan menikmati semilir angin malam yang membuai wajahku.
“Tuhan, bekukanlah waktu dan biarkanlah aku sedikit lebih lama lagi bersamanya.”
“Kenapa, Mbak?”
Aku tersentak dan hampir kehilangan keseimbangan, untung saja tanganku sigap memegang jaket Abang itu. Apa bisikanku terlalu keras hingga Abang itu bisa mendengar apa yang aku ucapkan? Atau karena diriku yang terlewat aneh sampai dia bertanya seperti itu?
...***...
Kian hari perasaan takut kian bertambah seiring berlalunya waktu, dua bulan seakan menjadi dua jam bagiku. Apa ini benar jalan yang harus aku tempuh, dengan kegelisahan tiada akhir? Dengan semua pertanyaan tanpa ujung? Dengan seluruh rangkaian keluhan tanpa titik?
Menyesal atau menyerah? Tuhan, pilihan apa yang kau berikan padaku? Keduanya sama-sama menyakitkan. Apa berhak jika aku membuat pilihan untukku? Tapi, itu terlalu egois bukan?
Aku merapikan buku harianku, lalu beranjak menghampiri Mama. Wanita itu sedang sibuk berbicara dengan seseorang ditelpon, waktu berlalu sangat cepat. Rasanya baru kemarin aku dan Radith berlarian di taman bermain, asyik bermain hingga lupa waktu. Belasan tahun yang aku lewati bersama Radith rasanya seperti time lapse yang diringkas menjadi sangat singkat. Lalu, kenapa rasanya begitu berat setiap kali aku menyebut namanya. Seakan aku tidak boleh lagi menyebut namanya, Bunda dan Mama juga sudah melarangku untuk bertemu Radith. Bahkan hanya sekedar berbincang ditelpon pun juga sudah mulai sulit, mereka bilang aku tidak boleh membuat masalah karena pernikahanku akan segera digelar.
Tapi, apa salahnya jika aku berbincang dengan Radith? Dia sahabatku, sudah dari kecil kita berteman. Apa karena dia lelaki, aku tidak boleh menghubunginya? Apa mereka terlalu takut aku membatalkan pernikahan karena Radith? Pikiran mereka terlalu aneh, aku memang mempertanyakan pernikahan ini, tapi untuk menolak? Itu tidak mungkin. Karena Papa dan Mama yang memintaku untuk menikah, aku percaya pilihan mereka adalah pilihan yang terbaik untukku. Tapi, aku juga berhak untuk mendengar alasan mereka, bukan?
“Qyla?” tanya Mama lembut.
Aku tersadar dengan lamunanku dan menatap Mama dengan tatapan bingung, dia menghampiriku dan menuntunku untuk duduk di ruang tengah. Aku memperhatikan wajah Mama yang tidak tenang, apa yang membuatnya terganggu?
“Kenapa, Ma?” tanyaku penasaran dan meraih kukis di meja.
Mama kebingungan, dia mengerutkan dahinya. “Mama nggak tahu gimana harus jelasinnya.”
Aku melirik Mama, “Jelasin aja, Ma.”
Mama berdeham, air mukanya mulai serius. Namun, tatapan matanya begitu sendu. “Lusa, kamu menikah.”
“Bukannya masih dua minggu lagi?” tanyaku biasa saja.
“Werrent akan pergi seminggu lagi. Jadi dia meminta mempercepat pernikahannya.”
“Lagi? Ya sudah, tidak apa.”
Untuk kesekian kalinya pihak lelaki mengubah tanggal pernikahan kita tanpa berbincang terlebih dahulu dengan kami. Satu bulan yang lalu, tepatnya dua minggu sesudah penetapan tanggal, seorang pria paruh baya mendatangi kediamanku dan menyampaikan bahwa pernikahan yang akan dilaksanakan dua bulan sesudah penetapan tanggal diundur menjadi tiga bulan sesudah kelulusanku. Lalu, seminggu kemudian dia kembali datang dan mengatakan tanggal pernikahan kembali seperti awal mula ditetapkan. Dan sekarang mereka melakukan hal itu lagi.
Aku angkat tangan.
Tidak ingin ikut campur urusan mereka. Mau hari ini atau tahun depan pun hasilnya tetap aku menikah dengannya.
“Kamu nggak marah, Qyla?” tanya Mama gelisah.
“Untuk apa, Ma? Pada akhirnya juga Qyla pasti menikah sama dia kan? Mau itu besok, lusa, atau tahun depan, hasilnya pasti sama. Qyla menikah dengan Werrent.”
“Maaf, Mama malah hancurin hidup kamu. Harusnya kamu fokus belajar, gapai cita-cita kamu dan menikah dengan orang yang kamu cintai.”
“Kata siapa Mama hancurin hidup Qyla? Malah Mama yang buat Qyla bisa ada di dunia ini, harusnya Qyla yang minta maaf karena Qyla masih belum bisa jadi yang kalian mau. Bahkan untuk bahagiain kalian saja Qyla belum bisa. Untuk urusan cinta, itu bisa belakangan. Karena yang Qyla tahu, cinta karena terbiasa itu lebih indah dan sulit untuk padam.”
Begitulah perbincangan yang aku dan Mama bicarakan, dia memelukku dan menangis, berkata kalau dia belum bisa melepasku secepat ini. Yang bisa aku lakukan hanya tersenyum dan menenangkan Mama, kalau aku tidak akan pergi ke mana pun. Lagi pula aku bisa tinggal di rumah mereka sebelum aku pergi menyusul calon suamiku.