WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Aku ... terluka.



Kilasan-kilasan buram yang berada dalam mimpiku terlihat begitu nyata. Tiga orang lelaki dan dua perempuan. Mereka berlima tampak bahagian dengan keberadaan masing-masing. Namun, saat salah satu perempuan tersebut jatuh ke dalam lubang bernama cinta bersama dua orang lelaki dari ketiganya itu, hubungan yang begitu indah terputus begitu saja.


Namun, tak hanya sampai sana. Ternyata, satu lelaki yang tersisa itu sudah melompat terlebih dahulu, menunggu si perempuan turun dan ikut tenggelam di dalamnya. Yang tersisa hanyalah perempuan yang tak pernah teranggap. Perempuan menyedihkan yang ingin mendapatkan perhatian.


Sebenarnya apa maksud dari kilasan tersebut? Sebuah pertanda atau hanya sekadar bunga tidur? Tuhan, mengapa kau memberikanku jawaban yang sulit seperti ini?


“Nyonya, sudah siap semuanya. Perlu saya bawakan makanan Nyonya ke kamar?” tanya Marie tiba-tiba dari luar pintu.


Aku menyimpan pena dan menutup buku harianku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menggoreskan tinta di atas buku lawas itu. Ada beberapa catatan aneh di lembar-lembar awal yang tak aku pahami, terlalu menyiratkan banyak kalimat hingga aku sendiri tidak paham apa yang sedang aku tulis saat itu.


Marie mengetuk pintu dan mengatakan apa aku baik-baik saja di dalam. Aku berdiri, menyimpan bukuku di dalam laci lalu beranjak menuju pintu.


“Aku mau makan di ruang makan saja,” ucapku, Marie mengangguk.


Kami berdua berjalan menuju ruang makan, tidak terlalu jauh dari kamar yang sudah aku tempati kurang lebih selama dua bulan. Biasanya Marie akan sibuk bercerita ini itu, namun hari ini dia terlihat lebih pendiam. Apa mungkin dia sakit?


“Kamu sakit, Marie?” tanyaku khawatir.


Marie menengok ke belakang dan menggelengkan kepalanya seraya tersenyum simpul. Aku tahu pasti terjadi sesuatu pada Marie. Tidak biasanya Marie menampilkan senyum terpaksanya. “Pergilah istirahat, aku akan makan sendiri.”


“Tapi Nyonya—”


“Tidak apa, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, Marie. Istirahatlah,” titahku seraya menepuk pundaknya.


Dia menunduk hormat lalu pergi menuju arah sebaliknya dari tujuanku. Ingin sekali aku kembali ke kamar, biasanya aku selalu ditemani Marie kemanapun. Karena aku takut Werrent akan tiba-tiba muncul. Aku takut hal itu terjadi. Tanganku terangkat mengelus dadaku, luka itu mulai sembuh sedikit demi sedikit.


Menjaga jarak dari Werrent adalah hal terpentingku saat ini. setidaknya aku harus menyembuhkan lukaku sebelum Werrent menunjukkanku hal yang lain-lain. Hal yang jelas bisa melukai perasaanku kembali.


“Huh,” Aku menghela napas berat.


Ternyata kita hanya berada di satu rumah saja, tidak di hati yang sama. Kalau saja aku menerima Werrent dari awal, mungkin saja kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Bagaimanapun Werrent adalah pria normal dan kita kadang tidur di ranjang yang sama. Werrent pasti kesusahan, tapi sama halnya denganku yang belum siap.


Namun sepertinya Werrent mulai bosan denganku, hingga saat aku mulai membuka hati untuk Werrent, dia terus menolakku seakan aku melakukan itu semua karena kasihan dengannya. Padahal bukan itu yang aku maksud. Aku juga harus menjalankan tugasku sebagai istri


Pintu ruang makan terbuka, aku masuk ke dalam dan berisap untuk duduk di kursi yang biasanya aku duduki. Tetapi, ekor mataku menangkap sosok yang sudah lama tidak aku lihat. Seketika tubuhku menegang. Jantungku berdetak dengan cepat dan napasku tercekat. Aku sesak napas.


“Asqyla.”


Seluruh tubuhku menggigil, suara berat yang tak asing terdengar di telingaku. Suara langkah kaki terdengar begitu nyaring, semakin mendekatiku dan terhenti tepat di hadapanku dengan kedua tangannya yang mencengkram bahuku.


“Aw,” ringisku.


Aku memalingkan wajahku, bau yang begitu menyengat membuat kepalaku pening. Tapi Werrent tak membiarkan aku berpaling darinya. Dia menangkup kedua pipiku dengan tangannya dan bibir hangatnya berhasil menciumku.


Rasa pahit yang terasa dari dalam mulut Werrent membuatku mual, tapi Werrent tak memperdulikan itu dan merangkul pinggangku semakin dalam pada dekapannya. Aku memukul punggungnya agar melepaskanku. Namun, semakin aku bergerak, semakin kuat pula Werrent memelukku.


Aku yang hampir kehabisan napas akhirnya terduduk bersama Werrent yang menahan tubuhku. Dia menatapku kosong, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan saat itu. Yang jelas aku ingat adalah Werrent menggendongku menuju kamar yang sudah lama tidak aku tempati. Kamar yang paling bersejarah dalam hidupku. Saksi bisu di mana hatiku hancur berkeping-keping.


“Lepas, Mas!” teriakku dengan kencang, berharap para pelayan mendengarkan teriakanku.


Teteapi sepertinya percuma saja, para pelayan tertunduk takut saat Werrent melewati mereka. Bahkan permintaan tolong tak mereka gubris sama sekali. Aku seperti barang yang sedang dipindahkan dengan paksa.


“Argh! Mas! Apa-apaan ini!” teriakku lebih kencang dari sebelumnya.


Werrent menjatuhkanku di ranjang, dia menghampiriku dengan tatapan kosongnya. Aku mundur hingga menabrak kepala kasur sedangkan Werrent terus memojokkanku. Wajah kami sudah dekat sekali, aku memejamkan mataku erat. Aku ketakutan sekali.


Seketika badanku menegang dan lega sekaligus. Werrent menyandarkan kepalanya di bahuku dan memelukku dengan lembut. Aku terdiam tidak melakukan apaun. Hanya sekadar mengusap punggungnya saja tidak.


Aku rindu ... rindu sekali padanya, tapi hatiku tidak berkata seperti itu. Setiap aku merindukan Werrent, maka semakin sakit hatiku. Karena itu, bertemu Werrent adalah cara menyakitiku dengan cara yang teramat sakit.


“Mas, Qyla mau istirahat. Tolong lepas,” bisikku padanya.


Tiba-tiba dia menarikku dan menindihku. Tatapan matanya begitu kecewa melihatku, dia menciumku lagi. Aku meronta ingin lepas, dia sedang terpengaruh alkohol dan aku tidak ingin sedikitpun berhadapan dengan Werrent yang sedang mabuk seperti ini.


Namun, mungkin memang sudah saatnya hal itu terjadi. Dan hal yang harusnya bisa jadi kenangan terbaik itu terjadi di tengah-tengah kekacauan yang belum ada penyelesaiannya. Werrent melakukan itu semua tanpa memperdulikan aku menolaknya, menangis, memukulnya, menendangnya dan bahkan melukainya.


Werrent sama sekali tidak menghentikan aksinya hingga matahari menyambut. Dan selama semalaman itu aku menangis tanpa henti, tidak perduli jika suaraku serak atau bahkan hilang. Kini luka dalam hatiku tidak akan pernah sembuh. Werrent tidak membiarkanku menyembuhkan luka di hatiku.


Aku menatap pantulan diriku di cermin samping ranjang. Tubuhku yang hanya terbalut selimut dengan wajah yang begitu sembab terpatri dengan jelas di cermin. Air mataku masih mengalir, rasa sakit memenuhi seluruh tubuhku. Aku ingin bangun dari mimpi burukku ini. Aku ingin terbangun dan berkata pada diriku kalau ini semua hanyalah mimpi buruk.


Namun semakin dalam aku menangis, semakin jelas aku sadar kalau ini memang kenyataan yang harus aku terima. Kenyataan di mana Werrent mempunyai wanita lain dan kenyataan di mana Werrent berkata maaf padaku tadi lalu pergi begitu saja.


Aku ... terluka.


A/N:


Kalau besok ketemu Neva gimana, ya?


Ah, aku ganti cover cerita. Gimana menurut kalian? Atau belum ke ganti covernya?