WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Membeli teman



Seketika aku mengingat kejadian buruk yang terjadi pada bawahan Werrent selain Marlo. Saat itu dia sedang berbincang entah membahas apa. Namun, ekspresi Werrent benar-benar marah. Seakan aura hitam keluar dari tubuhnya dan menyelimuti ruangan. Aku yang hanya memandang mereka dari ruang makan saja sudah merinding. Apa lagi pria yang sedang berlutut di hadapan Werrent itu. dan sampai sekarang aku tidak mengerti bagaimana cara Werrent menjalankan perusahaan dengan tempramennya yang mudah marah itu.


“I-Iya? Lalu ... kenapa Kakak tiba-tiba berbicara seperti itu?”


Aku takut sekali dengan situasi seperti ini, seakan Werrent akan memakanku sekarang juga tanpa menyisakan tulang sekecil apapun itu.


“Kamu adalah hal yang berharga untukku, Asqyla. Dan milikku sudah pasti akan aku lindungi, takkan kubiarkan tergores sedikitpun oleh orang lain. Termasuk dia.”


Kata ‘Dia’ yang Werrent ucapkan terkesan menyindir. Dan aku tahu betul siapa orang yang Werrent maksud, ternyata Radith masih menjadi bagian dari amarahnya Werrent. Padahal sudah berulang kali aku katakan kalau Radith itu hanya temanku. Tidak lebih dan tidak akan.


“Sudah, tidak perlu terlalu di pikirkan. Lakukan yang kamu mau mulai sekarang, dan pastikan selalu mengabariku ke mana pun kamu pergi. Agar aku mudah mencarimu di saat kamu hilang.”


“Kak! Qyla bukan anak kecil yang bisa hilang gitu aja.”


Werrent tersenyum, “Tapi di sini, kamu terlihat seperti anak kecil yang bisa menghilang kapan saja, Asqyla.”


Aku menatapnya kesal dan Werrent berjalan menuju kamar kami. Setelah itu bel rumah berbunyi membuatku menghampiri pintu dan membukakannya untuk Marlo.


“Thank you, Mrs Orlov.”


Hah ... aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi dengan panggilan yang Marlo ucapkan.


Tapi sebentar, bukannya ini masih siang bolong? Kenapa mereka pulang secepat ini? Dilihat dari cara mereka terburu-buru pergi membuatku yakin kalau mereka sedang mengerjakan tugas yang begitu penting. Lalu, kenapa sekarang mereka pulang sedini ini?


Aku melangkahkan kakiku menuju kamar, membiarkan Marlo yang sibuk menata kulkas karena datang dengan minuman yang biasa Werrent minum. Saat pintu terbuka aku kembali menutup pintu kamar dengan kencang hingga Marlo segera berlari kepadaku.


“Ada apa Nyonya?” tanya Marlo khawatir.


“Nyo- hah?” jawabku bingung. Aku memijat keningku, semakin kemari semakin jauh jarakku dengan Marlo. Bisa-bisanya dia memanggilku dengan sebutan Nyonya. Panggilan Nona saja sudah membuatku terbebani apa lagi Nyonya. Astaga ....


“Asqyla?” tanya Werrent dari dalam kamar. Muka ku tiba-tiba panas, Marlo memeriksa suhu tubuhku dengan punggung tangannya dan berkata kalau aku tidak demam lalu Werrent tertawa dari balik pintu. Saat dia membuka pintu, aku menutup mataku dengan kedua tangan. Werrent semakin tertawa kencang.


“Sebegitu inginnya, ya, kamu mandi bersamaku hingga membuka pintu dengan terburu-buru.”


Marlo memutuskan untuk pergi dan aku masih terdiam di depan pintu dengan kedua tangan ku yang menutupi penglihatanku.


“Bukan begitu! Nanti Qyla kembali setelah Kakak selesai!” seruku seraya berlari menghindari Werrent.


“Mau ke mana kamu?”


Werrent memegang pergelangan tanganku, aku sedikit kaget dengan tindakannya. Mau tidak mau aku berbalik sembari menutup kedua mataku. “Apa yang kamu lakukan, Asqyla?” tanya Werrent menahan tawa.


“A-aku tidak melakukan apapun,” ucapku gelagapan.


“Buka matamu, tidak sopan berbicara tanpa melihat lawan bicaramu.”


“Enggak! Kakak mandi dulu aja.”


“Siapa yang mau mandi memangnya?”


“Kakak, kan?”


“Kenapa berbalik bertanya?”


“Kakak!”


Werrent melepaskan tangannya dan tertawa, “Bukalah matamu, aku sudah selesai memakai baju.”


Aku tidak bisa dengan cepat membuka mataku, sekelibat bayangan tubuh Werrent bagian atas yang tak di balut apapun melintas begitu saja di kepalaku tanpa tahu malu. Namun, Werrent yang semakin menertawaiku membuatku sedikit demi sedikit membuka mataku.


Dan ... Werrent tertawa dengan puasnya dengan pakaian lengkap. Wajahku memerah sampai leher. Malu karena pikiranku yang terlalu naif menganggap Werrent bisa saja keluar kamar dengan keadaan topless.


“Kamu ingin membicarakan hal apa?” tanya Werrent seraya membawaku ke dalam kamar.


“Ada apa, Asqyla?” tanya Werrent kembali.


Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali dan menatap Werrent. “Qyla hanya penasaran kenapa Kakak pulang sepagi ini.”


Akhirnya pertanyaan itu terucapkan juga. Werrent menatapku bingung, “Memangnya tidak boleh?”


“Bu-bukan begitu! Maksudnya Qyla itu, memang pekerjaan Kakak sudah beres sampai pulang siang hari begini. Biasanya Kakak pulang malam, bahkan terkadang dini hari.”


“Jadi kamu tidak ingin aku pulang cepat?”


“Bukan begitu, Kak. Qyla hanya terkejut saja.”


“Aku kira kamu kaget karena rindu.”


“Mana mungkin,” gumamku.


“Bagaimana, Asqyla?”


Aku menutup mulutku, “Maksud Qyla tidak mungkin Qyla merindukan Kakak yang jelas-jelas sudah berada di hadapan Qyla, hahaha.”


Tawaku begitu kaku hingga membuat Werrent ikut tersenyum. Dia mengelus kepalaku lembut, aku merasa hangat dan nyaman dengan perlakuannya lalu membaringkan badanku di ranjang. Werrent juga ikut berbaring di sampingku. Karena sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, aku tidak lagi canggung berada satu kamar dan satu ranjang dengan Werrent.


“Padahal kalau kamu menyuruhku untuk pulang cepat, sebisa mungkin aku akan pulang di jam segini.”


“Setiap harinya?”


“Iya.”


“Tapi Kakak tidak perlu begitu, kalau Kakak pulang cepat pasti Kakak melakukan pekerjaan dengan terburu-buru. Qyla masih belum sebosan itu untuk menunggu di rumah.”


Perlahan, Werrent memainkan rambutku dan menciuminya. “Kalau begitu kamu mau apa? Biar aku belikan, boneka besar?”


Aku menggeleng, “Tidak perlu, Qyla tidak apa-apa.”


“Hm, teman?” tanyanya ragu.


Aku memalingkan wajahku kepada Werrent, “Kakak mau membelikan Qyla teman? Memangnya bisa?”


“Memangnya tidak bisa, ya?”


Pertanyaan itu membuatku tersenyum simpul. Pertanyaan macam apa itu? Dia berbicara seakan membeli teman adalah hal yang biasa dan tidak tahu kalau teman itu tidak bisa dibeli. Werrent hidup di mana, sih? Sampai hal semacam hubungan saja dia uangkan?


“Kalau Kakak beli teman untuk Qyla, berarti mereka tidak berteman dengan tulus pada Qyla. Mereka hanya menjalankan kewajiban yang mereka terima, dong? Qyla tidak mau.”


“Tapi, teman yang seperti itu tidak akan bisa mengkhianatimu, Qyla. Jadi kamu tidak perlu khawatir kamu akan dimusuhi atau ditinggalkan.”


Aku memalingkan wajahku menuju langit-langit kamar. “Tetap saja, Kak. Walau kelihatannya mudah dan menyenangkan tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan keberadaan mereka yang sengaja datang untuk memenuhi persyaratan itu. Qyla lebih suka bertemu dengan orang baru yang memang ingin berteman dengan Qyla, bukan orang baru yang menginginkan sesuatu dengan menemani Qyla.”


Werrent berhenti memainkan rambutku dan ikut menatap langit-langit kamar. “Wah, ternyata istriku tidak hanya baik tapi realistis juga. Ucapanmu mengartikan kalau aku tidak perlu mengeluarkan uang hanya untuk memberikanmu teman, kan? Berarti sekarang kamu sudah memiliki teman?”


Perkataannya tepat sekali. Seperti bisa membaca pikiranku. Apakah Louis dan Kevin bisa aku sebut teman?


“Mungkin, Kak. Qyla juga tidak yakin.”


“Kenapa?”


“Karena Qyla tidak sengaja bertemu, bukan berarti Qyla bisa mengatakan kalau dia teman Qyla hanya dengan sekali pertemuan.”


Werrent terdiam sejenak, keheningan di dalam kamar ini membuat situasi menjadi canggung sekali. Tiba-tiba aku kepikiran hal yang rumit seperti bagaimana kalau memang benar Werrent berusaha mencarikanku teman dan menyuruhnya untuk perpura-pura ingin berteman denganku lewat kebetulan-kebetulan yang tidak aku sangka. Astaga, tidak mungkin sekali Werrent melakukan hal serumit itu. Aku berdeham untuk meringankan suasana ini.


“Mau minum?” tawar Werrent. Aku tertawa keras, “Ternyata Kakak bisa melucu juga, ya?”