WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Apa Qyla pantas jadi istri Kakak?



“Om nggak kesal sama, Qyla?” tanyaku jahil.


Dia tersenyum, “Kesal? Karena?”


“Panggilan yang Qyla buat.”


“Om?” tanyanya.


Aku mengangguk, dia tertawa. Senyumannya selalu membuatku terpukau, kenapa pria seindah dia harus berpasangan denganku?


“Sedikit, kalau kamu suka panggil saya dengan sebutan itu, saya tidak masalah.”


“Iya, Om. Eh, Kak? Atau Werrent?” tanyaku melunjak.


Masih tetap sama, dia tersenyum. “Panggil sesuka kamu saja.”


“Kalau Qyla panggil Kakak, kesannya Om bukan suami Qyla. Ah, calon maksudnya.”


“Ya sudah panggil Om atau Werrent.”


“Nggak sopan, Om.”


“Terus kenapa kamu terus panggil saya, Om?”


“Kan kita lagi diskusi, panggilan mana yang cocok.”


Dia tertawa lagi sembari mengelus puncak kepalaku seraya berkata aku lucu, aku sudah tahu kalau aku lucu. Mama saja selalu gemas denganku, walau gemas karena kelakuanku yang tidak bisa diatur.


“Kenapa nggak panggil, Sayang saja? Cocok kan untuk sepasang pengantin?”


“Nggak nggak. Lebay banget, Qyla nggak suka.”


“Lalu apa?”


“Akang Werrent?”


Dia tertawa lagi, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Apa yang salah? Bukankah dia jadi pemilik panggilan yang paling langka dari yang lain. Aku akui panggilan itu menggelikan, kata ‘Akang’ sangat tidak cocok dengan namanya, tapi menggemaskan bukan?


“Kalau kamu suka, saya enggak apa-apa kok. Walau agak geli.”


“Kalau ... Mas Werrent bagaimana?”


“Werrent saja, Asqyla. Tidak apa, kok.”


“Ya sudah Qyla panggil, Werrent. Tapi nanti kalau sudah menikah, sekarang Qyla panggilnya Kakak aja.”


“Astaga, Asqyla. Saya kira panggilannya untuk dipakai sekarang.”


Aku terkekeh lalu kembali menatap jalan, apa dia tidak lelah terus berkendara. Badanku saja sudah mulai pegal karena duduk terlalu lama, dan lagi dia ingin membawaku ke mana? Walau hari masih terang, tetap saja kalau terlalu jauh kita berdua bisa ketinggalan acara makan malam bersama. Aku juga ingin melihat kedua calon mertuaku.


“Kak?” tanyaku.


“Kenapa, Asqyla? Enggak mau panggil saya Om lagi?”


“Ya sudah, kenapa?”


“Nggak apa-apa sih, Qyla pengin Kakak bicara aku-kamu bukan saya-kamu.”


Werrent melirikku, “Hanya itu?”


“Hm, ada satu lagi. Kita mau ke mana?”


Dia terdiam, tidak menjawab pertanyaanku. Ia melambatkan kecepatan mobil lalu berhenti di pinggir jalan. Jalanan sekitar sangat sepi, bahkan tidak ada yang lewat sama sekali. Dia turun dari mobil, lalu membukakan pintu untukku juga menggenggam tanganku. Aku mengikuti langkah yang dia tuju, kulihat rambutnya bergerak karena angin, dari belakang saja sudah menawan, aku mengerti kenapa perempuan-perempuan tadi langsung terpana akan rupanya.


Saat aku sedang fokus memperhatikan rambutnya, tiba-tiba dia menengok dan tersenyum lalu melepas genggaman tangannya. Tangannya terulur mengambil jaket yang aku bawa lalu memakaikannya di tubuhku, aku tersenyum, dia sangat perhatian. Dan sepertinya aku mulai jatuh, semoga saja tidak terlalu dalam, agar aku bisa bangkit secepat mungkin.


Dia kembali menggenggam tanganku, lalu kita masuk kedalam hutan. Dengan hati-hati dia membantuku saat jalanan di dalam hutan itu berbatu yang membuatku sulit untuk melangkah, dia juga menawarkan untuk mengendongku agar tidak terjatuh, jelas saja aku tolak. Aku tidak mau membuatnya kerepotan lagi.


Sebentar lagi kita akan sampai, itu yang dikatakannya. Aku tidak tahu apa yang akan dia tunjukkan di hutan seperti ini. Langkahnya semakin melambat saat kita berdua memaksa membuka jalan melalui semak-semak, saat kita melewati ujung dari semak-semak tersebut, aku melihat pemandangan yang sangat luar biasa.


Kami berada di pinggir jurang, ada pagar kayu yang membatasi, lalu kota tempatku tinggal. Semuanya terlihat jelas dari sini, gedung-gedung pencakar langit terlihat lebih rendah di banding tempatku berdiri. Lalu matahari yang akan bertukar posisi dengan bulan, sangat indah. Kota-kota di bawah sana memancarkan cahaya oranye, langit sudah mulai menunjukkan jati dirinya. Lalu, senja. Dia sedang melambaikan tangannya lalu menghilang, semilir angin menerpa wajahku, sejuk sekali. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, aku memejamkan mataku menikmati udara segar yang masuk menuju paru-paruku.


Senyum lebar tercetak di wajahku, aku mengingat terakhir kali melihat senja seindah ini saat Radith mengatakan bahwa coklatnya hilang. Dan dengan bodohnya aku terus menanyakan perihal coklat padanya. Ah, aku rindu dia.


“Bagaimana menurutmu, Asqyla?” tanya Werrent.


Mataku masih terpaku pada langit, “Indah.”


“Aku maksudmu?” tanya Werrent diselingi dengan tawanya.


Aku melirik dia dengan senyum tipis, “Tempatnya, Kak.”


“Bukan tempat ini, Asqyla. Kamu melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?”


Apa yang sedang aku pikirkan? Apa yang harus aku jawab? Aku rindu Radith?


“Apa pernikahan ini terlalu berat untukmu? Masih ada waktu, kamu bisa batalkan pernikahan ini kalau kamu tak mau,” lanjutnya.


Aku menimang-nimang perkataan Werrent. Tanganku memegang pembatas jurang dengan perlahan, menghirup udara yang begitu bersih ini. Lalu, menatap Werrent dengn dalam.


“Memangnya tidak apa kalau Qyla batalkan? Kakak sendiri tahu Qyla belum lulus sekolah, di tambah Qyla masih kekanakan, rasanya Qyla tidak pantas jadi istri Kakak.”


Werrent memalingkan pandangannya dariku, dia menatap ke arah bagunan kota. Kesunyian ini membuat jantungku berdetak cepat. Bagaimana jika dia mendorongku dari ketinggian ini karena aku berbicara seakan aku pasti akan membatalkan pernikahan ini jika Werrent memberi celah. Atau dia akan ikut terjatuh dan sama-sama menghindari pernikahan yang ternyata memang tidak diinginkan dari dua belah pihak ini?


Pikiranku mulai meracau ke mana-mana. Semakin hening suasana, semakin buruk pikiran yang berada di benakku. Werrent bukan pria seperti itu bukan?


“Pantas tidaknya kamu tergantung orang yang ingin kamu pantaskan dan keputusan dirimu sendiri. Jangan pernah beranggapan kamu tidak pantas untukku, Asqyla. Karena dari awal, aku yang memilihmu.”


Kata-katanya sangat menusuk diriku, dia berbicara dengan nada lembut serta senyuman. Aku menghela napasku lega. Sudah aku bilang bukan kalau Werrent bukan pria seperti itu? Tapi dia benar, seharusnya aku berusaha memantaskan diri. Lalu, apa maksud dari perkataaan terakhirnya?


“Sudah malam, kita pulang sekarang. Orang tuamu pasti khawatir.”


“Sebentar lagi nggak apa-apa kan, Kak? Dan lagi mereka nggak bakal cari Qyla, kan Qyla pergi sama Kakak.”


Werrent tersenyum, dia memberiku waktu setengah jam untuk menikmati pemandangan yang sayang sekali kalau dilewatkan begitu saja. Langit sudah mulai gelap sepenuhnya, lampu-lampu kota sedikit demi sedikit menyala membentuk suatu maha karya yang sangat indah. Werrent duduk di atas tanah, aku melirik sekitar, tidak ada yang bisa kita duduki selain tanah yang kita pijak. Aku duduk di sebelahnya, dia menahanku lalu merebut jaket yang sedang aku pakai, dia menggelarkan jaketnya di atas tanah lalu menyuruhku untuk duduk. Aku kembali tersenyum, hal kecil seperti ini saja bisa membuatku berdebar, bagaimana kalau dia benar-benar menyiapkan sebuah kejutan besar untukku? Sepertinya aku akan benar-benar jauh sedalam-dalamnya.