WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Tentang Zayn dan sebuah rencana



“Asqyla!”


Sontak aku bangun dalam keadaan tegang. Jantungku berdegup dengan kencang. Napasku sesak sekali. Terlihat ada Alice di sebelahku. Kami berdua ada di dalam mobil. Sir Harris juga menepikan mobil dan menengok ke arah kami.


“Nyonya tidak apa-apa?” tanya Sir Harris khawatir.


Sedangkan Alice memelukku dengan erat sekali seraya menangis. Aku tidak mengerti kondisi apa ini. Yang aku ingat, aku sedang berada di dalam dunia—apa mungkin itu mimpi?


“Alice! Apa yang terjadi tadi? Aku lihat anak kecil dan Werrent,” ucapku memastikan apa yang sedang aku lihat beberapa saat lalu.


Alice masih terisak, dia menatapku dengan sendu. “Apa yang kamu katakan? Tidak ada Werrent atau anak kecil. Kamu baik-baik saja, kan, Asqyla?” tanya Alice begitu kaget.


Berarti memang benar itu sebuah mimpi. Potongan dari ingatanku? Tapi kenapa aku tidak bisa mengingat hal tersebut? Apa ada sesuatu yang terjadi sampai aku kehilangan beberapa ingatanku?


“Asqyla? Kita ke rumah sakit, ya?” tanya Alice lagi.


Aku menggelengkan kepala. Tidak ada waktu untuk ke rumah sakit. Aku ingin mengetahui hal tentang Zayn sekarang juga.


“Sir Harris tolong antar ke Mall tadi,” ucapku. “Alice, aku tidak apa-apa. Kita bisa lanjutkan acara belanja kita. Jangan menangis begitu. Alice yang cantik jadi hilang lho,” godaku padanya.


Alice masih saja menangis. “Maaf, seharusnya aku jawab pertanyaanmu tadi. Kamu pasti terpikir banyak hal. Maafkan aku, Asqyla. Maaf,” ucapnya begitu menyesal.


Aku hanya bisa menenangkan Alice selama perjalanan menuju Mall tadi. Aku harus bertanya pada Alice apa yang tadi aku alami. Dan sepertinya Alice akan lebih terbuka dibandingkan dengan Alano atau Werrent.


“Sudah sampai. Saya akan menunggu di basement. Kalau ada apa-apa tolong hubungi saya,” ucap Sir Harris.


Setelah mengingat beberpa keping ingatanku, rasanya akan aneh kalau aku mengatakan hal yang sama. Dan sepertinya tidak akan terlalu lama juga. Aku hanya ingin berbincang dengan Alice lalu pulang. Berbelanja bisa dilakukan lain hari.


“Kita mau ke mana?” tanya Alice. Dirinya sudah tidak sedih seperti beberapa saat lalu. Jiwa wanitanya memang lebih besar dari perasaannya sendiri.


“Ayo cepat, Asqyla! kita mau ke mana dulu?” tanyanya girang sekali.


Rasanya aku tidak enak membuat dia menjelaskan apa yang tidak seharusnya ia bicarakan padaku. Tapi ini sebuah kesempatan emas. Dan aku ingin tahu lebih tenang Zayn ini.


“Kita ke cafe dulu. Aku haus,” ucapku.


Kami berdua langsung saja menaiki lift, menuju lantai tiga di mana cafe berada. Aku hanya memesan es kopi dan Alice memesaj jus tomat dan beberapa menu makanan lainnya.


“Kamu mau, Asqyla?” tanya Alice seraya memakan burgernya. Aku menggeleng. Tujuanku kemari bukan untuk makan. Hanya ingin bertanya tentang Zayn.


Aku masih menimang, apakah baik untuk Alice menceritakannya padaku? Tapi setelah beberapa saat aku pikirkan, ini adalah pilihanku sendiri. Hatiku sudah sehancur ini, memangnya apa lagi yang bisa menghancurkan hatiku selain Werrent?


“Alice? Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku tadi. Kamu bisa menjawabnya?” tanyaku.


Alice langsung tersedak. Dia segera meminum jusnya dan menatapku dengan tatapan penuh arti.


“Kamu yakin, Asqyla?” tanya Alice, memastikan. Aku mengangguk.


“Apa yang paling kamu penasaran tentangnya?” tanya Alice lagi.


Aku menyeruput es kopiku. Ada yang aneh dari Alice. “Kenapa kamu tidak bertanya apa-apa? Kenapa kamu langsung menjawab begitu saja, Alice?” tanyaku penasaran.


Alice menjauhkan jusnya dan menatapku dengan intens. “Bagaimanapun kamu juga pasti penasaran tentang dia. Dan kamu juga berhak tahu. Tapi aku kurang yakin karena seharusnya kamu sudah tahu tentang hal tersebut.”


Perempuan di hadapanku mengangguk. seakan paham dan tak menyangkal.


“Zayn itu Kakakku. Kakak tertua kami,” ucap Alice akhirnya menjelaskan.


“Aku tidak pernah tahu kalian punya Kakak. Aku pikir Werrent adalah anak pertama.”


Alice meminum jusnya dengan santai. “Karena kamu tidak mengingatnya, Asqyla.”


Keningku berkerut. Berarti memang ada beberapa ingatanku yang hilang. Tapi, dimulai dari kapan?


“Apa ada hubungannya dengan pernikahanku?” tanyaku pada Alice.


Seketika aku mengingat tentang perbincanganku dengan Papa. Dia bilang akan memberitahuku kenapa aku harus menikah dengan Werrent. Apa memang ada hubungannya dengan pernikahanku? Zayn ini terlibat dalam alur hidupku?


“Aku tidak yakin. Pernikahan ini memang murni keinginan Werrent. Aku tidak terlalu tahu apa ada hubungannya dengan Kak Zayn, tapi Werrent memang mencintaimu. Entah apa yang membuatnya begitu membencimu sekarang.”


Aku membelalakkan mataku. Alice bilang apa?


“Werrent mencintaiku? Tidak mungkin sekali. Itu aneh, Alice. Jelas tidak mungkin!” seruku kaget.


Alice menyandarkan badannya, “Setidaknya dulu. Aku dan Alano juga menanyakan hal yang sama padanya saat ia bilang akan pergi ke negaramu. Yang langsung terlintas di kepalaku adalah kamu. Jelas sekali tujuan Werrent itu apa.”


“Lalu kenapa Werrent menikahiku kalau dia membenciku?” tanyaku penasaran.


“Entah. Mungkin dia masih memiliki rasa yang sama. Aku juga kurang paham. Tapi pernikahanmu dengan Werrent bukanlah rencana Kak Zayn.”


Rencana? Kepalaku berpikir dengan keras. Rencana apa yang Alice maksudkan. Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali. Siapa, sih, Zayn ini di hidupku?


“Lalu? Apa aku bisa menemui Zayn?” tanyaku agak ragu. Selama setahun ini aku tidak pernah melihat keberadaan Zayn. Aku tidak yakin kalau aku bisa menemuinya dengan mudah.


Alice mengangguk, “Bisa. Tapi aku tidak yakin kamu bisa menemukan sebuah jawaban darinya.”


Entah kenapa perasaanku tiba-tiba lega sekali. Rasa cemas yang aku rasakan dari awal aku bertanya hingga beberapa saat lalu begitu mencekikku. Tapi sekarang sudah lega sekali. Semua bebanku terasa hilang.


Kenapa aku bisa berpikir seperti itu? Memangnya beban apa yang aku rasakan?


“Kapan aku bisa bertemu dengannya, Alice?” tanyaku penuh harap.


Alice membuka ponselnya cukup lama. Entah apa yang sedang ia lakukan tapi dia sedikit demi sedikit menatapku lalu kembali menatap pada ponselnya.


“Hm... beberapa bulan lagi. Aku akan beritahu kamu ketika waktunya pas.”


Aku mengangguk, menanggapi ucapan Alice. Dia tidak terlihat sedih lagi. Aku pikir orang yang sedang aku tanyai itu sudah tidak ada sampai Alice selalu terlalu larut dalam kesedihannya. Dan ternyata aku salah. Syukurlah kalau dia masih hidup dan obrolan kita tidak memakan banyak waktu.


“Kalau gitu, ayo kita pulang, Alice,” ajakku.


Perempuan itu tiba-tiba merajuk dan merengek seperti anak kecil. Berbeda dengan Alice beberapa saat tadi yang begitu serius menjelaskan semuanya padaku.


“Jangan dong... masa mau pulang? Gak mau! Kita kan mau belanja, Asqyla....”


Aku tertawa, “Iya, iya. Kita belanja.”