
Langkahku terhenti ketika aku melihat si bodoh Alano sedang diam di depan mobilnya dengan memainkan ponselnya. Dia meninggalkan Istriku di sana hanya untuk menunggu di depan mobil sendirian seperti ini?
“Alan,” sapaku.
Dia menatapku tajam, lalu berbalik ingin memasuki mobilnya. Aku menahan pintu mobil agar dia tidak masuk. “Apa maumu?” ucapnya tajam.
Aku mundur beberapa langkah dan dia masih memandangku dengan tajam. “Begitukah caramu berbicara pada Kakakmu sendiri?”
“Kakak?! Orang badjingan macammu itu pantas di sebut Kakak memangnya?”
“Oh, perkataanmu itu semakin kasar, ya?”
Dia menyilangkan tangannya di depan dada. “Jelas, lihatlah siapa yang mengajarkanku untuk bersikap seperti ini.
Dia membicarakan aku ternyata. “Apa yang kamu lakukan dengan Istriku di sini?” tanyaku langsung.
Dia berniat memukul wajahku dan aku menahan kepalan tangannya. “Aku bertanya dengan baik-baik, Alan. Apa yang kamu lakukan di sini dengan Is.tri.ku.”
Alano menarik lengannya dan tertawa kencang. “Ha! Istri? Wanita yang selama ini kamu diamkan itu masih kamu anggap Istri? Otakmu itu kamu taruh di mana, hah? ************ para jal*ang itu kan?!”
Aku memukul pipinya dengan kuat. Emosiku tidak bisa aku tampung lagi. Sejak kapan aku mendiamkan Asqyla? Aku hanya memberinya ruang dan tempat. Memangnya aku pergi selama bertahun-tahun apa?
“Kenapa berhenti? Lanjut aja, Kak!” teriak anak itu.
Aku kehilangan hasrat bertarungku karena dia menyebutku dengan panggilan yang menyiratkan sesuatu.
“Sudahlah, aku ingin berbicara mengenai hal lain padamu. Aku tunggu di tempat biasa. Dan sampaikan pada Istriku jangan pulang lebih dari jam enam.”
Alano mengepalkan tangannya dan memukul pintu mobil. Aku melihatnya memainkan ponsel lalu menghubungi seseorang.
“Ingat. Jangan lebih dari jam 4!” serunya kesal.
Padahal aku bilang jam enam, telinganya bermasalah.
...***...
"Tidak bisa. Kak, tolong keluarkan semua orang dari ruangan ini dahulu. Baru saya akan bicarakan masalah ini lebih lanjut."
Alano terdiam, dia menyandarkan badannya di kursi. Kami sedang berada di ruang meeting, para investor dan orang kepercayaan Ayah sedang berkumpul di satu ruangan ini. Aku tidak sangka dia bisa setenang itu mengusir orang-orang ini. Walau aku bisa saja membuat mereka keluar hanya dalam satu kata.
"Keluar."
Semua orang berdiri, memberi salam lalu berhamburan keluar dengan segala bisikannya. Aku mengaitkan jari-jariku, ini hal yang menggiurkan bagi siapapun. Kenapa Alano tidak ingin menyentuhnya sama sekali?
"Alan, coba dengarkan penjelasanku lebih dulu."
"Untuk apa?!" teriaknya.
Perubahan antara bicara di depan para petinggi dan denganku berbeda sekali. Terlihat jelas kebencian di matanya.
"Apa ada alasan jelas yang bisa aku pertimbangkan?" tanyaku.
Dia menggebrak meja, "Jelas bukan?! Mana sudi aku memegang jabatan di bawah kendalimu? Memangnya aku gila?!"
"Alan, aku tidak akan sekeras itu padamu. Kamu itu Adik lelakiku satu-satunya. Jika bukan kamu, lalu siapa lagi?"
Tidak habis pikir dengan kelakuannya ini. "Anakmu! Memangnya para jal*ng-jal*ng itu tidak bisa memberikanmu anak?! Aku tidak sudi menyentuh sedikitpun jabatan yang kamu genggam!" teriaknya kencang.
Aku memijat pelipisku, sakit sekali kepala ini jika berbicara dengan manusia tidak berotak macam dia.
"Alan, aku membagi dua kepemilikan perusahaan ini. Kalau bukan aku dan kamu, memangnya siapa lagi yang akan memegang semua urusan ini? Otakmu itu coba buka sedikit saja, memangnya aku bisa mengendalikan ini semua sendiri?"
Aku berdiri, menghampiri dirinya. "Aku hanya melanjutkan, jangan melebihkan seakan aku yang memang bekerja keras berlebihan. Pikirkan ini baik-baik, aku tidak akan berhenti walau kamu terus menolaknya."
"Tidak! Sudah aku bilang tidak ya tidak. Telingamu itu terpasang dengan baik, bukan? Jangan buat aku berkata berulang-ulang!" teriaknya lalu pergi dengan menyenggol bahuku.
Aku mengepalkan tanganku erat. Sudah waktunya Alano belajar tentang hak waris bagian dirinya. Aku juga butuh waktu untuk meluruskan kakiku. Setidaknya Alano paham walau dia tidak ingin melanjutkan.
"Ah! Brengsek!"
Kursi yang aku tendang mengenai kaca pintu, ada sedikit retakan karena benturan antara kursi dengan kaca. Aku menghela napasku kesal dan ponselku terus bergetar sedaritadi. Aku mengangkatnya saat panggilan itu kembali.
Kenapa?
Jawabku kesal, bisa-bisanya ada orang yang terus menghubungiku lebih dari sekali jika aku tidak mengangkat panggilannya.
Ya??
Aku menjauhkan ponselku dan melihat siapa yang menghubungiku sedaritadi. Asqyla? Pikirku. Ada apa dia tiba-tiba menghubungiku seperti ini.
Aku langsung bertanya padanya dan dia menjelaskan kalau dia akan menghubungiku lagi saat aku menelponnya tadi. Aku mengangguk-angguk, paham.
Tapi, tidak ada hal yang ingin aku katakan lagi padanya. Jadi, untuk apa aku terus berbincang dengannya? Masalah Alano saja belum selesai. Lalu aku akhiri panggilan tersebut tanpa menunggu jawaban Istriku.
Yang menjadi masalah lainnya ada pria di depanku ini. "Pak, ada masalah kecil."
Aku menghela napasku dalam, kalau masalah kecil, kenapa mereka harus menghampiriku? Memangnya tidak bisa apa dia kerjakan sendiri? Hah ... aku lelah dengan ini semua.
"Kembalilah," titahku.
Pria itu masij setia berdiri di hadapanku. Aku berdiri, menghampirinya. Dia tertunduk begitu dalam, aku mencengkram bahunya keras. Dia terlihat berusaha menahan diri.
"Ada apa lagi?" ucapku
Dia menatapku lalu kembali menunduk, "I-itu, Pak. Ada seorang wanita yang memaksa ingin bertemu Bapak. Kami sudah larang, tapi dia malah mengatakan kalau dirinya itu adalah istri Bapak. Maka dari itu saya ingin Bapak memastikannya secara langsung."
Aku melepaskan cengkramanku di bahunya, kekesalanku semakin bertampah. Aku pijat pangkal hidungku, untuk apa dia datang ke kantorku? Bukannya aku sudah bilang untuk tidak menghubungiku lagi? Dia tuli seperti Alano memangnya?
"Ah! Brengsek!" teriakku seraya menendang kursi lain.
Pria itu terkejut, aku menatapnya tajam dan dia langsung pergi keluar, mengarahkanku menuju tempat di mana Istriku menunggu.
"Asqyla tidak sebodoh itu untuk nekat datang ke mari. Siapa sebenarnya orang yang menungguku?" gumamku.
"Iya, Pak?" tanya pria tadi.
"Bukan apa-apa, tunjukan saja jalannya."
"Baik."
Dia mengarahkanku pada ruang meeting bagian pemasaran, kenapa mereka tidak menyuruh wanita ini menunggu di ruanganku saja? Kenapa harus di ruang meeting yang bahkan jauh dari lobby?
"Dia ada di dalam, Pak. Silahkan," ucap pria itu dan membukakan pintu untukku.
Aku menengok ke arah dalam. Rambut coklat terang tergerai, jelas sekali dia bukan Istriku.
"Ada apa kamu ke mari?"
A/N:
Cukup deh, POV Werrent beres di sini aja, ya, guys?