WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Werrent's POV



“Babe! Kamu ingat tas kemarin yang aku bicarakan? Hari ini tasnya sudah bisa di pesan dan aku sangat menyukainya. Kita beli, ya?”


Aku memejamkan mataku sesaat, kepalaku pening sekali. Aku yakin dia memasukan sesuatu ke dalam minumanku malam tadi. Rasa mual di perutku masih terasa. Dasar Jal*ng tidak tahu diri. Sudah aku beri tempat tinggal masih saja menginginkan lebih. Perempuan memang tidak pernah ada puasnya.


“Iya, aku tahu. Bersiap-siaplah, aku akan mandi terlebih dahulu,” ucapku malas.


Dia tersenyum manis sekali dengan lipstik yang begitu merah. Perlahan dia mendekatiku, menciumku dalam. Aku menyeringai, dia ... jal*ng terbaik.


“Babe! Be gentle, okay? Pinggangku masih sakit,” rengeknya dengan menyentuhkan jarinya di bibirku.


Aku menyeringai padanya, itu tergantung dia menggodaku sejauh apa. Dia pikir, dia bisa menguasaiku sepenuhnya? Ah ... wanita yang aku lupa namanya ini tidak berbeda jauh dengan Neva. Hanya saja, Neva lebih baik di ranjang daripada jal*ng satu ini.


“Kita lihat saja nanti,” gumamku lalu menindihnya.


Dia tersenyum saat aku menciumi lehernya, dia juga memelukku erat saat aku memberi tanda-tanda ungu di kulit putihnya juga mendesah beberapa kali. Membuat semangatku kembali tinggi.


“Becek sekali, ya? Perlu aku masukkan?” ucapku padanya.


Dia menggigit bibir bawahnya, lalu menciumku. “Yes, please, Babe!”


...***...


Aku berdiri dari ranjangnya, mengambil handuk dan melilitkannya di pinggangku. Kulhat dia sedang terbaring dengan napas terengah-engah. Padahal aku hanya melakukannya sekali, tapi dia sudah kelelahan seperti kita sudah melakukannya selama berjam-jam.


“Bersiap-siaplah selama aku membersihkan diri, aku tidak suka menunggu.”


Dia berusaha bangun dengan kerasnya, aku mendekati dia dan mendorong tubuhnya agar terbaring kembali. “Ingat. Aku tidak suka menunggu,” ulangku lalu mengecup keningnya.


“Argh! Beri aku waktu untuk bernapas! Kita sudah melakukan ini semalam suntuk dan sekarang kamu memintaku untuk bersiap-siap dengan cepat? Aku lelah, Babe!” rengeknya dengan manja.


Aku menjauhinya, menyeringai. “Lakukahlah, aku tidak akan mengulangi ucapanku,” ucapku lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Aku bercermin di depan closet. Tanganku terkepal erat, ada satu tanda di leherku. Jal*ng itu benar-benar bodoh! Menandaiku? Ah ... sudahlah.


...***...


“Babe, bagaimana penampilanku?” tanya perempuan itu.


Aku melirik dari dalam mobil, “Anggun, seperti biasanya.”


“Ah, kamu ini bisa saja,” cengirnya malu-malu. Aku mematikan ponselku.


“Masuklah, sebelum aku tinggal pergi,” Aku membukakannya pintu dari dalam.


Dia berdecak sebal. Seharusnya aku yang melakukan itu bi*chy, betapa sulitnya aku ingin pulang ke rumah. jal*ng satu ini tidak pernah lelah bermain setiap hari denganku. Bahkan Neva saja tahu batasan.


“Kamu itu masih saja bersikap dingin padaku, Babe!” ringisnya. Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.


“Kamu jadi membelikan aku tas kan, Babe?” tanyanya seraya merangkul lenganku dengan manja.


Aku menyalakan mobil dan melaju keluar dari basement. Pertanyaan bodoh, kalau aku tidak berniat membelikanmu barang, untuk apa aku di dalam mobil bersamamu.


Selama perjalanan dia selalu mengoceh tentang dia yang kesepian selama aku tidak ada dan hal-hal yang tidak ingin aku ketahui sama sekali. Telingaku panas sekali, mulutnya sama sekali tidak bisa berhenti. Tidak seperti Asqyla, dia tahu saat di mana dirinya harus terdiam dan tahu di mana saat yang tepat untuk menghiburku. Ah ... istriku tercinta, sudah lama aku tidak melihatnya.


Aku melirik ke samping, mobil di sebelahku berisik sekali. “Ck! Mereka bodoh atau gimana, sih? Berisik sekali!” geram perempuan itu. Ya ... aku setuju dengan poin tersebut.


“Asqyla!”


Seketika aku menatap tajam pada mobil sampingku, mereka melaju lebih dahulu. Itu mobil Alano, apa yang bocah itu lakukan di sini bersama Asqyla?


“Babe? Lampunya sudah hijau, ayo maju.”


Aku tersadar dan segera maju mengikuti mobil tersebut, tenyata kita satu tujuan.


...***...


“Aku pakai, ya! Terima kasih, Babe!” serunya senang lalu menciumku.


Aku sengaja memberinya kartu kreditku, dia langsung berlari setelah aku melambaikan tanganku. Semudah itu ternyata aku keluar dari jeratannya, seharusnya dari awal seperti itu. Sekarang aku harus mencari Asqyla dan Adik bodohku Alano.


Kuedarkan pandanganku dari atas, seketika mataku terkunci pada tiga orang yang sedang membicarakan sesuatu. Mereka adalah Asqyla, Alano dan Alice. Apa yang sedang mereka rencanakan?


Alano memisahkan diri lalu Alice pergi begitu saja dan Asqyla mereka tinggalkan sendiri. Apa yang Adik-adikku itu pikirkan?! Meninggalkan istri kakaknya sendirian? Bodoh sekali.


Aku bergegas turun ke bawah, namun saat aku sudah di lantai utama. Aku tidak melihat siapapun duduk di sana. Aku melirik sekitar dan melihat Asqyla bersama dengan seseorang pria lain. Aku mengepalkan tanganku, jadi itu tujuannya? Pria lain? Gadis itu—tidak, dia sudah bukan gadis lagi.


“Malam yang tak terlupakan,” seringaiku.


Dia semakin menghilang dari pandanganku, dengan cepat aku berlari menyusul mereka berdua. Dan hasilnya nihil, aku tidak melihat keberadaan mereka lagi. Aku mengelilingi lantai dua dari sudut ke sudut dan tidak menemukan siapapun yang mirip dengan Asqyla.


“Untuk apa aku mencarinya seperti ini?” gumamku.


Biarkan saja. Memang biasanya dia selalu bermain dengan pria lain juga. Seperti sudah menjadi kebiasaan untukku ketika dia di kelilingi oleh lelaki lain. Namun, kenapa aku tiba-tiba merasa marah seperti ini? Saat aku membalikkan badanku, aku melihat dengan jelas wajah Asqyla yang sedang duduk berdua dengan pria yang tidak bisa aku lihat wajahnya. Apa pria itu pemuda yang Asqyla sebut keluarganya?


Dengan cepat aku menekan tombol panggil di kontaknya Asqyla. Dalam deringan pertama dia langsung mengangkatnya. Aku bisa melihat dia terdiam lama saat aku memanggil namanya.


Wajah polos itu, wajah yang bersinar ketika dia membicarakan kesehariannya di dalam rumah, wajah yang akan berseri ketika aku mengajaknya pergi keluar. Wajah yang selalu membuatku aman dan nyaman. Aku ... merindukan wajah itu.


Begitu hening, dia tidak mengatakan apapun. Aku masih memandanginya dari luar toko. Pas sekali toko ini memiliki tembok kaca hingga aku bisa melihat ke dalam tanpa susah payah. Keheningan ini semakin melanda, akhirnya aku tanyakan di mana keberadaan dia. Apa dia akan menjawab dengan jujur?


Lalu, yang terjadi selanjutnya membuatku mengepalkan tanganku erat. Aku ingin masuk ke dalam dan memukul pria itu. Pemandangan yang begitu hebat sekali. Pria ini mendekati Istriku dan mengusap bibirnya, aku memegang erat ponselku.


Istriku ...


Nanti Qyla telpon Mas balik.


Dan panggilan pun terputus. Aku melihat dia memeluk erat pria itu. Apa-apaan ini. Kenapa hatiku sakit sekali. Aku membalikkan badanku dan memutuskan untuk pergi. Tidak ada pemandangan enak yang bisa aku nikmati di sini.


A/N:


Yang nungguin POV nya Werrent sekarang muncul nih!


Ada yang mau part 2 nya?