
“Bagi, Mas, Qyla itu siapa, sih?” tanyaku menahan tangis.
Perasaanku sudah tidak tersusun lagi. Pikiranku kacau. Aku tidak bisa menahan perasaanku lebih lama lagi. Aku... sudah lelah.
“Apa bagi, Mas, Qyla hanya sebuah alat formalitas? Apa Qyla hanya sekedar pajangan di salah satu ruangan di rumah Mas? Supaya orang-orang tahu kalau Mas punya sebuah alasan yang bisa Mas pergunakan untuk hal apapun itu?” tanyaku penuh dengan isakan tangis.
Aku lelah, Semesta. Aku begitu lelah. Aku ingin kembali ke rumah. Rumah yang benar-benar rumah untukku.
“Apa Mas pernah memikirkan perasaan Qyla sedikitpun? Apa pernah Mas bertanya baik-baik ketika Mas merasa salah paham?”
Air mata meluncur begitu saja. Aku tidak peduli lagi dengan hal yang harus aku pendam. Aku hanya perempuan berumur sembilan belas tahun yang terus berusaha untuk mendewasakan diri padahal perempuan lainnya terlalu sibuk dengan kisah-kisah yang bisa mereka susun ulang kembali dengan mudahnya.
“Mas, Qyla capek, Mas. Qyla sakit. Qyla kecewa. Qyla lelah. Qyla pengen pulang, Mas. Qyla pengen main sama temen-temen Qyla, Qyla pengen pergi ke sekolah yang sama. Qyla gak bisa terus berusaha baik jadi Istri, Mas. Qyla capek,” ucapku dengan penuh rasa sakit.
Werrent menatapku. Aku tidak bisa mengartikan arti pandangannya. Tidak peduli lagi jika dia bilang kalau aku beralasan lagi atau bahkan pergi begitu saja. Aku sudah tidak peduli.
Aku ingin menjadi egois.
“Apa Mas gak bisa bawa Qyla pulang? Qyla rindu Mama, Qyla pengen istirahat sebentar aja, Mas. Apa gak boleh?” tanyaku terakhir kali sebelum aku menangis dengan leluasa. Tidak begitu histeris namun cukup membuat Werrent sakit hati.
Tangis yang selama ini aku pendam. Tangis berisi rasa sakit dan luka yang selama ini aku pendam.
Aku meluapkannya.
“Maaf, Asqyla. Maafkan aku. Apapun itu asal tidak kembali ke sana. Aku ingin kamu di sampingku,” ucap Werrent.
Dia memelukku. Memelukku begitu erat namun tak menyakitiku. Rasa hangat itu kembali hadir. Aku bahkan tertawa dalam tangisku. Werrent adalah orang yang membuatku terluka dan membuatku kembali bangkit untuk luka yang akan ia goreskan lagi.
Aku benar-benar gila.
***
Aku menangis begitu lama sampai kerongkonganku kering sekali. Mataku bahkan begitu pedih.
Werrent masih di sini. Tertidur di samping ranjangku dengan tangan yang menggenggamku. Aku sedikit tersenyum. Semesta, kenapa kau buat perasaanku jatuh semakin dalam hingga aku sulit untuk memanjat?
Aku tahu betul kalau Werrent tidak mencintaiku. Tapi mengapa aku tidak bisa pergi darinya? Apa karena sebuah ikatan? Apa karena Althaf? Atau karena aku memang jatuh cinta padanya? Ah, Semesta. Tolong beri aku jawaban yang benar.
“Kamu sudah bangun, Asqyla?” tanya Werrent dengan suara seraknya.
Aku menatapnya tanpa ekspresi. Rasa sakit itu masih ada. Dan pertanyaanku mengenai wanita kemarin masih memenuhi benakku.
“Wanita itu siapa, Mas?” tanyaku langsung.
Aku ingin berubah. Aku ingin mengatakan semuanya dengan lantang. Tak memendam apapun lagi.
“Kekasih Mas?” tanyaku lagi.
Werrent langsung duduk dengan tegap. Air mukanya datar. Seperti Werrent yang biasanya aku lihat. Tidak ada lagi Werrent manis yang aku temui saat pertama kali kita berjumpa. Werrent di hari itu sudah mati. Kini tinggal orang asing yang menyerupai Werrent duduk di sampingku. Namun aku mencintainya.
Dia menyilangkan tangannya, “Iya. Aku membuat janji untuk putus dengannya. Tidak ada urusannya denganmu. Hanya bosan. Dan orang-orang juga mulai tahu kalau aku punya anak. Aku harus menjaga sikapku.”
“Lalu Neva? Mas masih berhubungan dengannya?” tanyaku ragu-ragu.
Neva adalah wanita yang paling aku khawatirkan. Kedekatan mereka seakan memberitahuku kalau Neva bisa saja menyingkirkanku kapan saja. Aku selalu khawatir dengan keberadaannya. Dia bahkan terlalu terang-terangan tentang hubungannya dengan Werrent.
“Jelas. Dia sekretarisku,” jawab Werrent dengan helaan napasnya. “Bukan itu maksudku. Hal lain,” kataku.
Werrent mengembuskan napasnya kesal. Aku sedikit terkejut. “Kami masih berhubungan. Lalu? Kenapa aku harus menjelaskan setiap detail kisah cintaku padamu, Asqyla? Hanya karena kamu Istriku dan kamu merasa berhak atas segala tentang hidupku?” tanya Werrent kesal.
Aku terkejut sekali dengan ucapannya. Bahkan Werrent masih belum sadar akan posisinya. “Kalau begitu satu pertanyaan lagi. Apa... arti Qyla untuk Mas?” tanyaku penuh keraguan.
Werrent berdiri, menatapku cukup lama lalu berkata, “Bukahkan sudah pernah aku katakan? Kamu adalah pelindungku. Melindungiku dari hal apapun yang menurutku benar.”
Setelah mengucapkan kata tersebut, Werrent beranjak pergi. Aku terdiam di atas ranjangku. Sendirian. Kata-kata yang dulu membuatku bahagia dan tersipu manis ternyata menyimpan sebuah fakta kalau aku hanya sebuah tameng. Perisai yang harus terus bertahan agar pemiliknya tak terluka.
Aku hanya sebuah barang baginya.
Tanganku terkepal. Meremas dadaku yang begitu sesak. Air mataku tak bisa turun saking menyakitkannya. Suaraku bisu saking sedihnya.
Apa aku harus menyerah, Tuhan?
“Nyonya Asqyla, sudah waktunya bayi anda makan siang. Perlu saya bawa ke mari atau mau saya antarkan ke sana?” tanya perawat yang baru saja mengetuk pintu ruanganku.
Aku tersenyum kecut. Menyerah? Tidak untuk saat ini. Althaf membutuhkanku.
“Haha,” tawaku.
Sang perawat begitu bingung dan mengatakan akan membawa Althaf ke mari. Aku masih tenggelam dalam tawaku. Althaf? Entah dari mana nama itu tercetus dari mulutku. Apa aku terlalu egois sampai memilih nama anakku sendiri tanpa Werrent?
***
“Asqyla! Maafkan aku!” teriak Alice.
Aku menempelkan telunjukku di bibir. Mengisyaratkan untuk tidak berisik. Althaf baru saja tertidur dipangkuanku dan Alice masuk ke ruanganku tanpa mengetuk dan berteriak.
Hampir saja Althaf terbangun.
“Ada apa, Alice? Kamu baik-baik saja, kan? Aku khawatir karna kamu tidak datang belakangan ini,” ucapku menanyakan kabarnya.
Alice menggangguk denga cepat. “Maaf karena aku terlalu sibuk belakangan ini sampai tidak mengunjungimu.”
Dia duduk di sebelahku, “Bagaimana kondisimu? Sudah sedikit membaik? Doktor bilang apa? Sudah boleh pulang? Bagaimana dengan bayi manis ini? Sudah boleh pulang juga? Ah! Rumahmu! Aku belum membeli barang-barang untuk kamar anakmu. Apa yang harus aku beli?” tanya Alice beruntun.
Aku terkekeh dan mengusap kepalanya. Padahal Alice lebih tua dariku, tapi aku merasa kalau Alice adalah adik kecilku. “Aku tidak bisa jawab semuanya sekaligus. Tapi aku punya kabar baik. Doktor bilang aku bisa pulang secepatnya dan bayi ini sudah aku beri nama. Althaf. Bagaimana?” tanyaku dengan senyum manis.
Alice mengerutkan keningnya. Menyentuh pipi gembul anakku. Aku hanya memperhatikan tindakan lucu Alice yang begitu hati-hati mengelus Althaf.
“Khalis!”