
“You know what, La? Kamu bisa cerita apapun sama Abang. Apapun itu. Abang selalu di sini, kalau kamu mau, Abang juga bisa pindah ke sini,” ucapnya gamblang.
Aku menggeleng, “Abang gak usah repot-repot begitu. Kan ada Mas Werrent, Abang gak perlu khawatirin Qyla.”
Suaraku sedikit gemetar akibat menahan tangis tadi. Isakanku juga terdengar jelas oleh Danish. Namun seperti biasanya, Danish bersikap tidak mendengar apapun. Seingatku, Danish Kakak yang super protektif. Dalam segala aspek. Tapi kali ini, dia seperti membiarkanku memilih untuk bicara atau tidak. Dan aku selalu tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.
“Bang...,” sahutku dengan ragu.
Dia menjawabnya dengan dehaman. Matahari sudah benar-benar tenggelam. Tapi, Danish tak langsung membawaku masuk seperti apa yang ia ucapkan tadi. Seakan memang menunggu waktu yang akan datang ini.
“Sebenarnya Qyla—”
Enggak baik-baik aja, Bang. Aku ingin sekali mengucapkan kata itu padanya. Aku ingin Danish memelukku sekarang juga, mengatakan kalau aku baik-baik saja. Semuanya agak berjalan lancar. Aku hanya tinggal menjalaninya saja.
Namun ucapan tersebut sama sekali tak bisa aku utarakan. Berat sekali rasanya mengatakan kalau aku tidak baik-baik saja.
“Sebenarnya apa, La?” tanya Danish penasaran. Aku tersenyum lebar, “Rindu banget sama Abang! Abang tahu? Qyla bo...sen banget! Apalagi waktu pertama kali datang ke sini. Cuman ada Mas Werrent sama Marlo. Guru privat Qyla. Setiap Qyla keluar rumah, pasti sama Marlo. Qyla kesepian banget, terus ketemu Louis sama Kevin dan sekarang Alice sama Alano juga mulai deket sama Qyla. Qyla bahkan sampe lupa kalau Qyla punya Abang!”
Aku tertawa dengan begitu senangnya. Menceritakan kembali apa yang aku jalani selama ini. Hanya hal-hal baik yang aku ucapkan. Perihal perselingkuhan Werrent dan insiden Kevin, aku tak bisa memberitahu Danish sekarang. Aku masih bisa bertahan.
“Jahatnya! Padahal Abang datang jauh-jauh ke sini karena tahu kamu melahirkan dan kamu bilang kalau kamu gak ingat punya Abang seperhatian dan setampan ini? Dasar Adik durhaka!” seru Danish seraya mencubit pipiku gemas.
Aku hanya bisa tertawa. Menjawabnya dengan jawaban yang berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan.
Dengan begini saja aku merasa cukup. Werrent juga tidak pernah melakukan hal aneh belakangan ini. Aku hanya berharap hidupku berjalan dengan baik seperti saat ini. Werrent dan anakku. Dua orang yang begitu berharga untukku.
“Sudah waktunya Doktor periksa kamu, La. Kita lanjut nanti lagi bincang-bincangnya. Ada yang harus Abang kerjakan. Tunggu di sini, Abang panggilkan suster.”
Danish pergi dan beberapa saat kemudian seorang perawat datang, memberikanku selimut dan mendorong kursi rodaku menuju ruanganku. Danish benar-benar tidak kembali. Mungkin untuk meluruskan masalahnya dengan wanita yang ia sebutkan semalam.
Aku kembali ke ruanganku. Doktor sudah memeriksa kondisi tubuhku dan mengatakan kalau kondisiku sudah sedikit membaik dan bisa pulang dalam kurun beberapa minggu. Aku senang sekali mendengar penuturan tersebut. Ingin segera menghubungi Werrent kalau aku bisa pulang cepat.
Namun, Werrent sama sekali tidak mengabari. Panggilanku juga tidak ia jawab. Rasa senangku seketika menghilang. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Entah itu Danish, Werrent atau Alice dan Alano tidak datang berkunjung. Aku kesepian. Dan rasa kesepian ini membuatku berpikir yang tidak-tidak.
Dan saat aku terlarut pada lamunanku, sebuah notifikasi panggilan terdengar. Aku segera memeriksa ponselku. Namun, tidak ada apapun.
Aku masih mendengar dengan jelas nada dering yang sama persis dengan ponselku.
“Apa ponselnya Bang Danish ketinggalan?” tanyaku pada diri sendiri.
Aku berusaha untuk berdiri dan mencari di mana suara tersebut berasal. Beberapa kali aku tersandung dan akhirnya jatuh. Lantai yang begitu dingin langsung menusuk kulitku. Kakiku terasa kebas sekali. Namun aku yakin melihat sebuah cahaya dari bawah lemari di mana Alice selalu menyimpan barang-barangku.
Aku menunduk dan mengulurkan tanganku ke dalam bawah lemari tersebut. Sesuatu persegi panjang yang dingin terasa di tanganku. Aku perlahan menariknya dan melihat apa benda tersebut.
“Ponselnya Mas Werrent? Kok bisa di sini?” tanyaku lagi.
Aku perlahan beranjak menuju ranjangku. Membaringkan badanku di tempat hangat dan sedikit mengintip pada ponsel Werrent.
Ada beberapa panggilan tak terjawab di sana. Dengan kontak nama ‘Love’. Aku tersenyum. Begitu ternyata Werrent menyimpan nama kontakku.
Rasa hangat menjalar memenuhi hatiku. Aku memeluk erat ponsel tersebut dan berusaha untuk tidur. Mungkin Werrent akan segera kembali karena ponselnya tertinggal. Dan aku harus menjaga tubuhku agar bisa cepat pulang ke rumah.
Namun, ponsel Werrent tiba-tiba berdering kembali. Kontak nama ‘Love’ terpampang jelas. Aku melihat ponselku, memastikan apa aku tidak sengaja menghubunginya. Dan ponselku benar-benar mati. Tidak mungkin bisa membuat panggilan.
Tanganku gemetar. Siapa yang tengah menghubungi Werrent di malam hari seperti ini. Dan siapa juga Love yang aku lihat ini.
Dengan penuh ragu aku mengangkat panggilan tersebut. Aku menelan salivaku dengan susah payah saat suara bising terdengar dari seberang panggilan.
“Babe! Where are you? Bukankan kamu punya janji denganku malam ini? Apa masih di kantor? Perlu aku datang ke sana? Atau sedang dengan istrimu itu?” tanya wanita di seberang sana.
Aku tersentak. Ponsel Werrent terjatuh di pangkuanku. Wanita itu terus memanggil kata-kata sayang pada Werrent dan terus menanyakan di mana keberadaanya. Aku bungkam tanpa suara. Perasaanku hancur seketika.
Janji apa yang Werrent berikan padanya sampai Istrinya sendiri ia tinggalkan. Apa wanita itu rekan kerjanya? Tidak mungkin. Kalau memang rekan kerja, kenapa pertanyannya seolah-olah menuntut Werrent untuk cepat datang? Seorang rekan kerja tidak mungkin sekasar itu.
Lenganku bergetar. Kembali mengambil ponsel milik Werrent. “Hallo,” ucapku sedikit takut.
“Oh! Mrs. Orlov. Maaf mengganggu malam-malam begini. Apa Werrent ada di sana? Kalau ada, katakan padanya kalau aku sudah menunggunya lebih dari tiga jam. Sampaikan juga kalau aku tidak bisa bersabar lagi,” ucapnya dengan santai.
Aku menarik napas dalam-dalam, “Siapa, ya?”
“Ah... Werrent belum bilang, ya? Aku kekasihnya. Dia bilang akan menemuiku hari ini. Tapi ini sudah jauh dari waktu janji yang ia katakan. Bisa sampaikan pada Werrent kalau aku menunggu? Atau berikan saja ponsel ini padanya. Seharusnya kamu tidak menjawab panggilan orang lain tanpa izin, Nyonya.”
Aku membeku di tempat. Kekasih? Menjawab panggilan orang lain tanpa izin? Werrent itu suamiku dan seharusnya dia yang tidak pantas berbicara begitu padaku.
“Mrs. Orlov? Kamu di sana? Bisa tolong berikan ponselnya pada suamimu? Aku ingin bicara langsung padanya.”
Aku mengepalkan tanganku. Langsung mematikan panggilan secara sepihak. Kemarahanku memuncak. Seharusnya aku tidak pernah melepaskan tangannya saat itu dan memaksanya untuk bekerja di sini. Di sisiku.
Hal apa lagi yang sedang terjadi padaku? Tuhan, aku lelah. Kenapa setiap kejutan yang datang kepadaku selalu berisi hal buruk?
A/N:
Ahahahaha. Sepertinya aku hutang banyak bab lagi sama kalian. Habis kemarin aku sakit sampe rawat inap di rs. But im okay, now.
Mungkin sebulan ini aku bakal update setiap hari. Kalian sehat2 lho.