WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Katakan pada dunia, Asqyla.



Katakan padaku, Asqyla. Katakan kebenaran yang terkubur begitu dalam di benakmu. Katakan semua pilu yang kamu rasakan, katakan segala sakit yang membelenggumu.


Katakanlah ....


Aku, aku adalah penyangga hidupmu yang kamu pilih. Aku adalah bentuk dari segala egomu. Dan aku pulalah yang selalu bersamamu di setiap embusan napas dan detakan jantungmu.


Maka dari itu tunjukan, tunjukan pada dunia bahwa kamu itu lelah, bahwa semesta salah menilaimu dan semesta salah pula menyentuh benang takdirmu.


Katakan pada dunia, Asqyla.


...***...


Semilir angin menciumi wajahku, begitu menggelitik dan terasa kaku. Dingin yang begitu beku, masuk ke dalam pori-pori wajahku. Menembus jauh hingga ke dalam paru-paduku.


Aku mengembuskan napasku, kepulan asap keluar dari mulutku. Udara hangat dan dingin yang saling berbentur menbentuk sebuah kabut. Kabut yang bisa saja menenggelamkanku pada indahnya dunia. Atau bahkan pada pilunya hidup.


Pijakan tempatku berdiri tidak begitu rata, masih terpenuhi salju. Sepatu boots yang aku pakai tak menghalangi gelitik-gelitik dingin dari es lembut yang aku pijak.


Rasanya tidak adil, aku berdiri di tempat ini sendiri tanpa ada siapapun. Ah, anakku. Sayang sekali kalian belum bisa melihat betapa indahnya danau beku yang sedang Ibumu pandang ini.


Tak bisa terdeskripsikan betapa putih dan dinginnya kolam besar itu. Tempat wisata yang biasanya selalu ramai dengan orang-orang kini sepi. Tak ada siapapun yang datang, bahkan seekor binatangpun tak memunculkan batang hidungnya.


Aku kembali mengembuskan napasku, kali ini pada kedua telapak tangan yang terbalut sarung tangan tebal.


Layaknya perasaanku padanya, rajutan setebal ini saja tak mampu menampung rasa dingin yang mendokbrak masuk.


"Asqyla! Jangan pergi jauh-jauh sendirian!" teriak Alice dari kejauhan.


Aku membalikkan badanku, memandangi sosok wanita cantik yang tengah berlari menuju padaku. Rambutnya yang tergerai indah, terbang terbawa angin. Badannya bergetar setelah angin menerpa wajahnya yang putih pucat.


Aku menyunggingkan senyumku padanya, berharap dia hanya datang untuk membawaku pergi dan tak menanyakan apapun lagi.


"Kita kaget tahu! Kamu tiba-tiba pergi sendiri, kalau jatuh terus jadi bola salju, gimana? Aku gak rela tahu!" teriaknya lagi.


Aku terkekeh geli, mataku pun ikut tersenyum karena candaannya. Setiap kata dan kalimat yang Alice ucapkan, tak pernah luput dari keseriusan dan kejahilannya.


"Kalau gitu, aku mati membeku dong, Alice. Mana bisa jadi lucu," balasku.


Dia memandang ke arah lain dan memajukan bibirnya kesal. Aku hanya bisa menutupulitku seraya terkekeh pelan.


"Bisa-bisanya kamu tahu apa yang aku maksud. Kalau gitu! Kamu harus jadi bola salju yang lucu! Ayo pergi sekarang, Alano sudah menunggu di mobil. Sini aku bantu, jalan perlahan dengan anggun. Jangan sampai salah injak, aku gak mau badanku penuh dengan salju gara-gara kamu!" serunya, kesal.


Aku tahu dia mengkhawatirkanku, hanya saja sulit bagin Alice untuk mengekspresikan rasa pedulinya.


"Terima kasih," ucapku.


Dia salah tingkah dan mengatakan hal acak yang tidak aku pahami. Namun aku cukup paham, dia terkejut karena aku tahu maksud dari perkataan dan sikapnya.


"Iya, iya. Aku hati-hati, kok," jawabku seraya berjalan perlahan dan memegang perutku lembut.


Perut yang biasanya rata kini membesar, sudah sekitar empat bulan berlalu sejak masuknya aku ke rumah sakit. Sejak nyarisnya aku kehilangan kedua anak-anakku. Kandunganku kini berusia tujuh bulan, hanya tinggal menghitung beberapa minggu lagi aku akan melahirkan.


Akhirnya aku sadar, sadar akan perjuangan setiap Ibu dari seluruh benua. Rasa sakit, lelah, senang, bahagia, semuanya menyatu dan melahirkan beberapa stress juga kebanggan. Kalau ditanya, apa aku lelah? Jelas, iya. Untuk tidur saja aku sulit mencari posisi di mana aku bisa tidur dengan nyaman. Untuk makanpun aku lebih pemilih, kadang tidak suka ini kadang suka yang itu, terkadang aku ingin sekali makan makanan rumah di Indonesia.


Tidak semua terkabul, namun aku bersyukur karena Alice dan Alano masih mau menemani dan mengabulkan permintaan-permintaan yang tidak bisa diukur nalar manusia.


Pernah ada saat di mana aku ingin sekali mengusap perut orang lain saat kami sedang berbelanja dan paling menyusahkan adalah keinginanku mengusap kepala perempuan yang gundul.


Permintaanku yang satu itu sempat membuat Alice mengambil keputusan untuk memangkas habis rambutnya, untung saja ada Alano yang mencegah itu semua terjadi.


Aku bersyukur karena mereka berdua menjagaku dengan baik, aku juga tidak enak karena mereka lebih memperhatikanku ketimbang suamiku sendiri. Sudah terhitung tiga bulan lebih kami tak berjumpa. Terakhir kali kami berbincang adalah saat aku terbaring di rumah sakit dengan perasaan kalut karena pertanyaan menyinggung dari Alano.


...***...


"Asqyla! Alano bilang kamu sakit lagi, makannya aku buru-buru ke sini. Untung di depan enggak ada penjaga, sudah pasti aku dipulangkan kalau mereka ada. Jadi, kamu sakit apa? Perlu aku panggilkan dokter?!" tanya Alice penasaran.


Aku menggelengkan kepalaku, tidak terasanya nyeri apapun diseluruh tubuhku. Hanya pikiranku yang masih tenggelam dengan ucapan Alano setengah jam yang lalu.


Kedatangan Alice membuatku kaget dan tak heran. Walau Alano terlihat marah, kesal dan kecewa. Ternyata dia masih peduli dengan kondisiku dan mendatangkan Alice untuk menemaniku. Jujur, mereka itu menggemaskan sekali.


"Ini tengah malam, Alice. Jangan teriak-teriak, yang ada nanti malah aku ikut kena usir gara-gara teriakan kamu," balasku jahil.


Dia mempoutkan bibirnya dan duduk di sampingku. Menggenggam tanganku, ini seperti kebiasaan Alice semenjak aku terbangun di ranjang ini. Tak pernah lepas dia menggenggam tanganku, kecuali saat aku makan dan minum tentunya.


"Mau aku panggilkan Suster, Asqyla?" tawar Alice.


Aku menggelengkan kepalaku, ini sudah tengah malam. Tidak enak mengganggu pekerja yang sedang berjaga malam. Mereka juga pasti lelah, jadi tidak perlu merepotkan orang hanya untukku seorang, lagipula aku tidak sakit.


"Enggak usah, Alice. Gapapa, kok. Kamu istirahat aja, aku juga mau tidur. Memangnya besok kamu enggak ada kegiatan apa?" tanyaku.


Dia mengangguk dan berdiri, menyelimutiku dengan benar lalu membaringkan tubuhnya di sofa. Aku mengucapkan selamat malam pada Alice dan Alice membalasnya. Aku tersenyum sebelum terlelap, ada-ada saja si kembar ini.


"Asqyla!" teriak seseorang di sampingku.


Aku terbangun dan sinar matahari begitu menusuk indra penglihatanku, anak kecil setinggi Louis sedang menatapku penuh penasaran dan Alano menatapku dari balik pintu.


Aku mengusap mataku perlahan, menyesuaikan penglihatanku. "Hey, hey, Asqyla! Kaget enggak aku bisa bahasa lain kayak kamu," teriak anak itu dengan antusias.


Aku meliriknya dan memandangi dia dengan lekat, seketika aku membulatkan mataku.


"Louis!"