WHEN CEO WANTS ME

WHEN CEO WANTS ME
Sosok hitam



Mataku sudah lelah, menangis membuatku mengantuk. Entah sudah berapa lama aku terduduk di sini, aku berharap ada seseorang yang menyapaku dan setidaknya menemaniku mencari jalan besar agar aku bisa pulang. Aku tidak berani melangkah dari tempat yang aku tempati, hanya lampu jalan di tempat ini yang menyala, sisanya mati. Aku saja tidak berani menatap lebih dari lima meter, karena memang sudah gelap.


Tidak terlalu gelap sebenarnya, hanya saja aku merasa ada yang memandangiku dari kegelapan, sudah aku bilang ada banyak bangunan yang tak terpakai, cat temboknya terkelupas karena tak ada yang merawatnya. Bahkan untuk merasakan kehidupan seseorang disini saja sangat sulit, kuedarkan pandanganku melihat sekeliling, bulan mulai tertutup awan dan penerangan di sini sudah membuat dadaku sesak.


Aku melirik kearah kiri perlahan, belum sepenuhnya aku menengok, aku melihat sesosok hitam berdiri di bawah lampu penerangan yang sudah jelas mati. Jantungku berdetak tidak karuan saat aku menyadari seharusnya aku sudah tidak bisa melihat apapun dari jarak sejauh itu, tidak ada penerangan sama sekali di sana. Sama sekali tidak ada. Hanya sosok dirinya yang bisa aku lihat serta tiang lampu jalan di sebelahnya, dirinya benar-benar bercahaya walau tidak terlalu terang, jaraknya mungkin lebih dari empat puluh meter, jika memang ada orang di jarak sejauh itu seharusnya selain dirinya dan tiang itu aku bisa melihat sekelilingnya bukan?


Aku mengusap mataku mencoba untuk lebih menajamkan pandangan, semoga saja dia memang manusia. Aku kembali melihat kearah tadi, hilang. Tidak ada siapa-siapa. Bahkan tiang lampu yang bisa aku lihat tadi sekarang sudah tak nampak lagi, hawa dingin mulai menyelimutiku. Aku melirik kearah kananku, jantungku berdetak seratus kali lebih cepat, paru-paruku memberitahuku bahwa oksigen yang aku hirup tidak bisa masuk sama sekali, dadaku sesak sekali, seluruh tubuhku merinding.


Sosok yang aku lihat tadi sudah ada di samping kananku, dalam jarang yang tidak terlalu jauh. Seluruh tubuhnya hitam, bahkan pakaian yang ia kenakan pun hitam. Seharusnya aku bisa melihat wajahnya dengan jarak sedekat ini, dan lagi aku tak perduli dari jarak manapun. Bagaimana bisa seseorang berpindah secara cepat dalam hitungan detik, itu tidak masuk akan sama sekali.


Aku memeluk lututku berusaha menenangkan jantungku yang membuat seluruh tubuhku gemetar, aku benar-benar menyesal tidak menjawab semua panggilan dari mereka. Tidak ada yang bisa aku mintai tolong, aku tidak berani membuka mataku, bagaimana jika aku membuka mataku dan sosok itu benar-benar ada di depan wajahku. Astaga membayangkannya saja sudah membuatku menangis, siapa saja tolong aku.


Udara dingin semakin menusuk kulitku, badanku sudah sangat pegal dengan duduk dalam posisi memeluk kedua kakiku, entah sudah berapa lama aku terdiam dengan posisi ini. Aku masih tidak berani melihat sekitar, aku masih bisa merasakan ada sesuatu yang mengawasiku dari arah kanan. Tuhan, bagaimana ini, aku ingin pulang. Aku mohon siapa saja tolong aku.


“Qyla....”


Aku mendengar sayup-sayup suara seseorang yang memanggil namaku, aku tahu betul siapa pemilik suara itu. Aku melirik kearah kiriku, tidak ada siapa-siapa. Aku memberanikan diri melirik kearah kanan, masih ada. Sosok itu masih ada, aku semakin memeluk erat kakiku dan menenggelamkan kembali badanku.


“Asqyla....”


Saking takutnya aku berhalusinasi ada seseorang yang memanggilku, tetapi dengan suara yang makin jelas. Aku tetap memeluk kakiku, badanku gemetar hebat saat ada sesuatu yang mendekatiku. Hawa dingin semakin menusuk kulitku, suara langkah kaki membuat diriku sulit bernapas. Dengan satu tarikan aku berdiri dan seseorang memelukku, aku masih menutup mataku. Badannya hangat membuat diriku nyaman, harum dari tubuhnya membuatku tenang. Aku tersenyum, semua kegelisahanku hilang seketika. Dia memang penyelamatku.


“Kamu ke mana aja, Qyla?! Kamu tahu? Mama sama Papa khawatir, ponsel kamu mana? Kenapa bisa mati? Untung aku sempet lewat ke rumah kamu, gimana kalau kamu diculik, Qyla?! Pesan aku kamu balas sedangkan pesan atau panggilan mereka kamu abaiin. Kamu kenapa? Sudah aku bilang kalau ada apa-apa itu larinya ke rumahku, bukan ketempat seperti ini. Syukur kamu nggak kenapa-kenapa, gimana kalau kamu bukan cuma sekedar diculik? Papa sama Mama udah cari kamu kemana-mana sampai telpon seluruh temen kamu. Kenapa nggak cari jalan besar, kamu bisa minta tolong sama orang lain kan, Qyla.”


Cuitan Radith masih berlanjut sambil mengecek seluruh badanku, kekhawatirannya sebelas dua belas dengan Papa. Sampai-sampai Mama sering meyakinkan Papa kalau aku tidak apa-apa. Dia melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikannya padaku, ceramahannya masih terus berlanjut. Aku tersenyum melihat wajah Radith yang sudah kusut, aku yakin dia sudah mencariku kemana-mana. Terlihat dari kerah dan punggung kausnya yang basah karena keringat.


Aku kembali memeluk Radith, dia terdiam dan mengelus punggungku lembut. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, aku semakin mengeratkan pelukanku.


“Maaf, Dit,” sesalku.


“Buat apa?”


“Pasti capek, ya, cari aku?”


“Kata siapa?”


“Kata aku.”


“Kenapa bisa gitu?” tanya Radith heran.


“Soalnya, Adit makin ganteng kalau kecapean.”


“Siapa yang capek? Emang udah ganteng dari lahir, Qyla.”


“Tuh, keringetan banyak.”


“Gerah.”


“Punggungnya juga basah.”


“Kan gerah.”


“Rambutnya juga basah.”


Aku diam. Ini semua salahku.


“Maaf.”


“Kenapa minta maaf lagi?”


“Udah buat Adit khawatir.”


“Kalau nggak mau buat aku khawatir, larinya kerumah aku. Jangan kesini, ketemu hantu mampus kamu.”


Merinding. Kenapa Radith mengingatkan aku akan kejadian tadi, sudah bersusah payah aku menguatkan diriku karena sosok yang sama sekali tidak ingin aku ingat. Aku terdiam sejenak, Radith tertawa lalu merangkulku. Aku mengedarkan pandanganku dan melihat sosok itu masih setia berdiri di tempatnya. Aku sedikit meliriknya saat jarak diantara kita semakin dekat, aku menghela nafas lega. Hanya kain hitam yang menyangkut ditiang lampu.


“Dit?”


“Hm,”


“Percaya nggak?”


“Percaya.”


“Belum cerita.”


“Cerita aja.”


“Tadi aku nangis lagi, aku kira aku lihat hantu. Badan aku sampai mati rasa gara-gara nggak gerak sama sekali, berjam-jam aku diem di sana. Parah dingin banget.”


“Berjam-jam?”


“Iya, dan ternyata yang aku lihat cuman kain hitam di belakang sana.”


Radith mengkerutkan keningnya heran, “Di mana?”


“Di tiang lampu tadi.”


“Ngaco kamu, nggak ada apa-apa.”


Aku melirik tiang tadi, aku pikir Radith sedang menjahiliku. Memang benar tidak ada apa-apa, lalu tadi apa?


Ah, mungkin karena sudah larut malam, mungkin imajinasiku saja.


“Haha, kayaknya aku halusinasi deh. Wajar udah mau pagi.”


“Pagi?”


“Iya kan? Aku diam disini lama lho, Dit.”


“Tapi hari ini aja belum berganti lho, La.”


Radith menunjukkan ponselnya padaku, terpampang jelas pukul 11:24 malam. Apa yang terjadi padaku? Apa aku bermimpi? Jelas-jelas aku terdiam disini berjam-jam, kenapa hanya dua puluh empat menit yang berlalu? Aku menatap Radith heran, seakan tahu apa yang ada di pikiranku, dia kembali merangkulku erat dan segera beranjak dari tempat itu.