
“Cepat kasih kita cucu ya, Qyla,” goda Mama dengan senyum lebarnya.
Aku menatap Mama kesal. Pernyataan yang memalukan seperti itu malah dia lontarkan dengan tidak tahu malunya. Bukannya aku tidak ingin mengiakan permintaan Mama. Namun, aku sendiri masih kecil. Belum cukup untuk bisa mengasuh seorang anak. Di tambah Werrent juga akan segera pergi ke negara lain.
Mungkin kalau aku sudah lulus sekolah dan sudah menyusul Werrent, mungkin saja aku sudah siap. Mungkun, mungkin saja. Aku sendiri masih belum yakin perihal anak.
“Apa sih, Ma? Qyla masih sekolah.”
Mama dan Bunda tertawa kecil mendengar tanggapanku, Papa dan Ayah pamit kepada Werrent juga meminta permintaan yang selalu orangtua pinta ketika anak perempuannya sudah menjadi istri seseorang. Aku hanya memperhatikan mereka juga sesekali tersenyum saat mereka melontarkan lelucon yang tidak masuk akal, kadang aku bersikap sinis saat mereka menceritakan kenakalanku juga hal-hal memalukan yang sama sekali tidak ingin aku beritahukan kepada siapapun.
Dan Radith tidak ikut bersama mereka, aku tersenyum kepada Werrent saat awal mereka datang tanpa membawa Radith, rasanya aku menang darinya.
Setelah cukup menjahiliku dengan cerita-cerita memalukanku, mereka benar-benar berpamitan kepada kami lalu pulang. Dan kini hanya tinggal aku dan Werrent, dia masuk kedalam rumah tanpa berbicara apapun padaku. Aku mengikutinya menuju ruang tengah lalu duduk di hadapannya, dia sama sekali mengabaikanku dan berfokus kepada ponselnya, aku sesekali bertanya apa yang sedang dia lakukan tapi jawabannya selalu sama.
“Bekerja.”
Karena merasa aku menganggunya, aku beranjak menuju kamar bersiap-siap untuk membersihkan rumah, tapi sebelum aku benar-benar meninggalkan ruang tengah, Werrent memanggilku. Aku kembali menghampirinya menunggu dia berbicara.
“Kemarilah.”
Dia menyuruhku untuk duduk di sampingnya, aku menurutinya tanpa kata. Dia terus menatapku tanpa berucap apapun, aku semakin bingung. Ingin bertanya tapi apa?
“Asqyla.”
Aku tersentak saat dia menjatuhkan badannya kepadaku, aku memeluknya saat dia memanggilku untuk kedua kalinya. Aku menanyakan kenapa saat suaranya semakin parau, dia hanya terus memanggil namaku. Aku mengelus kepalanya, tidak mengerti lagi harus berbuat apa, dia tidak mengatakan apapun selain memanggil namaku.
Tanganku terhenti saat dia menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal, aku mendorongnya agar dia bisa melihatku seraya memintanya untuk mengulang kembali pertanyaannya. Tapi, begitu pertanyaan yang kedua dia tanyakan, kerutan di dahiku makin mengkerut, aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksud.
“Qyla gak ngerti apa yang Kakak maksud.”
Werrent terdiam sejenak, helaan napasnya begitu tertekan. Sebenarnya apa maksud dari pertanyaan itu?
“Apa kamu sudah mencintaiku sekarang, Asqyla?”
Pertanyaan itu ia ajukan lagi, aku tetap menjawabnya tidak mengerti. Tapi seakan tidak puas dengan jawabanku dia terus menanyakan hal itu sampai ia menceritakan semuanya yang ada dibenaknya.
Aku bingung dengan rentetan pertanyaan yang dia berikan padaku, sudah jelas sekali dia mengatakan hal yang tidak aku ketahui karena memang pada awalnya aku baru sekali mengenal dia. pertemuan kita saat dia datang ke rumahku dengan mendadak dan mengajakku jalan-jalan melihat indahnya kota malam. Dan sekarang, apa yang sedang dia tanyakan kepadaku?
“Qyla tidak pernah ingat menjanjikan hal itu dan Qyla yakin dua hari sebelum pernikahan kita adalah hari di mana Qyla dan Kakak pertama kali bertemu. Mungkin orang yang Kakak maksud bukan Qyla.”
“Ha ha.”
Dia tertawa kaku tanpa menatapku, pandangannya terus tertuju pada pintu yang belum sepenuhnya tertutup. Werrent terdiam sangat lama hingga aku sendiri bingung harus bersikap seperti apa.
“Kak, Qyla—”
“Berdandan lah, kita akan pergi.”
Aku terdiam menatapnya bingung, lagi-lagi dia meninggalkanku tanpa sepatah kata apapun. Aku masih bisa melihat punggungnya dari balik celah pilar dapur, dia mengambil sesuatu di laci dekat lemari es dan meminumnya. Seperti pil obat, aku beranjak dan menghampirinya, khawatir karena sikapnya tadi yang aneh.
Langkahku sudah sangat dekat dengan Werrent, tapi dia masih saja berdiri di tempat yang sama tanpa menatapku sedikitpun, bahkan dia memejamkan matanya dan memijat pangkal hidungnya. Kakiku terus melangkah mendekatinya hingga tanganku terulur untuk mengecek suhu tubuhnya.
Dan pandangan kami bertemu, Werrent menahan pergelangan tanganku seraya menatapku dengan kebenciannya. Aku terdiam tidak ingin bergerak apalagi mengucapkan beberapa kata walau pergelangan tanganku sangat nyeri.
Terlihat dari pandanganku keringatnya yang mengalir dari pelipis menuju pipinya, kening dan lehernya yang sudah di banjiri keringat dan tarikan napasnya yang terdengar berat. Mata itu masih menatapku tajam, dengan perlahan aku mundur beberapa langkah karena situasi canggung seperti ini. Tetapi, Werrent tidak membiarkanku pergi begitu saja, dia menarik pergelangan tanganku yang mulai mati rasa dan merangkul pinggangku erat.
Tangan yang tadi ia gunakan untuk mencengkram pergelanganku kini sudah berpindah tepat di samping wajahku, jari-jarinya dengan lembut menyampirkan anak rambut kebelakang telingaku. Jantungku berpacu dengan kencang, wajahnya sudah sangat dekat. Hidungnya yang mancung sudah mengenai pipiku dan bibirnya yang berwarna pink sudah ******* habis bibirku.
Tubuhku kaku, tidak bisa bereaksi apapun. Manik matanya yang berwarna abu gelap membuatku terkesima, walau dirinya masih menatapku tajam. Perlahan dia memejamkan matanya menikmati ciumannya, aku masih terpaku tak bisa bereaksi seperti apapun. Perlahan lumatannya mulai melemah dan dirinya ambruk kepadaku, dengan kaget aku menahannya seraya menyahutinya agar dia tetap tersadar. Merasa risih dengan sesuatu di belakang badanku, aku melirik arah ruang tengah dan menemukan seseorang sedang berdiri dengan diam.
Aku memicingkan mataku, menatap seseorang yang sedang berdiri di ruang tengah. Mataku terbelalak saat melihat Radith sedang menatapku yang sedang memangku Werrent. Apa yang sedang Radith lakukan di sini tanpa berkabar terlebih dahulu? Kalau Werrent tahu, dia mungkin akan marah dan berkelahi.
Namun, saat aku melirik Werrent, pria itu benar-benar tidak sadarkan diri. Apa selama ini Werrent sakit dan memaksakan dirinya untuk tampil baik-baik saja di hadapanku serta keluarga-keluargaku tadi?
“Ah, aku nggak maksud ganggu acara kamu, Qyla. Bunda ninggalin ini di sini.”
Radith menunjukkan ponsel berwarna blueblack milik Bunda, perlahan Radith berjalan mendekatiku dengan penasaran. Badanku tidak kuat lagi menahan tubuh Werrent hingga aku dan dia terjatuh dilantai, Radith tersentak dan berlari menghampiriku dengan khawatir.
“Kamu enggak apa-apa ‘kan, Qyla? Dia kenapa?” tanya Radith kaget.