
Sebuah belati tak kasat mata terus tenggelam kian dalam. Ujung mata belati sudah mengoyak hatiku bahkan menembus tulang-tulang rusukku. Namun mengapa? Mengapa aku merasa nyaman dengan darah yang terus mengalir dari mulutku?
Seakan ini adalah hal lumrah yang terjadi pada setiap makhluk hidup. Kini aku mulai bertanya, cinta itu apa? Cinta itu seperti apa? Apa yang kita dapatkan dari satu kata itu?
Perasaan? Haha! Memuakkan.
Siapapun bisa mengucapkan cinta pada siapapun, di manapun, dan kapanpun. Entah memiliki maksud terselubung atau murni ketulusan. Yang paling menjijikan adalah kata benci yang dijadikan alasan untuk mengekang. Kenapa harus seperti itu? Beralasan? Agar semuanya berjalan lebih lancar? Karena lebih mudah membenci orang yang di benci?
Semuanya me.mu.ak.kan.
...***...
“Kenapa kamu gak bilang apa-apa selama ini? Tiga bulan, Sayang. Tiga bulan! Selama itu apa yang kamu lakuin sampai gak kasih aku kabar gembira begini?” tanya Werrent.
Namun aku sama sekali tak ingin menjawab pertanyaannya. Ciumannya memang memabukkanku. Tapi, gembira? Kabar baik? Apa memang ini yang dia inginkan? Atau hanya sebuah kepalsuan yang sengaja dia tunjukkan agar aku tidak pergi? Padahal dia yang paling tahu kalau aku tidak akan menjauh darinya selangkahpun.
“Gembira?! Omong kosong! Apa yang Asqyla lakukan selama tiga bulan? Ha! Tanyakan hal itu pada dirimu sendiri! Bermain dengan jalang-jalangmu itu? Wah! Aku terkesima, Kak,” ucap Alice dengan penekanan katanya.
Alano menghampiri Werrent dan memegang pundak pria itu dengan cukup kuat. “Berhenti bertindak seakan kamu peduli, Werrent. Ada atau tidaknya kamu, tidak akan mengubah apapun. Sayang sekali semua yang kamu miliki selama ini tak pernah bisa aku raih. Tapi itu dulu. Sekarang? Kita lihat, apa bisa kamu mengambil kembali sesuatu yang sudah kamu buang?” tanya Alano dengan percaya dirinya.
Werrent mengepal tangannya dan menepis lengan Alano. Dia mengambil kerah baju Alano hingga lelaki itu sedikit berjinjit. “Yang berniat untuk membuangnya adalah kamu sendiri. Aku tidak pernah sedikitpun merasa memiliki apapun. Semuanya bisa aku berikan dengan cuma-cuma jika kamu meminta, Alan. Semuanya akan aku berikan. Jangan beranggapan kalau aku mengabaikan kalian. Menggelikan.”
Alano menyeringai, “Tidak pernah memiliki apapun? Apa itu sebuah tanda kalau aku boleh mengambil apapun yang ada di sisimu? Apapun itu?”
“Iya. Apapun itu. memangnya aku punya kesempatan untuk memilih dan memiliki?” tanya Werrent.
Seringaian Alano semakin melebar, “Ho ... begitu? Kalau begitu, kita lihat nanti. Apa kamu masih bisa bicara seperti itu?”
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun yang jelas, amarah Werrent sudah memuncak. Perkataan Alano memicu kemarahan Werrent dan hasilnya sudah jelas.
“Uhuk! Kau gila, Werrent? Mencekik leher adikmu sendiri? Wah, kau memang sudah gila,” ucap Alano di tengah-tengah napasnya yang mulai sesak.
“Mas!” teriakku. Alice langsung menghampiri Werrent dan melerai keduanya. Karena panggilan dariku, Werrent melepaskan cekikannya dan menghampiriku. Bukan dengan tatapan khawatir, tapi tatapan menakutkan yang tajam dan mengintimidasi.
Dia memojokkanku hingga aku kembali terbaring. Pantulan wajahku di bola matanya terlihat jelas. Aku memalingkan wajahku namun tanpa ampun Werrent mencengkram rahangku agar aku hanya menatap padanya.
“Jangan bermain-main di belakangku, Asqyla. Ini peringatan untukmu.”
“Tapi, Qyla—”
Setelah itu Werrent melepas cengkraman tangannya dan berjalan keluar dari ruangan. Aku mengambil napas terburu-buru hingga tersedak. Tatapan dingin itu, tatapan yang menusuk hingga tulang kini muncul kembali. Perasaan ragu kembali datang. Perlakuan Werrent selalu berubah-ubah, tak pernah kupahami apa yang sedang ia pikirkan. Maksudnya apa? Peringatan?
“Asqyla! kamu gak apa-apa, kan? Ada yang sakit? Jangan pedulikan dia, kesehatan dan anakmu itu lebih penting dari apapun untuk sekarang. Jangan pikirkan yang lain, aku akan panggilkan dokter,” ujar Alice.
Alano menghampiriku dengan merapikan kerah bajunya dan memegang pelan lehernya. “Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanyaku. Dia hanya tersenyum, “Bahkan penjelasan tadi, tidak kamu pahami sama sekali? Betapa bodohnya kamu, Asqyla.”
Aku sedikit meringis, ucapan tajam Alano tidak mengenal situasi dan kondisi ternyata. Haduh. Aku menghela napasku dalam, yang satu terlalu perhatian sampai sering sekali memarahiku karena aku salah. Dan yang satu malah memperdalam masalah sampai aku paham kalau akar permasalahannya memang dari dalam diriku. Anak kembar beda rasa, ya?
“Selain hampir keguguran, sekarang kamu gila juga, ya?” tanya Alano. Sekarang dia duduk di sampingku lalu memberiku segelas air.
Aku masih terkekeh lalu menerima gelas berisi air mineral. “Yah, bisa di bilang seperti itu. Mungkin kepalaku terbentur saat jatuh kemarin,” candaku.
Tapi Alano tiba-tiba terdiam, air mukanya berubah. Dia marah, aku menyimpan gelas dan meraba tangannya yang tersimpan di samping badanku namun Alano menariknya begitu saja. Seakan tidak ingin aku sentuh.
“Seminggu Asqyla. Kamu tidak sadarkan diri selama seminggu. Kemarin apanya? Memangnya Alice bakal sekhawatir itu kalau kamu pingsan seharian? Atau Werrent yang tidak peduli akan keberadaan kamu tiba-tiba datang dengan wajah kusamnya?”
Aku diam membeku, setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Alano langsung pergi dari hadapanku. Seketika keheningan mengikatku, pikiranku langsung tertuju pada kata Werrent yang tak peduli akan keberadaanku. Memangnya seperti itu, ya?
Jadi selama ini hanya aku yang berharap kalau suamiku itu menyimpan sedikit saja perhatian padaku? Aku termenung begitu lama, rasanya tidak nyata sekali. Aku menukar hidup biasaku demi ini semua? Demi situasi yang tidak aku pahami begini? Aku memejamkan mataku perlahan, mengusap perutku yang tidak datar lagi. kalau demi mereka, aku rela menukar apapun, walau Werrent tidak menerima kehadiran merekapun tidak apa-apa. Aku akan mengorbankan segalanya demi kedua anakku.
“Asqyla!” seru Alice. Di belakangnya muncul Dokter dan suster, mereka memeriksa kondisiku dengan teliti lalu berpesan pada Alice dan keluar dari ruangan. “Kalau begitu kami permisi, Nyonya. Istirahat dengan nyaman demi kelansungan hidup Nyonya dan kandungan Nyonya,” ucap Dokter tersebut lalu pergi.
Aku mendudukkan badanku dibantu Alice, dia langsung memberikanku gelas air yang tadi sempat aku pegang. Kali ini aku meminumnya, sampai habis. Alice menyimpan gelas dan memegangi tanganku dengan gemetar.
“Aku kira kamu tidak akan bangun lagi, Asqyla. Aku terkejut ketika Kakak menghubungiku dan mengatakan kamu sedang di rumah sakit. Dan Alano langsung berangkat tanpa mengajakku. Aku benar-benar ketakutan hingga akhirnya aku datang keesokan harinya, tapi kamu masih terbaring. Aku takut Asqyla ... aku takut kehilangan seseorang lagi,” rengek Alice.
Aku memeluknya dengan erat, Alice yang begitu tegar sekarang rapuh sekali. Padahal aku saja tidak terlalu dianggap oleh Werrent, kenapa mereka menerimaku dengan begitu lapang? Seakan mereka sudah mengenaliku jauh sebelum aku datang kemari dengan Werrent sebagai pasanganku.
Apa jangan-jangan orang yang Alice maksud adalah wanita yang ada di mimpiku waktu itu?
A/N:
Maafkan, aku telat update~~
Silahkan baca, jangan lupa like, comment dan beru dukungan, ya ^^