Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Last Extra Chapter



...Sorry ya lama update, karena ini part terbanyak yang pernah aku buat😭...


...Bacanya dihayati ya....


...SIAP?...


...OKAY...


...LANJUTTT...


***


Crystal menatap lembut pada Kenzo yang tengah menatap Kenneth yang tertidur pulas sambil mengepal tangan kecilnya di depan dada.


Kenneth berbaring di atas ranjang miliknya yang besar, karena tempat tidur bayi milik Kenneth tidak ia bawa ke kota. Kenzo terlihat mendekat dengan tatapan berbinar takjub ketika melihat putra kecilnya. 


"Dia mirip sekali denganmu." Desis Crys pelan agar tidak menganggu tidur Kenneth.


Kenzo terpaku ditempat dengan manik matanya yang terkunci pada sosok bayi kecil di atas ranjang tersebut.


Crystal terkekeh kecil melihat Kenzo yang mematung sempurna.


"Kau terlihat sangat mengagumi putramu tuan Kenzo." Ujar Crys lagi dengan nada meledek.


Kenzo menoleh ke arah Crystal, lalu segera memeluk wanita itu erat. Crystal lagi-lagi tertawa dengan sikap Kenzo yang begitu aneh.


"Kita tunggu sampai dia bangun ya." Kata Crystal sambil mengusap punggung Kenzo.


Kenzo melepas pelukannya, lalu menatap Crystal dalam.


"Dimana mereka?" Tanya pria itu.


"Mereka siapa? Ahh, Damian dan Crystal?" Tanya Crys yang langsung dibalas anggukan singkat oleh Kenzo.


"Sebenarnya aku ingin membawa mereka ke sini, tapi mereka memilih untuk menginap di hotel karena tidak enak denganmu." Jawab Crystal sambil menarik tangan Kenzo untuk keluar dari kamarnya agar bisa berbicara lebih leluasa.


"Hotel apa? Aku akan menyuruh orang untuk menjemput mereka ke sini." Ujar Kenzo.


"Benarkah? Kau tidak masalah?" Tanya Crystal dengan mata berbinar.


"Iya, aku ingin berterimakasih dan aku tidak ingin berutang budi." Ujar Kenzo dengan wajah datarnya.


"Baiklah, aku akan mengabari mereka sekarang." Ujar Crys segera pergi dengan terburu-buru untuk mengambil ponselnya, namun Kenzo lagi-lagi menarik tangan wanita itu dan membuatnya menghentikan langkahnya.


Crys menoleh dengan kening berkerut. "Ada apa?" Tanyanya.


"Kau akan meninggalkanku?" Tanya Kenzo.


"Hah? Tentu saja tidak." Jawab Crystal dengan raut heran.


"Kau pergi tanpa persetujuanku." Ujar Kenzo yang berhasil membuat Crystal mendengus.


Crystal beralih menggenggam tangan Kenzo erat dan berniat untuk membawa pria itu sekaligus.


"Puas?" Tanya Crystal sambil memutar matanya.


Kenzo tak menjawab, namun bibirnya terlihat melengkung ke atas ketika Crystal menariknya pergi.


***


Crystal kini tengah menyuapi Kenneth makanan MPASInya, sedangkan Kenzo menatap lekat ibu dan anak tersebut.


"Aamm, pintarnya anak Mommy." Crystal terlihat tersenyum begitu manis sambil memuji Kenneth yang terlihat bersemangat.


"Aaa lagi!" Ujar Crystal sambil membuka mulutnya di depan Kenneth.


Kenneth terlihat membuka mulut dan Crystal langsung memasukkan sendok kecil itu ke dalam mulut putranya.


"Bentar lagi Kenneth belajar makan sendiri ya." Ujar Crys entah bisa dimengerti oleh Kenneth atau tidak.


Senyum Kenzo sejak tadi terpatri di bibirnya ketika melihat interaksi manis di depannya tersebut.


"Mamm." Kenneth terlihat menggumam tidak jelas sambil mengulurkan tangannya, seakan memberi isyarat pada Crystal untuk kembali memberinya makan.


Crystalpun segera menyuapinya lagi. Seorang pengawal tiba-tiba datang menghampiri mereka yang berada di meja makan dengan kepala menunduk.


"Tuan, mereka sudah sampai." Ujar pengawal tersebut.


Kenzo menoleh. "Bawa mereka ke ruang tamu, kami akan segera datang ke sana!" Ujar Kenzo yang dibalas anggukan paham oleh bawahannya tersebut.


"Baik Tuan, saya permisi."


"Wahh, uncle Damian dan bibi Nath sudah datang." Ujar Crys tersenyum lebar pada Kenneth dan anak laki-laki itu hanya tersenyum lebar melihat ibunya tersenyum.


Kenzo meraih tissue di atas meja untuk melap tangan Kenneth yang kotor karena tumpahan makanannya.


Kenneth melihat Kenzo dengan pandangan tak terbaca. Mata bulat dan besar anak laki-laki itu terlihat terkunci sesaat pada sosok Kenzo yang meraih tangannya.


Crystal tertawa melihat wajah polos Kenneth. "Kenneth bingung ya? Itu Daddy sayang." Ujar Crystal sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap sudut bibir Kenneth, yang berhasil membuyarkan lamunan bayi laki-laki itu.


"Aaa lagi ya, ini yang terakhir." Ujar Crys menyodorkan sendoknya dan Kenneth terlihat membuka mulutnya dengan otomatis.


Kenzo tersenyum melihat tingkah Kenneth. Setelah selesai makan, Crystal memberikan bayinya minum, lalu membereskan peralatan makannya.


Kenneth terlihat menatap pergerakan Crystal lekat, seakan tidak ingin ibunya itu jauh darinya.


Crystal menggendong Kenneth, lalu menatap Kenzo yang berdiri dari tempat duduknya.


"Kau mau coba menggendongnya?" Tanya Crys pada Kenzo.


Kenzo terlihat diam dan menimbang, sedangkan Kenneth yang berada digendongan Crys terlihat ikut menatap Kenzo dengan mata berbinarnya.


"Boleh?" Tanya Kenzo balik.


"Tentu saja." Jawab Crys cepat.


Crystal pun menyerahkan Kenneth ke dalam dekapan Kenzo yang terlihat kikuk, padahal sejak dulu ia sudah sering menggendong si kembar Raveno.


"Kenneth digendong Daddy dulu ya." Ujar Crys ketika memberikan Kenneth pada Kenzo.


Kenneth terlihat tidak rewel sama sekali dan menerima tangan Kenzo yang menggendongnya.


Kenzo takjub dengan begitu ringannya tubuh Kenneth yang berada didekapannya, seakan sewaktu-waktu bisa remuk jika ia memeluknya sedikit lebih erat.


Crystal tersenyum hangat, lalu melangkah beriringan dengan Kenzo menuju ruang tamu, dimana Nathalie dan Damian berada. 


Ketika sampai disana, Kenneth terlihat begitu senang, diiringi dengan kikikan lucunya ketika menatap ke arah Damian dan Nathalie. 


Nath dan Damian terlihat tersenyum melihat kekehan lucu dan menggemaskan Kenneth. 


Kenzo duduk di sofa bersama dengan Crystal, sedangkan Kenneth terlihat menggeliat ingin menghampiri Nathalie dan Damian.


"Ken mau sama bibi dan uncle ya?" Tanya Crystal melihat anak laki-lakinya yang terlihat mengulurkan tangan dengan semangat ke arah dua tamu mereka.


Crystal mengambil Kenneth dari gendongan Kenzo, lalu berjalan dan menyerahkan putranya pada Nathalie yang dengan sigap mengulurkan tangannya untuk menerima Kenneth.


Kenneth terlihat tersenyum bagian, begitu juga dengan Nath yang ikut tersenyum lucu karena tingkah Kenneth. Crystal kembali duduk disamping Kenzo.


"Maaf ya tiba-tiba langsung memanggil kalian kesini karena Kenzo ingin mengatakan sesuatu." Ujar Crys.


"Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa Crystal saat kecelakaan itu." Ujar Kenzo pada Damian yang terlihat menatap pria itu lekat.


"Dan hilangkan perasaanmu pada wanitaku karena dia adalah milikku." Tambah Kenzo lagi dengan nada dingin yang berhasil membuat kening Crys berkerut.


Damian tersenyum miring. "Aku tidak akan melewati batas. Crystal sudah seperti adikku." Ujar Damian.


"Kenzo." Panggil Crys menatap pria itu tajam.


Kenzo menatap Crystal sebentar, lalu kembali menatap dua orang di depannya beserta dengan bayi kecilnya.


"Terimakasih sudah membantu Crystal saat dia hamil dan melahirkan." Ujar Kenzo lagi.


"Terimakasih saja tidak cukup bukan?" Tanya Nath dengan senyuman miring.


"Aku juga tidak ingin berutang budi." Tambah Kenzo.


Crystal menggeleng heran dengan sikap orang-orang di depannya itu.


"Kalian bisa bekerja di bawah perusahaanku yang diwariskan oleh Sergio. Ambil posisi tertinggi yang kalian mau, karena aku tidak suka mengurus perusahaan itu." Ujar Kenzo dingin.


"Deal." Jawab Nath cepat.


"Ahh, berikan kami tempat tinggal juga." Tambah Nath lagi.


"Asistenku akan mengurusnya hari ini." Kata Kenzo santai.


"Permisi Tuan Duanovic, Tuan Alterio sudah sampai." Crystal yang mendengar ucapan seorang pengawal yang menghampiri mereka ditengah percakapan tersebut, dengan cepat langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati kakaknya berdiri dengan raut sedih.


"Kakak." Crystal langsung bangkit berdiri dan berlari ke arah Allaric untuk memeluknya erat.


Allaric segera memeluk tubuh adik perempuannya itu dengan penuh kerinduan. Selama ini ia berpikir bahwa adiknya sudah meninggal, sesuai dengan cerita yang dipaparkan Kenzo padanya.


Allaric saat itu marah besar kepada Kenzo, hingga kepalan tangan pria itu melayang di wajah Kenzo dan Kenzo hanya diam menerima semua pukulan tersebut. Sampai akhirnya, iapun meninggalkan Mansion Kenzo dengan membawa seluruh kebenciannya kepada pria itu, karena Kenzo akhirnya merebut seluruh keluarga yang ia punya.


Kedua kakak beradik tersebut terlihat berpelukan erat dengan tangisan kecil yang membuncah di hati mereka.


Allaric melepas pelukannya dan menatap Crystal yang terlihat lebih dewasa dari terakhir kali ia lihat.


"Kau baik-baik saja selama ini?" Tanya Allaric yang dibalas anggukan oleh Crystal.


"Maaf Crystal tidak menghubungi kakak." Ujar Crystal. Allaric mengangguk pelan dengan senyuman hangat.


"Kak, Crystal ingin memberitahu sesuatu." Tambah Crystal dengan raut gugup.


"Ada apa?" Tanya Allaric khawatir melihat wajah Crystal yang terlihat gugup.


Crystal membalikkan tubuhnya, lalu melangkah ke arah Nath untuk meraih Kenneth ke dalam gendongannya.


Crystal berjalan kembali ke arah Allaric sambil menggendong anak laki-lakinya.


"Ini anak Crystal, namanya Kenneth." Ujar Crystal menatap Allaric lekat.


Allaric terkejut, matanya menatap Kenneth yang terlihat tidak asing. "Siapa ayahnya?" Tanya Allaric dengan segala pikiran buruknya yang sudah hinggap di kepalanya.


"Kenzo." Jawab Crys yang membuat rahang Allaric mengeras. Apa yang sudah ia pikirkan ternyata benar.


Allaric segera menatap Kenzo dengan tatapan tajam. "Kak, tolong jangan membenci Kenzo lagi, dia adalah ayah dari anakku. Kenzo bukan pembunuh orang tua kita, dia sudah melakukan apapun untuk kebahagiaanku dan membalas dendamku untuk membunuh pembunuh orang tua kita yang sebenarnya." Ujar Crys panjang lebar.


Allaric menatap Crys lekat, lalu raut wajahnya yang mengeras mulai melembut dengan hembusan nafasnya yang terdengar keras.


"Maa." Gumaman Kenneth terdengar lirih sambil menatap Crys dan menyentuh pipi Crys dengan tangan kecilnya.


Wajah bayi laki-laki 8 bulan tersebut terlihat ikut sedih melihat raut dan suasana hati Crystal yang sedang tidak baik.


Crystal menatap Kenneth sambil tersenyum tipis. "Mommy tidak apa-apa sayang." Ujar Crys pada Kenneth sambil mengecup pipi putranya dengan lembut.


Kenzo seketika ikut bangkit berdiri, lalu merangkul pinggang Crystal sambil berdiri di samping wanita itu. Allaric menatap Kenzo yang berdiri di samping adiknya dengan tatapan tajam.


"Kalau kau hanya bermain-main dengan adikku, sebaiknya katakan sekarang juga, karena aku tidak ingin menyerahkannya kepada pria yang tidak bisa membuatnya bahagia dan menjaganya sampai seumur hidupnya." Ujar Allaric.


"Aku serius. Aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri dan akan membuatnya bahagia." Kata Kenzo cepat tanpa berpikir panjang.


Allaric menatap Crystal yang melirik ke arah Kenzo dengan mata berbinar, membuat Allaric menghembuskan nafasnya pelan.


"Crystal, kau harus hidup bahagia, karena itulah yang kakak perjuangkan selama ini setelah orang tua kita meninggal." Crystal menoleh dan menatap kakaknya dengan pandangan dalam.


"Kakak menyetujui hubungan kalian." Mata Crystal seketika berbinar lebar dan berkaca-kaca.


"Terimakasih kak." Ujar Crys, lalu memeluk Allaric dengan Kenneth yang masih berada digendongannya.


Wajah Kenneth tiba-tiba terlihat mengerut dengan bibirnya yang melengkung turun, hingga akhirnya anak laki-laki itu ikut menangis karena mendengar dan melihat ibunya menangis.


Crys dengan cepat menatap Kenneth sambil menghapus air matanya.


"Sayang, Mommy menangis bukan karena sedih, tapi karena senang." Ujar Crys memeluk Kenneth yang menenggelamkan wajahnya dipundak Crys.


Crystal mengusap punggung Kenneth, sedangkan Allaric tertawa kecil melihat keponakan imutnya tersebut.


"Sttthhh, Kenneth." Desis Crys sambil sedikit menimang tubuh Kenneth naik turun.


Crystal menyerahkan Kenneth ke dalam lingkaran tangan Kenzo agar ia bisa melihat wajah putranya tersebut yang memerah.


"Lihat, Mommy tidak menangis lagi kan?" Kata Crys mengusap air mata bayinya lembut.


Mata jernih Kenneth terlihat menatap wajah Ibunya lekat, lalu tangisnya mulai mereda.


"Good boy." Ujar Crys meraih kedua tangan kecil Kenneth dan menciumnya gemas.


Senyuman Kenneth mulai kembali terbit ketika Crys berusaha untuk membuat bayinya itu kembali tertawa, sedangkan orang-orang disana hanya menonton interaksi keluarga kecil tersebut dengan pandangan hangat.


***


Crystal berbaring di atas lengan Kenzo yang menghadap ke arahnya sambil memeluk pinggangnya dan ia meletakkan tangannya di dada bidang pria itu.


"Bagaimana dengan Levin?" Tanya Crys tiba-tiba membahas topik tersebut.


Kenzo terdiam beberapa saat, hingga akhirnya ia membuka mulut. "Di hari kecelakaanmu, dia beralih tubuh denganku, namun semenjak itu dia tidak pernah lagi muncul." Ujar Kenzo.


Wajah Crystal berubah sedih. "Apa tidak ada cara untuk berkomunikasi dengannya?" Tanya wanita itu lagi.


"Ada, aku sudah mencobanya, namun dia tidak pernah merespon panggilanku." Jawab Kenzo.


"Dia selalu sadar bukan, walaupun kau mengambil alih tubuhmu?" Tanya Crys yang dibalas anggukan oleh Kenzo.


"Levin, kau mendengarku bukan? Kembalilah, aku merindukanmu juga." Entah mengapa Crystal malah menatap dada Kenzo, seakan pria itu berada di dalam sana.


Kenzo meraih Crystal ke dalam dekapannya yang lebih erat. "Dia pasti akan segera kembali." Kata Kenzo menenangkan Crystal sambil mendekatkan wajahnya.


"Aku merindukanmu." Desis Kenzo di depan bibir Crystal sambil menatap pupil wanita itu dalam.


Pipi Crys merona merah, seakan mengerti dengan maksud perkataan Kenzo, ditambah ketika sebelah tangan Kenzo turun ke paha polosnya.


"Aku juga." Balas Crys yang berhasil membuat senyum Kenzo terbit.


Pria itu segera menarik pipi Crystal, menyatukan kedua bibir mereka, menaut dan saling mengait dengan mata terpejam menikmati.



(Ilustrasi. sumber : Pinter*st)


Malam itu, dengan cahaya lampu kamar yang minim, hanya terdengar suara melenguh dan desah*n dari kedua anak manusia yang sedang memadu kasih setelah sekian lama berpisah.


***


1 bulan kemudian


Crystal berjalan ke arah ruangan kantor Kenzo sambil menggendong Kenneth yang terlihat rapi dan tampan. Hari ini adalah hari pertama Kenzo kembali bekerja setelah meliburkan diri selama satu bulan.


Setelah kehadiran Kenneth, Kenzo melengkapi seluruh kebutuhan Kenneth dengan berlebihan. Seluruh barang yang Kenzo siapkan adalah barang-barang ternama dan branded, bahkan Crystal tidak diijinkan untuk ikut campur sama sekali dengan kegilaan pria itu.


Crystal mengetuk pintu besar di depannya sebentar, lalu membukanya dan masuk ke dalam dengan senyuman lebar.


"Selamat siang Daddy." Ujar Crys menirukan suara anak kecil sambil mengangkat tangan kanan Kenneth, seakan putranya itulah yang menyapa Kenzo.


Kenzo mengangkat kepalanya dan seketika senyum manis dan lebarnya terbit melihat kedatangan dua orang yang sangat ia cintai.


Kenneth terlihat bersorak ria, lalu mengulurkan tangannya pada Kenzo. Kenneth dan Kenzo sudah sangat dekat dalam waktu sebulan, dikarenakan pria itu selalu siap disisi Kenneth, baik ketika menidurkannya maupun bermain dengannya.


Kenzo meraih Kenneth dari gendongan Crystal, lalu mencium pipi putranya dengan gemas.


"Sedang istirahat makan siang kan?" Tanya Crys menatap Kenzo yang mengangguk membalas ucapannya.


"Aku titip Kenneth sebentar ya, aku ingin bertemu dengan Karina, sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Ujar wanita itu lagi.


"Okay." Jawab Kenzo.


"Mommy pergi sebentar ya, Kenneth main sama Daddy okay?" Tanya Crys yang sekarang berkomunikasi dengan anaknya yang mau beranjak 9 bulan.


Kenneth hanya terlihat terkikik lucu, lalu akhirnya Crystal beranjak pergi dari sana.


"Jangan lupa makan siang ya, bye." Kata Crys sebelum akhirnya ia menutup pintu dan tubuhnya tertelan oleh pintu tersebut.


Crystal berjalan ke arah ruangan Karina dengan penuh semangat. Sesampainya di sana, Crystal malah tidak mendapati sang pemilik ruangan dan kubikel karyawan lainnya juga terlihat kosong.


Crys menyadari bahwa Karina mungkin saja sedang makan siang di kantin. Crystal segera menutup kembali pintu ruangan Karina.


"Letta?"


Crys menoleh cepat dan mendapati sosok Karina yang berdiri menjulang sambil menatapnya dengan mata membulat.


"Ternyata benar, kau kemana saja?" Tanya Karina segera memeluk Crys erat


Crystal membalas pelukan Karina. "Maaf baru mendatangimu sekarang, karena selama ini aku sedang sibuk." Ujar Crys berbohong.


"Pasti karena pria itu menikah dengan wanita lain bukan?" Tanya Karina merujuk pada Kenzo.


Crys tertawa sumbang dengan wajah canggung. "Haha, sedikit benar." Ujar Crys.


"Pria itu ternyata tidak berubah walaupun sudah mendapatkanmu." Ujar Karina mencibir kesal, lalu menarik lengan Crys agar mereka berbincang di dalam ruangannya.


Crystal dan Karina duduk di sofa kecil yang berada di ruangannya.


"Sebenarnya aku datang menemuimu karena ingin memberikan undangan pernikahanku." Ujar Crys yang berhasil membuat Karina lagi-lagi shock.


"Benarkah? Siapa pria beruntung itu?" Tanya Karina semangat.


Crys mengulurkan sebuah undangan ke atas meja.


"Dengan Kenzo." Karina terdiam dengan mata membulat dan mulutnya yang sedikit terbuka kaget.


Mata Karina menangkap tulisan di atas undangan yang memang benar ada nama atasannya dengan logo inisial K dan C.


"C?" Tanya Karina dengan kening berkerut.


"Sebenarnya namaku Crystal Letta Alterio."


"Ah begitu, jadi kau benar-benar akan menikah dengan Mr. Duanovic?" Tanya Karina yang dibalas anggukan oleh Crys.


"Sebenarnya kami sudah memiliki anak, umurnya sekarang sudah 9 bulan"


Karina sejak tadi hanya bisa shock, kaget, terkejut, sambil membulat dan menganga dengan semua kejutan yang Crystal katakan.


"Bagaimana bisa?"


"Ceritanya panjang. Kenzo hanya terpaksa menikahi wanita itu." Ujar Crys.


"Tunggu sebentar, berikan aku jeda dari semua kejutan ini." Karina bangkit berdiri, lalu mengambil minuman dari atas meja kerja dan meneguknya seperti orang kehausan.


Karina kembali duduk di atas sofa.


"Jadi semuanya hanya settingan?" Tanya Karina.


"Iya."


"Kalau begitu aku ikut bahagia dengan pernikahanmu, padahal aku sudah berpikir bahwa calon suamimu itu bukan pria yang baik." Crystal tertawa mendengar ucapan Karina.


"Ah, setelah makan siang, jadwal Kenzo sudah selesai bukan?" Tanya Crys.


"Benar."


"Sebelum itu, mampirlah ke ruangan Kenzo sebentar, aku akan memperkenalkan putraku."


"Kau membawa putramu?" Tanya Karina semangat yang dibalas anggukkan oleh Crystal.


"Wah, aku tidak sabar sekali melihat bayi mu." Ujar Karina tak sabar.


"Baiklah, aku akan datang." Ujar Karina.


Crystal tersenyum lembut, lalu bangkit berdiri dari atas sofa.


"Kalau begitu aku kembali ke ruangan Kenzo dulu ya, lain kali kita harus pergi berdua dan mengobrol panjang lebar." Kata Crystal.


"Benar, kita harus bertemu lagi ya. Terimakasih untuk undangannya." Kata Karina.


Crystal melambai setelah menjawab singkat dengan senyuman manis, lalu kembali ke ruangan Kenzo, dimana ayah dan anak itu sedang asik bermain di atas sofa.


***


Crystal memeluk lengan kiri Kenzo dengan Kenneth yang berada digendongan pria itu.


Crystal menatap sebuah Mansion besar tak asing di depannya, lalu berjalan memasuki rumah tersebut.


Manik mata Crystal menangkap sosok Vania yang menyambut kedatangan mereka dengan senyuman manis.


"Akhirnya kita bertemu lagi, bagaimana kabarmu?" Tanya Vania sambil merangkul bahu Crystal dengan akrab.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" Tanya Crystal balik.


"Baik. Aku mengkhawatirkan keadaanmu selama ini, ternyata kau baik-baik saja." Kata Vania.


"Kenzo sudah menceritakan semuanya kepadaku. Aku juga ingin berterima kasih kepada suamimu yang sudah membantu Kenzo selama ini." Balas Crystal.


"Tentu saja suamiku harus membantu Kenzo, karena Kenzo juga sudah membantunya dulu. Tidak usah terlalu memikirkannya."


"Dan ini putra kalian?" Tanya Vania sambil menatap Kenneth yang berada digendongan Kenzo.


"Iya, namanya Kenneth. Kenneth, ini aunty Vania." Kata Crystal memperkenalkan mereka dan menatap Kenneth yang tertawa lucu ketika ia diajak berbicara.


"Halo Kenneth." Sapa Vania pada Kenneth sambil menggenggam tangan kecil Kenneth yang terkepal.


Kenneth terkekeh, membuat senyum Vania semakin lebar.


"He's so sweet." Kata Vania yang membuat Crystal tersenyum bangga sebagai ibunya.


"Ayo, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita, si kembar juga sangat semangat ketika mendengar kedatanganmu." Tambah Vania lagi.


Crystal mengangguk, lalu mengikuti langkah Vania dan menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol ringan dan membahas mengenai pernikahan mereka yang akan segera digelar.


Selama sebulan ini, Kenzolah orang pertama yang menawarkan untuk melakukan pernikahan secepat mungkin dan pria itu langsung melamarnya saat itu juga. Tentu saja Crystal menerima lamaran Kenzo karena ia juga tidak punya alasan untuk menolaknya.


Pernikahan merekapun akhirnya akan berlangsung satu bulan ke depan dan akan diadakan di salah satu hotel terbesar di kota tersebut.


***


Satu bulan kemudian


Crystal melangkah menyusuri altar dengan senyuman lembutnya sambil menatap ke arah Kenzo yang sudah menunggunya bersama dengan pendeta. 


Crystal mengamit lengan Allaric yang mengantarnya sebagai ganti sosok ayah mereka yang sudah tiada. Kenneth ikut menonton dengan balutan jas yang pas ditubuh kecilnya, bersama dengan Nathalie dan Damian. 


Para undangan yang hadir terlihat bangkit berdiri sambil tersenyum bahagia, termasuk Karina dan Lily teman kuliahnya yang sudah lama tidak ia jumpai setelah bertemu dengan Kenzo.


Dan ternyata Lily sedang menjalin hubungan dengan kakaknya—Allaric, yang membuat Crys tertawa lucu, karena sejak dulu Lily memang sangat mengagumi sosok kakaknya.


Crystal sampai dihadapan Kenzo yang langsung mengulurkan tangannya. Allaric menyerahkan tangan Crys ke dalam genggaman tangan Kenzo. 


"Tolong jaga adikku dan cintai dia untuk selamanya." Ujar Allaric ketika menyerahkan Crystal.


Kenzo mengangguk, sedangkan mata Crys kini mulai berkaca-kaca mendengar ucapan kakaknya. Alllaric pun turun dari atas altar, lalu Crystal dan Kenzo menghadap ke arah pendeta.


Pendeta mengucap beberapa kata pembuka, sebelum akhirnya membaca janji suci yang akan mengikat kedua anak manusia tersebut.


"Apakah anda, Kenzo Edzard Duanovic bersedia mengaku dan menyatakan di hadapan Tuhan, keluarga serta para tamu yang hadir sebagai saksi, bahwa anda mengambil Crystal Letta Alterio sebagai isteri yang sah, dan sebagai suami yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit, pada waktu kaya maupun miskin dan akan memelihara dia dengan setia?" Ujar Pendeta.


"Iya, saya bersedia." Jawab Kenzo penuh keyakinan.


"Apakah anda, Crystal Letta Alterio bersedia mengaku dan menyatakan di hadapan Tuhan, keluarga serta para tamu yang hadir sebagai saksi, bahwa anda mengambil Kenzo Edzard Duanovic sebagai suami yang sah, dan sebagai isteri yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit, pada waktu kaya maupun miskin dan akan memelihara dia dengan setia?"


"Saya Bersedia." Jawab Crystal dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis.


"Dengan begitu, di hadapan Tuhan, Keluarga, serta para tamu yang hadir sebagai saksi penyatuan dua anak manusia yang kini menjadi satu untuk saling mengasihi, memelihara, mencintai dalam keadaan suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."


Kenzo menggenggam erat tangan Crystal sepanjang pendeta dihadapannya tersebut berbicara panjang lebar, seakan menguatkan wanita yang akhirnya telah menjadi istrinya tersebut. 


"You may kiss your wife."


Kenzo menoleh menghadap Crystal dan Crystal ikut menoleh pada pria itu. Kenzo menatap dalam mata Crystal yang memerah sedih, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Crystal lembut. 


"Thank you for being my wife." Ujar Kenzo sambil tersenyum lembut.


Mendengar hal itu, Crystal malah semakin ingin menangis, membuatnya tak bisa berucap apapun karena ia yakin jika mulutnya terbuka, saat itu juga tangisnya akan pecah.


Kenzo menarik tengkuk Crystal, lalu menyatukan bibir mereka ditengah tepuk tangan para tamu yang hadir. 


Nathalie yang tengah menggendong Kenneth menatap adegan sepasang suami istri yang baru saja mengucapkan janji suci mereka dan kini tengah berciuman di atas altar.


Nath melirik sekilas ke arah Damian yang berdiri di sampingnya. 


"Kau tidak akan memberitahunya bahwa kaulah yang sudah menyelamatkan nyawanya di malam kematian orang tuanya?" Tanya Nath sambil kembali menatap ke arah depan. 


Damian tengah menatap kedua pasangan suami istri yang sedang berbahagia tersebut dengan begitu lekat. 


"Dia tidak perlu tau." Balas Damian.


"Sayang sekali, jika dulu kau memberitahunya, dia mungkin akan membuka hatinya padamu." Balas Nath lagi. 


Damian terkekeh dengan senyuman miring. "Selamanya dia hanya akan mencintai pria itu, jadi tidak ada gunanya aku memberitahunya." Kata Damian.


"Pengecut."


Senyum miring Nathalie terbit. "Kenneth, lihat itu Mommy." Raut wajah Nathalie berubah dengan senyuman penuh kehangatan ketika berbicara dengan Kenneth yang tengah tersenyum lebar penuh semangat.


Damian membalikkan tubuhnya, lalu melangkah menjauh dari keramaian dan keluar dari hall hotel, dimana acara pernikahan tersebut berlangsung.


Damian berjalan menyusuri lorong hotel untuk pergi menuju kamarnya yang sudah disediakan oleh pembuat acara.


Ditengah perjalanan, ketika Damian berbelok ke kiri, tiba-tiba tubuhnya ditabrak oleh seorang wanita yang berada di lorong tersebut. 


Damian menatap wanita tersebut dengan tampang dingin, sedangkan wanita yang menabraknya tadi terlihat berjalan dengan sempoyongan dan tatapan mata yang tidak fokus.


Mata Damian menatap wanita tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala. Penampilannya terlihat rapi dan elegan dengan balutan dress malamnya yang mengkilau. 


Setelah menatap wanita tersebut, Damian segera melanjutkan langkahnya layaknya tidak terjadi apapun, karena wanita tersebut juga terlihat tidak tau apa yang sudah terjadi. 


Namun sebelum dirinya melangkah, tiba-tiba wanita yang terlihat mabuk tersebut memeluk dadanya dan mendekatkan wajahnya pada Damian. 


Damian menatap wajah wanita tersebut yang terlihat merah dan tatapan matanya yang terlihat sayu, namun bibir wanita itu yang setengah terbuka terlihat begitu menggoda dengan nafas hangat yang terasa menabrak lehernya. 


"Tidurlah denganku, aku akan membayarmu." Kata wanita itu.


Wanita tersebut mengelus dada Damian, sedangkan Damian berdiri seperti tembok yang kokoh sambil menatap wajah wanita di depannya yang tengah menggodanya, namun sialnya wanita itu malah terlihat cantik.


"Badanmu sangat bagus." Ujar wanita itu melindur, masih terus meraba tubuh bidang Damian. 


Seketika Damian ikut memanas dan tanpa sadar ia terdoga oleh pesona wanita asing tersebut. Wanita itu mendekatkan wajahnya pada Damian.


"Kau tidak ingin tidur denganku? Kalau begitu aku cari pria lain saja." Wanita tersebut terlihat mendorong tubuh Damian, namun nyatanya tubuh Damian sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, karena wanita itulah yang malah terdorong mundur dengan langkah sempoyongan.


Wanita itu hendak kembali berjalan melewati Damian, namun belum sempat menjauh dari sana, Damian tiba-tiba menarik pinggang wanita tersebut hingga tubuh seksi wanita itu menubruk tubuhnya. 


"Kau yang menawarkan tubuhmu, maka lakukan tugasmu dengan baik!" Kata Damian sebelum akhirnya menggendong wanita tersebut ala bridal menuju kamarnya.


***


Malam bahagia itu berlalu dengan begitu panjang. Crystal dan Kenzo kini sudah berada di kamar hotel mereka, masih dengan balutan baju resepsi pernikahan mereka.


Crystal berdiri di depan meja rias sambil melepas aksesorisnya. Kenzo menatap punggung polos istrinya yang terpampang jelas dikarenakan design gaunnya.


Kenzo mendekati tubuh istrinya setelah melepas dasi dan kancing kemejanya.


Crystal menatap sosok suaminya yang berada di belakangnya dari pantulan cermin, lalu memeluk pinggang rampingnya sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Crystal.


Crystal tersenyum geli dan membiarkan Kenzo melakukan kegiatan sensualnya. "Kira-kira Nathalie bisa nggak ya menjaga Kenneth malam ini? Bagaimama kalau nanti dia haus?" Ujar Crys mengingat bayinya.


"Kau sudah menyiapkan semuanya untuknya, dia pasti tidak akan rewel." Balas Kenzo.


"Lagipula malam ini hanya akan ada kita berdua." Tambah Kenzo menatap dalam mata Crys dari pantulan kaca.


Crystal membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Kenzo, lalu melingkarkan tangannya di leher Kenzo.


"Aku ingin bertanya sesuatu, kau ingin punya berapa anak?" Tanya Crystal.


"Five."


Crys memukul dada Kenzo dengan wajah kesal. "Kau pikir melahirkan itu mudah?" Kenzo tertawa mendengar celotehan Crystal.


"So how many kids do you want?" Tanya Kenzo balik.


"Dua." Jawab Crystal tersenyum bahagia sambil melingkarkan kembali tangannya di leher Kenzo.


Kenzo mengangguk. "Okay." Jawab Kenzo tidak masalah.


"Kalau begitu kita harus segera membuat adik untuk Kenneth." Kata Kenzo.


"Jangan sekarang, setidaknya sampai Kenneth umur tiga tahun." Kata Crys tidak setuju.


Kenzo tiba-tiba mengangkat tubuh Crystal ala bridal. "Baiklah, tapi malam ini masih panjang."


Crystal tertawa ketika Kenzo membawanya ke dalam toilet untuk bersih-bersih, tetapi bukan Kenzo namanya jika tidak menyelam sambil minum air.


Setelah bergulat di dalam kamar mandi, kegiatan kedua pengantin baru tersebut selesai ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi dan akhirnya mereka tertidur di atas ranjang.


Mata Crystal mengerjab pelan ketika ia merasakan wajahnya seperti dikecup berulang kali dengan gerakan seringan bulu.


"Eghh, Ken." Crys melenguh lelah karena ia merasa baru tertidur sejam setelah kegiatan panas mereka.


Benda kenyal tersebut terasa tidak berhenti dan malah turun ke leher jenjangnya.


"Kenhh." Masih dengan mata tertutup lelah, Crys mengeliat sambil menjangkau wajah Kenzo yang berada di ceruk lehernya.


Pria itu segera menahan tangannya ke atas kepala dan tetap melanjutkan kecupan basahnya di kulit leher Crystal.


Crystal membuka matanya yang terlihat sayu, lalu menatap sosok suaminya yang kembali menggerayangi tubuhnya dengan begitu liar.


Crys menoleh ke arah jam yang menunjukkan pukul lima pagi. "Kita masih tidur selama dua jam." Kata Crys dengan nada seraknya.


Kenzo mengangkat kepalanya, lalu menatap dalam wajah istrinya dengan penuh kerinduan dan raut sedih.


Crys terdiam ketika melihat ekspresi Kenzo yang terasa aneh. "Ada apa?" Tanyanya khawatir sambil mengelus pipi Kenzo dengan penuh perhatian.


Kenzo terlihat memejamkan mata untuk merasakan kelembutan tangan Crystal dan sentuhan hangatnya.


"I miss you so bad."


Crys masih terdiam dengan kening mengerut, hingga akhirnya matanya membulat kaget, lalu menangkup kedua pipi suaminya dan menatap lekat wajahnya.


"Levin?"


Pria itu memiringkan kepalanya untuk mengecup telapak tangan Crys yang menangkup pipinya.



(Ilustrasi. Sumber : Pinter*st)


Crystal tersenyum bahagia dan ikut terharu melihat ekspresi Levin yang terlihat sedih dan kalut. Crystal tau Levin pasti merasa gagal karena tidak bisa menjaganya di hari kecelakaan tersebut.


"I miss you too, thank you for coming back to me." Desis Crys.


Di tengah ruangan dengan pencahayaan minim itu, Crystal dapat melihat senyum hangat penuh kelegaan dari raut wajah Levin.


Perlahan bibir mereka mulai mendekat dan akhirnya bertaut dengan penuh kerinduan. Rasa lelah dan kantuk yang Crys rasakan seketika menguap dan hilang entah kemana.


Kedua tangan wanita itu perlahan naik dan melingkar di leher Levin seiring dengan pangutan mereka yang semakin mendalam.


***


Tiga tahun kemudian.


Crystal mengusap perut buncitnya sambil memandangi Kenneth dan Kenzo yang tengah asik berenang.


Kenzo terlihat telaten mengajari Kenneth berenang, sedangkan Crystal sejak tadi hanya tersenyum bahagia melihat interaksi ayah dan anak tersebut.


Crystal menatap jam tangannya yang ternyata sudah satu jam berlalu semenjak mereka berenang.


"Kenneth, waktu berenangnya sudah selesai." Kata Crystal sedikit mengeraskan volume suaranya karena ia duduk di kursi pinggir kolam.


Kenneth menoleh ke arah Crystal dengan wajah sedih.


"No Mommy, aku masih mau berenang dengan Daddy." Ujar Kenneth dengan suaranya yang masih sedikit cadel dan imut.


"Dengarkan Mommy Kenneth!" Ujar Kenzo tegas sambil menggendong anak laki-lakinya tersebut untuk keluar dari kolam berenang.


Kenneth seketika terlihat sedih dan cemberut, sedangkan Crystal bangkit berdiri dari kursinya sambil membawa handuk di tangannya.


"Hari ini selesai dulu ya, kan Kenneth bisa lanjut lagi besok." Ujar Crys ketika Kenzo melangkah mendekatinya setelah keluar dari kolam berenang.


Kenzo kini sudah berada di depan istrinya yang tengah mengandung anak kedua mereka.


Crystal memberikan handuk tersebut kepada Kenneth, lalu melap tubuh basah putranya dengan lembut.


Kegiatan Crystal terhenti ketika Kenzo menurunkan Kenneth dari gendongannya agar anak laki-lakinya tersebut berdiri di atas lantai.


"Biar aku saja." Kata Kenzo sambil mengambil handuk di tangan Crystal dan berganti melap tubuh Kenneth yang masih cemberut.


Crystal pun tersenyum, lalu kembali mengambil handuk yang ukurannya sedikit lebih besar untuk suaminya tersebut.


"Kenapa masih cemberut?" Tanya Crys ketika melihat wajah Kenneth.


"Kenneth masih mau berenang dengan Daddy." Jawab anak laki-lakinya itu.


"Kan lanjut besok lagi. Kenneth sekarang main sama Mommy dulu ya, soalnya Daddy mau pergi sebentar." Lanjut Crystal.


"Mommy kan tidak bisa bermain dengan Kenneth karena ada bayi di perut Mommy." Kata Kenneth.


"Daddy bilang Kenneth tidak boleh bermain dengan Mommy seperti ketika Kenneth bermain dengan Daddy, karena Mommy tidak boleh capek." Ujar Kenneth panjang lebar, membuat senyum geli Crystal muncul mendengar celotehan anaknya itu.


"Kenneth bisa bantu Mommy masak di dapur." Ujar Crys.


"Mommy, Kenneth itu laki-laki kuat seperti Daddy, laki-laki tidak bermain masak-masak di dapur, itu mainan anak perempuan." Ujar Kenneth yang membuat Crystal tertawa lepas.


"Baiklah, Kenneth sangat suka bermain dengan Daddy ya?" Tanya Crystal tersenyum hangat.


Kenneth mengangguk semangat. "Suka, sama Papa juga suka." Kening Crys mengerut ketika mendengar ucapan Kenneth.


Papa? Kenneth kan selalu memanggil Kenzo dengan Daddy.


"Maksud Kenneth Daddy?" Tanya Crys.


Kenneth menggeleng. "Tidak. Ini Daddy, maksud Kenneth Papa yang lain." Ujar Kenneth sambil menunjuk Kenzo ketika menyebut 'Daddy'.


"Itu Levin." Jawab Kenzo yang membuat Crystal langsung mengerti dengan ucapan Kenneth.


"Kenneth sudah tau membedakan Papa dan Daddy?" Tanya Crystal takjub.


"Sudah."


Kenzo bangkit berdiri ketika tugasnya sudah selesai. Crystal memberikan handuk di tangannya kepada Kenzo dan handuk basah Kenneth kembali diraih oleh Crystal.


Kenzo menggosok rambutnya yang basah dengan handuk, sambil mendekatkan wajahnya untuk mengecup singkat pipi istrinya tersebut.


"Jangan memasak, kau tidak boleh terlalu capek!" Ujar Kenzo.


Crystal mendengus, ayah dan anak di depannya ini benar-benar selalu membuatnya kalah ketika berdebat.


"Baiklah."


"Kenneth, jaga Mommy selama Daddy tidak di rumah ya, kalau ada apa-apa, langsung hubungi Daddy." Kata Kenzo pada Kenneth.


"Okay Daddy." Jawab Kenneth semangat.


Crystal menggeleng heran dengan Ke-overprotektifan suaminya itu, apalagi sekarang Kenneth sudah seperti mata-mata yang mengawasi Crystal setiap saat selama Kenzo tidak berada di rumah.


Kenzo tiba-tiba menggendong tubuh Crystal tanpa aba-aba, membuat Crystal tersentak kaget.


"Kenzo."


"Kau harus banyak beristirahat." Kata Kenzo sambil melangkah kembali memasuki rumah.


Crystal mendengus, lalu menoleh ke belakang Kenzo untuk melihat Kenneth yang ternyata berjalan mengikuti mereka dengan langkah kecilnya.


Raut wajah Crystal yang cemberut perlahan berganti dengan senyuman lembut penuh kebahagiaan. Ia tidak menyangka hidupnya akan berakhir seindah ini setelah segala kepahitan yang sudah ia alami.


Setiap saat ia selalu bersyukur dapat menyaksikan setiap kejadian yang akan menjadi kenangan indah di dalam keluarga kecilnya yang bahagia.


Kini yang ia inginkan hanyalah menua bersama dengan suaminya sampai maut memisahkan mereka.


The End.


Terimakasih untuk dukungannya selama ini terhadap Trapped by The Beast sampai di Chapter terakhir.


Ditunggu karya-karya aku selanjutnya ya. Kira-kira kalian mau baca cerita siapa dulu nih? Pilih ya, vote terbanyak akan aku buatin.



Ansell


Damian


Lucas


Davian/Daveno


Kenneth



Bonus ilustrasi.



(Kenneth waktu sama Levin, karena papanya jarang senyum)☝



(Ini kalau Kenneth sama Kenzo, full senyum)☝



(Lagi dinas malam bunda🤭)☝



(Siapa yang gak mau suami penuh cinta kayak Kenzo dan Levin)☝



(Keluarga kecil)☝