Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 88



Warning : Alur maju mundur, baca pelan-pelan sambil dihayati supaya mengerti ya☺


Levin dengan cepat beranjak dari kursinya dengan penuh kemarahan yang terpancar dari matanya. Dari arah belakang, Levin menarik kerah sang supir dan mencengkramnya erat.


"Hentikan mobilnya!" Suara Levin terdengar sedikit bergetar, namun tetap tegas dan dingin dengan penuh otoriter.


Supir tersebut terlihat panik, namun terus mengendarai mobil tersebut tanpa menghiraukan ucapan Levin.


"SERGIO!" Levin menoleh pada Sergio dengan tatapan sinisnya yang begitu tajam.


Sergio ikut menatap Levin dengan tampang tak bersalah. "Kuatkan dirimu Levin! Kau tidak boleh lemah hanya karena seorang wanita." Ujar Sergio santai.


Mata Levin terlihat mulai memerah sambil terus mencengkram kencang kerah supir tersebut dengan rahang mengeras.


"Baj*ngan!" Levin menatap Sergio dengan penuh kebencian.


Senyum Sergio terbit. "Kau memang harus membenciku agar kau bisa membalaskan dendammu."


Wajah Levin mengeras dengan matanya yang membesar dan memerah. Dengan kasar Levin melepas cengkraman tangannya, lalu berganti dengan mencengkram baju Sergio sambil mendekat untuk menatap pria paruh baya itu.


"Apa yang kau inginkan?" Gigi Levin terdengar bergemelatuk saking kerasnya ia mencoba untuk mengatupkan rahangnya, hingga urat wajah dan lehernya bermunculan.


"Jadilah yang terkuat! Kau harus mengembangkan bisnisku hingga ke ujung dunia." Ujar Sergio.


"Kau akan memiliki semuanya, bahkan kekuasaan sekalipun." Tambah pria itu lagi.


Ia tidak membutuhkan itu semua. Ia tidak menginginkannya. Dadanya terasa sangat sesak, seiring dengan semakin jauhnya mobil yang ia kendarai dari lokasi kecelakaan. Cengkraman tangan Levin mengendor dan mulai melepas Sergio sambil menenangkan dirinya ditengah kekhawatiran dan kesedihannya yang begitu mendominasi.


"Seluruh hartaku akan kuwariskan padamu, tetapi semuanya akan sah menjadi milikmu setelah kau menikahi anak perempuanku satu-satunya—Thalia." Levin menatap lekat sambil mencerna ucapan Sergio.


"Thurisaz akan menjadi milikmu sepenuhnya."


Sergio menatap tato yang berada di leher Levin. Tato yang melambangkan penerus selanjutnya dari Thurisaz. Kenzo maupun Levin sejak awal sudah Sergio tandai sebagai satu-satunya penerus Thurisaz.


Flashback On.


Levin menatap ke arah rumahnya yang sedang terbakar terlalap api dengan iringan teriakan dari Ibunya serta kekasihnya yang terkurung di dalam sana, tanpa sempat menyelamatkan diri mereka.


Manik mata Levin menatap lekat kobaran api yang mulai menelan habis apapun yang menyentuhnya, sampai tidak ada yang tersisa.


Anak laki-laki itu terlihat terdiam, bahkan tidak melakukan apapun dan hanya menonton kejadian di depannya dengan begitu puas.


Semua ini adalah perbuatannya sendiri.


Samar-samar Levin dapat mendengar derap langkah kaki dari arah belakangnya.


"Siapa namamu?" Orang tersebut berhenti tepat di samping Levin, sambil ikut menatap kobaran api di depannya.


"Levin." Jawabnya dingin dan datar.


"Kudengar anak laki-lakinya bernama Kenzo."


"Dia sedang tertidur." Jawab Levin lagi.


Pria itu menoleh sambil menunduk ke arah Levin yang lebih pendek darinya. Anak laki-laki tersebut terlihat sangat kurus tak terurus dan ada bercak darah yang menempel ditubuhnya.


Levin bahkan tidak menoleh ke arah pria disampingnya dan masih tetap memandang ke depan. Alis pria tersebut mulai terangkat dengan senyumannya yang penuh arti.


"Kau yang melakukan ini semua?" Tanyanya lagi.


"Bukan urusanmu!" Nada anak laki-laki tersebut terdengar begitu dingin dan tak bersahabat, membuat pria tersebut semakin tersenyum lebar.


"Kau anak yang menarik. Aku Sergio." Pria itu mengenalkan dirinya, membuat Levin menoleh sambil mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Sergio yang memang lebih tinggi darinya.


Seketika Sergio menatap mata dingin dan tajam yang dipancarkan Levin ketika anak laki-laki itu menoleh padanya. Wajahnya terlihat sangat datar dengan mata sayunya yang menunjukkan ketidaktertarikan.


"Enyah kau!" Ucap Levin tajam.


Pria bernama Sergio itu terlihat tak terintimidasi sama sekali. Senyumnya malah masih terukir dengan jelas.


"Ibumu sudah mati, lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Bukan urusanmu!" Levin kembali menjawab dengan dingin, lalu setelahnya ia mulai mendengar suara keributan dan langkah kaki dari para tetangganya yang lain.


Orang-orang di sekitar rumahnya mulai berdatangan dengan wajah panik sambil mencoba menelpon bantuan dari pemadam kebakaran.


"Istriku berada di dalam, aku kemari untuk menjemputnya. Melihat kobaran api ini, artinya dia juga sudah mati di dalam sana." Ujar Sergio.


Seketika senyum miring Levin terbit. "Wanita itu sudah mati bahkan sebelum terbakar." Levin sama sekali terlihat tidak merasa bersalah dan malah puas dengan ucapannya.


Anehnya, Sergio juga terlihat tidak marah mendengar hal itu. Wajah Sergio seperti seseorang yang menemukan sebuah harta karun yang telah lama hilang.


"Ikutlah denganku Levin." Ujar Sergio lagi dengan senyumannya.


Levin menatap pria paruh baya di sampingnya dengan lekat. Ia tidak bodoh untuk mengetahui bahwa pria dihadapannya ini bukanlah orang sembarangan. Pria itu pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu untuk mengajaknya.


Sergio terlihat semakin tertarik pada anak laki-laki itu.


"Berapa umurmu?" Tanya Sergio.


"12."


"Kau tidak terlihat seperti anak-anak seusiamu. Aku akan memberimu tempat tinggal, makanan, pakaian dan apapun yang kau inginkan. Aku tidak memiliki anak laki-laki, kau bisa menjadi anak angkatku." Levin tertawa kecil dengan nada mengejek.


"Aku tidak lagi membutuhkan orang tua, tapi aku juga tidak ingin terlantar di jalanan."


"Jadi, kau akan ikut denganku?" Tanya Sergio.


Levin menatap Sergio beberapa detik, lalu membalikkan badannya untuk melangkah menjauh dari rumahnya.


"Tunjukkan jalannya!"


Flashback Off


Semenjak itu, Kenzo maupun Levin tinggal di Mansion Sergio. Sesuai dengan janjinya, Sergio menyediakan apapun untuknya. Sergio memiliki 2 orang anak perempuan. Anak pertamanya saat itu sudah berumur 20 tahun dan anak keduanya seumuran dengan Kenzo.


Namun dua tahun setelah kedatangan Kenzo, Anak pertama Sergio mati dikarenakan salah satu dari sekian banyak musuhnya yang mengincar keluarga pria itu.


Dari luar, Sergio memang terlihat seperti seorang pengusaha biasa. Namun nyatanya, Sergio adalah seorang mafia yang membentuk organisasinya sendiri dengan nama Thurisaz. Kekayaan Sergio berasal dari pekerjaan gelapnya. Thurisaz adalah gerbong narkoba terbesar di seluruh dunia. Mereka membuat dan menyalurkan obat-obatan terlarang tersebut ke seluruh penjuru negara.


Levin menjalani hari-harinya dengan berlatih dibawah perintah dan pengawasan Sergio. Pria itu membentuknya menjadi sosok yang lebih kejam dan berdarah dingin dari sebelumnya.


'Kau harus menjadi lebih kuat', Kata-kata itulah yang selalu Sergio tanamkan dalam otaknya.


Sergiolah orang yang membentuk Levin maupun Kenzo yang sekarang. Pria itu dengan sengaja menumbuhkan jiwa liar dan monster anak laki-laki itu yang sejak awal hanyalah sebuah bibit kecil.


Sergio menyirami bibit itu hingga tumbuh besar menjadi sebuah pohon yang kokoh, hingga badai sekalipun tak dapat merubuhkannya.


Ketika Kenzo menginjak usia 17 tahun, Sergio mulai memberikannya pekerjaan yang berhubungan dengan dunia gelapnya.


Sergio akan memerintahkannya untuk memusnahkan apapun yang menghambat dan menghalangi bisnisnya. Kenzo dan Levin tidak pernah gagal dalam melakukan misi dan seluruh perintahnya, karena itulah Sergio semakin membanggakan anak yang bahkan bukan anak kandungnya sendiri.


Sampai akhirnya, suatu saat Kenzo menerima perintah untuk menghabisi Davin Raveno yang saat itu baru saja sah mewarisi perusahaan Ayahnya.


Saat itulah untuk pertama kalinya, Kenzo dan Levin tidak berhasil melakukan misinya. Davin bukanlah orang sembarangan yang dengan mudah dapat ia sentuh dan habisi.


Tidak ada yang menyadari bahwa pertemuan pertama mereka ternyata bagian dari garis takdir. Davin juga tidak buta untuk melihat potensi Kenzo, sampai akhirnya ia memberikan penawaran besar kepada Kenzo untuk menjadi bawahannya.


Kenzo menerimanya karena ia juga tidak buta untuk melihat potensi dan kekuasaan Davin.


Flashback On


Kenzo berdiri di depan Sergio yang duduk di kursi ruang kerjanya. Pria paruh baya itu menatap Kenzo dalam.


"Kau akan meninggalkan Thurisaz?" Jujur saja Sergio terkejut kala Kenzo memberitahu bahwa ia akan meninggalkannya, namun ia tidak menunjukkan hal itu di depan pria tersebut.


"Iya." Jawab Kenzo dingin.


"Kau mundur dari posisi penerusku dan pergi untuk menjadi bawahan Raveno?" Tanya Sergio tak menyangka dengan keputusan Kenzo.


Sergio benar-benar meyakinkan posisi tersebut hanya untuk Kenzo, hingga memberikan tato Thurisaz tersebut kepada Kenzo, sebagai tanda bahwa pria itulah satu-satunya yang pantas menjadi penerus bisnisnya.


Kenzo tersenyum miring. "Aku hanya akan berada di pihak terkuat, bukankah itu yang kau ajarkan?" Ujar Kenzo.


Sergio terlihat terdiam beberapa saat, lalu lengkungan di bibirnya mulai terangkat.


"Baiklah, lakukan apapun yang kau inginkan. Tapi suatu saat nanti, kau pasti akan kembali ke tempat ini." Sergio menatap Kenzo dalam, begitu pula Kenzo yang menatap pria paruh baya itu.


Setelah beberapa detik, Kenzo berbalik badan, lalu meninggalkan ruangan tersebut dengan Sergio yang menatap lekat punggungnya hingga tertelan oleh pintu.


Flashback Off


Setelah itu, Kenzo menjadi anak buah Davin dan dengan cepat berubah menjadi tangan kanannya dalam urusan dunia gelap mereka.


Davin juga banyak mengajarkan Kenzo mengenai bisnis hingga memberikan kesempatan bagi pria itu untuk berinvestasi dan akhirnya dapat membangun bisnisnya sendiri.


Seluruh garis takdir kini semakin jelas. Investasi pertamanya yang membawa Kenzo pada seorang gadis yang berusaha membunuhnya dan berakhir menjadi tawanannya.


Crystal Letta Alterio, gadis kecil yang dulu bersembunyi di dalam lemari yang bahkan tak ia hiraukan keberadaannya, kini menjadi sosok yang paling ia butuhkan keberadaannya di dunia ini.


Namun kini, wanita yang sudah menjadi bagian dari detak jantungnya, apa bisa ia temui lagi?


Bersambung...


Masa lalu Kenzo waktu kecil bisa di baca ulang di chapter 53 atau 52 kalau nggak salah😅


Hiks, beberapa part lagi end, up lama karna rasanya belum ikhlas untuk cepat berpisah dan selesaiin cerita ini🥲