Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 7



"Berhenti!" langkah Crys terhenti mendengar ucapan dingin dan menusuk tersebut.


Crys berbalik dengan takut, menatap pria yang memanggilnya dan menatapnya tajam.


"Iya tuan, ada apa?" tanya Crys sambil menautkan tangannya takut.


Pria pembunuh itu menatap Crys lekat dan tajam, sedangkan Crys berdiri dengan perasaan was-was. Apa aksinya ketahuan? Pikiran Crys tidak tenang memikirkan hal-hal buruk itu.


"Ada apa Kenzo?" tanya seorang pria di sana sambil menatap pria bernama Kenzo tersebut dengan wajah bingung.


Untuk apa Kenzo memberhentikan pelayan sepertinya? Kenzo menatap gelas di depannya, lalu mengambilnya dengan santai.


Crys menautkan tangannya semakin erat. Keringat dingin membasahi tubuhnya tanpa sadar. Jantungnya juga berdegup kencang saat Kenzo menatap gelasnya dengan lekat.


"Temani aku minum!" Crys sedikit bernafas lega mendengarnya. Namun, ia juga tidak sudi harus melayani musuhnya sendiri. Orang yang paling ia benci di dunia.


"Maaf Tuan, saya hanya seorang pelayan, saya hanya bertugas mengantar minuman ini." ujar Crys sambil menunduk tanda hormat.


"Melayani kami minum juga bagian dari tugasmu." ujar Kenzo menatap Crys.


Crys terdiam mendengarnya. Crys menunduk sembilan puluh derajat, menolaknya dengan cara profesional.


"Maaf sekali lagi Tuan." ujar Crys sambil menegakkan tubuhnya.


"Saya permisi." ujar Crys, membalikkan tubuhnya dengan kepala menunduk, lalu melangkah menuju pintu. Belum beberapa langkah, Kenzo kembali mengangkat suaranya.


"Kalau begitu minum ini!" langkah Crys terhenti mendengar kata-kata itu. Masih dalam keadaan memunggungi pria itu, tangan Crys langsung basah oleh keringat.


"Minum ini, lalu kau boleh pergi." tambah Kenzo lagi. Crys tidak berbalik, bahkan ia terlihat seperti patung di tengah ruangan tersebut.


Crys melangkahkan kakinya kembali, namun tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar, menunjukkan beberapa pria berbadan besar dan tinggi, berwajah dingin, serta pakaian hitamnya melangkah menuju Crys.


Crys tersentak kaget, saat salah satu pria tersebut menarik tangannya kuat, membawanya ke arah tempat duduk Kenzo.


"Sakit." ringis Crys merasakan sakit di tangannya.


Tubuh Crys di dorong kasar, menyuruhnya untuk berdiri tegap di depan Kenzo. Crys menatap Kenzo sambil mengelus tangannya yang memar dengan wajah kesakitan.


Kenzo menatap Crys dingin, lalu mengulurkan gelas pria itu dengan wajah datar. "Minum!"


Crys terdiam takut mendengarnya. Senjata makan tuan. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Tangan Crys terulur meraih gelas tersebut dengan tangan bergetar.


Crys memegang gelas bertangkai tersebut dan menatapnya takut. Gelas ini adalah gelas yang sudah ia berikan racun—Potasium Sianida.


Crys menatap gelas itu lekat, perlahan mulai mendekatkan gelas tersebut ke mulutnya. Tangan Crys bergetar hebat,  hingga Kenzo bangkit dari tempat duduknya secara tiba-tiba, membuat Crys kaget dan akhirnya gelas tersebut jatuh membentur lantai.


Menatap Crys dengan tajam dan pandangan membunuh. Rasa takut menyelimutinya hanya karena tatapan tajam Kenzo. Tatapan pria itu seakan ingin mencabiknya sekarang juga.


Crys tersentak saat tangan kekar Kenzo mencengkeram rahangnya keras. "Berani bermain denganku gadis kecil." ujar Kenzo dengan seringainya yang mengerikan.


Crys menatap tepat ke mata Kenzo yang menusuk matanya. Dia ketahuan. Kenapa bisa?


"Membunuhku dengan racun? Aku hidup dengan resiko kematian setiap harinya, membunuhku dengan racun, apa aku terlihat begitu mudah dibunuh di matamu?" tanya Kenzo masih dengan senyum miringnya. Crys terdiam dan meringis merasakan tangan pria itu mencengkeramnya semakin kuat, lalu mendorong tubuhnya dengan kasar.


"Bawa dia!"


"Tidak." Crys meronta saat para pria berbadan kekar itu menyeretnya. Crys berteriak minta tolong di lorong sepi tersebut, hingga akhirnya mulutnya di tutup dengan kain oleh salah satu pria kekar tersebut.


Crys dibawa menuju tempat parkir. Kenzo berhenti tepat sebelum ia masuk ke dalam mobil.


"Bersikaplah yang baik, aku akan mengampunimu dan membiarkanmu duduk dengan nyaman di sampingku." Crys menatap Kenzo dengan mata memicing marah, lalu memberontak kembali dikukungan pria-pria kekar tersebut.


"Ck, memilih untuk memberontak, baiklah." Kenzo masuk ke dalam mobil dengan santai dan wajah tidak peduli.


Sedangkan Crys ditarik kembali ke belakang mobil. Mata Crys membulat saat pintu bagasi terbuka dan ia di dorong masuk ke dalam tempat kecil dan gelap seperti itu.


"Tidak, jangan di tempat kecil dan gelap ini." batin Crys berteriak sambil menggeleng dengan wajah panik dan keringat dingin kembali membasahi tubuhnya. Ia menahan tubuhnya sekuat tenaga untuk tidak masuk ke dalam.


Namun usahanya sia-sia. Ia dipaksa masuk ke dalam sana. Crys menggeleng dan menggeram asal saat pintu bagasi tersebut hendak ditutup.


"Aku takut." batin Crys sebelum akhirnya cahaya terakhir tersebut menghilang dan berganti dengan gelap yang mencekam.


Crys tidak bisa melihat apa-apa. Tubuhnya gemetaran hebat di dalam sana. Rasa cemas melingkupinya dan ia tidak bisa bernafas dengan lancar.


Crys merasakan mobil tersebut mulai jalan. Sesak. Crys buru-buru melepas kain di mulutnya dengan panik.


"Tolong." Crys berteriak kencang sambil menepuk besi tersebut.


Tidak ada yang bisa dia perbuat. Tidak ada siapapun yang bisa mendengarnya. Tangannya bergetar semakin cemas. Matanya tidak bisa menangkap apapun selain kegelapan. Crystal meringkuk, menutup matanya erat dan tangannya menutup telinganya kencang.


Dalam hati, dia hanya bisa berkata 'tolong' sambil memanggil nama kakaknya.


Jantungnya berdegup begitu kencang, ia sulit bernafas, keringat membasahi tubuhnya, tubuhnya tak berhenti bergetar, rasa cemasnya semakin meningkat, Crys terlihat seperti orang yang merasa terancam. Perutnya tiba-tiba bergejolak, rasa mual menghampirinya.


Kepalanya memberat dan terasa berputar, tubuhnya seperti mati rasa, hingga akhirnya kesadarannya terenggut oleh kegelapan.


Bersambung...