
Hari ini adalah hari ketiga setelah kepergian Kenzo. Crystal menatap ke arah Ansell yang sedang sibuk dengan Laptopnya. Crys mendengus, selama ia bertemu dengan Ansell, pria itu hanya sibuk dengan ponsel, Tab, atau Laptopnya. Crys sampai bingung apa yang sebenarnya pria itu lakukan dengan seluruh gadgetnya itu.
"Apa dia tidak mengabarimu?" Tanya Crys mengangkat suaranya sambil menatap Ansell.
"Tidak." Jawab Ansell singkat, padat dan jelas.
Crys memberengut sedih.
"Aku merindukannya."
Ansell masih diam seakan menulikan telinganya. Crys mengerucutkan bibirnya melihat Ansell yang tidak merespon ucapannya.
"Dia bilang untuk memberitahumu kalau aku merindukannya, lalu kenapa kau tidak langsung mengabarinya?" Tanya Crys kesal.
Ansell menarik nafas dalam, lalu membuangnya dengan wajah jengah. Ansell menoleh ke arah wanita itu dengan raut wajah yang terlihat menahan kesal.
"Kau mengatakan hal menjijikan itu sebanyak sepuluh kali hari ini." Kata Ansell jengah.
Crys masih tidak puas karena Kenzo benar-benar tidak memberikan kabar apapun padanya selama tiga hari ini. Ansell kembali menatap layar laptopnya dengan begitu fokus.
Crys menggigit bibirnya dengan mata memicing tajam. "Lihat saja, aku akan membalasmu setelah kau kembali." Batin Crys geram.
Crys beranjak dari atas sofa. "Aku ke kamar." Ujarnya pada Ansell yang dibalas dehemen singkat olehnya tanpa mengalihkan matanya dari layar laptop.
Crys melangkah pergi dan disusul oleh Damian yang berjalan di belakangnya. Di tengah perjalanan menuju kamarnya, Crys mengajak Damian untuk mengobrol singkat.
"Bagaimana bisa dia tidak mengabariku selama tiga hari, itu tidak masuk akalkan? Apa jangan-jangan dia bermain dengan wanita disana?" Crys menggeleng dengan wajah shock sambil membatin jangan sampai hal yang ia pikirkan itu terjadi.
Damian hanya diam tak tau harus merespon apa pada ucapan wanita di depannya tersebut.
Tiba-tiba Crys menoleh cepat ke arah Damian dengan tatapan menyelidik, sampai-sampai langkah mereka terhenti di tempat. "Damian, apa wanita Spanyol sangat cantik?" Tanya Crys.
Damian seketika terdiam mendengar pertanyaan Crystal.
"Spanyol? Ada apa di Spanyol?" Batin Damian sambil memikirkan tujuan Kenzo datang ke Spanyol.
"Damian?" Tanya Crys menyadarkan Damian dari lamunannya.
"Ah, sepertinya cantik." Jawab Damian asal, membuat Crys mendengus kesal. Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya sambil menghentakkan kakinya ke lantai.
"Aku tau itu." Gerutu Crys.
"Ada beberapa kota di Spanyol yang terkenal dengan kecantikan wanitanya." Kata Damian seakan memancing Crystal yang langsung menatapnya dengan penasaran.
"Apa Barcelona termasuk?" Tanya Crys cepat.
"Sepertinya Barcelona belum termasuk." Jawab Damian yang berhasil membuat Crys tersenyum bahagia.
"Baguslah kalau begitu." Ujar Crys kembali menolehkan pandangannya ke depan dan lanjut melangkah.
"Barcelona?" Batin Damian berpikir keras apa tujuan Kenzo datang ke kota itu.
Beberapa detik kemudian, pupil matanya membesar seakan mendapatkan jawaban dari kepalanya. Barcelona adalah kota dimana Desmond memberikan investasi untuk Perusahaan yang mengembangkan Penelitian Adam Alterio, ayah dari Crystal.
***
Di dalam sebuah bangunan tua tak berpenghuni, yang hanya diterangi oleh lampu remang yang hampir mau padam, terdengar suara geraman seseorang yang sedang terikat di atas kursi.
Pria tersebut memberontak ingin melepaskan diri dari ikatan yang membelit tubuhnya, walaupun ia tau usahanya hanya sia-sia.
Mata pria itu terangkat ketika seseorang muncul dihadapannya dari antara kegelapan. Matanya memicing mencoba memperjelas pandangannya, hingga akhirnya ia sadar bahwa pria itulah yang berada di mobilnya tadi.
"Tolong ampuni saya, saya mempunyai keluarga dan anak yang masih membutuhkan saya." Ujar pria tersebut dengan wajah ketakutan dan putus asa. Pria Spanyol itu berbicara dengan bahasa inggris pada pria di depannya.
"Katakan apa yang kau tau tentang microchip itu!" Pria tersebut terdiam seketika. Mulutnya terasa kelu. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan pria di depannya mengenai pekerjaannya yang sangat privasi dan tertutup.
Melihat keterdiam pria itu, tanpa aba-aba Kenzo mengeluarkan sebuah pistol dan langsung menodongkannya.
"Kalau kau tidak berguna, aku akan membunuhmu dan mencari orang lain." Ujar Kenzo dingin, tak suka membuang waktu berharganya.
"Sa..saya akan beritahu."
Setelah mendengar keputusan pria itu, Kenzo menurunkan pistol di tangannya dan menyimpannnya kembali.
"Berapa persen perkembangan microchip itu?" Tanya Kenzo tanpa berbasa-basi.
"Kemungkinan E..enam puluh persen." Jawabnya ketakutan.
Selama tujuh tahun berlalu dan perkembangan chip tersebut masih cukup jauh dari kata berhasil.
"Bagaimana dengan kelinci percobaan kalian?" Tanya Kenzo lagi.
"Tidak ada Subjects yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan setelah microchip ditanamkan di dalam otak mereka."
"Apa yang terjadi pada mereka?" Tanya Kenzo.
"Semuanya meninggal. Subject yang digunakan adalah orang-orang tanpa penyakit dan orang-orang yang mengalami gangguan saraf dari jaringan otak mereka." Tambah pria itu lagi.
Kenzo ingat jelas tujuan awal Adam menciptakan Microchip itu adalah untuk menyembuhkan orang-orang yang memiliki gangguan saraf pada otak. Adam mengatakan bahwa Microchip tersebut diharapkan dapat menyembuhkan penyakit saraf seperti Alzheimer dan Parkinson. Bahkan ia berharap microchip tersebut dapat merangsang kembali saraf motorik manusia yang mengalami kelumpuhan bahkan mati otak.
Lalu untuk apa mereka melakukan percobaan pada orang-orang yang tidak memiliki penyakit?
"Apa yang kalian lakukan pada orang-orang yang tidak memiliki gangguan di otak mereka?" Tanya Kenzo.
Pria tersebut kembali terdiam sambil menelan ludahnya kasar.
"Ka.. kami hanya melakukan perintah!"
Otak merupakan pusat computer dari seluruh alat tubuh manusia. Otak berperan sebagai pusat kendali tubuh dan menyusun sistem saraf pusat. Sistem saraf inilah yang bekerja sama dengan sistem saraf tepi untuk memberi kemampuan manusia dalam melakukan berbagai aktivitas, seperti berjalan, berbicara, bernafas, hingga makan dan minum. Oleh karena itulah, otak adalah alat tubuh yang paling penting.
"Orang-orang itu diuji untuk dapat dikendalikan melalui Microchip tersebut."
Kenzo terperangah mendengar ucapan pria itu. Desmond ternyata lebih gila dari yang ia pikirkan selama ini. Pria itu ingin mengendalikan manusia layaknya robot yang hanya patuh pada perintahnya.
Seorang pria lainnya datang dari kegelapan sambil memainkan Tab ditangannya dengan wajah santai, seakan tak peduli pada apapun yang terjadi disana.
"Semua sudah selesai disiapkan." Ujar Lucas angkat suara.
Kenzo menatap Lucas sekilas, lalu kembali menatap ke arah pria yang terikat di depannya.
"Kapan akan diledakkan?" Tanya Lucas santai, sedangkan pria yang terikat tersebut menatap kaget pada Lucas dengan mata melotot panik.
"Lakukan malam ini!" Ujar Kenzo.
"Okay." Kata Lucas, lalu melenggang pergi dari sana.
"Tuan, tolong jangan bunuh saya." Pria itu panik sambil menatap Kenzo dengan pandangan memohon.
"Saya sudah memberitahu anda apapun yang saya tau tentang chip itu. Saya mohon ampuni saya Tuan." Ujar Pria itu putus asa dengan air mata yang membasahi wajahnya.
"Tutup mulutmu selamanya, maka kau akan selamat." Kenzo berbicara begitu dingin dengan tatapan tajam, lalu berbalik meninggalkan tempat itu.
"Baik Tuan, Terimakasih." Jawab Pria itu cepat dengan raut wajah lega.
Bersambung....
Jangan lupa Comment dan Like
See you😘
Nah, aku mau kasih kalian pertanyaan, kalau klian bisa jawab, berarti tingkat halu dan intuisi kalian bagus🤣
Di Chapter 24, waktu Damian minta seseorang nyelidiki Crystal, ada yang tau kira-kira kakaknya siapa?
Jawab Di comment.