
Kenzo turun dari mobil, melangkah memasuki Mansionnya, lalu berjalan menuju kamarnya sehabis pulang dari markas. Ketika ia berhasil masuk ke dalam kamarnya sendiri, mata Kenzo menatap seorang wanita yang tengah berdiri di atas balkon dengan balutan dress tidurnya.
Kenzo terkejut melihat sosok Crystal berada di kamarnya. Crystal tidak pernah datang dengan kemauannya sendiri ke kamar pria itu.
Gaun tipisnya terlihat terbang terbawa oleh angin, beserta rambut panjangnya yang tergurai. Wanita itu masih belum menyadari kehadiran Kenzo.
Kenzo melepas jas yang ia gunakan, lalu melepas kancing lengan panjangnya dan melipatnya ke atas siku. Setelah itu ia melangkah ke arah balkon tanpa membuka suaranya.
Crystal menatap hamparan taman yang dihiasi oleh lampu malam yang terlihat indah dari atas balkon. Hingga akhirnya, ia tersentak ketika sepasang lengan memeluknya dari arah belakang dan mendekapnya erat.
Wangi parfum yang begitu Crys hapal seketika membuatnya kembali tenang. Kenzo meletakkan dagunya di atas pundak Crys dan ikut menatap ke arah taman.
"Ada apa?" Tanya Kenzo seakan tau suasana hati Crys saat ini.
Tangan Crys menyentuh lingkaran tangan Kenzo di depan perutnya. Ia masih diam tak membuka mulut karena ia ragu untuk membahasnya.
Kenzo pun hanya diam, menunggu agar wanita dalam dekapannya itu siap untuk berbicara. Kenzo dengan jelas merasakan sedikit getaran dari tangan Crys yang menyentuh lengannya. Mata Kenzo turun untuk melihatnya dan benar saja, tangan wanita itu terlihat gemetar pelan.
Kenzopun meraih telapak tangan Crys, menggenggamnya erat di depan lengannya yang lain, seakan memberikan kekuatan pada wanita itu.
"Apa kau benar-benar tidak membunuh orang tuaku?"
Tubuh Kenzo menegang, ia terkejut dengan perkataan Crystal, namun wajahnya sama sekali terlihat tidak berubah.
"Maaf, aku ingin percaya dengan perkataanmu waktu itu kalau kau tidak membunuh orang tuaku dengan tanganmu sendiri." Nada wanita itu mulai terdengar gemetar dan kepalanya menunduk.
"Aku hanya ingin mendengarnya lagi dari mulutmu." Kenzo merasakan bahu Crys melemas dalam pelukannya dan genggaman tangan wanita itu mengencang.
Kenzopun melepas pelukannya, lalu memutar tubuh Crys untuk menghadap dirinya. "Look at me!" Crystal mengangkat wajahnya yang terlihat memerah menahan tangis dan langsung bertemu dengan tatapan Kenzo yang menatapnya dalam.
"Tangan ini tidak pernah membunuh orang tuamu." Tangan Kenzo terulur dan menangkup kedua pipi Crys. Crystal mengangguk dan akhirnya sebulir air mata yang sejak tadi menumpuk di kelopak matanya turun dan membasahi wajahnya.
Kenzo mengusap air mata Crys dengan lembut, sedangkan tangan Crys naik untuk menggenggam kedua lengan Kenzo yang berada di pipinya.
Kenzo sudah dengar dari Levin bahwa pria itu memberikan data yang ia punya tentang project ayahnya kepada wanita di depannya itu.
"Aku mempercayaimu, aku hanya ragu dengan Kenzo."
Kenzo terdiam. Kenyataan kembali menyadarkannya bahwa dimata Crystal, ia adalah sosok Levin. Tangan Kenzo luruh dan menatap Crys dalam. Crystal mengusap sisa air matanya dengan hati yang mulai tenang.
"Kenapa kau meragukannya?" Tanya Kenzo yang terdengar dingin tak tersentuh.
"Dialah yang mempunyai masalah dengan Ayahku dan Desmond. 10 tahun yang lalu, Kenzo juga yang sedang mengusai tubuh kalian." Jawab Crystal.
Rahang Kenzo mengeras. "Kalau aku tidak melakukannya, bukankah harusnya Kenzo juga tidak melakukannya? Tangan kami sama, tubuh kami sama." Kenzo terlihat menahan emosi tidak terima atas ucapan Crystal.
"Aku tau, aku hanya ragu saja karena Kenzo selalu bersikap dingin padaku." Ujar Crystal dengan raut sedih.
Kenzo membuang nafas beratnya untuk menetralkan emosi yang mulai mempengaruhi perasaannya.
Kenzo tidak mengelak, ia mengaku selama ini ia memang selalu bersikap dingin pada Crystal, namun bukan hanya pada wanita itu, sifat Kenzo memang dingin pada semua orang. Itu memang sifat aslinya.
Crys mendengus. "Esnya sudah dilelehkan oleh Nathalie." kata Cris sambil memutar mata kesal.
Kenzo tersadar kembali, ternyata ia juga bisa bersikap hangat. Buktinya selama berpacaran dengan Nath, ia tidak dingin pada wanita itu. Ketika menemukan wanita itu setelah menghilang selama 10 tahunpun, Kenzo juga masih bersikap hangat sampai akhirnya, perhatiannya teralihkan pada sosok wanita dihadapannya sekarang.
"Lupakan mereka, aku ingin bertanya sesuatu." Ujar Crys tiba-tiba. Kenzo pun menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Apa kau sudah menemukan informasi lain mengenai peristiwa 10 tahun yang lalu? Data terakhir yang kamu berikan hanya tentang penelitian Papaku." Ujar Crys.
Kenzo menatap pancaran mata Crys yang terlihat penuh harapan dan penuh semangat, membuatnya harus berkata Iya, kalau tidak mau pancaran mata itu menghilang.
"Bagaimana kalau kita bicarakan sambil duduk?" Tanya Kenzo yang dibalas anggukan cepat oleh Crys.
Crystal duduk di atas sofa kamar Kenzo, sedangkan pria itu mengambil sebuah berkas dari lemari brangkasnya. Crys menunggu dengan tidak sabar.
Kenzo melangkah ke arah Crys dengan sebuah berkas di tangannya. "Kau masih ingat terakhir kali aku bilang bahwa Ayahmu berniat mengkhianatiku dan Desmond dengan menjual chipnya pada pesaing lain?" Crys mengangguk sambil menatap Kenzo dalam.
"Aku menyuruh Ansell untuk mencari tau dan tidak ada bukti nyata yang menunjukkan Ayahmu berniat berkhianat." Kata Kenzo sambil menyerah berkas tersebut pada Crystal.
Crystal membukanya dengan tak sabar, melihat beberapa dokumen, lampiran serta beberapa foto yang terdapat sosok Ayahnya.
"Ini adalah bukti yang Desmond berikan padaku dulu ketika ia berkata bahwa Adam mengkhianatiku." Crys menatap dengan teliti.
"Sepertinya semua bukti ini palsu dan dibuat dengan sengaja oleh Desmond." Tambah Kenzo lagi.
Tangan Crystal meremas lembaran kertas di tangannya dengan rahang mengeras. Ia terlihat sangat marah setelah mendengar penjelasan Kenzo.
Crys menatap Kenzo dengan raut emosi. "Apa tujuannya melakukan ini? Bukankah harusnya dia senang karena Papa melanjutkan project itu lagi?" Crys menuntut penuh emosi.
"Ada beberapa alasan yang Ansell dan aku pikirkan, tapi kami belum bisa memastikannya lebih lanjut." Jawab Kenzo.
Crys membuang nafasnya yang terasa berat dan dadanya yang terasa sesak, lalu menundukkan kepalanya menatap lantai sambil mengusap pelipisnya. Setelah beberapa detik seperti itu, Crys kembali mengangkat kepalanya.
"Malam itu, aku bersembunyi di dalam lemari dan melihatmu di dalam kamar sambil menondongkan pistol ke arah Mamaku. Setelah itu suara tembakan terdengar dan Mamaku sudah tergelatak di lantai, lalu Desmond datang dari arah belakangmu. Apa yang menembak Mamaku adalah Desmond?" Tanya Crys setelah menjelaskan panjang lebar sambil mengingat kejadian pahit tersebut.
Kenzo mengangguk. "Lalu Papa? Siapa yang membunuhnya? Apa Desmond juga?" Tanya Crys menggeram dengan nafas tercekat.
Kenzo kembali mengangguk, membuat bahu Crys melemas dengan tangan terkepal kuat dan bibir yang bergetar. Matanya memerah menahan tangis. Crystal sangat ingin menangis saat ini juga, tetapi rasa benci dan marah yang meluap di dalam hatinya mengalahkan rasa sedih tersebut.
Ia tidak ingin lagi menangis menyedihkan dan hanya diam tak melakukan apa-apa. Rasanya ia benar-benar ingin membunuh Desmond sekarang juga kalau ia bisa.
Crys menggigit bibirnya yang bergetar, lalu menatap Kenzo dalam dengan mata memerah.
"Aku akan melakukan apapun, asal aku bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri." suara Crys terdengar bergetar, namun tatapan matanya terlihat penuh tekad.
Melihat hal itu, Kenzo menarik Crystal ke dalam dekapannya dalam sekali tarikan. "Jangan mengotori tanganmu dengan darahnya. Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri karena sudah bermain-main dan berkhianat padaku."
Bersambung....