
Damian menatap punggung Crystal yang sedang berjalan santai di depannya. Wanita itu terlihat berseri-seri sejak tadi pagi setelah kepulangan sang tuan rumah.
Matanya menatap setiap ekspresi Crystal yang begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Wanita itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Sedih maupun senang, dia akan menunjukkannya dengan terang-terangan.
Crystal berhenti tepat di depan danau, lalu duduk di atas kursi yang sering ia tempati ketika berkunjung kesana.
Damian ikut duduk ketika lagi-lagi wanita itu menyuruhnya untuk ikut duduk bersama. Crystal sama sekali tidak pernah menatapnya rendah layaknya seorang bawahan. Wanita itu malah menjadikannya sebagai seorang teman untuk berbincang.
Ketika mata wanita itu fokus menatap pada hamparan danau, Damian malah menatap wajah Crystal dengan begitu lekat. Ia tau seharusnya dia tidak boleh memiliki perasaan apapun pada wanita di sampingnya tersebut.
Namun, setiap kali melihat Crystal, Damian selalu teringat kepada adik kecilnya—Aria. Damian selalu menyangkal bahwa perasaannya hanya sebatas tertarik biasa dikarenakan Crys mirip dengan adik perempuannya.
Senyumannya, wajahnya yang selalu cerah dan penuh semangat, sifatnya yang hangat pada semua orang, hingga matanya yang selalu berbinar, semuanya hal itu mengingatkannya pada Aria.
Karena itulah, ia tidak bisa membunuhnya 10 tahun yang lalu.
Apa jadinya ketika wanita itu tau bahwa ternyata ia adalah bagian dari kelompok Desmond, bahkan ia juga berada pada malam berdarah 10 tahun yang lalu.
Kemungkinan besar Crystal sudah lupa, tetapi Damian tidak akan pernah bisa lupa bagaimana ia membuat pilihan untuk tidak membunuh wanita itu.
Pilihan yang membuatnya berada dititik dimana ia harus kembali berhubungan dengan masa lalunya.
Flashback on
10 Years Ago
"Mama bangun! Ayo kita kabur! Mama, hiks, Crystal takut."
Suara tersebut tertangkap jelas di telinga Damian, ketika ia berjalan menyusuri seluruh kamar untuk menemukan seorang gadis belia, atas perintah Desmond. Damian melangkah ke arah sumber suara, berdiri tepat di depan pintu yang terbuka, menatap pada seorang gadis kecil yang terlihat menangis sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ibunya yang sudah kaku dan berlumuran darah.
Wajah yang penuh air mata tersebut terangkat ketika ia menyadari kehadirannya disana, lalu menatapnya dengan begitu lekat. Damian yakin bahwa gadis inilah yang dimaksud oleh Desmond.
Bibir gadis itu terlihat bergetar dengan suara tangisannya yang sesenggukan. Ia mengusap air matanya dan menatap Damian dengan wajah menyedihkan.
Matanya terlihat memerah dan air matanya tak kunjung berhenti untuk turun membasahi pipinya. "Tolong selamatkan Mamaku." desis gadis kecil itu tak berdaya dengan nada putus asa.
Dada Damian seketika terasa dihantam oleh sesuatu yang tak kasat mata. Gadis kecil itu kembali mengingatkannya pada Aria yang menangis kencang di pemakanan orang tua mereka.
Tangannya yang menggenggam sebuah pistol mulai mengerat, menguatkan diri bahwa gadis itu bukanlah adiknya.
Tangan Damian perlahan mulai terangkat sambil menodongkan pistol tersebut ke arah gadis kecil itu yang kini terduduk pasrah sambil menggenggam erat tangan Ibunya.
Rahang Damian mengeras, berulang kali menguatkan tekadnya, namun tangannya malah bergetar hebat dengan nafasnya yang mulai memburu. Mata gadis kecil itu perlahan mulai tertutup sambil memeluk tubuh ibunya.
Dor.
Tangan Damian luruh ketika satu pelurunya lepas ke arah jendela. Getaran di tangannya terhenti beriringan dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Sialan!" Desis Damian marah sambil mengusap kasar air matanya. Selama ini ia sudah berusaha mengubur masa lalu kelamnya untuk bisa terus maju dan berubah menjadi kuat.
Namun bayang-bayang itu kembali memenuhi kepalanya, yang selalu mengingatkannya atas kegagalan untuk menjaga Aria. Air matanya tak bisa lagi ia tahan untuk jatuh saat itu juga. Nyatanya, ia tidak bisa membunuh gadis kecil itu dan membuatnya menyusul Ibunya yang telah tiada.
"Pergi dari sini!" Ujar Damian dingin sambil menatap gadis itu lekat.
Tangannya lagi-lagi naik untuk menghapus air matanya yang turun tanpa permisi. Gadis itu mengangkat kepalanya, lalu menatap Damian dengan wajah bingung.
"Kalau kau masih mau hidup, pergi dari sini sekarang juga!"
Gadis kecil itu menatap tubuh Ibunya dengan wajah sedih, lalu menatap Damian lekat.
"Tolong selamatkan aku." Mohonnya.
Damianpun membantu gadis itu untuk keluar dari rumah tersebut. Ia hanya bisa membantunya sampai disini, setelah itu, gadis kecil tersebut harus bertahan hidup di dunia yang kejam ini, sama seperti dirinya yang berjuang hidup seorang diri.
Damian membantunya keluar dari jalan yang aman, agar tidak ketahuan oleh bawahan Desmond yang lainnya. Setelah sampai di area taman belakang, gadis itu menatap Damian dengan wajahnya yang sudah tidak lagi menangis.
"Mulai dari sini, pergilah keluar dari area rumahmu sejauh mungkin." Ujar Damian.
Gadis itu mengangguk. "Terimakasih sudah menolongku." Ujarnya.
Damian hanya diam tak menjawab, lalu gadis itu mulai melangkah menjauh, hingga hilang dari pandangannya.
Flashback Off.
Awalnya Damian tidak menyangka bahwa gadis kecil itu masih hidup, sampai hari dimana ia bertemu dengannya di sebuah Club. Gadis itu adalah Crystal yang bekerja sebagai pelayan disana.
Bahkan Desmond yang saat itu sudah tidak lagi memedulikan keberadaan kakak-beradik tersebut, mulai kembali tertarik ketika gadis itu diculik oleh Kenzo. Semenjak itulah, Desmond menurunkan perintah untuk mengawasi gadis itu, hingga kini ia menjadi pengawal pribadinya.
"Damian." Lamunan Damian terbuyar ketika Crystal memanggil namanya sambil melambaikan tangannya di depan wajah pria itu.
Crys menatap Damian dengan kening mengerut, dikarenakan Damian bukanlah sosok yang suka melamun seperti sekarang, padahal ia sudah memanggilnya beberapa kali.
"Ada apa? Tumben sekali kau melamun." Ujar Crys.
Damian diam seribu bahasa. "Tidak ada." Hingga akhirnya ia menjawab dengan wajah datarnya.
Mendengar jawaban singkat tersebut, Crystal pun tidak bisa memaksa Damian untuk memberitahunya. Setiap orang mempunyai masalahnya masing-masing. Cryspun kembali menatap ke arah danau dan menghabiskan waktunya disana.
***
Kenzo melangkah masuk ke dalam mansionnya setelah ia kembali dari kantor, dan jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Hari ini ia cukup lama berada di kantor, dikarenakan ia harus mengurus seluruh pekerjaannya yang sudah 5 hari tertunda.
"Sudah makan malam?" Mata Kenzo menatap ke arah Crystal yang menghampirinya dengan senyuman manis.
Kenzo mengangguk singkat. "Sudah."
"Baguslah." Ujar Crys senang karena Kenzo tidak melewatkan makan malamnya.
Kenzo melangkah menuju kamarnya beriringan dengan Crystal yang mengikutinya. Ditengah perjalanan, Crystal mencoba membuka pembicaraan diantara mereka.
"Ada yang aneh dengan Damian. Sepertinya dia lagi ada masalah." Ujar Crys.
Kenzo menoleh sebentar ke arah wanita di sampingnya itu.
"Kenapa?" Tanya Kenzo singkat.
Crystal mengangkat bahunya. "Entahlah, dia banyak melamun hari ini." Jawab Crys sambil menatap ke arah depan.
Namun tiba-tiba Crystal terdiam ketika sosok Nathalie berjalan menghampiri mereka. Langkah Kenzo dan Crys terhenti sambil menatap Nath yang juga berhenti beberapa meter dari mereka.
"Bisa kita berbicara sebentar?" Tanya Nathalie.
Crys menatap ke arah mata Nathalie yang menatap lekat manik mata Kenzo. Crys menoleh ke arah Kenzo dan mendapati pria itu terdiam sambil menatap Nathalie dalam.
Seketika dada Crys berdegup kencang beriringan dengan rasa ngilu yang datang menghantam dadanya. Crys menatap pada Nathalie yang terlihat memasang wajah datar.
"Aku ingin membicarakan sesuatu, hanya kita berdua." Tambah Nath lagi, yang berhasil membuat tangan Crys mengerat gugup.
"Katakan disini!" Ujar Kenzo dingin.
"Kau tidak akan suka jika dia mendengarnya. Kau pasti tau apa maksudku." Ujar Nath.
Kenzo terdiam, terlihat menimbang, namun jelas pria itu tau apa maksud dari wanita di depannya tersebut.
Crystal yang mengerti bahwa ucapan Nath tertuju padanya pun menatap ke arah Kenzo dengan tatapan bertanya, namun pria itu masih terlihat terdiam di tempat.
Crystal menggigit bibirnya, lalu menatap pada Nathalie yang juga terdiam. Hingga akhirnya, Crys menoleh pada Kenzo dengan wajah lembut.
"Aku akan menunggu di kamar." Ujar Crys angkat bicara ditengah keterdiaman mereka.
Kalau memang kehadirannya akan mengganggu percakapan mereka, Crystalpun berusaha tenang dan memutuskan untuk undur diri dan memberikan mereka ruang untuk berbincang. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menyakinkan dirinya sendiri untuk berpikir positif terhadap Kenzo dan mencoba mempercayai pria itu.
Kenzo menatap Crystal yang mulai melangkah menjauh, melewati sosok Nathalie yang masih memasang wajah datar di tengah koridor.
Setelah punggung Crystal menghilang dari pandangannya, Kenzo kembali mengangkat matanya dan menatap Nathalie dingin.
"Aku tidak akan berbasa-basi. Aku butuh perlindunganmu dari Desmond. Sebagai imbalannya, aku akan memberitahu informasi yang aku tau tentangnya."
Bersambung....
Nih udah aku panjangin ya, Enjoy.
Coba baca part 38 ya, part itu masih berhubungan sama flashback Crystal-Damian 10 tahun yang lalu.
Jnagan lupa comment dan like
See you 🥰