
Damian berjalan menyusuri koridor, melewati beberapa ruangan di samping kanan dan kirinya untuk menuju salah satu pintu yang akan ia datangi.
Matanya yang tajam menatap pintu di sebelah kanannya dengan lekat, lalu berhenti tepat di depan pintu tersebut dan membukanya dengan santai.
Damian masuk ke dalam tanpa membuka suaranya. Ruangan tersebut tidak terlalu terang, namun juga tidak terlalu gelap. Pencahayaannya hanya di beberapa sudut ruangan, ditambah lagi dengan nuansa tembok berwarna gelap. Damian menutup pintu tersebut, lalu berjalan mendekati sebuah meja yang terdapat kursi yang membelakanginya.
Sesaat setelah ia berdiri di depan meja tersebut, orang yang duduk di kursi itu berputar balik dan kini berhadapan mata dengan Damian.
"Kau sudah datang Damian."
Pria itu adalah Desmond Killian—Atasannya. Desmond meraih cerutu di laci mejanya, memotongnya dan menyulutnya dengan api. Desmond menyesap cerutunya dengan santai sambil menatap Damian yang masih berdiri diam tak melakukan apapun.
"Bagaimana?" Tanya Desmond mulai mengangkat suaranya.
"Dia tinggal di Mansionnya." Jawab Damian.
Desmond tersenyum miring mendengar ucapannya. "Sesuai rencana, Kenzo menyembunyikan Kakak-beradik itu di Mansionnya."
"Apa yang selanjutnya kita lakukan?" tanya Damian menatap Desmond lekat.
"Terus berhubungan dengan Allaric, dia adalah kunci agar rencana ini berhasil." ujar Desmond. Damian pun menundukkan kepalanya, pertanda bahwa ia mengerti dengan perintah pria itu.
"Dan juga, beritahu Nathalie untuk selalu meletakkan Kenzo di bawah kakinya."
"Baik." Damian menjawab singkat, lalu beranjak keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke Mansion Duanovic.
...****************...
Duanovic Mansion | 9.25 AM
Crystal memakan sarapannya dengan wajah datar. Sejak bangun tidur, ia merasa moodnya hancur karena tidak mendapati sosok yang ia kira Levin berada di kamarnya. Ia takut tubuh pria itu kembali diambil alih oleh Kenzo, padahal tanpa ia sadari, memang Kenzolah yang selama ini sedang ia hadapi.
Nath menatap lekat wajah Crystal dengan raut tak bersahabat. Setelah kejadian malam itu di lorong, Nath tidak pernah bertemu dengan Kenzo sampai hari ini.
"Apa Levin kembali mengambil alih tubuhnya?" Batin Nath kesal. Pagi harinya juga rusak setelah Damian membawa perintah dari Desmond untuknya.
Nath memotong bacon di atas piringnya dengan tatapan membunuh, menghasilkan suara gesekan antara pisau dan piring yang terdengar mengilukan telinga.
Crys beralih menatap Nath yang terlihat memakan sarapannya dengan penuh amarah. Ia tidak ingin menanyakan apapun pada Nathalie dan akhirnya kembali memakan sarapannya dalam diam.
Sedangkan dilain sisi, Kenzo duduk di dalam ruang kerjanya dengan tatapan tajam dan dingin tak tersentuh.
Pria itu terlihat duduk dengan tenang, namun aura disekitarnya terasa mencekam dan gelap.
Beberapa detik kemudian, pintu ruangannya terbuka dan menampilkan sosok pengawalnya yang sedang menyeret seorang pria ke dalam.
Mata Kenzo tak menoleh sedikitpun, hingga pengawalnya membawa pria itu ke depan matanya sendiri.
Kenzo menatap tajam pada Allaric yang ikut menatapnya nyalang setelah diseret paksa ke ruangan pria itu.
"Apa maumu?" Tanya Aric penuh kebencian.
"Dengan tangan mana kau menamparnya?" Tanya Kenzo dingin masih dengan wajah datar tak tersentuh.
Aric mematung terdiam setelah mendengar ucapan Kenzo. Ia terlihat menunduk dengan wajah bersalah, sedangkan Kenzo terlihat tak peduli sama sekali dengan lonjakan emosi pria itu.
Pengawal yang menyeret pria itu tiba-tiba menarik paksa kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja Kenzo, tepat di hadapan pria itu.
"Lepas!"
Aric terlihat memberontak, namun kekuatannya bahkan tidak sebanding dengan pengawal berbadan besar tersebut.
Kenzo mengulurkan tangannya ke dalam laci mejanya, meraih sesuatu dari dalam sana dan mengeluarkannya.
Wajah Aric seketika memucat melihat sebuah belati berada dalam genggaman tangan Kenzo. Pria itu semakin memberontak kencang, namun semua yang ia lakukan ternyata sia-sia.
"Tangan kananmu bukan?" Ujar Kenzo sambil melepaskan belati tersebut dari sarungnya.
Aric mencoba mencerna perkataan Kenzo dalam kondisi panik. "Dia selalu mengatakan merindukan kakaknya, namun ini yang ia dapatkan setelah bertemu denganmu."
Dada Aric terasa menyesak mendengar ucapan Kenzo tentang adiknya. Semalaman Aric bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan Crystal. Ia sangat ingin mendatangi Crys, memohon maaf dan memeluk adik perempuannya itu dengan erat.
"Ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak menculik adikku." Aric menatap tajam Kenzo dengan bibir bergetar.
Aric membenci pria itu, sangat membencinya hingga ingin membunuhnya saat ini juga.
"Aku tidak akan menculiknya jika dia tidak berniat membunuhku." Jawab Kenzo datar.
"ITU KARENA KAU MEMBUNUH ORANG TUA KAMI SIALAN." Teriak Aric kesetanan.
Kenzo tak membuka suara. Ia sama sekali tidak berniat membahas masa lalu, yang ingin ia lakukan sekarang hanya memberikan pria di depannya itu pelajaran karena sudah menyentuh miliknya.
"Apa kau pantas berteriak disaat kau sendiri berkomplot dengan pembunuh orang tuamu?" Aric menatap tajam, mencoba tak terpengaruh oleh ucapan pria itu.
"Kau pikir omong kosongmu bisa mencuci otakku seperti yang kau lakukan pada adikku?" ucap Aric menyunggingkan senyum miring menantang.
"Menyedihkan, harusnya 'Kau' tidak membawanya ke tempatku." ujar Kenzo pada sisi lain dari dirinya—Levin, yang tidak pernah tertidur walaupun Kenzo yang sedang berkuasa.
Kenzo menatap tajam Aric. "Jika kau ingin jatuh ke dalam jurang, jatuhlah seorang diri, jangan menariknya ikut jatuh bersamamu." Ujar Kenzo dingin penuh ancaman.
Aric mengerti yang dimaksud Kenzo adalah adiknya sendiri—Crystal. "Apa bedanya dengan jatuh ke dalam kandang singa?" Aric menatap Kenzo dengan penuh kebencian.
"Singa tidak akan menyerang jika tidak ada yang mengusik area kekuasaannya." balas Kenzo yang berhasil membuat Allaric terdiam.
"Dan sekarang kau akan tau bagaimana seekor singa mencabik-cabik mangsanya." Kata Kenzo dalam, lalu mengangkat belati di tangannya ke atas udara sambil menatap tangan pria itu yang berada di atas mejanya.
Tok..tok..tok
"Levin, kau di dalam?"
Mata Kenzo seketika langsung menoleh ke arah pintu dan tangannya terhenti di udara. Telinganya mendengar jelas suara Crystal dibalik pintu ruangannya.
"Levin?"
Aric ikut menoleh ke arah pintu dan hendak memanggil nama Crys dengan lantang, namun segera dihentikan oleh pengawal di belakangnya yang sigap menutup mulutnya rapat dengan telapak tangan besarnya.
Kenzo meletakkan belatinya di atas meja, lalu bangkit dari kursi sambil merapikan kemejanya dan mengancingkan jasnya. Kenzo menghentikan aksinya karena bisa saja suara teriakan Aric terdengar hingga keluar jika ia melanjutkannya.
"Bawa dia kembali setelah aku pergi!" titah Kenzo.
"Baik Tuan."
Kenzo melangkah menuju pintu, membukanya pelan dan mendapati Crystal yang terlihat memasang wajah khawatir.
Kenzo kembali menutup pintu ruangannya, sedangkan Crystal menatapnya dalam sambil meremas jari-jarinya.
"Kau masih Levin bukan?" Tanya Crys gugup.
Kenzo menatap Crys dalam. "Menurutmu?" Crystal menatap mata Kenzo yang terlihat begitu dalam menatapnya dengan sorot penuh makna.
"Jangan menakutiku!" Ujar Crys takut.
Kenzopun merilekskan ekspresi wajahnya, lalu melempar senyum tipis pada wanita itu, yang berhasil membuat Crys bernafas lega.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Crys.
"Hmm." Jawab Kenzo sangat singkat, padat dan jelas.
Kenzo melangkah menjauhi ruangannya, diikuti oleh Crystal yang berjalan beriringan di sampingnya. Mata Crys menelisik tubuh Kenzo dari bawah hingga ke atas yang sudah terlihat rapi dengan suitnya.
"Boleh aku ikut ke kantor? Aku sudah lama tidak bertemu dengan Karina." Ujar Crys yang tiba-tiba semangat melihat Kenzo yang terlihat sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Sejak kapan kau berteman dengan Karina?" Tanya Kenzo.
"Sejak pertama kali aku ikut denganmu ke kantor. Karina sangat baik, dia juga sangat cantik. Apa kau tau kalau ternyata dia menyukaimu?" Tanya Crys menatap wajah samping Kenzo lekat. Pria itu masih memasang wajah datar sambil terus melangkah menuju kamarnya.
"Ohh." Crys tercengang mendengar jawaban singkat yang keluar dari mulut pria itu.
"Apa kau serius mendengarkanku?" Ujar Crys kesal dengan sikap dan jawaban singkat Kenzo.
Langkah Kenzo terhenti, lalu menatap Crystal lekat. "Kau mau aku bahagia mendengarnya?" Tanya Kenzo.
Crystal terdiam tak bisa menjawab. Sosok yang ia kira Levin itu selalu berhasil membuatnya serba salah. Tentu saja ia akan cemburu jika pria itu terlihat gembira.
Tangan Kenzo perlahan terulur dan mengusap pipi kiri Crys yang terlihat sudah mendingan daripada semalam. Seketika Kenzo menggeram, padahal tinggal sedikit lagi ia berhasil memberikan Aric pelajaran karena sudah menyentuh miliknya.
"Kau tidak suka bukan?" Tanya Kenzo lagi yang berhasil membuat wajah Crys sedikit merona karena tidak ingin mengakui perasaannya.
Kenzo menatap setiap ekspresi wanita di depannya dengan begitu teliti. Ia bahkan manangkap jelas semburat merah di pipinya, hingga bagaimana Crys menggigit bibirnya karena malu.
Tangan Kenzo yang bebas seketika menarik cepat punggung Crys hingga tubuh wanita itu menabrak badan depannya.
Crys terlonjak kaget sambil sedikit mendongak menatap wajah Kenzo yang begitu dekat dengannya.
Ia bisa merasakan jempol Kenzo perlahan mengusap bibirnya bawahnya lembut, lalu menyatukan kening mereka, hingga hidung mereka bersentuhan satu sama lain dengan nafas menderu.
Binar mata mereka saling menatap satu sama lain dengan begitu dalam. Kenzo menatap Crys dengan tatapan memuja, masih sambil mengusap bibir wanita itu.
Crystal ikut terdiam, lalu senyum tipis penuh kelembutan terbit dari bibirnya. Crystal meneguhkan hatinya, mengulurkan kedua tangannya untuk melingkari leher pria itu sambil memiringkan wajahnya dengan kaki menjinjit.
Bibir lembutnya menabrak bibir Kenzo yang terlihat menggoda. Tangannya memeluk erat leher pria itu sambil saling memangut satu sama lain. Tangan Kenzo menarik punggung Crys semakin dekat, lalu tangannya yang lain menarik tengkuk wanita itu untuk memperdalam tautan mereka.
Kenzo benar-benar sudah terlarut dalam perannya. Dia sudah semakin gila tanpa ia sadari. Akal sehatnya menghilang dan dia sadar, bahwa dia sudah terjatuh pada jebakan yang dia buat sendiri.
Ansell benar, seharusnya dia tidak bermain api jika tidak ingin terbakar.
Bersambung....