Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 60



Sore itu Crys duduk di bangku taman Mansion, dimana ia sering mencari udara segar ketika pikirannya berkecamuk. Matanya memandang ke arah air mancur berisi ikan-ikan cantik, namun tatapannya terlihat kosong.


Setelah Levin diambil alih oleh Kenzo, Crystal merasakan perasaan itu lagi. Perasaan yang selalu ia rasakan setelah sampai di Mansion ini semenjak hari pertama — Kesepian.


Rose sudah tidak ada, Damian juga, Kenzo sibuk dengan Nath dan hanya ada dia seorang diri di sini. Crystal melipat kedua lututnya di depan dada dengan kedua tangannya di atas lutut.


Kepalanya menunduk di antara lipatan tangannya yang berada di atas lututnya. Pikirannya berkecamuk sejak tadi pagi. Ia berusaha menghilangkannya dengan berbagai cara termasuk pergi ke taman ini, namun hal itu tidak membantu sama sekali.


"Kenapa kau harus menghilang setelah kejadian semalam." desis Crys sangat pelan dan hanya terdengar oleh dirinya sendiri.


"Apa aku terlalu jahat sampai tidak ingin Kenzo mengambil alih tubuh yang memang miliknya." Batin Crys.


"Huhh, kau memang jahat Crys, bahkan sejak awal kau berniat membunuhnya." Batinnya lagi menertawakan dirinya sendiri yang kini terlihat menyedihkan.


"Nona."


Crys mengangkat kepalanya tak berminat. Matanya menatap seorang pelayan yang datang mencarinya.


"Tuan Duanovic menyuruh anda untuk datang ke ruangannya." ujar pelayan tersebut.


Crys terkejut. Sekarang dia sedang tidak ingin melihat dan menemui pria itu. Melihat pria itu akan selalu mengingatkannya pada kejadian semalam dan kepada Levin. Untuk apa pria itu mencarinya? Crys menurunkan kakinya ke atas tanah.


"Kau tidak salah dengar? Dia memanggilku? Bukan Nathalie?" tanya Crys bertubi-tubi.


"Tidak Nona, Tuan memang mencari anda." Jawab pelayan tersebut.


"Baiklah." Crystal pun beranjak dari kursi taman dan berjalan bersama pelayan tersebut menuju ruangan Kenzo.


Crystal menatap pintu besar di depannya dengan ragu. Tangannya perlahan terangkat dan mengetuk pintu tersebut dua kali, lalu membukanya dengan pelan.


Cryspun masuk ke dalam dan menutup kembali pintu tersebut dengan pelan. "Ada apa?" tanyaku tanpa berbasa-basi.


Crystal menyadari di dalam ruangan tersebut terdapat Damian yang berada di samping Kenzo. Kenzo yang sedang membaca berkas di atas mejanya, langsung memberikan perintah pada Damian yang berada di sampingnya tanpa menatap pria itu tersebut.


"Bawa dia kemari!" Titah Kenzo.


Crys hanya berdiri sambil memperhatikan apa yang terjadi di depannya. Tanpa jawaban apapun, Damian hanya menunduk patuh, lalu keluar dari ruangan setelah mendapat perintah dari Kenzo.


Siapa yang akan Kenzo bawa ke ruangan ini?


"Duduk!" Kata Kenzo dengan nada datar dan dinginnya, masih tidak mengalihkan matanya dari berkas di atas meja.


Crystal pun tidak ingin ambil pusing dan memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Kenzo hanya duduk diam tak membuka suara, masih dengan mata yang lekat pada berkas tersebut. Crystal mencoba untuk tidak menatap Kenzo, namun akhirnya mata wanita itu tidak bisa tahan untuk tidak menatap ke arah Kenzo yang sibuk dengan dunianya.


Crys menatap lekukan wajah Kenzo yang sempurna dan ingatan semalam lagi-lagi melintas di kepalanya. Bagaimana dekatnya wajah Levin dan nafasnya yang terengah menerpa wajahnya. Crystal menggeleng cepat dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


10 menit Crys menunggu dalam keheningan, akhirnya suara pintu kembali terbuka, membuat Crys refleks menoleh ke arah pintu dengan wajah penasaran.


Mata Crys membulat seketika dan mulutnya terbuka kaget. Gadis itu sontak berdiri sangat cepat dengan mata berkaca-kaca sambil menutup mulutnya yang mulai mengeluarkan isakan.


"Crystal." Suara itu memanggil namanya dengan lembut dan tatapannya yang terlihat sendu. Saat itu juga tangis Crys pecah.


"Kakak."


Crystal berlari menuju kakaknya, melempar tubuhnya ke dalam dekapan Aric yang dengan ajaibnya kini berada di hadapannya. Crys menangis tak tertahan, sedangkan Aric memeluk erat adik satu-satunya tersebut yang sudah lama menghilang.


Aric juga terlihat menitikkan air matanya penuh kerinduan sambil mengelus rambut panjang Crystal dengan lembut.


"How?" Tanya Crystal masih menangis tidak percaya ia bisa bertemu kakaknya lagi.


Kedua kakak-beradik tersebut terlihat berpelukan, tak menghiraukan sosok Kenzo yang masih berada di dalam ruangannya sendiri.


"Seseorang menyelamatkanku dan membawaku kemari." jawab Aric.


Crys menutup matanya erat, menyandarkan kepalanya di bahu Aric dengan tangisan yang mulai mereda.


"Tenang dulu okay, kakak akan menceritakan semuanya padamu." Ujar Aric menenangkan adiknya.


"Kau sudah bertemu kakakmu, sekarang Keluar! Aku akan berbicara berdua dengannya." Ujar Kenzo yang tiba-tiba angkat bicara dengan nada dinginnya, memecah suasana hangat yang sedang dirasakan kakak-beradik tersebut.


"Kenapa aku harus keluar?" tanya Crys.


Kenzo menatap Crys tajam. "Aku tidak suka mengulangi perkataanku." jawab Kenzo sangat dingin dan tak bersahabat.


Melihat wajah datar Kenzo dengan tatapan tajamnya membuat Aric langsung mendapatkan alarm peringatan di kepalanya. Ia menatap Crystal dan menggenggam tangan adiknya erat.


"Crys, pergilah dulu! Kita akan bertemu lagi." ujar Aric menatap Crys lembut, sedangkan kening Crys mengernyit khawatir.


"Janji?" Tanya Crys ragu, namun mencoba mempercayai perkataan Aric.


Aric tak menjawab, namun mengangguk dengan senyum lembut dan tipisnya. Crystal pun melepas tangannya dari Aric, menatap kakaknya sebentar, lalu melangkah menuju pintu.


Sebelum menutup pintu, Crys menatap pada Kenzo yang terlihat tak tersentuh dan sangat dingin. Hal itulah yang membuatnya khawatir.


***


Crystal berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil meremas jari-jarinya dengan wajah khawatir. Crys tadinya ingin menunggu di depan ruangan Kenzo, namun pengawal pria itu menyuruhnya untuk menunggu di dalam kamarnya.


Hingga malam menyambut, Crys belum mendengar kabar apapun. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk beberapa kali dan seorang pelayan wanita masuk ke dalam dengan menundukkan kepalanya.


"Nona, Tuan Duanovic menyuruh saya untuk membawa anda ke kamar kakak anda." Ujar pelayan tersebut yang langsung dijawab Crys dengan penuh ketidaksabaran.


"Ayo, antar aku!" Ujar Crys tak sabar.


"Mari Nona." 


Crys mengikuti langkah demi langkah pelayan di depannya sambil mencoba mengingat jalan tersebut agar ia bisa pergi sendirian di waktu selanjutnya.


"Crys." Crystal menoleh ke sumber suara dan mendapati Nathalie yang memanggilnya dari arah belakang.


Langkah Crys terhenti sejenak, namun batinnya sudah menggurutu kesal melihat Nathalie. Nath berlari kecil ke arahnya. "Kamu mau kemana?" Tanya Nath setelah sampai di depan Crys.


"Menemui seseorang." jawab Crys singkat dan padat. 


"Ahh, apa pria yang ditemui Kenzo hari ini di ruangannya? Kata Kenzo dia adalah kakakmu." ujar Nath memasang wajah cerianya yang membuat Crys muak entah karena apa.


"Iya." Jawab Crys singkat.


"Boleh aku ikut? aku ingin berkenalan dengan kakakmu." ujar Nath. Crys sangat ingin menolak, namun dengan alasan apa ia harus menolak wanita di depannya ini? ditambah ia tidak ingin membuat Kenzo marah padanya jika ia membuat Nath sedih tanpa alasan. 


Crys pun mengangguk pelan dengan wajah tak rela, sedangkan Nath tersenyum senang dan ikut melangkah bersama Crys dan pelayan wanita tersebut. Mereka berhenti di sebuah pintu yang ternyata lumayan jauh dari kamarnya. 


"Kita sudah sampai Nona." Crys mengucapkan terimakasih sambil mengetuk pintu di depannya dengan semangat. 


"Kak, ini Crys." Pintu di depan Crystalpun terbuka menunjukkan sosok Aric yang sudah rapi sambil tersenyum manis. Mata Aric ikut tertuju pada seorang wanita yang berdiri di samping Crys sambil memasang wajah ramah penuh senyuman.


Menyadari kakaknya menatap Nathalie, Crys pun segera mengenalkan Nath pada kakaknya. Namun belum sempat Crys mengenalkannya, Nath sudah lebih dulu mengulurkan tangannya dengan senyum ramah.


"Hai, namaku Nathalie, aku temannya Crystal." Ujar Nath. Aric membalas uluran tangan Nath dengan wajah tak terbaca, sedangkan Crystal menatap Nath jengah.


"Aric, Kakaknya Crystal." Nath menurunkan tangannya setelah Aric membalas uluran tangannya masih dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya.


"Kita bicara di dalam aja ya." kata Aric yang dibalas anggukan oleh Crystal dan Nath.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Aric pada Nathalie.


"Iya." Kening Aric mengerut mendengarnya.


"Kamu ada hubungan apa sama Kenzo?" tanya Aric langsung.


"Aku Kekasihnya Kenzo." Aric terkejut dengan wajah datarnya, namun akhirnya ia memasang senyum miringnya.


"Baguslah kalau begitu."


Crys yang mendengar ucapan kakaknya merasa sangat ganjal. Kenapa kakaknya terlihat bersyukur dan lega bahwa Nathalie adalah kekasih Kenzo. Perasaan mengganjal itu membuat hatinya terasa sedikit nyeri entah karena alasan apa.


Bersambung.....