
Crystal mengerjabkan matanya perlahan ketika ia merasakan sebuah gerakan halus menyusuri permukaan wajahnya. Ia juga bisa merasakan ada sesuatu di atas tubuhnya yang membuat ia kesulitan bergerak.
Perlahan mata gadis itu terbuka lebar dan menampilkan sebuah senyum miring menyeramkan tepat di depan wajahnya.
"You miss me, Sweety?" Kening Crystal berkerut dan akhirnya menyadari bahwa sosok dihadapannya ini adalah sosok yang akhir-akhir ini tidak ia temui.
"Levin."
Pria di atasnya itu tersenyum puas ketika Crystal menyadari bahwa dirinya bukanlah Kenzo. Levin menindih tubuh Crystal dengan tubuh kekarnya dan menatap wajah cantik gadis itu yang diterangi oleh cahaya bulan dan lampu tidur.
"Minggir, kau berat!" kata Crystal kesusahan sambil memukul dada keras pria itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." kata Levin menatap Crys yang kini mendengus.
"Tidak, aku tidak merindukanmu. Now, can you move?"
Levin tertawa kecil melihat ekspresi kesal Crys yang terlihat datar seakan pasrah menghadapi sikapnya. Matanya perlahan turun menatap bibir ranum Crys yang terlihat basah dan mengkilap, membuat hasratnya melonjak untuk segera mencicipi bibir manis itu.
Crystal menangkap jelas tatapan mesum Levin pada bibirnya. Ia segera menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
"Apa yang kau lihat?" kata Crys tajam.
Levin berganti menatap mata berbinar Crystal dengan senyum nakalnya. "Your sweet lips." jawabnya frontal.
Crystal menatap sinis, lalu kakinya bergerak menendang pria itu dari atas tubuhnya.
"Dasar mesum."
Levin tertawa, lalu menyingkir dari atas tubuh gadis itu dan duduk di atas ranjang. Crystal dengan sigap ikut duduk dari posisi tiduran yang terlihat membahayakan.
"Kenapa kau bisa menguasai tubuh Kenzo? Apa dia sedang marah besar?"
"Tidak. Dia hanya perlahan demi perlahan mulai melemah untuk mengontrol tubuhnya sendiri."
"Ini masih pukul 3 pagi. Dia pasti kelelahan dan butuh istirahat. Dia tidak pulang beberapa hari belakangan dan selalu pulang larut malam, aku rasa dia sangat sibuk dengan pekerjaannya." kata Crystal menatap Levin lekat.
"Baguslah, semakin dia lemah, semakin kuat aku untuk menguasai tubuhnya."
"Maksudku tubuh ini." kata Crystal menunjuk dada pria itu dengan telunjuknya.
"Tubuh ini butuh istirahat. Tubuh ini pasti kelelahan untuk menampung dua jiwa."
Levin menatap gadis di depannya yang memasang wajah polos seakan Levin bukanlah mahluk menyeramkan seperti yang orang-orang lihat dari dirinya.
"Beristirahatlah, aku juga akan melanjutkan tidurku yang kau ganggu." kata Crystal menggerakkan tangannya layaknya mengusir dan bersiap untuk tidur kembali.
Levin menangkap tangan gadis itu dengan gerakan sangat cepat, menarik tengkuknya dan menabrak bibir yang sejak tadi benar-benar menghilangkan akal sehatnya.
Crystal tersentak dengan mata membulat ketika benda lembut dan panas itu bergerak di atas bibirnya dengan menggebu-gebu. Bibir pria itu seakan ingin memakan bibirnya hingga habis tak tersisa.
Pikirannya melayang merasakan permainan bibir Levin yang begitu menuntun. Rasanya seluruh tenaganya tersedot dan membuatnya tidak bisa memberontak dan jatuh dalam pelukan pria itu.
"Awss." Crystal meringis saat Levin menggigit bibirnya hingga darah perlahan mulai mengalir.
Saat gadis itu meringis, saat itu pula lidahnya yang liar menerobos masuk untuk semakin menjelajahi Crystal.
Tidak ingin kegiatan tersebut semakin liar dan hilang kontrol, Crystal dengan sembarang melayangkan kakinya hingga menendang perut pria itu kuat.
"Agh." Levin meringis menjauh sambil memegang perutnya, sedangkan Crystal mengusap kasar bibirnya dengan punggung tangannya.
"Kau bisa kesakitan juga ternyata." desis Crystal mencebik kesal.
"Keluar!" kata Crys masih dengan wajah memerah karena bayangan ciuman panas tersebut yang masih terekam jelas di kepalanya.
Levin menarik tangan Crystal hingga tubuh gadis itu jatuh di atas tubuhnya yang kini terbaring di ranjang. Crystal tersentak kaget, lalu berusaha melepaskan diri, namun Levin malah memeluk tubuhnya begitu erat.
"Levin, lepas, aku se...sakhh." kata Crystal menggeliat tak nyaman seakan tubuhnya siap untuk diremukkan oleh kekuatan monster Levin.
"Aku tidak akan memelukmu seerat ini jika kau tidak memberontak." kata Levin santai, sedangkan Crystal sudah sangat tersiksa di dalam dekapan pria itu.
Crystalpun mau tidak mau berhenti menggeliat seperti ulat dan terdiam seperti patung di atas tubuh Levin.
Levin tersenyum kemenangan, lalu sedikit melonggarkan pelukannya.
"Tidurlah." bisik Levin lembut di telinga Crystal.
Tubuh Crystal bergetar hebat seperti ada aliran listrik yang mengalir dari bisikan pria itu ke seluruh tubuhnya. Wajah gadis itu mulai memerah kembali.
"A.. aku tidak bisa tidur kalau posisinya seperti ini." kata Crystal gugup.
Levin melihat seluruh ekspresi wajah Crys yang terlihat polos dengan semburat merah di pipinya. Betapa menyenangkannya menggoda gadis polos di depannya ini.
Levinpun menggeser tubuhnya menyamping sehingga tubuh Crystal berpindah ke kasur dan mereka berbaring berhadapan dengan begitu dekat.
"Sekarang tidur!" kata Levin lagi sambil menutup matanya, sedangkan Crystal mencoba untuk ikut tertidur dengan posisi tersebut.
Crystal berusaha sedikit melonggarkan pelukan Levin karena kini jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Dia takut debaran jantungnya bisa dirasakan oleh Levin yang begitu dekat dengannya.
Gadis itu mendongak demi melihat wajah Levin yang damai dengan mata tertutup. Apa pria itu sudah tidur? Secepat itu?
"Kau masih tidak menutup matamu." Crystal tersentak saat Levin berbicara dengan mata tertutup seakan pria itu memiliki mata lain yang bisa melihat keadaan sekitar.
"Aku tidak bisa tidur lagi."
Levin tidak menjawab dan masih menutup matanya. Crystal bisa melihat jelas bahwa pria itu kelelahan dan butuh istirahat. Crystalpun memutuskan untuk diam dan berusaha menutup matanya masih dengan debaran tak nyaman di dadanya.
Sampai akhirnya, tanpa sadar gadis itupun terlelap di dada bidang Levin bersama dengan sosok Levin yang juga ikut tertidur damai.
***
Crystal mengerjabkan matanya saat cahaya matahari pagi menyengat kulit wajahnya.
"Eugh." Crystal mendengus tak suka, lalu meraih selimut untuk menutupi wajahnya yang terkena cahaya matahari.
"Tutup gordennya!" desis Crystal serak dengan wajah mengkerut dibalik selimut.
"Crys, ayo bangun, Kenzo sudah menunggu di meja makan."
Crystal semakin mengerutkan wajahnya saat tubuhnya digoyangkan layaknya gempa.
"Aku ngantuk."
Masih dengan nada serak, Crsytal semakin menyembunyikan dirinya di bawah selimut.
"Ck." orang tersebut mendecak, lalu menarik selimut gadis itu ke lantai. Mau tak mau Crystal membuka matanya dan mendapati sosok Nathalie di dalam kamarnya.
"Ayo bangun." Nathalie dengan kesal menarik tangan gadis itu agar beranjak dari atas ranjangnya.
Dengan tubuh lotoy seperti jelly, Crystal mencoba mengumpulkan kesadarannya dengan duduk di atas ranjang.
"Tidak perlu mandi! Aku tunggu di bawah." kata Nath sebelum akhirnya tenggelam ditelan pintu.
Crys menoleh ke sebelah ranjangnya dengan kening mengernyit. Apa semalam dia hanya mimpi? Ia menggeleng cepat dan beranjak dari atas ranjangnya.
Gadis itu menuruni anak tangga dengan wajah bantalnya dan langkah tak bersemangat ke arah meja makan. Ia berjalan dengan mata setengah tertutup, lalu duduk di kursi yang biasa ia tempati dan menatap ke arah Nath dan Kenzo yang berada dihadapannya.
"Ayo makan!" Crystal mendesis singkat, lalu memakan sarapannya dalam diam.
Dalam kegiatan makannya, Crystal merasakan keheningan yang begitu aneh. Biasanya Kenzo dan Nathalie akan berbincang ringan layaknya sepasang kekasih, kenapa sekarang terasa begitu sunyi?
Crystalpun mendongakkan wajahnya dan mendapati Kenzo yang menatapnya dengan begitu lekat. Pria itu menatapnya begitu dalam yang berhasil membuat kening Crys mengernyit.
Sampai akhirnya senyum miring muncul di bibir pria itu yang berhasil membuat mata Crys membulat.
"Levin."
Bersambung...
Next : Lusa