
Crystal dan Kenzo kini tengah berada di dalam mobil menuju Mansion mereka, setelah pulang dari kediaman Raveno. Sepanjang perjalanan, suasana hati Crystal terlihat sangat baik, ditandai dengan senyumnya yang tak pernah luntur setelah pulang dari sana.
Kenzo menatap wajah ceria Crys, lalu mulai membuka suaranya. "Aku akan pergi ke Barcelona selama beberapa hari." Ujarnya tiba-tiba.
Crystal yang tadinya sedang fokus dengan pemandangan di luar jendela, seketika menoleh ke arah Kenzo.
"Kapan?" Tanya Crys heran dengan kening berkerut.
"Malam ini." Jawab Kenzo.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Ada bisnis yang harus kuurus secepat mungkin."
Crystal terdiam. Raut wajah yang tadinya ceria dan cerah, kini terlihat sayu.
"Berapa lama?" Tanya Crys.
"Mungkin satu minggu." Jawab Kenzo.
"Selama itu?" Kenzo hanya mendehem singkat.
"Apa aku boleh ikut?" Tanya Crys frontal dengan mata berbinar, berharap agar Kenzo membawanya.
"Tidak, Ansell akan mengawasimu di Mansion." Ujar Kenzo menatap Crys lekat dengan raut wajah tak terbantah.
Bahu Crystal seketika luruh mendengar ucapan pria itu. Kepalanya menunduk dengan raut sedih, sedangkan Kenzo tetap tegas dengan pendiriannya.
"Bagaimana kalau aku merindukanmu?" Desis Crys pelan, hampir seperti berbisik, namun masih terdengar jelas oleh telinga tajam Kenzo.
"Kau bisa memberitahukannya pada Ansell dan dia akan memberitahuku." Jawab Kenzo santai, sedangkan Crys malah kesal mendengar ucapan pria itu.
Crys mengangkat kepalanya dan menatap Kenzo tajam. "Ucapanmu sungguh-sungguh tidak masuk akal. Apa kau lebih suka mendengar Ansell mengatakan aku merindukanmu daripada kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri?" Tanya Crys geram.
"Tentu saja tidak." Jawab Kenzo dengan wajah datarnya.
"Lalu untuk apa aku memberitahunya? Lagipula, mana mungkin aku bisa memberitahu hal memalukan seperti itu, aku tidak terlalu dekat dengannya." Ujar Crys panjang lebar.
"Lagipula aku akan sulit dihubungi selama aku pergi." Ujar Kenzo yang lagi-lagi membuat hati Crys mencelos mendengarnya.
"Kalau begitu, aku tidak akan merindukanmu selama kau pergi." Ujar Crys kesal, lalu membuang wajahnya ke arah jendela mobil.
Selama perjalanan, Crys masih terus bertahan dengan sikap dinginnya dan wajah kesalnya. Sedangkan Kenzo tidak ambil pusing dengan sikap wanita itu, hingga akhirnya mereka sampai ke Mansion.
***
Crystal dan Kenzo kini sedang makan malam bersama, sebelum Kenzo berangkat menuju bandara. Kenzo sudah terlihat rapi dengan setelan jasnya, dan kini ia sedang memakan makan malamnya dengan begitu tenang.
Crys sesekali menatap pada Kenzo yang terlihat begitu tenang. Jujur saja Crys kesal melihat sikap tenang pria itu, seakan ia tak masalah meninggalkannya selama beberapa hari.
Apa hanya dirinya saja yang terlihat kesal dan tidak rela ditinggalkan pergi? Crys menggeram, lalu memotong steak di atas piringnya dengan begitu brutal.
Kenzo menatap ke arah Crys ketika mendengar gesekan pisau dan piring yang begitu keras. Ia menyadari bahwa Crys masih kesal padanya.
"Selama aku pergi, aku membebaskan kakakmu untuk berkeliaran di dalam Mansion." Ujar Kenzo yang tiba-tiba mengangkat suaranya.
Crys langsung menatap Kenzo dengan mata membulat tak percaya. Seketika rasa kesalnya lenyap entah kemana, digantikan dengan raut wajah kagetnya.
"Benarkah?" Tanya Crys tak percaya.
Kenzo mengangguk. "Gunakan waktumu sepuasnya untuk bersenang-senang." Ujar Kenzo lagi sambil meletakkan pisau dan garpunya di atas piring, menandakan bahwa ia sudah selesai makan.
Mata Crys berbinar kagum menatap Kenzo, namun binar tersebut seketika hilang ketika Kenzo bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Sudah mau pergi?" Tanya Crys.
Crys langsung bangkit berdiri dengan wajah sedih. Kenzo mengangguk pada pengawalnya sambil merapikan jasnya.
"Habiskan makananmu, aku akan pergi sekarang." Ujar Kenzo pada Crys.
Crys menggeleng. "Aku akan mengantarmu sampai ke depan." Ujarnya sambil melangkah keluar dari kursi meja makan.
Kenzo tidak menolak dan membantah, lalu ia melangkah keluar dari rumah, diikuti oleh Crys yang berjalan berdampingan di sampingnya.
Crystal dan Kenzo berhenti tepat di depan pintu. Wanita itu menatap Kenzo lekat dengan binar mata sayu nya yang terlihat sedih.
"Jangan memasang wajah seperti itu, bukankah kau bilang tidak akan merindukanku?" Kenzo menatap Crystal yang kini cemberut mendengar perkataannya.
"Kau tau itu bukan maksudku." Ujar Crys cemberut.
Kenzo meraih tubuh Crystal ke dalam pelukannya, lalu mengecup singkat puncak kepala wanita itu dengan lembut.
"Aku tidak masalah kalau kau tidak merindukanku, biar aku saja yang merindukanmu." Bisik Kenzo di telinga Crystal.
Dada Crys berdetak begitu kencang. Ucapan Kenzo berhasil membuat hatinya membuncah bahagia dan terharu, hingga ia tidak bisa menahan diri untuk membalas pelukan pria itu dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada Kenzo.
Sepasang manusia itu berpelukan begitu erat di depan pintu, menghiraukan keberadaan para pengawal dan supir yang sejak tadi sudah berada disana.
"Kalian menyakiti mataku."
Crys dan Kenzo menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok Ansell yang baru saja datang, dan langsung disuguhkan dengan pemandangan kemesraan sepasang kekasih yang membuatnya muak.
"Sungguh menakjubkan bisa melihatmu menjadi seperti ini Kenzo." Tambah Ansell lagi. Kenzo dan Crys melepaskan pelukan mereka.
"Lakukan saja tugasmu dengan benar Ansell." Ujar Kenzo sambil melangkah mendekati mobilnya.
Sang supir dengan sigap membuka pintu mobil penumpang.
"Pertama Davin dan sekarang kau. Sial sekali aku selalu berurusan dengan masalah percintaan orang lain." Ujar Ansell mendecak kesal, lalu melangkah memasuki Mansion Kenzo.
Kenzo pun masuk ke dalam mobil, lalu pintu tersebut ditutup oleh sang supir dan ia masuk ke area pengemudi. Crys melambai singkat ketika mobil yang Kenzo naiki mulai menjauh pergi dari teras Mansion.
Setelah mobil tersebut hilang dari pandangannya, Crys pun masuk kembali ke dalam Mansion.
***
Kenzo berjalan menaiki anak tangga jet pribadinya, disambut oleh pramugari, pilot dan co-pilot yang bertugas.
"Selamat datang Mr. Duanovic." Ujar mereka menunduk sopan.
Kenzo lanjut melangkah ke dalam jet pribadinya dan langsung mendapati Lucas yang sudah duduk dengan santai sambil memainkan Tab di tangannya.
Lucas mengangkat wajahnya untuk menatap Kenzo. "Long time no see Kenzo, I hope you pay me well." Ujar Lucas sambil memasang senyum miringnya.
"Bekerja keraslah untuk mendapatkan bayaranmu" Ujar Kenzo dingin sambil duduk di tempat yang biasa ia duduki.
"Let's see." Ucap Lucas dengan senyumnya yang terlihat meremehkan pekerjaannya kali ini.
Bersambung....
Stop halu, sebenarnya Kenzo itu hanya milik Author🤣
Kalau kalian mau, itu Desmond nganggur boleh diambil, kasihan dia nggak laku🤣
Like dan comment ya.
See you