
Crystal duduk di sofa ruang keluarga sambil menatap ke arah televisi yang menampilkan acara memasak. Crystal mendengar banyak cerita mengenai Vania tentang kisah cintanya dengan suaminya yang begitu menyenangkan.
Crystal bahkan berpikir betapa beruntungnya Vania memiliki seorang suami yang sangat mencintainya. Terlarut dalam pikirannya, ia tersadar ketika sebuah suara tertangkap oleh telinganya.
Crystal menoleh ketika mendengar pintu utama terbuka. Ia melihat sosok Kenzo yang masuk ke dalam rumah dengan seorang wanita di sampingnya.
Kening Crystal mengernyit melihat wajah wanita itu yang terlihat tidak asing di matanya, namun ia tidak bisa mengingat kapan dan di mana ia melihat wanita tersebut.
"Kau belum tidur?" Crys tersentak dari lamunannya dan menyadari bahwa Kenzo dan wanita tersebut sudah berada di depannya.
"A.. aku belum ngantuk." jawab Crys sedikit terbata-bata.
Gadis itu melirik ke arah wanita di samping Kenzo yang juga menatapnya dengan senyum tipis.
"Hai, aku Nathalie." sapa wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Crystal." balas Crys sambil menjabat tangan wanita tersebut.
"Aku akan mengantarmu ke kamarmu." kata Kenzo sambil menatap Nath lembut, sedangkan Crys hanya diam mematung tak melakukan apapun dan hanya bisa melihat kedua manusia tersebut berjalan melaluinya.
Nath melempar senyum pamit pada Crys dan Crys hanya bisa membalas dengan senyum canggung.
Setelah mereka pergi, Crys baru menyadari kejadian barusan adalah sebuah kenyataan dan bukan mimpi ataupun ilusi. Seorang Kenzo bersikap sangat lembut dengan seorang wanita.
Apa ini akhir dunia?
***
Crystal duduk di kursi meja makan dengan sangat canggung sambil melirik ke arah Kenzo dan wanita bernama Nathalie tersebut bergantian.
Mereka berdua terlihat sangat akrab layaknya sepasang kekasih dan Crystal terlihat seperti seorang pelakor di antara hubungan mereka.
Crystal tidak suka berada di suasana seperti ini, di antara mereka berdua.
"Apa aku boleh ikut denganmu ke kantormu?" tanya Crys angkat bicara.
"Kenapa?"
"Aku ingin bertemu dengan Karina, aku bosan berada di sini sendirian."
"Ada aku disini, kita bisa berbincang bersama." sambat Nath tersenyum lembut sambil menatap Crystal dengan mata berbinar.
"Benar, lebih baik kau temani Nath di sini, dia tidak punya teman bicara."
Crystal menatap Kenzo dengan pandangan kecewa. Pria itu bahkan tidak pernah berpikir bahwa beberapa hari ini ia hidup seperti orang mati. Tetapi pria itu sangat memikirkan dan mementingkan wanita bernama Nathalie tersebut.
Crystal tidak menjawab dan melanjutkan sarapannya dalam diam, sedangkan dua orang dihadapannya terlihat menikmati sarapan mereka dengan kehangatan.
Dua sisi yang berbeda, berada disatu meja yang sama. Betapa menyedihkan sosok Crystal saat ini.
Setelah Kenzo pergi bekerja, Nath dengan semangat mengajak Crystal menuju kamarnya. Kamar yang tidak pernah gadis itu masuki dan lihat.
Crystal terperangah ketika menyadari kamar tersebut ternyata ada di Mansion ini.
Crystal menelusuri setiap sudut kamar dan mendapati banyak bingkai foto wanita itu dengan Kenzo. Di foto tersebut, mereka terlihat masih muda.
"Aku dan Kenzo dulu adalah sepasang kekasih." kata Nath sambil duduk di atas ranjangnya.
"Aku dulu tinggal di kamar ini."
"Pantas saja." batin Crys sambil melihat seluruh penjuru kamar yang terlihat seperti sudah pernah ditinggali oleh seseorang.
"Ayo duduk, aku akan menceritakan hubungan kami dulu." ajak Nath sambil menepuk ranjangnya dengan senyum akrab.
Masih dengan gerakan canggung, Crystal duduk berhadapan dengan Nath.
"Aku bertemu Kenzo ketika umurku 16 tahun dan dia 17 tahun. Malam itu aku berjalan pulang dari rumah sahabatku dan melewati sebuah gang sepi. Aku melihat Kenzo berlumuran darah dan bersembunyi di gang tersebut. Itulah kali pertama aku bertemu dengannya."
"Dia sangat dingin dan mengerikan. Tentu saja saat itu aku berusaha kabur, namun aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja dengan keadaan seperti itu. Akhirnya aku mengobatinya dan dia bersembunyi di kamarku."
"Kau tidak takut dia membunuhmu?"
"Tentu saja aku takut. Aku bahkan tidak tidur semalaman saat itu." kata Nath sambil terkekeh geli.
"Lalu?"
"Setelah itu Kenzo menghilang beberapa hari dan akhirnya kami bertemu lagi di gang yang sama. Lagi-lagi dia terlihat sekarat dan aku kembali mengobatinya. Setelah hari itu, Kenzo datang menemuiku beberapa kali dengan menerobos jendela kamarku. Sampai akhirnya dia menyatakan perasaannya dan kami berpacaran. Hingga dua tahun kemudian, aku memutuskan untuk menghilang darinya."
"Kenapa?" tanya Crys dengan kening mengerut.
"Aku pergi karena sudah melakukan sesuatu hal yang membuatku merasa bersalah setiap kali melihatnya."
Nath tersenyum tipis dengan raut sedih. Crystal meneguk ludahnya tak tau harus melakukan apa. Ia tidak terbiasa menghibur orang lain dengan sebuah kata-kata maupun perbuatan.
"Lupakan!" kata Nath menggeleng sambil tersenyum lebar.
"Apa kau kekasih Kenzo?"
Crystal tersentak kaget dengan mata membulat. Ia buru-buru menggeleng cepat dengan gerakan tangannya yang selaras dengan kepalanya.
"Tentu saja tidak."
"Lalu?"
"Aku sepupu jauh Kenzo." kata Crystal gugup.
"Oh, benarkah?"
"Iya tentu saja. Aku sepupunya dan tinggal di sini selama beberapa hari." kata Crys canggung.
"Dulu Kenzo bilang dia tidak memiliki siapapun di dunia ini." kata Nath bingung.
Wajah Crys memucat. "Haha, kau tau dia itu anti sosial." katanya sambil tertawa begitu canggung.
Nath mengangguk-angguk mengerti. Wanita itupun bangkit berdiri, sambil merapikan gaunnya yang sedikit lecek.
"Mari berhenti membahas tentang Kenzo, bagaimana kalau kita membahas hal lain yang lebih menyenangkan?" kata Nath semangat sedangkan Crys hanya mengangguk pasrah sambil membuang nafas lega.
Di lain sisi.
Kenzo menatap Davin yang duduk dihadapannya dengan wajah serius.
"Kulihat kau sudah kehilangan arah belakangan ini." kata Davin angkat bicara.
Kenzo mengangkat sebelah bibirnya ke atas. "Apakah anda mengkhawatirkan saya Tuan Davin?"
"Kau tidak perlu bersikap formal, aku sudah pernah mengatakan hal itu bukan? Lagipula kau bukan lagi bawahanku, kau sudah memiliki perusahaanmu sendiri."
"Lalu apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Kenzo tak basa-basi.
"Istriku bertemu dengan gadis yang kau sekap di rumahmu."
Kenzo tersenyum miring. "Istrimu sama tidak sopannya seperti dirimu." kata Kenzo.
"Tentu saja, dia itu istriku, tidak ada yang bisa menghentikannya."
"Lalu, apa istrimu akan mencampuri urusanku dengan gadis itu?" tanya Kenzo dengan tatapan tajam.
"Dia menyuruhku untuk mencari tahu kebenaran bahwa kau telah membunuh orang tuanya." kata Davin sama tajamnya dan terlihat tak gentar dengan nada ancaman Kenzo.
"Kalau begitu semoga berhasil mendapatkan kebenarannya."
"Kau pikir aku akan membuang waktuku untuk itu?" kata Davin merubah raut wajahnya dengan raut tak peduli sambil menyenderkan punggungnya ke sofa.
Papa muda itu membuang nafasnya. "Tapi istriku tidak semudah itu untuk dihentikan."
Kenzo ikut menyandarkan punggungnya santai sambil meraih rokoknya di atas meja.
"Jangan merokok! Aku tidak mau asap rokokmu melekat di tubuhku! Vania akan marah jika mengetahuinya."
Kenzo tersenyum miring. Pria di depannya itu memang sangat mencintai istrinya bahkan dengan seluruh hidupnya. Ia akan melakukan apapun agar istrinya bahagia.
Kenzopun mengurungkan niatnya untuk merokok. "Di mana Ansell? Akhir-akhir ini dia jarang bertemu denganku dan datang ke Mansionku." kata Kenzo.
Davin tertawa kecil. "Dia sedang 'berburu' di Berlin."
"Lucas?"
"Seperti biasa, melawan Ansell untuk mendapatkan 'buruan' itu lebih dulu."
"Mereka tidak pernah berhenti bersaing." kata Kenzo.
Davin menegakkan tubuhnya dan menatap Kenzo lekat.
"Aku dengar kau sudah menemukan wanita itu." kata Davin dan Kenzo tau siapa yang kini dibahas oleh pria itu.
"Ya."
"Dimana dia sekarang?"
"Di Mansionku."
"Bersama dengan gadis itu?"
"Ya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Mencari tahu kebenarannya." jawab Kenzo datar sambil melayangkan pikirannya ke semua kemungkinan yang sudah ia susun selama ini.
Kenzo kini menatap Davin dengan wajah dingin dan datarnya. "Aku ingin meminta bantuanmu."
"Katakan!" kata Davin.
"Bantu aku menemukan Allaric Alterio. Dia menghilang beberapa hari yang lalu, kemungkinan besar dia telah diculik."
"Aku akan membantumu. Lalu, siapa dalang yang ada di pikiranmu?"
"Desmond Archer Killian."
Bersambung...
Gimana part ini?
Next Chapter : lusa.